“Tidak. Aku adalah seorang pria terhormat. Mana mungkin aku melakukan hal itu.”
Raja Harry mengurungkan niatnya. Ia lantas pergi ke kursinya kembali. Duduk sambil meletakkan kedua siku tangannya dan menopang dagu. Pandangannya masih tertuju pada Elena. Namun, rasa kantuk pun mendera dan perlahan matanya terpejam.
***
Pagi menyapa. Suara teriakan seseorang membuat Elena terbangun. Ia bergerak dan memosisikan diri menyamping. Perlahan membuka matanya. Berharap yang ia lihat kali ini adalah seorang suster atau seseorang yang berasal dari bumi yang hendak membangunkannya. Membawanya ke alam dan tempat yang sebagaimana mana mestinya.
“Iya, aku sudah bangun. Berhentilah berteriak–”
Elena terkejut karena yang ia lihat justru sosok laki-laki yang sama sekali tak ingin dilihatnya. Untungnya Raja Harry masih tertidur. Tetapi, suara di luar masih saja terdengar.
“Bahkan tidurnya nyenyak sekali. Dia sama sekali tak mendengar suara ribut-ribut di luar.”
Gadis itu merasa tak nyaman. Datang bulan membuat perutnya mulas bukan main. Ia pegangi perut ratanya itu.
“Duh, aku harus segera mencari pembalut,” katanya.
Lantas ia melingkarkan kain seprai. Melilit tubuhnya untuk menutupi darah yang rembes. Kemudian ia bawa selimut itu berniat untuk mencucinya. Meskipun ia tidak tahu harus membersihkannya di mana.
Langkah kaki kecilnya berhasil membawanya keluar. Sayangnya ia melihat seseorang yang berteriak-teriak itu berada tepat di depan pintu.
“Astaga! Kau lagi ... kenapa kau berteriak keras sekali? Bahkan kau mengganggu tidurku. Tidakkah kau takut mengganggu tidurnya?”
“Diam kau! Cepat minggir!” Permaisuri Diandra mendorong tubuh Elena. Lalu ia pun menerobos masuk ke dalam kamar.
“Eh, wanita yang kasar,” gerutu Elena sambil memegangi selimut tadi.
Selanjutnya ia bertanya kepada para penjaga pintu letak tempat mencuci pakaian alias kamar mandi. Ia menolak untuk pergi ke kolam lagi. Yang ia cari kini adalah benar-benar yang disebut kamar mandi. Seorang penjaga memberi tahunya jalan. Tak banyak lorong dan arah yang harus ia lewati. Elena sangat senang.
Lalu ia berjalan menuju ke tempat tujuannya. Berjalan dengan santainya sembari mengagumi benda-benda yang terpampang nyata di sana. Benda aneh, alias unik dan berkilau.
“Ini kalau aku bawa ke bumi, pasti sudah kujual. Aku pasti sudah kaya dan biaya pengobatan ibuku pasti bisa berjalan lancar. Akan kubeli bunga yang dimaksud Dokter tua itu.”
Elena tertawa sambil menundukkan kepalanya. Ia berjalan dengan menutup mulutnya. Namun, tawanya seketika sirna saat dirinya menabrak seseorang.
“Ah, astaga!” Elena terjatuh.
Selimut yang ia bawa terjatuh. Ia pun segera merapikannya lagi. Akan tetapi, tangan seseorang muncul di hadapannya. Elena terkejut. Matanya pun mengikuti arah di mana ujung tangan itu. Tangan kekar dengan otot-otot yang menonjol.
“Apa kau baik-baik saja?”
Suara yang bertanya padanya tampak tak asing. Elena pun segera melirik wajah sumber suara.
“Pangeran?!”
Pangeran Hermes tersenyum padanya. Memegang tangan gadis itu membantunya untuk bangkit. Mata Elena tak bisa berkedip.
“A-aku baik-baik saja.”
“Mm ... kelihatannya kau buru-buru. Mau ke mana?”
“Ah, aku ... aku hanya ingin pergi ke kamar mandi.”
“Kamar mandi?”
Elena mengangguk. “Jadi ... permisi.”
“Baiklah. Biar aku antar.” Pangeran Hermes memegang tangan Elena tanpa sungkan.
Mata gadis itu membulat sempurna. Tangannya merasakan kehangatan. Berbeda dengan cengkeraman Raja Harry yang dingin. Ia lalu mengikuti ajakan Pangeran Hermes.
Mereka berdua berjalan ke sebuah tempat. Di mana banyak sekali wanita di sana. Mereka langsung membuat kegaduhan, ribut saat melihat kedatangan Pangeran Hermes.
“Nah, ini kamar mandinya. Masuklah!”
Ternyata Pangeran Hermes membawa Elena ke tempat kamar mandi para selir.
“Ah, te-terima kasih, Yang Mulia.”
Elena menundukkan kepalanya dan berlari sekencang mungkin memasuki kamar mandi. Ia tidak mau berlama-lama bersama Sang Pangeran. Tak mau menjadi sorotan banyak orang. Ia tak peduli lagi pada Pangeran Hermes dan segera melakukan apa yang ingin dilakukannya.
Ia masuk ke dalam bilik dan mulai mencuci selimut tadi. Mencuci dengan kucuran air yang jernih.
“Tidak ada sabun di sini ....”
Noda darah agak sulit dibersihkan. Akan tetapi ia tetap berusaha, mengucek dan membilasnya berulang kali. Hingga beberapa saat kemudian, noda itu hilang. Ia pun hendak keluar untuk menjemurnya. Akan tetapi, langkahnya tiba-tiba terhenti saat mendapati beberapa makhluk yang seperti wanita di sana. Ada sekitar lima makhluk kini berada di hadapannya.
“Astaga! Ada apa lagi ini?”
“Hai, kau! Siapa kau sebenarnya? Kenapa Raja Harry dan Pangeran Hermes memperlakukanmu sangat berbeda. Apa kau seorang penyihir?” Makhluk yang berada di tengah-tengah yang berbicara. Makhluk yang mungkin adalah ketua dan orang yang paling ditakuti di sana.
Wanita itu cukup jelas berbeda. Ia lebih cantik dibanding yang lain. Rambutnya tergerai panjang, kulitnya putih bersih dan juga memiliki tinggi badan yang jauh dari tinggi badan Elena.
“Penyihir?” ulang Elena sambil menggaruk kepalanya.
“Kau menyihir Raja Harry dan Pangeran Hermes, kan? Menyihir mereka agar hanya melihatmu saja, kan?” tanya wanita itu lagi.
Wajah mereka tampak menyeramkan. Penuh kemarahan dan kebencian. Sementara itu, Elena tak mengerti dengan tuduhan yang mereka layangkan padanya.
“Mana mungkin. Aku bukan penyihir. Minggir! Aku harus menjemur selimut ini.” Elena hendak menerobos makhluk-makhluk itu. Ia tak mau menjadi korban perundungan.
“Tidak bisa semudah itu, Nona!” Makhluk itu memegang pundak Elena. Menahannya agar tidak pergi.
Elena sangat takut. Ia pun menundukkan kepalanya. Memegang erat selimut yang hendak dijemurnya. Ketua dari makhluk-makhluk itu menekan pundak Elena. Menyuruhnya duduk secara paksa.
“Diamlah di sini! Kau akan menikmati sambutan dari kami semua.”
Makhluk yang menjadi ketua itu memberi isyarat kepada temannya. Sementara Elena tak bisa meloloskan diri. Ia diam dengan rasa ketakutannya. Tangannya gemetar dan jantungnya tak bisa berdetak dengan kecepatan normal.
Makhluk yang diberi isyarat ternyata membawa sebuah benda seperti ember yang berisi air. Ia memberikannya pada sang ketua. Elena mulai tak enak hati. Ia lantas berusaha bangkit. Namun, teman-teman makhluk yang lain bergegas memegangi tangannya. Menahan pergerakannya.
“Lepaskan aku!”
Semua makhluk yang berada di sana hanya tertawa. Menertawakan Elena yang tidak bisa berkutik lagi. Hingga sang ketua mengangkat tinggi-tinggi ember yang berisi air itu dan ....
Byur!
Tubuh Elena disiram air. Ia sangat terkejut dibuatnya. Ia meronta dan ingin berlari. Ingin menghindar dan bahkan menjauhi tempat yang sangat menyeramkan itu.
“Lepaskan aku!”
Sayangnya mereka tak bisa dihentikan dengan kata-kata permohonan yang keluar dari mulut Elena. Mereka hanya tertawa lagi dan lagi seraya mengambil beberapa ember lagi. Bersama-sama mengisi ember itu dan kembali mengguyurkannya pada Elena yang lemah.
“Hentikan ... kumohon ...!” pinta Elena dengan suara yang begitu parau. Kepalanya semakin tertunduk. Ia menangis tepat dengan jatuhnya tetesan-tetesan air yang jatuh dari helai rambutnya.
Tangan sang ketua secepat kilat menarik rambut Elena. Hingga membuat wajah gadis itu mendongak. Elena bisa melihat seember air di atas kepalanya, tepatnya di atas wajahnya. Bersiap untuk mengguyurnya lagi.
“Tuhan ... tolong aku!” batin Elena.
Brak!
Sebelum air itu jatuh mengenai wajah Elena. Tiba-tiba terdengar suara pintu yang berbenturan dengan tembok. Tampak seseorang di sana. Berada di bibir pintu. Semuanya terkejut.