bc

Gairah Sang Selir

book_age16+
1.2K
IKUTI
8.3K
BACA
space
king
drama
twisted
sweet
non-hunman lead
royal
sword-and-sorcery
alien contact
seductive
like
intro-logo
Uraian

Bagaimanakah rasanya terdampar di sebuah planet asing? Bingung dan sedih, bukan? Itulah yang dialami seorang gadis bernama Elena.

Sang ibu sakit keras dan membuat Elena larut dalam kesedihan yang mendalam hingga ia pun tertidur. Namun, saat mendapatkan kesadaran dan terbangun dari tidurnya, ternyata ia berada di sebuah planet yang terasa sangat asing baginya. Planet Pandora namanya.

“Apa aku sedang bermimpi?” gumam Elena.

Elena bahkan terkejut jika dirinya di planet tersebut ternyata adalah seorang pelayan dan akan dijadikan selir oleh–Harry–Raja tampan yang terkenal berdarah dingin.

Bagaimanakah kisah selanjutnya? Akankah Elena bisa pulang ke dunianya dan kembali memeluk sang ibu? Atau ia akan terjebak dengan cinta sang Raja?

Ikuti terus ceritanya! Jangan lupa tinggalkan jejak dan tap love juga. Terima kasih~

follow ig @sitisyazwan6

Add sss @Askama Sembilanlima

cover by pexel

"Foto stok gratis tentang anggun, atraktif, belum tua"

chap-preview
Pratinjau gratis
Terdampar
Seorang gadis berderai air mata tatkala melihat ibunya yang terbaring lemah di rumah sakit. Elena namanya. Gadis itu mengintip di celah kecil kaca jendela yang tidak tertutup gorden. Sang ibu terlihat tak berdaya. Hingga maut pun seakan sedang menantinya di ujung jalan. “Ibu ...,” ucapnya lirih. Bibirnya bergetar dan hidungnya memerah. Air mata seakan tak henti-hentinya menetes. Kecelakaan tragis yang menimpa keluarganya kini hanya menyisakan dirinya dan sang ibu yang masih saja tak sadarkan diri. Elena yang malang sendirian di luar sana karena sang ayah tewas di tempat kejadian. Alhasil ia hanya tinggal di rumah sakit sambil menemani ibunya. Ia tak pernah pulang ke rumah. Selang beberapa saat, seorang Dokter pun keluar dan gadis itu pun segera menghampiri. Wajah sang Dokter terlihat tidak baik dan seolah raut wajahnya terlihat masam, muram. Elena berpikir jika kabar buruk pasti akan disampaikan Dokter tersebut dan ia sudah sangat siap mendengarnya. "Kondisinya masih tetap sama. Sebenarnya ada obat yang bisa membuat kesadaran Ibumu kembali, tapi bunga yang menjadi bahan dasar obat itu sudah sangat langka sekarang. Jadi ... sepertinya tidak ada jalan lain, jika tanpa bunga itu ... kita hanya bisa mengharapkan keajaiban dari Tuhan," jelas seorang Dokter yang sudah tak bisa berbuat banyak lagi pada pasiennya itu. Di sela isak-tangisnya Elena pun bertanya, "Di mana saya bisa mendapatkannya, Dok?" Dokter berpikir keras sambil menatap gadis yang malang itu. "Saya juga kurang tahu, sepertinya saat ini sudah sangat jarang. Seperti yang baru saja saya katakan, bunga itu langka. Jika pun ada ... pasti harganya sangat mahal. Berdoa saja! Semoga ibumu cepat sembuh," tutur Dokter pria yang sedikit tambun itu. Elena meninggalkan sang Dokter dan berjalan tertatih-tatih ke dalam ruangan tempat ibunya dirawat. Ia berpikir jika perkataan Dokter tentang obat yang terbuat dari bunga tadi hannyalah bualan saja. Ia mengira sang Dokter hanya memberinya sebuah harapan palsu. Elena menangis sambil terus menatap wajah sang ibu yang masih saja memejamkan matanya. Dalam kesedihannya yang mendalam, gadis itu pun menopang kepalanya yang mulai terasa berat dengan kedua tangan yang sebelumnya ia lipat. Lalu, ia pun tertidur. *** Setengah jam ia tidur dan saat membuka matanya suasana rumah sakit menjadi berubah. Berulang kali ia menggosok-gosok matanya. Namun, tetap saja keadaan tempatnya berada kini sungguh jauh berbeda. "Ke mana Ibu?" Ia tak melihat keberadaan ibunya. Agak gelap di sana. Mata Elena berputar melihat sekeliling hingga ia sadar jika tangannya terkekang oleh sebuah borgol besi tua berkarat. "Aku ... di mana? Apa ini?" Elena mencoba melepaskan borgol yang membelenggu tangannya. Akan tetapi tentunya borgol itu membutuhkan sebuah kunci. “Di mana kuncinya?” Elena meraba-raba alas tempatnya duduk. Alas itu terbuat dari karpet yang terbuat seperti dari bulu domba. Lembut. Lalu ia mendengar suara lecutan kuda yang keras. Sontak kuda itu terdengar seperti menjerit kesakitan. Suaranya begitu melengking. Elena terkejut bukan main. Telinganya pun berdenging untuk sejenak. Nyala obor membuat Elena samar-samar melihat pakaian favoritnya yang juga berubah menjadi seperti karung goni. Jelek, lusuh dan sangat kotor. Compang-camping seperti pakaian seorang gelandangan. "Kenapa aku berpakaian seperti ini?" Elena berdiri dan hendak melihat keluar dari tandu tersebut. Namun, kakinya dirantai dan di ujung rantainya terdapat bola besar seperti bola boling. "Apa maksudnya ini?! Ini sangat berat,” katanya sambil berusaha menyeret bola boling itu. Duk! Jalan yang berbatu membuat tandunya bergetar dan bergoyang. Elena sampai terhempas dan menyentuh dinding-dinding tandu. Kepalanya terbentur. Lalu ia jatuh di atas alas tandu tersebut. Tiba-tiba kereta berkuda itu berhenti dan tirai tandu pun terbuka. Elena terkejut melihat dua sosok tinggi besar dengan jubah kumuh yang kemudian menyeretnya keluar. "Ada apa ini? Siapa kalian berdua?" Elena bertanya-tanya. Sayangnya ia sama sekali tak dapat melihat wajah keduanya. Ia bergidik ngeri. "Tolong ...!" Elena berteriak. "Diam! Kau jangan melawan! Cepat jalan!" Seseorang di baliki jubah itu seperti suara seorang laki-laki. Ia lalu mendorong tubuh Elena agar bergerak. Elena ternyata tak mampu melangkahkan kakinya akibat beratnya bola boling yang berada di ujung rantai. "Lepaskan!" Tenaga kedua makhluk yang mengenakan jubah itu begitu kuat. Elena yang usianya baru menginjak 19 tahun kemarin sama sekali tak bisa melawan. Terlebih karena ia terlalu sering menangis, tubuhnya pun melemah. Sudah beberapa hari ia hanya memakan makanan yang disediakan rumah sakit. Dengan porsi yang sedikit, tentunya tak cukup untuk mengisi perutnya. Elena memang seorang gadis yang suka sekali makan, tapi tubuhnya tetap saja tak bisa menjadi gemuk. Ia dibawa ke sebuah kastel besar bertingkat dengan pintu gerbang yang terbuat dari besi setinggi bukit. "Ini di mana? Tolong ...!" Elena terus berteriak sambil meronta. Ia mencoba mencari seseorang yang bisa dimintai pertolongan. "Tolong ...!" teriaknya lagi. Kanan-kiri Elena menoleh, yang ia lihat hanya orang-orang yang mematung sambil bersujud. Tak ada yang menolongnya sama sekali. Bruk! Elena diempaskan ke lantai. Ia jatuh dengan posisi lututnya yang mencium kerasnya batu marmer terlebih dahulu. Benturannya cukup membuat tulang tempurung lutut si gadis gemetar ngilu. Kulitnya tergores, berdarah. Elena mengerang kesakitan. "Yang Mulia Raja, inilah persembahan kami. Baginda dapat menjadikannya seorang selir sebagai jaminan hutang kami," ucap salah satu makhluk yang mengenakan jubah. Ia membawa benda tajam seperti celurit yang ukurannya lebih besar dari ukuran celurit pada umumnya. "Siapa dia? Yang Mulia Raja? Apa maksud semua ini?" Pertanyaan-pertanyaan timbul di kepala Elena. Semua tampak asing di matanya. "Bagaimana bisa kalian memberi seorang pelayan kepada Raja Harry si penguasa planet Pandora Yang Agung?" Suara itu keluar dari mulut makhluk bertelinga seperti seekor serigala. Namun, wajahnya begitu tampan. Tubuhnya tegap dengan pakaian kebesaran layaknya seorang raja dan jubah yang menjuntai yang semakin meyakinkan penampilannya. "Pandora katanya. Apa aku sedang berada di sebuah planet? Jangan-jangan aku sedang bermimpi," batin Elena. "Dia bukan pelayan biasa, dia itu lain daripada yang lain. Dia berbeda, sempurna," jelas pria yang mengenakan jubah. "Baginda dapat mengeceknya sendiri," tambahnya. "Mengecek? Apanya yang mau dicek?" pikir Elena. Ia berpikir sambil menundukkan kepalanya. Raja Harry menuruni satu-persatu anak tangga. Elena perlahan mengangkat kepalanya. Matanya hanya tertuju pada Raja Harry. Ia sangat terpukau. Ketampanan Raja Harry mampu membuat Elena tak mengedipkan matanya. Raja Harry lalu berdiri tepat di hadapan Elena. Sang gadis hanya merasakan jika jantungnya tak berhenti berdegup kencang. Alis tebal dengan tatapan tajam seperti seekor elang membuat Elena seolah terhipnotis. Elena berpikir jika bibi Harry yang berwarna merah jambu lebih menarik dibandingkan dengan miliknya yang terlahir sebagai seorang perempuan. Terlalu sempurna. "Ma-mau apa, kau?" tanya Elena yang agak risi dengan tatapan Raja yang baru saja ditemuinya. "Kasar sekali," ucap Raja Harry. Sang Raja lalu menarik sebuah pedang milik prajuritnya dan dengan ujung pedang tersebut ia mengangkat dagu Elena. Jantung Elena seakan berhenti berdetak. Ia tak bisa bernafas untuk beberapa saat. Deg! Raja Harry terkejut melihat wajah Elena yang cantik dan seakan memancarkan cahaya. Elena menelan ludahnya kasar. Ia melihat pedang yang sepertinya bisa menebas leher seekor rusa dalam sekali tebasan. Tajam. "Ja-jauhkan ini! A-aku tidak akan berkata kasar lagi. Ma-maaf, Yang Mulia," ucap Elena terbata-bata. Matanya sesekali terpejam dan berharap pedang itu segera pergi dari dirinya. Ngeri. Sang Raja menurunkan pedangnya. "Menarik. Aku terima tawaran ini. Malam ini juga akan digelar pesta besar-besaran!" ucapnya sambil mengangkat kedua tangan penuh kemenangan. Ia mengacung-acungkan pedang milik prajuritnya tadi. "Apa?!" Elena kaget. “Pesta? Pesta apa maksudnya? Ya Tuhan ... tolong bangunkan aku segera. Aku ingin bertemu Ibu,” batinnya. Raja Harry bertepuk tangan dan berkumpullah beberapa pelayan wanita di hadapannya. Ada sekitar sepuluh pelayan wanita yang bersujud. Elena bergeming menyaksikan kekuasaan Raja dari planet itu. Sang Raja naik kembali ke singgasana. Ia duduk di kursi besar nan mewah itu. Mahkotanya terlihat seperti berkilau hingga menyilaukan mata Elena. Tidak main-main batu-batu mulia berderet dan menghiasi mahkota sang Raja. "Darrol!" sebut Raja Harry. Ia memanggil sebuah nama. Makhluk besar yang berpakaian lengkap seperti seorang petarung berdiri di ujung tangga pun menoleh. Raja Harry kemudian mengangguk dan seolah memberi sebuah isyarat. "Baik, Yang Mulia," ucap Darrol sambil menganggukkan kepalanya. "Pelayan! Cepat persiapkan kebutuhan pesta untuk Raja. Pesta akan digelar sangat meriah!" titah Darrol kepada para pelayan yang masih bersimpuh itu. "Baik, Yang Mulia," ucap para pelayan serentak. Pengawal pria memegang kedua lengan Elena. Salah satu makhluk yang mengenakan jubah pun menyerahkan kunci borgol sebelum pergi meninggalkan gadis malang tersebut. "Apa-apaan ini? Jangan sentuh aku!" larang Elena yang tak suka jika ada yang menyentuhnya. “Hei, jangan tinggalkan aku! Kembalikan aku pada Ibuku!” Elena berteriak pada kedua makhluk yang mengenakan jubah. Akan tetapi, mereka sama sekali tak menghiraukannya. “Lepaskan! Aku tidak mau,” kata Elena. Ia menolak ajakan para pengawal. Semua kata-kata yang keluar dari mulut sang gadis sama sekali tak digubris. Kedua pengawal malah menyeretnya secara paksa. Kasar. "Bawa dia! Mandikan dan rias agar dia lebih terlihat cantik!" suruh Darrol yang menjadi tangan kanan sang Raja. "Ah, udahlah, ini cuman mimpi. Aku hanya perlu mengikuti apa kemauan mereka. Sebentar lagi juga aku pasti bangun," gumam Elena yang naif dan polos. Ia pasrah jika dirinya diseret oleh para pengawal. “Jarang-jarang juga aku mimpi kaya gini. Mungkin tak mengapa, sekali-kali jadi selir Raja. Hehe.” Pikiran Elena melayang-layang memikirkan kenikmatan tinggal di sebuah kerajaan. Tangisannya sesaat hilang. “Apa di dunia mimpi ini aku akan bahagia?” batin Elena. “Selirku kali ini memang berbeda ...," pikir Raja Harry sambil menyunggingkan sudut bibirnya. Tersenyum licik.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
43.3K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook