Bercahaya

1083 Kata
Mata Elena tak bisa berkedip saat hidung mereka berdua bersentuhan. Mata mereka bertemu di satu titik dan seolah mengalirkan aliran listrik. Sengatannya sampai mengalir dan bercampur dengan darah di dalam tubuh mereka masing-masing. Raja Harry merasa ada getaran hebat di dalam hatinya. Hingga tiba-tiba Raja Harry menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu. Detik itu juga, cahaya muncul dari mereka berdua. Menyilaukan siapa saja yang melihatnya. Tubuh mereka perlahan naik seolah terbang melayang. Raja Harry pun tak pernah merasakan sensasi yang terlampau dahsyat itu. Mata Elena membulat sempurna. Jantungnya berdebar kencang. Ini adalah pengalaman pertamanya berciuman dengan seorang pria. Tak pernah ia membayangkan jika ciuman pertamanya akan direnggut oleh seorang makhluk asing. Tampak keduanya benar-benar terkejut, segera saja Raja Harry melepas dan menjauhkan bibirnya. Bruk! Mereka terjatuh dan cahaya itu pun sirna. Elena memegangi bibirnya sambil menatap Sang Raja. Ia yang terjatuh dengan posisi terduduk tak menghiraukan rasa sakitnya. Sementara semua mata kini hanya tertuju pada Elena seorang. Mereka terkejut melihat kejadian itu. Mereka saling berbisik membicarakan Elena. Melihat itu, Raja Harry sedikit cemas. Terlebih, ia melihat wajah Permaisuri Diandra yang merah padam. “Bawa dia ke kamarku!” titah Raja Harry. Darrol bergerak cepat bersama para bawahannya. Mereka membawa Elena pergi sesuai perintah Raja Harry. Elena tak melawan. Sementara Sang Raja tampak seperti terengah-engah dan membuat Ibu Suri khawatir. “Rajaku, apa kau baik-baik saja? Apa yang barusan terjadi?” tanya Ibu Suri. Ia tak pernah sama sekali melihat kejadian luar biasa tadi. “Aku tidak tahu, Ibu Suri.” Raja Harry terlihat sangat berkeringat. “Kau tampak seperti kelelahan.” Ibu Suri membantu Raja Harry untuk bangkit. Permaisuri Diandra sudah mengepalkan tangannya. Menahan api cemburu yang membara. Namun, Elena sudah dibawa pergi dan kini ia tak bisa melampiaskan kemarahannya. Pandangannya lalu beralih memperhatikan Ibu Suri dan Raja Harry. Ia lantas bergerak dan ikut membantu Sang Raja. Namun, Raja Harry menepis tangan Permaisuri Diandra begitu saja. Matanya terlihat tampak tak menyukai wanita itu. “Tidak, aku hanya perlu waktu untuk mengatur nafasku.” Hati Permaisuri Diandra terluka. Ia jengkel selalu diperlakukan seperti itu oleh suaminya sendiri. Wajahnya cemberut. Namun, Sang Raja tidak memedulikannya. “Beristirahatlah!” suruh Ibu Suri. “Tidak. Aku harus menemui penyihir,” kata Raja Harry yang kemudian hendak berjalan menuju keluar dan diikuti oleh banyak pengawalnya. “Jangan! Di sana berbahaya,” larang Ibu Suri. “Tidak ada yang akan berani menyakitiku di planetku sendiri,” kata Raja Harry melanjutkan langkahnya. Raja Harry meninggalkan Ibu Suri yang masih tampak kebingungan. Permaisuri Diandra pun ikut berpikir di sana. Tatapan para pelayan membuat Ibu Suri risi. “Cepat bereskan semuanya! Pesta sudah selesai,” titah Ibu Suri yang lantas pergi kembali ke kamarnya. Ia tak bisa berbuat banyak jika Sang Raja telah mengambil sebuah keputusan. Namun, Permaisuri Diandra masih berdiri mematung dan terus-menerus berpikir. Hingga tiba-tiba Pangeran Hermes datang dan berdiri di sampingnya. Sadar dengan kehadiran adik dari Raja Harry itu, ia pun menggerakkan kepalanya. Pangeran Hermes segera menundukkan kepalanya, memberi hormat. “Apa kau melihat apa yang terjadi tadi?” tanya Permaisuri Diandra. “Tentu. Kejadian luar biasa ....” “Berhentilah berbicara seperti itu! Kau membuatku semakin kesal saja,” gerutu Permaisuri Diandra seraya pergi berjalan menuju ke arah kamar Raja Harry. Pangeran Hermes berkacak pinggang. Ia bergumam dengan senyumnya yang licik. “Menarik ....” ** Di kamar Sang Raja, Elena hanya terdiam sendirian karena Darrol meninggalkannya. Elena dikurung di sana. Namun, gadis itu tampak termenung seperti kehilangan akalnya. Ia masih memegangi bibirnya. Kepalanya perlahan bergerak dan berhenti saat melihat pantulan wajahnya dari sebuah guci besar berwarna keemasan. Ia lihat pipinya sangat merah seperti kepiting rebus. “A-apa yang dilakukannya tadi?” Berulang kali terlintas bayangan wajah dan apa yang tengah dilakukannya bersama Sang Raja. Elena merasa sangat malu bahkan ia sampai menutupi wajahnya dengan selimut tebal di sana. “Ah, kenapa aku harus malu? Bukankah ini hanya mimpi?” pikir Elena lagi. Perlahan ia membuka dan menurunkan selimut itu. Lagi-lagi ia berpikir jika dirinya hanya sedang bermimpi. “Tapi ... kenapa rasanya seperti begitu nyata? Lagi ... kenapa pada saat itu aku tidak bisa berbuat apa-apa? Aku hanya diam saja.” Ia ingat jelas ketika dirinya berada dalam dekapan Sang Raja, ia sama sekali tak bisa menggerakkan tubuhnya. Mati rasa untuk sesaat. Elena masih terus memikirkan hal tersebut. Banyak kejadian yang tak masuk akal. Sementara itu, Raja Harry menunggang seekor kuda. Ia bersama beberapa pengawal kepercayaannya pergi menuju sebuah kastel yang tampak sepi dengan banyak kelelawar yang beterbangan di atasnya. Halamannya dipenuhi rumput dan daun kering. Ranting-ranting pohon berserakan. Tanaman merambat di gerbang besi berkarat itu. Kastel itu tampak menyeramkan. “Buka gerbangnya!” titah Raja Harry. Dua orang yang ikut bersamanya turun dan membuka pintu gerbang. Saat gerbang itu didorong, terdengar suara decitan seolah lama tak pernah terbuka. Suara yang sedikit mengganggu pendengaran. Raja Harry turun dari kuda putihnya. Ia lantas berjalan perlahan menuju ke dalam kastel. Ranting-ranting diinjaknya hingga menimbulkan suara. Di hadapan pintu ia berhenti. Seorang pengawal mengetuk pintu itu. Raja Harry menunggu dengan sabar. Lama menunggu membuat Sang Raja kesal hingga memberikan sebuah isyarat kepada pengawal tadi. Sang pengawal mengangguk seolah mengerti apa maksud dari isyarat yang diberikan rajanya. “Raja Harry tiba ...,” teriak pengawal itu. Lalu pintu terbuka dan muncullah makhluk yang menyerupai seorang wanita dengan telinga yang sama persis seperti kaum Sang Raja. Sayangnya wanita itu terlihat sangat misterius. Dengan lipstik berwarna hitam dan kuku-kukunya yang panjang dan berwarna hitam pula. “Aku sudah tahu jika Yang Mulia akan datang ke rumahku. Maka dari itu, aku sudah berdandan semaksimal mungkin,” kata penyihir itu sambil mengusap bahu Raja Harry. “Lancang!” seru seorang pengawal dengan nada tinggi. Ia menepis tangan sang penyihir dengan secepat kilat. Lalu ia berdiri di hadapan Sang Raja bermaksud untuk melindunginya. Menghunuskan pedangnya. Sang penyihir sama sekali tak memperlihatkan wajah takutnya. Ia malah tertawa terbahak-bahak dengan suara nyaringnya yang mampu membuat bulu kuduk para pengawal meremang, ketakutan. “Kenapa? Kenapa aku tidak boleh menyentuhmu? Aku sangat merasa terhina di sini,” keluh sang penyihir seraya menyunggingkan senyumnya yang seolah penuh rencana busuk di dalamnya. Raja Harry tak mau datang membawa keributan. Terlebih ia sangat membutuhkan bantuan sang penyihir itu. “Maafkan aku, Olive ...,” kata Raja Harry. Kemudian matanya beralih menatap pengawalnya. “Singkirkan pedangmu!” “Tapi, Yang Mulia–” Pengawal itu merasa keberatan dengan titah rajanya. "Tunggulah di luar!" titah Raja Harry lagi. Sang Raja malah berjalan masuk ke dalam kastel menyeramkan itu berdampingan dengan penyihir yang bernama Olive tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN