Usai shalat dzuhur di Masjid Agung, Arga dan Fian memarkirkan motornya di depan Moon Cafe, disusul oleh motor milik Tasya dan Lila. Mereka berempat masuk ke dalam Cafe bersama-sama, membuat Devian, Keano, dan Veri serempak melambaikan tangan.
"Lah, kok ngumpul di sini? Udah pada shalat belum?" tanya Tasya.
"Udah barusan, Sya. Di dalam ada mushala, tuh," jawab Devian.
"Sipp! Awas aja kalau ada yang nggak shalat, bakalan kena omel sama Tasya pokoknya," Lila memberi peringatan.
Mereka pun tertawa bersama lagi, seperti dulu. Meja di sudut Cafe menjadi pilihan mereka, untuk kembali berkumpul. Diden menatap ke arah Tasya dan Lila, begitupula dengan Mia yang tadinya sedang menyusun kue di etalase.
"Itu yang namanya Tasya dan Lila. Kayanya mereka sudah mulai bertugas di sini, hari ini," ujar Diden.
"Kok mukanya Tasya kaya nggak asing, ya? Mirip siapa, gitu?" Mia berusaha mengingat-ingat.
"Perasaan Kakak aja, kali. Aku aja baru kali ini lihat dia, sejak dia datang ke sini kemarin," balas Diden, lalu kembali datar dan diam.
Mereka bertujuh tertawa usai mendengar cerita dari Fian dan Veri.
"Nah, jadi kalian mau makan apa, nih? Di sini ada makanan berat juga, kok, nggak cuma cemilan doang," tanya Keano.
"Makanan beratnya apa aja, tuh?" tanya Lila.
"Batu, La," jawab Veri, cepat.
Gelak tawa pun kembali terdengar, kedua mata Lila menyipit ke arah Veri dengan sengit.
"Boleh, sajikan batu di depanku, dan akan aku timpuk ke kepalamu itu, Ver!" tantang Lila, sebal.
"Udah..., udah..., kenapa sih kalian berdua selalu berantem kalau ketemu?" lerai Tasya.
"Dih, kaya sendirinya nggak pernah berantem sama Lila! Sadar diri, Sya," saran Keano.
Tasya pun terkikik geli.
"Makanan beratnya ada spaghetti, cheese burger, chikhen steak with mushrom sauce, dan fried rice," ujar Devian.
"BILANG AJA NASI GORENG!!!" serbu semuanya ke arah Devian.
Membuat Devian tertawa lepas, dan bahagia. Mia memperhatikan Adiknya dan juga Adik sepupunya. Mereka tidak terlihat canggung sama sekali, pada Tasya dan Lila. Sangat berbeda dengan teman wanita mereka yang lain. Dulu, saat pertama kali keluarga mereka terkena masalah besar, semua teman wanita Devian dan Keano menunjukkan bahwa mereka sangat tak ingin berdekatan lagi. Semuanya pergi dan bertingkah seakan tak pernah saling mengenal.
Namun, entah mengapa dua orang ini sangat berbeda, terutama Tasya. Dia terlihat sangat mengayomi terhadap yang lainnya, meskipun tetap sama-sama konyol.
Devian dan Keano mendekat ke arah pantry, untuk menyiapkan pesanan yang para sahabatnya. Tasya mendekat ke depan, tepat ke arah etalase seraya tersenyum ramah pada Mia. Mia pun membalas senyumannya dengan canggung.
"Kak, aku pesan kue susnya untuk dibungkus, ya," pinta Tasya.
"Berapa buah?" tanya Mia, santai.
"Semuanya, Kak," jawab Tasya.
Membuat Mia terpana selama beberapa saat, dan mencoba memahami bahwa Tasya memang memesan semua kue sus itu.
"Semua?" Mia masih ragu-ragu.
"Iya, Kak, semua. Orang di rumahku selalu minta, kalau aku pulang bawa makanan. Jadi kalau aku bawa pulangnya cuma sedikit, ya..., alamat aku hanya akan menatap dos kuenya aja," jelas Tasya.
HAHAHAHA!!!
"Bisa-bisanya, sih?" Mia tertawa, sambil membungkus kue sus ke dalam dos.
Diden menatap Mia karena kaget mendengar tawanya, setelah sekian lama tak pernah terdengar.
"Bisa, Kak. Aku punya dua Kakak dan tiga Adik. Semuanya nggak mau kalah, dalam urusan makan. Ya, sebagai anak tengah, aku juga nggak mau ikut kalah dong dalam urusan makan. Makanya kubeli kue susnya banyak-banyak, biar aku kebagian," tambah Tasya.
Mia masih saja terkekeh geli. Ia menatap ke arah Tasya yang tampaknya sangat antusias, ingin segera memeluk dos berisi kue sus tersebut. Devian dan Keano pun keluar dari pantry, membawakan semua pesanan yang lainnya usai memasak.
"Sya, makan siang dulu," panggil Devian.
"Iya sebentar, Dev. Mau ambil kue susnya dulu, sebelum dipeluk orang lain," balas Tasya.
"Siapa orang yang mau peluk kue sus di dunia ini selain kamu, Sya? Udah, tenang aja, kue susnya nggak akan dipeluk sama siapa-siapa, kok," bujuk Keano.
"Ish, nggak sabaran deh!" rajuk Tasya, lalu kembali menatap ke arah Mia, "Kak, kue susnya simpan dulu ya kalau udah dibungkus. Sohibku tingkat kesabarannya emang tipis, nggak bisa diajak kompromi," pinta Tasya.
"Oyy! Aku dengar ya, aduanmu itu!" seru Keano.
Mia pun segera menutupkan tangan ke wajahnya, akibat tak mampu lagi menahan tawa. Tasya pun segera kembali mendekat ke meja di sudut sana. Mia menatap Diden yang kini tengah menatapnya.
"Kenapa? Salah, kalau aku ketawa?" tanya Mia.
"Nggak kok. Cuma kaget aja, karena udah lama Kakak nggak tertawa seperti itu," jawab Diden, lalu kembali diam.
Netranya tertuju ke arah Tasya, yang kini terlihat sedang menyantap nasi gorengnya.
"Hmm, enak. Siapa nih yang masak?" tanya Tasya.
"Aku, Sya," jawab Devian.
"Hah? Kamu? Sejak kapan kamu belajar masak, Dev? Bukannya selama ini, kamu nggak bisa masuk ke dapur ya, karena jijik?" tanya Tasya dengan kening berkerut.
Semua mendadak diam, usai mendengar apa yang Tasya tanyakan. Bahkan Mia dan Diden pun yang berada di depan, bisa mendengar pertanyaan itu.
Semua saling pandang satu sama lain, kecuali Tasya dan Lila. Tasya tentu bisa merasakan kalau memang ada sesuatu yang disembunyikan oleh Devian dan Keano.
"Oh, oke. Nggak usah jawab. Aku nggak akan paksa kamu, untuk jawab pertanyaanku. Tapi tolong, kalau memang kamu dan Key ada masalah, bicarakan sama aku. Aku bukan orang lain, aku akan selalu ada buat kalian," ujar Tasya, berusaha meyakinkan.
"Benar, tuh! Jangan diam-diam aja, kaya nggak ada apa-apa. Kita udah lama banget sama-sama, jadi, apa sih yang bisa kalian sembunyikan dari kita berdua? Gerak-gerik kalian tuh, sangat...., uh..., nggak bisa dijelasin deh," tambah Lila, yang sejujurnya sudah gemas.
Mereka masih terdiam, dan tidak mengatakan apa-apa lagi, selain melanjutkan makan siang.
"Ngomong-ngomong, yang lanjut kuliah setelah lulus SMA cuma Veri doang, ya? Kenapa yang lain pada nggak lanjut, nih?" tanya Tasya.
"Kamu aja nggak lanjut kuliah, malah langsung masuk Kepolisian dan kerja," balas Arga.
"Siapa bilang? Tasya sama aku udah S1 loh, Ga. Kita ambil jurusan hukum di UGM, sambil bertugas di sana," ujar Lila.
"Hah? Masa? Waduh..., aku pikir kalian nggak akan kuliah, loh!" sahut Fian, kaget.
Tasya dan Lila terkikik geli melihat ekspresi Fian.
"Kalau aku nggak kuliah, Bundaku bisa-bisa ngamuk, Fi. Bahaya!" jelas Tasya.
"Ish! Tahu gitu aku bakalan kuliah juga dari dulu," Arga terlihat sebal.
"Lah, memangnya siapa yang melarang, sih?" tanya Lila.
* * *