Laporan Permaisuri Diandra

1117 Kata
Sementara itu, Raja Harry kembali pada Elena. Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap wanita tersebut. “Siapa kau sebenarnya? Kenapa masa lalumu begitu menyedihkan?” Raja Harry bertanya-tanya. “Pergi! Pergilah! Menjauhlah dariku! Lepaskan ...,” racau Elena seraya menepis-nepiskan tangannya dalam keadaan mata yang masih tertutup. Raja Harry refleks berdiri. Ia memperhatikan wanita itu dengan tatapan aneh. Namun, tangan Elena masih bergerak dengan ekspresi wajah sedih, menangis. Karena panik, Raja Harry lantas mencoba membangunkannya. Memegang kedua tangan Elena. “Bangun!” Elena malah berontak dan pergerakan tangannya sempat mengenai wajah Sang Raja seolah menampar. Hingga membuat pria itu marah dan berteriak. “Bangun!” teriak Raja Harry yang wajahnya berubah menjadi merah padam. Suara keras nan menggema mampu membuat mata Elena terbuka lebar dengan cepat. Wanita itu sangat terkejut dan lantas mengubah posisinya, duduk ketakutan saat melihat Raja Harry berada di hadapannya. “Kau ....” Mata Elena membulat sempurna. Ia bertanya-tanya, kenapa dirinya tak kembali ke tempatnya semula. Padahal ia sangat berharap kembali ke rumah sakit dan menemani ibunya. “Penjaga!” teriak Raja Harry. Ia berteriak berulang kali sambil memegangi pipinya. Elena tampak kebingungan. Ia melihat tangannya sendiri saat melihat Raja Harry sedang memegang pipi. Ia tak mengerti dengan apa yang telah terjadi. Matanya berputar mengitari sekeliling ruangan itu. Ruangan yang sangat luas dengan banyak ornamen-ornamen yang terbuat dari emas. Berkilau sampai menyilaukan matanya. “Kenapa aku terbangun di tempat ini lagi?” Elena menepuk jidatnya. Selain itu, ia pun melihat pakaiannya yang tidak seperti karung goni lagi. Terlebih, ia ingat jika Raja Harry telah merobek-robeknya. Pakaiannya kali ini terasa hangat dan nyaman. Tebal dengan lapisan bulu yang seperti terbuat dari bulu hewan. “Apa kau yang mengganti pakaianku?” “Ya!” sahut Raja Harry. “Jadi ... kau sudah melihatnya? Melihat semuanya?” tanya Elena panik. Bukan apa-apa, ia adalah salah satu gadis yang sangat menjaga kehormatannya. Apalagi ia belum pernah mempunyai kekasih. “Melihat apa?! Tidak ada yang menarik dari tubuhmu! Tubuhmu kurus sekali,” kata Raja Harry. Padahal, Raja Harry menyuruh pelayannya untuk menggantikan pakaian Elena yang basah dan sobek. Namun, ia merahasiakannya untuk menakut-nakuti gadis bodoh itu. “Harusnya dia berpikir, untuk apa seorang Raja harus melakukannya sendiri? Mengotori tanganku saja,” batin Raja Harry. “Meskipun kurus, tapi aku masih punya harga diri. Memangnya aku sangat tidak menarik, ya?” gumam Elena sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Namun, bukan saatnya ia mempermasalahkan hal itu karena di sana tiba-tiba sudah banyak pria yang masuk ke dalam kamar. Ia melihat salah satu di antaranya yang tidak begitu asing. “Pria itu lagi ... aku tidak suka padanya. Pasti dia akan berbuat kasar lagi padaku.” Mata Elena mendelik saat melihat Darrol. “Penjaga, cepat bawa wanita ini ke dalam penjara!” suruh Raja Harry dengan nada tingginya. “Penjara? A-apa salahku?” Tentu saja Elena tak menyadari jika dirinya tak sengaja menampar pipi Sang Raja. Ia yang bingung malah semakin kebingungan. Ditambah lagi, tak ada penjelasan dari Raja Harry. “Cepat!” titah Sang Raja yang wajahnya masih memerah. “Baik, Yang Mulia.” Dua makhluk penjaga memegangi Elena. Menarik dan menyeretnya segera turun dari atas tempat tidur. Jelas ia meronta, menggerak-gerakkan tubuhnya agar terlepas dari cengkeraman itu. “Ta-tapi ... aku tidak melakukan apa pun. Aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Lepaskan aku!” Elena masih meronta. Beberapa kali ia menendang-nendangkan kakinya hingga mengenai wajah dan kepala penjaga yang tengah memeganginya. Perbuatannya itu justru malah mengundang penjaga lainnya. Hingga ia pun dipegangi oleh beberapa pria. “Tidak!” teriak Elena. “Dasar wanita bar-bar,” gumam Raja Harry seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian ia duduk di atas ranjang dan melihat ekspresi wajah Elena yang tampak marah dan kesal. Ia berpikir ulang karena persiapan pesta pasti sedang berjalan. “Tunggu! Bawa saja dia ke kamar para selir. Dandani dia! Sebentar lagi pesta akan segera dimulai,” suruh Raja Harry. Elena terdiam. Entah ia harus bersyukur atau apa? Ia masih bingung. Yang ia tahu, jika dirinya sampai menjadi seorang selir tentu saja ia harus melayani makhluk kejam yang sedang duduk bersantai itu. Mata Elena mendelik penuh kebencian melihat Raja Harry. “Baik, Yang Mulia.” Wanita itu pun pergi karena banyaknya penjaga yang memeganginya. Elena tak bisa meronta dan tak bisa berbuat banyak lagi. “Kurang ajar! Dasar wanita tidak sopan!” dengkus Raja Harry seraya memegang pipinya yang terasa sakit. Elena dibawa ke kamar para selir. Seberapa kuat pun ia meronta, tetap saja tak bisa terlepas dari cengkeraman para penjaga. Darrol lalu menemui seorang wanita paruh baya. Perangainya cantik dan menggunakan gaun yang bagian atasnya sangat terbuka. “Freya, tolong kau dandani wanita ini! Yang Mulia Raja ingin melihatnya sangat cantik,” kata Darrol. Freya adalah makhluk yang dipercaya untuk mengurus para selir. Ia bertugas untuk menyiapkan selir yang akan melayani raja. Freya sangat pandai bersolek hingga mampu menarik perhatian Darrol. “Mm ... apakah harus secantik diriku?” tanya Freya sambil memainkan tangannya, menggerayangi tubuh Darrol yang kekar. “Ah ... tidak ada yang bisa menandingi kecantikanmu,” bisik Darrol. Mereka berdua tampak saling mengagumi satu sama lain. Darrol mencium Freya begitu saja tanpa memperhatikan sekitar. Mata Elena terbelalak. Sebelumnya ia tak pernah melihat kejadian seperti itu secara langsung. Ya, ia hanya melihatnya di dalam film. Terlebih, karena ia tak mempunyai kekasih, ia pun tak pernah melakukan hal itu. Elena hanya bisa menelan ludahnya kasar. *** Di lain tempat, Permaisuri Diandra diizinkan masuk ke dalam kamar Ratu. Kamar milik seseorang yang paling dihormati di Planet Pandora. Saat pintu yang begitu tinggi itu dibuka oleh dua pelayan, tampak sesosok wanita paruh baya yang sedang duduk terpejam. Menikmati pijatan dari seorang pelayannya. “Yang Mulia Ibu Suri, ada Permaisuri Diandra,” bisik dayang yang sedari tadi mengipasinya. Mata Ibu Suri perlahan terbuka dan ia bisa melihat Permaisuri Diandra sedang berlutut memberinya salam. “Bangunlah!” “Terima kasih, Ibu Suri,” sahut Permaisuri Diandra seraya bangkit. “Katakan, hal apa yang membawamu kemari?!” tanya Ibu Suri. Permaisuri Diandra masih menundukkan kepalanya. “Ini mengenai Raja Harry, Ibu Suri.” “Kenapa dia?” Ibu Suri menyuruh pelayannya untuk berhenti memijatnya. Mencoba mendengarkan perkataan menantunya itu dengan serius. “Maafkan kelancangan hamba. Mm ... Raja memasukkan seorang wanita asing ke kamarnya,” jawab Permaisuri Diandra dengan cepat. “Wanita? Siapa?” “Wanita itu berbeda dengan kita,” kata Permaisuri Diandra yang tiba-tiba saja sedikit mendongak. Ia ingin sekali segera mengajak Ibu Suri untuk melihat Elena. “Berbeda?” Belum sempat Permaisuri Diandra menjawab, tiba-tiba saja terdengar suara musik dari luar. Suara benda musik khas planet itu terdengar begitu keras. “Ada suara berisik apa di luar. Cepat periksa!” titah Ibu Suri kepada beberapa penjaga di depan pintu kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN