Di tempat lain, di kamar raja, Elena masih terdiam dengan pikirannya yang bingung. Hingga sebersit ide itu muncul lagi, ia berusaha untuk tidur kembali dengan harapan jika yang dialaminya memang benar-benar hannyalah mimpi belaka.
Matanya mulai mengatup, tapi pikirannya masih saja memikirkan Sang Raja. Ia membolak-balikkan tubuhnya mencari posisi ternyaman. Ia menarik-ulur selimut bahkan sampai bersembunyi di dalamnya. Sudah banyak posisi ia coba. Akan tetapi, ia tidak bisa tertidur.
“Aku menyerah. Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang? Apa aku harus menunggu Raja yang menyebalkan itu lagi? Setiap di dekatnya saja aku merasa kesulitan untuk bernafas.”
Elena memeluk bantal guling. Hingga tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Langkah kaki yang cepat terdengar menuju ke arahnya berada. Elena refleks bergerak. Ia bangkit dan memosisikan dirinya untuk duduk. Saat dirinya berbalik, ia pun terkejut.
“Dia ....”
“Kau ... wanita tidak tahu malu! Cepat turun dari ranjang itu!” suruh Permaisuri Diandra dengan suaranya yang terdengar melengking.
Permaisuri Diandra memaksa masuk. Menerobos penjagaan pintu kamar Raja Harry. Ia ingin sekali menemui Elena. Tak suka jika sampai ada wanita lain yang berada di kamar Sang Raja karena ia pun sangat jarang bahkan langka untuk diberi izin masuk ke dalam kamar tersebut.
“A-aku?” Elena menunjuk dirinya sendiri.
“Lalu siapa lagi?”
Dengan matanya yang mendelik, Permaisuri Diandra menarik selimut yang tengah dikenakan Elena. Merebut dan mengempaskannya ke lantai. Ia tampak berapi-api.
“Pengawal! Cepat seret wanita ini keluar!” suruh Permaisuri Diandra.
Kedua orang pengawal hanya diam dan saling menatap satu sama lain. Mereka sebenarnya ragu untuk melaksanakan titah Sang Permaisuri. Yang mereka tahu jika Sang Raja menyuruh wanita asing itu untuk tinggal di kamar rajanya. Maka dari itu, mereka enggan mengikuti perintah Sang Permaisuri.
Karena kesal perintahnya tak digubris, Permaisuri Diandra lantas bergerak sendiri. Ia menarik paksa tangan Elena. Menyeretnya untuk turun dari kamar raja.
“A-aku tidak mau. Aku hanya ingin di sini. Aku hanya ingin tidur.” Elena melawan. Ia menepis genggaman tangan Permaisuri Diandra. Lalu ia bersembunyi di balik kelambu nyamuk di sana.
Permaisuri Diandra tak tinggal diam. Ia kembali pada Elena. Berusaha menangkapnya. “Bagaimana bisa kau tidur di kamar ini? Tidak! Tidak boleh.”
“Izinkan aku tidur di sini!” Elena berhasil meloloskan diri. Ia malah bermain kejar-kejaran dengan Sang Permaisuri.
“Pengawal, cepat bantu aku menangkapnya!” suruh Permaisuri Diandra.
Para pengawal justru hanya menahan tawa saat melihat kelakuan kedua wanita tersebut. Elena berusaha tak bisa ditangkap, ia malah menjulurkan lidah, meledek.
“Tangkap aku jika kau bisa,” tantang Elena.
“Awas kau!” Permaisuri Diandra terpancing emosi. Ia melempar bantal pada Elena.
“Tidak kena!”
Bantal itu jatuh di belakang Elena. Tak tinggal diam, Elena malah mengembalikan bantal tersebut dan mengenai wajah Permaisuri Diandra. Wajah Sang Permaisuri sudah merah padam.
“Tidak!” teriak Permaisuri Diandra.
Mata keduanya tertuju pada bantal guling di sana. Mereka sudah bersiap untuk menjadikannya sebagai senjata. Dengan cepat mereka ambil ujung-ujung bantal guling itu.
“Berikan!” Permaisuri Diandra mencoba menarik ujung yang dipegangnya.
“Aku yang melihatnya lebih dulu,” kata Elena tak mau kalah. Ia kembali menarik ujung bantal guling yang miliknya.
“Kenapa? Apa Raja adalah suamimu?” tanya Elena.
“Dia–”
“Ada apa ini?!”
Suara menggelegar membuat keduanya terdiam. Elena melepas bantal guling yang tengah dipegangnya hingga Sang Permaisuri terjatuh.
“Ambillah! Sekarang itu jadi milikmu,” kata Elena sambil menepuk-nepuk tangannya. Membersihkan debu di tangannya.
“Aw! Dasar wanita aneh!” Permaisuri Diandra merintih kesakitan.
Sementara itu, Raja Harry yang baru tiba lantas segera berjalan menuju ke arah Permaisuri Diandra. Membantu wanita itu bangkit.
“Te-terima kasih,” ucap Permaisuri Diandra. Ia baru bisa melihat lagi suaminya dari dekat setelah hari pernikahannya.
Namun, mata Raja Harry hanya tertuju pada Elena yang tertunduk. Ia mengingat seluruh perkataan Olive. Akan tetapi, Raja Harry masih belum mempercayainya. Untuk membuktikannya, ia mendapatkan sebuah ide.
“Keluarlah, Permaisuri! Tinggalkan kami berdua!” titah Raja Harry seraya menurunkan tangannya dari tangan Permaisuri Diandra.
“Apa maksudmu? Tidak. Aku tidak mau meninggalkan kalian hanya berdua di kamar ini.” Permaisuri Diandra keberatan.
Begitu pun dengan Elena. Ia tidak mau hanya berdua di dalam kamar itu. Ia takut pada Sang Raja. Namun, jika melawan, ia takut dimasukkan ke dalam penjara seperti rencana awal Sang Raja.
“Cepat pergi! Kembalilah ke kamarmu, sekarang!” suruh Raja Harry dengan nada yang penuh penekanan.
Permaisuri Diandra bergeming. Ia malah semakin lengket pada Raja Harry. Memeluknya di hadapan Elena. Ia tak mau pergi.
“Lepaskan! Kau harus ingat, jika Sang Raja diperbolehkan memiliki selir.” Raja Harry menepis kedua tangan Permaisuri Diandra.
“Apa kau akan menghukumku juga jika aku melawan?”
“Tentu saja, bahkan aku bisa menghukum para selirku yang tidak mau menuruti perintahku! Siapa pun harus tunduk di hadapanku!” Raja Harry berkata dengan tegas.
Takut dengan ancaman itu, Permaisuri Diandra pun akhirnya mengalah. Ia lantas pergi dengan berat hati, meninggalkan Elena bersama tambatan hatinya. Ia berjalan dengan sorot matanya yang tajam penuh pengawasan kepada Elena.
Lain hal dengan Elena. Ia malah menjulurkan lidahnya. Meledek Sang Permaisuri. Hingga Permaisuri Diandra keluar dari kamar itu, ia pun bersorak penuh kemenangan. Mengangkat kedua tangannya setinggi-tingginya sambil berteriak-teriak.
“Hentikan!” bentak Raja Harry.
Otomatis Elena berhenti seketika. Ia bungkam dalam sekejap dengan posisi tubuhnya yang berdiri tegap dengan kepala tertunduk, malu. Raja Harry perlahan berjalan menghampirinya.
Kaki Elena gemetar. Ia ingin sekali berlari dari sana. Sampai tangan Raja Harry menepuk pundaknya, jantung wanita itu seolah-olah hendak loncat keluar. Pandangan Sang Raja sama sekali tak bisa diartikan.
“Ma-maf, Yang Mulia,” ucap Elena tergagap.
“Siapa namamu?”
Elena sedikit mendongak. “Elena, Yang Mulia.”
“Elena ... dari mana sebenarnya kau berasal?” tanya Raja Harry seraya berjalan memutari Elena yang tengah berdiri di satu titik dan sama sekali tak bergerak.
“Dari ... dari bumi.”
“Bumi? Di mana itu? Sepertinya aku baru mendengar nama tempat itu.” Raja Harry menghentikan langkahnya dan berdiri tepat di samping Elena.
Sementara itu, Elena tak bisa menjawab. Ia pun tidak tahu di mana bumi, tempatnya berasal itu. Yang hanya ingin ia tahu, justru apa Planet Pandora itu. Kenapa bisa ia sampai terdampar di planet yang aneh ini?
“Baiklah, tak peduli dari mana kau berasal. Yang aku tahu kau hanya seorang pesuruh saja. Kau hamba yang hanya harus menuruti semua perintahku.”
Elena masih bungkam dengan banyak pertanyaan di kepalanya. Ia pun tidak tahu kenapa bisa ia menjadi seorang hamba di sana dan malah diberikan kepada seorang raja yang aneh seperti Raja Harry.
“Baiklah, hal yang perlu kau lakukan adalah ... menemaniku malam ini,” bisik Raja Harry tepat di telinga sang gadis.
“Apa?!” Elena terkejut setengah mati.