"Kenapa cewek itu bisa pindah ke kelas gue? Lo sengaja ya mindahin dia biar bisa deket-deket sama Keenan terus? Lo sengaja kan bikin gue susah deketin Keenan?"
Baru beberapa menit setelah selesai mengajar, Raga sudah mendapat omelan dari istri kecilnya. Tadi selesai mengajar di kelas Yasmin, pria itu mendapat pesan dari Yasmin yang memintanya untuk ketemuan di belakang gedung kampus. Raga pikir ada apa tumben gadis itu ingin mengajaknya bertemu, ternyata sesampainya disana pria itu langsung mendapat omelan dari gadis itu.
"Siapa yang kamu maksud? Gladys?"
Mendengar nama gadis yang sangat dia benci disebut membuat Yasmin semakin kesal. "Memangnya adalagi cewek lain yang pindah ke kelas gue hari ini?"
Sebuah senyuman mengembang di bibir Raga, pria itu sudah menduga jika pasti Yasmin akan marah setelah mengetahui kepindahan Gladys ke kelasnya. Sambil menyunggingkan senyum jahilnya, Raga memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana bahan kain yang saat ini ia kenakan. "Memangnya apa salahku kalau Gladys pindah ke kelas yang sama denganmu? Gladys datang menemuiku menyerahkan surat perpindahannya, dia sudah mengurus semua untuk pindah jurusan. Aku sebagai dosen biasa hanya bisa membimbingnya, jadi diluar itu semua bukan kendaliku."
"Lo bisa pakai alasan apa kek biar dia nggak jadi pindah jurusan apalagi ke kelas gue. Emang dasar lo aja yang nggak suka gue deket sama Keenan makanya lo buat Gladys pindah ke kelas gue."
"Bilang saja kamu takut salah saing sama Gladys kan? Yasmin, kamu itu harus sadar kalau Gladys itu udah pacaran sama Keenan, jadi lebih baik kamu berhenti mengejar Keenan dan mulai menerima takdirmu menjadi istri dari Raga Ravindra Malik."
Seketika ekspresi kesal yang sejak tadi terpampang jelas di wajah Yasmin berubah menjadi tatapan menjijikan. Gadis itu bahkan mulai bertingkah seolah ingin muntah setelah mendengar apa yang baru saja Raga katakan padanya. Raga memintanya untuk menerima nasibnya menjadi istri pria itu? Yang benar saja. Seorang Yasmin Putri Claresta tidak akan mau menerima pria itu sampai kapanpun.
"Gue, terima takdir jadi istri lo? It's your dream, not me! Sampai kapanpun gue nggak akan sudi terima lo jadi suami gue apalagi gue disuruh layanin lo sebagai istri."
"Yes it's my dream, mbak! My dream!" balas Raga dengan nada yang dibuat persis dengan film yang saat ini sedang booming dimanapun.
Melihat tingkah pria didepannya ini membuat Yasmin semakin menatapnya jijik "Dasar gila! Sudahlah berbicara denganmu hanya akan membuatku gila. Menyingkirlah!"
Raga terlihat hanya diam ketika Yasmin memintanya untuk menyingkir. Lagipula untuk apa pria itu menyingkir kalau jalan disana saja masih begitu luas. Yasmin bisa pergi lewat mana saja tanpa harus memintanya menyingkir. Melihat Raga hanya berdiri diam tanpa bergeser sedikitpun, lantas Yasmin langsung mengeluarkan jurus andalannya. Gadis itu menginjak kaki Raga menggunakan sepatu heelsnya hingga membuatnya berteriak kesakitan. Sebuah senyuman smirk seketika tercetak jelas dibibir Yasmin setelah berhasil membuat pria didepannya merintih kesakitan. Tanpa meminta maaf atau merasa bersalah, gadis itu langsung melangkahkan kakinya pergi begitu saja. Meninggalkan Raga yang terlihat masih merintih kesakitan.
,,,,,,,,,
Dengan jalan yang sedikit pincang, Raga berjalan menyusuri koridor kampus menuju ruangan dosen. Beberapa mahasiswi yang melihatnya berjalan seperti itu bertanya kenapa dengan kakinya, bahkan tidak sedikit dari mereka yang ingin membantunya berjalan tapi dengan ramah pria itu mengatakan jika dia baik-baik saja dan bisa berjalan sendiri. Hingga saat sampai di depan ruang perpustakaan, pria itu hampir bertabrakan dengan Gladys yang baru saja keluar dari perpustakaan.
"Eh maaf pak, saya tidak melihat kalau ada bapak," ucap Gladys.
"Gapapa kok. Lain kali kalau jalan dilihat dulu ya kanan kiri depan belakang ada orang tidak," balas Raga sambil mengumbar senyum ramahnya.
Tidak jauh berbeda dengan mahasiswi lainnya yang terpesona dengan ketampanan Raga, tampaknya Gladys juga menjadi salah satu dari mereka. Terlihat jelas saat gadis itu tidak bisa menahan senyumannya saat ditatap dan dan mendapat senyuman ramah dari dosen pujaan hati hampir seluruh mahasiswi di kampus itu.
Melihat gadis didepannya tampak tersenyum malu membuat Raga mengerutkan keningnya bingung. "Gladys, namamu Gladys kan? Kamu kenapa, sakit? Kenapa pipimu merah?"
Reflek Gladys langsung menyentuh kedua pipinya begitu mendengar pertanyaan Raga. Dapat ia rasakan pipinya sedikit hangat, oh apa jangan-jangan dia sedang diterpa syndrom malu-malu? Pikirnya.
"M-maaf pak, sepertinya saya terlalu banyak menggunakan blush on. Oh iya benar, nama saya Gladys."
"Oh begitu. Gladys, kalau begitu saya permisi dulu ya."
"Mau dibantu, pak? Saya bisa bawakan buku-bukunya? Sini, biar saya bawakan. Ke ruangan dosen kan?"
Belum sempat Raga mengeluarkan suaranya untuk menolak tawaran Gladys, Gladys sudah lebih dulu mengambil alih beberapa buku yang Raga bawa kemudian berjalan lebih dulu diikuti pria itu. Selama perjalanan menuju ruangan dosen, tidak sedikit mahasiswi yang berpapasan dengan mereka menatap mereka dengan tatapan penuh tanya. Tidak sedikit juga dari mereka yang iri dengan Gladys karena bisa berjalan beriringan dengan dosen idaman seluruh mahasiswi disana.
"Pak Raga, kenapa orang-orang melihat kita seperti itu ya? Apa ada yang salah dengan pakaian saya?" tanya Gladys ditengah perjalanannya.
Raga terlihat menoleh ke sekitar, dan benar saja hampir semua orang terutama yang perempuan menatap dirinya dan Gladys sambil saling berbisik. "Oh mungkin mereka melihatku karena jalanku sedikit pincang," balasnya. Pria itu sudah tahu alasan kenapa dirinya dan Gladys menjadi pusat perhatian, hanya saja ia tidak ingin Gladys mengetahui hal itu karena sepertinya Galdys sama sekali belum mengetahui jika dirinya adalah dosen idaman dikampus itu.
"Oh saya baru sadar, kaki pak Raga sakit?" tanya Gladys sambil menghentikan langkahnya. Gadis itu menunduk melihat kaki Raga yang tampak biasa saja namun ketika berjalan pria itu terlihat sedikit pincang.
"Tidak papa, tadi hanya tidak sengaja diinjak orang saja. Tak apa, nanti juga hilang sakitnya."
"Diinjak orang sampai bisa separah itu? Sudah bapak cek kaki bapak? Takutnya bengkak atau apa begitu? Mau saya bantu?"
Dengan cepat Raga menggeleng sambil mundur selangkah. Gladys adalah gadis yang cukup sigap dalam berbagai hal, tadi saja gadis itu langsung mengambil alih bukunya sebelum dia sempat menolak bantuan darinya. Bisa gawat nanti jika tiba-tiba Gladys langsung melepas sepatunya untuk melihat kondisi kakinya yang diinjak Yasmin tadi. Semua orang akan salah paham jika itu terjadi.
"Saya bantu ya, pak?"
"Jangan! Eh maksudnya saya sudah mengeceknya tadi. Hanya dikit bengkak saja tapi tidak terlalu parah. Hmm Gladys, sampai disini saja kamu membantu saya. Sebentar lagi kamu ada kelas kan? Biar saya membawa bukunya sendiri."
Raga langsung mengambil alih buku-bukunya yang berada ditangan Gladys sebelum kemudian melangkahkan kakinya pergi meninggalkan gadis itu. Melihat sang dosen sudah mulai melangkah jauh, Gladys pun teringat sesuatu.
"Memangnya gue masih ada kelas ya? Bukannya udah nggak ada kelas buat hari ini?" gumamnya sambil mengingat apakah dia masih ada kelas lain hari ini atau tidak.