Mia menerima beberapa boks yang dibawa pulang oleh Adik-adiknya dari Cafe, malam itu. Ia membuka satu-persatu boks tersebut, untuk mengeluarkan sisa makanan yang tidak terjual. Matanya tertuju pada salah satu boks yang kosong total, hingga membuatnya mengerenyitkan kening selama beberapa saat.
"Tumben, kue susnya habis total," ujar Mia.
Diden - yang bertugas duduk di balik meja kasir - menatap ke arah Kakak tertuanya, sambil membuka jaket yang ia kenakan.
"Tadi diborong sama teman ceweknya Dev dan Key. Katanya dia suka banget sama kue sus itu, rasanya beda dari yang sering dia beli di tempat lain," jawab Diden, sesuai dengan apa yang Tasya ungkapkan tadi sore.
Mia kini menatap Diden dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Teman ceweknya Dev, dan Key?" tanya Mia, skeptis, "teman ceweknya mereka yang mana, yang masih mau berteman sama mereka, setelah keluarga kita udah nggak punya apa-apa dan berkubang dalam rasa malu tanpa akhir, seperti sekarang?"
Diden duduk di kursi meja makan itu, dan diam membisu. Seakan menunjukkan pada Mia, bahwa dirinya tak tahu harus mengatakan apa.
"Coba lihat sendiri, ada nggak teman kita yang bertahan di samping kita saat ini? Mereka semua menjauh saat kita ditimpa musibah, mereka semua berpaling dan nggak mau lagi melihat wajah kita, saat peristiwa naas itu terjadi. Jadi, teman ceweknya Dev dan Key itu, yang mana orangnya?" Mia sangat ingin tahu.
"Entahlah, yang aku dengar tadi, katanya mereka baru kembali ke Malangbong setelah tujuh tahun bertugas sebagai Polisi, di Yogyakarta. Kemungkinan, mereka memang belum tahu apa-apa mengenai semua hal yang menimpa keluarga kita," jawab Diden.
Mia pun tersenyum sinis dalam sekejap.
"Kalau begitu, tinggal tunggu waktu aja. Kalau mereka udah tahu, mereka pun akan segera meninggalkan Dev dan Key, seperti yang lainnya!" tegas Mia.
Usai berbicara dengan Diden, Mia segera membawa boks-boks tersebut ke dapur untuk dicuci, sebelum besok pagi dipakai kembali untuk mewadahi makanan yang akan dijual di Cafe. Diden masih merenung di meja makan, sesekali ia menatap ke arah pintu kamar Devian.
Ingin rasanya ia bertanya, tentang siapa itu Tasya dan Lila? Kenapa mereka masih mau berdekatan dengan anggota keluarga ini? Mengapa tidak menjauh? Tapi, jika ia tanyakan, tentunya luka di hati Devian akan kembali terbuka lagi. Sementara luka yang lalu belum berlalu, apakah pantas untuk ditambah dengan luka yang baru?
* * *
Tasya turun dari kamarnya di lantai dua, bersama dengan Lila yang menginap semalam di rumahnya. Mereka sudah siap langsung ke kantor, untuk bertugas di hari pertama. Teresha dan Mira menatap mereka sambil mengunyah omelette yang tadi Tasya buat untuk semua orang di rumah.
"Mantap, udah siap bertugas, nih. Sayang ya, kita nggak sekantor," ujar Teresha.
"Iya, Kak. Coba kita sekantor, pasti akan kuserahkan semua beban dokumen di tanganmu," balas Tasya dengan wajah setengah sedih.
HAHAHAHAHAHA!!!
"Bisa aja kamu, Kak," Kiran mengacungkan kedua ibu jarinya.
Membuat Teresha merengut sambil mencibir. Mira merangkul Tasya dengan bangga.
"Semoga hari pertama bertugas ini lancar ya, Kak. Kalau ada apa-apa telepon aku aja, nanti pasti aku bantu," ujar Mira.
"Siap sayang, aku pasti telepon kamu kalau ada apa-apa," balas Tasya.
Rismaya memberikan sebuah jaket untuk Tasya, agar putrinya tidak kedinginan saat mengendarai motor. Ia tersenyum dengan bangga, saat melihat bagaimana putrinya telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang begitu mandiri.
"Jangan lupa shalat dan makan siang ya, sayang. Jangan lalai dalam beribadah, karena beribadah adalah yang paling utama dalam hidup ini," pesan Rismaya.
Tasya pun tersenyum, sambil memeluk Ibunya dengan erat.
"Iya, Bunda. Insya Allah Tasya nggak akan lupa sama pesan Bunda," ujar Tasya.
Pukul enam lewat tiga puluh menit, Tasya pun berangkat bersama Lila menuju ke Polsek Malangbong. Moon Cafe terlihat belum buka, ketika mereka melintasi tempat itu. Tak berselang lama, mereka pun tiba di Polsek Malangbong. Keduanya masuk ke kantor tersebut, dan menerima sambutan dari beberapa anggota lain.
Nina - pimpinan Polsek Malangbong - memanggil mereka berdua ke ruangannya, tak lama kemudian.
"Selamat pagi, Briptu Vienna Anastasya dan Briptu Hanifa Alila. Selamat datang di Polsek Malangbong, semoga kalian berdua betah bekerja di kantor ini," sambut Nina, sangat antusias.
Tasya dan Lila pun tersenyum seraya menjabat tangan Nina.
"Kami pasti betah bekerja di sini, Bu Nina. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengabdi di sini," Tasya berusaha meyakinkan.
"Saya percaya akan usaha kalian. Saya sudah banyak mendengar tentang kinerja kerja kalian di kantor yang sebelumnya, dari Pak Satrio. Kalian berdua sebenarnya sangat diperebutkan oleh pimpinan di Polda dan pimpinan di Polres. Tapi, akhirnya saya yang memenangkan kalian berdua untuk bekerja di kantor ini. Maka dari itu, hari ini saya mau kalian membereskan barang-barang kalian, di ruangan yang sudah disiapkan," ujar Nina.
"Baik, Bu," balas Tasya dan Lila.
Mereka berdua pun di antar menuju ruangan yang sudah disiapkan oleh kantor. Barang-barang mereka segera disusun di meja masing-masing, agar memudahkan mereka untuk bekerja.
"Aku nggak nyangka loh, kalau Pak Satrio benar-benar mempromosikan kita ke semua kantor di wilayah Garut," ujar Lila.
Tasya tersenyum miring.
"Pak Satrio tahu kalau kita berpotensi, La. Makanya beliau antusias mempromosikan kita. Tapi jujur, aku lega karena kita ditempatkan di sini pada akhirnya," tanggap Tasya.
"Karena kita nggak perlu jalan jauh-jauh kalau mau ke kantor?" tebak Lila.
"Karena kita nggak perlu jauh-jauh dari Dev, Key, Fian, Arga dan Veri," jawab Tasya, sangat jujur.
"Masa? Ih, aku merasa tersanjung dong," ujar seseorang, yang sudah berdiri di ambang pintu ruangan mereka sejak tadi.
Tasya dan Lila pun menoleh, lalu mendapati Fian dan Arga yang tengah menatap ke arah mereka.
"Loh? Bukannya yang bertugas di sini cuma Fian, ya?" tanya Tasya.
"Iya, tadinya. Tapi pas aku dengar kalau kalian akan dipindah tugaskan dari Yogyakarta, aku langsung bersiap-siap mengajukan pindah, kemana pun kalian berdua akan ditempatkan. Kalian berdua sangat diperebutkan oleh tiga orang pimpinan, jadi saat tahu kalau kalian akan bertugas di Polsek, aku pun segera mengajukan pindah tugas ke sini," jelas Arga.
Tasya dan Lila pun segera mendekat dan memeluk Arga seperti dulu. Fian memasang wajah lecek dan tanduk setan di kepalanya.
"Cuma Arga doang yang dipeluk? Kalian nggak ada yang kangen sama aku, gitu?" tanya Fian.
"NGGAK!!!" jawab Lila dan Tasya, kompak.
Arga pun terkekeh senang, saat melihat wajah Fian yang sangat amburadul usai mendapat jawaban dari kedua gadis yang begitu mereka sayangi.
"Wah, bahaya. Veri harus dikasih tahu nih, supaya jangan ngarep dipeluk sama kalian berdua!" ancam Fian, seraya membuka ponselnya.
* * *