Bab 4

3389 Kata
Bulan telah berlalu. Dani sudah mewujudkan toko kecil yang ada di panti. Komunikasi Rena dan Dani hanya sebatas pekerjaan saja. Dan itu mereka bicarakan saat sarapan atau makan malam saja. Setelahnya, mereka kembali larut ke aktivitasnya masing-masing. Usai makan malam, Dani masuk ke kamarnya. Begitu juga Rena, dia di kamar asik dengan buku novelnya. Suatu hari, seperti kegiatan biasanya. Setelah Dani berangkat, Rena menutup pintu. Dan setelahnya, dia ganti baju untuk kerjaan bersih bersih, hotpants dan tank top. Pada saat ganti baju, terdapat seseorang memasuki rumah, tanpa sepengetahuan Rena. Lalu gadis ini menuju ruang makan dan membersihkan bekas piring yang digunakan sarapan. Saat akan mengambil perlengkapan kebersihan, Rena mendengar tapak kaki disekitar kamar Dani. Rena mengernyitkan dahi, menajamkan indera pendengarannya. Dia mengambil sapu, berjalan pelan tanpa suara menuju kamar Dani. Rena terkejut melihat pintu kamar Dani terbuka. Ketika dia mengintip, ada orang sedang membuka lemari bos nya 'Hmmm kalo ada yang ilang, pasti tersangka utamanya aku, tidak akan kubiarkan dia lolos' batin Rena dengan memicingkan matanya dan menajamkan pendengaran. Perlahan Rena berjalan dengan mengendap-ngendap masuk ke kamar Dani. Dia sudah berdiri tepat disisi pintu lemari yang terbuka, berharap jika pencuri menutup pintu, dia akan memukul dengan sapu. Akhirnya pintu lemari pun ditutup dan Rena mengangkat sapu hendak memukul orang yang dicurigai. "RENA???!" "PAK DANI???!" Mereka berteriak dalam waktu yang bersamaan karena terkejut. "Kamu bikin aku kaget Rena..." Ujar Dani sambil mengatur nafas dan mengelus d**a. "Maaf pak, saya pikir ada pencuri, takut ada barang yang ilang, lalu nuduh ke saya." Rena menunduk penuh rasa bersalah. "Iya, nggak papa. HEI! Kamu kenapa pakai baju seperti ini? Kan aku sudah bilang, selama hanya ada kita berdua, kamu harus berpakaian sopan" protes Dani, sambil memandang Rena. Dia baru menyadari pagawainya ini tak menaati peraturan. "Ini waktu saya untuk bersih bersih pak. Jadi saya kalo bersih bersih pakai baju ini, gerah kalo pakai baju panjang terus. Lagian saya nggak tau kalo bapak kembali ke rumah. Bapak juga langsung masuk, tanpa salam pula!" bela Rena dengan bibir yang sedikit manyun. 'Enak aja nyalahin orang' Rena menggerutu dalam hati. Mereka terdiam sejenak. "Ok ok....ini memang salahku. Aku minta maaf, dan sekarang aku beneran berangkat ke kantor" ujar Dani berjalan keluar kamar. Pria ini tersenyum sendiri ketika mengingat wajah Rena yang cemberut sambil mengomeli dirinya. 'Sudah dua kali aku di omelin Rena.' batin Dani. Sejak kejadian itu, Dani lebih sering memperhatikan Rena, terkadang disela sela kegiatannya dia mengingat ucapan Rena yang polos sehingga membuatnya tertawa. Biasanya pada saat mengikat dasi, dia tidak pernah peduli, tapi sekarang dia menikmati kedekatan tubuh Rena, merasakan jari jari Rena membuat kesempurnaan untuk dirinya. Dani juga memperhatikan garis wajah Rena. 'Manis...' batin Dani. "Sudah pak, ada yang kurang?" Pertanyaan yang selalu dilontarkan Rena usai membuat simpul dasi. "Apa menurutmu aku cukup tampan dan sempurna?" Pertanyaan Dani yang tiba tiba membuat Rena salah tingkah. "Hm? Jelas bapak tampan, ganteng, sempurna. Kalo saya ngomong jelek, ntar saya dipecat" ujar Rena polos dengan tersenyum memberikan jawaban 'aman' sebagai pegawai. Dani pun tertawa mendengar jawaban Rena yang polos. "Hari ini aku ada meeting, kamu nggak usah siapkan makan malam" Dani mengingatkan. "Baik pak" Dani pun meninggalkan Rena. Pada saat makan siang, Vino bertamu ke kantor Dani. Seperti biasa, pria ini akan masuk tanpa mengetuk pintu. Dia melihat Dani melamun sambil tersenyum sendiri. "Abis liat apa kok mesam-mesem sendiri?" tanya Vino merusak lamunan sahabatnya. "Nggak papa." hanya itu ucapan Dani. "Nggak mungkin bor. Pasti dapat cuan gede lagi ya?" desak Vino.  "Kalo cuan gede mah sering......." kata Dani dan menahan senyum yang berlebihan. "Terus apa yang bisa bikin kamu senyam-senyum kayak orang nggak waras gini?" Vino makin penasaran. Karena senyum Dani ini beda sekali. Malah terlihat aneh menurut Vino. "Rena, Vin....." Akhirnya Dani menjawab. Dia juga kasian melihat temannya yang ingin tahu ini. Mungkin dia nggak bakalan bisa tidur. "Rena assistant kamu?" Vino meyakinkan Rena yang dimaksud adalah orang yang sama. "Iya. Rena siapa lagi?" "Emang kenapa sama dia? Dia nggodain kamu?" "Nggak .." kata Dani dan kembali menerbitkan senyum simpul. "Lha terus apa?" Vino semakin penasaran. "Dia itu kalo ngomel itu lucu. Aku uda dua kali di omelin dia. Wajahnya itu bikin kesel tapi bikin ketawa juga...." "Kamu kayaknya beneran gila ya? kok seneng banget di omelin cewek?!" "Selain keluarga aku, baru dia cewek yang berani ngomelin aku."  "Terus kamu keberatan dia ngomelin kamu? Soalnya dia assistant kamu?" Dani terkekeh dan menggelengkan kepala. "Bukan Vin. Justru aku ...gimana ya? Dia nggak seperti wanita lain yang berusaha menarik perhatian aku. Mereka selalu nurut apa yang aku minta. Tapi dia enggak. Dia itu...ya seperti dia." Dani kesulitan menggambarkan sosok Rena yang lugu, yang apa adanya. Kadang menurut, dan kadang berontak dengan omelannya yang lirih. Seperti menggerutu. "Emang si Rena ini gimana sih?!" tanya Vino yang penasaran juga dengan Rena.  Vino memang beberapa kali melihat Rena. Tapi itu hanya sekilas. Tiap ada ada tamu atau teman Dani, saat Rena kebetulan di dapur, gadis ini langsung lari ke atas. Seperti menghindar. Dan Rena adalah assistant yang menangani Dani, bukan ART yang biasanya membawakan minuman untuk tamu bosnya. Jadi Vino tidak pernah bertatap muka lagi sejak perkenalan yang pertama. "Secara personal, aku nggak tau banyak tentang dia. Karena kita cuma ketemu waktu sarapan dan makan malam. Kadang aku makan malam diluar. Ngomong paling tentang kerjaan dia aja. Tapi yang pasti, dia jujur. Aku taruh barang berharga di sembarang tempat, nggak pernah ilang." "Jadi?" tanya Vino dengan pertanyaan menggantung. "Jadi apa?" Dani membalas bertanya. "Kamu jatuh cinta sama dia?" "Kok jatuh cinta? Aku nggak jatuh cinta Vin. Aku cuma heran aja, ada cewek yang dengan entengnya ngomelin aku. Padahal aku ini bosnya lho." Dani mengelak jika dikatakan jatuh cinta. Dani dan Vino masih membicarakan Rena. Disisi lain, Rena yang ada di apartemen sedang merencanakan sesuatu. 'Yeay! Ntar malam makan mie goreng seberang apartemen. Sudah lama ga ngerasain makanan kaki lima' Rena bicara pada dirinya sendiri. Malam telah tiba, jam menunjukkan pukul 19.00. Rena berjalan sendiri menuju komplek kuliner kaki lima yang ada diseberang apartemen. Setelah membeli yang diinginkan, dia pun segera kembali. Saat memasuki apartemen, Rena terkejut, karena ada Dani yang sudah duduk di sofa. "Kamu dari mana?" Tanya Dani penuh interogasi. "Abis beli mie goreng. Untuk makan malam. Kok bapak sudah pulang?" tanya Rena bingung "Lho ...ya terserah saya mau pulang jam berapa, kan ini rumahku" bela Dani. 'Iya Pak, saya masih ingat kalo ini rumah bapak. Saya disini cuma pembantu.' batin Rena menahan kekesalannya. "Maaf Pak, tadi bapak bilang makan malam diluar. Sudah selesai makan malamnya?" Tanya Rena perlahan. "Batal! Dan sekarang aku laper" "Lho.... terus gimana pak? Bapak bisa tunggu? Saya masak sebentar, beri saya waktu 1 jam" Rena bingung karena bosnya belum makan. Jangan sampe si bos sakit. Jika terjadi, Rena merasa bersalah dan merasa tak berguna. "Nggak usah! Kamu beli apa? Kita makan itu aja" "Bapak mau? Ini masakan pinggir jalan lho pak, tidak terjamin kebersihannya." "Kamu selama makan nggak ada gangguan kan? Jadi aku anggap aman, buruan siapin! Laper..." Akhirnya mereka makan mie goreng kaki lima. Dani tampak menikmati mie yang dimasak secara sederhana ini, terlihat saat menyantap makanannya yang begitu lahap. Mereka makan dalam diam. Dani diam karena penasaran dengan masakan ini. Sedangkan Rena kesal karena harus berbagi dengan bosnya. Usai makan, Rena mencuci piring. "Uda kebayang serunya makan mie ini. Eh pupus gara-gara berbagi sama dia" gerutu Rena yang ternyata di dengar juga oleh Dani yang kebetulan berdiri di belakang Rena. Pria ini hanya tersenyum dan berlalu dari dapur. "Ren, aku mau makan mie ini lagi.Kita makan ditempat rasanya pasti lebih seru. Lusa ya kita makan malam disitu" ajak Dani. Rena hanya mengangguk. *** Rena mengikat dasi pada leher Dani. "Jangan lupa, nanti malam kita makan malam mie goreng" ujar Dani sambil menatap Rena. Rena yang merasa diperhatikan, berusaha tenang dan dingin seperti hari harinya, padahal jantungnya berdegup kencang. Karena biasanya Dani menggenggam ponsel dan selalu fokus di layarnya. "Baik pak" ucap Rena datar. Gadis ini tidak pernah berbasa-basi. Dia hanya menjawab apa yang di tanyakan Dani. Hal ini lah yang membuat Dani takut melangkah lebih jauh. Tak dapat di pungkiri, sikap inilah yang membuat Dani seakan tertantang ingin mendekati Rena. "Sudah pak, ada yang kurang?"tanya Rena lagi seperti hari-hari sebelumnya. "How do i look? Apakah tampan seperti biasanya?" Dani menggoda Rena "Anda orang yang paling percaya diri, anda tampan seperti biasanya" Jawab Rena dengan tersenyum. Tentu saja senyum itu palsu. Dani tertawa mendengar jawaban Rena. Jam 18.00 Dani sudah siap rapi menggunakan kemeja. Rena turun dari kamar, hanya menggunakan celana jeans dan kaos casual. "Lho pak?! Katanya mau makan mie goreng?" Tanya Rena, melihat penampilan Dani yang cukup formal. Dani mengenakan celana berbahan kain dan polo shirt. "Iya benar. Ayo berangkat!" "Bapak ga perlu pakai kemeja, nggak perlu serapi ini . Saya yang malu, ntar dipikirnya saya ngajak om om genit" ujar Rena sambil terkekeh. "Jadi aku pakai apa?" Tanya Dani bingung. "Pakai yang santai aja ... terserah ...tapi jangan pakai baju formal" Tak lama Dani pun langsung mengganti baju, sekarang dia hanya memakai celana pendek selutut dan kaos oblong. Walaupun hanya memakai celana pendek dan kaos oblong, ketampanan Dani tetap terpancar. Sejak keluar kamar, Dani rasanya ingin menggenggam tangan Rena. Tapi ia kuatir Rena akan menolaknya. Karena, ia jauh berbeda dengan wanita yang di sekitar Dani yang malah bergelendot manja atau mencoba menyentuh Dani. Sedangkan Rena berjalan lebih dulu beberapa langkah, seakan menghindar bosnya. Sampai didepan halaman apartemen, mereka harus menyeberang jalan ke tempat tujuan. Dani menarik nafas dan menggenggam tangan Rena. Butuh keberanian bagi Dani untuk melakukan hal ini. Rena melihat tangannya yang saat ini jemari Dani bertautan lalu memandang bosnya. "Mau nyebrang kan?' kata Dani berusaha cuek, seolah-olah tidak terjadi sesuatu. Hati Rena berdetak kencang seakan mau lepas. Terkejut. Senang. Canggung. Itu yang dirasakan Rena saat ini. 'Astaga! kalo kayak gini aku butuh dokter jantung. Seandainya jantung ini bersuara, suaranya uda melebihi suara musik orang kondangan' batin Rena. "Ayo menyebrang!" ucap Dani yang memimpin jalan, tangan mereka pun saling menggenggam. Hingga usai menyeberang, tangan Rena masih ada di genggaman Dani. Rena sesekali melihat Dani, tapi Dani tidak melihat ke arahnya, Dani tetap melihat ke depan. "Itu disana pak tempatnya" Rena memaksa melepaskan tangannya dari genggaman Dani ,untuk menunjukkan suatu tempat. Mereka duduk di bangku panjang, karena banyaknya pelanggan, mereka harus duduk berdekatan. Dani pun meraih tangan Rena kembali. Rena pun kaget akan perlakuan Dani. "Pak...ini tempat umum, takut digerebek" canda Rena, kuatir menyinggung perasaan Dani. "Aku cuma takut mereka akan mengganggumu, kalo tanganmu aku pegang, setidaknya mereka berpikir kamu milikku" Dani memberikan alasan, padahal di sisi lain dia tidak suka penolakan. "Yaaahhh....mati donk pak pasaran saya. Ntar dipikirnya saya pacar bapak beneran, padahal mungkin ada lelaki sini yang mau nembak saya" canda Rena sambil, disisi lain hatinya begitu senang tangannya digenggam Dani. Dani terkekeh mendengar candaan Rena. Setelah selesai makan malam, mereka bergandengan lagi untuk menyeberang jalan. "Kita jalan jalan ke plaza dulu ya" pinta Dani. "Baik pak" "Bisa panggil aku Dani aja? Rasanya aneh kalo kamu panggil aku 'pak' " ucap Dani dengan nada memerintah. "Rasanya gak sopan jika saya memanggil 'Dani' saja, kalo saya panggil 'mas Dani' boleh?" "Ok deal..." Di dalam plaza, Dani menggandeng erat Rena. "Maaf pak..eh mas." Rena hendak melepaskan genggaman. "Kenapa? Kamu nggak suka aku gandeng? You have to know, holding hands is indirect ways about speaking without words, like ' I WANT YOU WITH ME' and 'STAY WITH ME'." "Bukan masalah suka atau tidak mas, tapi kuatir ada kolega atau rekan bisnis mas Dani. Hal ini akan merusak reputasi mas Dani dan keluarga." ucap Rena. Dani mengakui, apa yang dilontarkan gadis ini memang benar. Tapi saat ini, Dani ingin lebih dekat dengan Rena. Dan waktu yang sempit ini, akan Dani gunakan sebaik mungkin bersama Rena. "Mereka tidak menilai ku dari hal ini, mereka memerlukan otakku, so i don't care, tapi kamu suka aku perlakuan seperti ini kan?" Pertanyaan Dani membuat Rena salah tingkah dan pipinya bersemu, sebenarnya Rena ingin berkata tidak, tapi tubuhnya berkata lain. "Kamu tidak perlu menjawab, pipimu sudah menjawab, kamu suka aku gandeng" Dani terlihat gemas melihat wajah merah itu. "Tapi saya kuatir, ntar mas Dani menilai saya w************n. Aku mau seperti itu..... baju yang di gunakan manekin, hanya orang tertentu yang bisa memegangnya, bukan yang ada di keranjang obralan yang bisa dipegang oleh siapapun" bela Rena polos sambil menunjuk suatu butik baju dimana terlihat manekin menggunakan baju gaun malam. 'Cewek mana yang ga mau digandeng cowok ganteng' batin Rena. "Oh ....jadi kamu mau aku belikan baju itu? Ayo masuk! Kamu pengen apa? Bilang aja!" ucap Dani yang tangannya tetap menggenggam posesif Rena. "Bukan mas, aku nggak pengen gaun. Itu hanya perumpamaan aja". Kata Rena dengan nada kesal. " Kalo kamu mau pun, juga nggak papa... " Dani menawarkan lagi. "Gaun itu buat apa? Saya juga nggak pernah kemana-mana. Paling jauh ke pasar tradisional. Nggak mungkin juga saya pake gaun kayak gitu... " Ocehan Rena membuat Dani terkekeh. Pria ini heran dengan Rena. Dia berbeda dengan wanita lain. Biasanya wanita yang menggelayut manja ke dirinya. Tapi Rena beberapa kali ingin melepaskan tangan nya. Dan saat Dani berjalan dengan wanita lain, wanita itu akan meminta dibelikan apapun, tas, sepatu, baju. Tapi Rena, dia tidak meminta apa apa. Dan saat berjalan menyusuri lorong dengan berbagai toko, wanita ini tidak menunjukkan ketertarikannya sama sekali. Dia hanya berjalan mengikuti langkah tuan nya. Mereka berjalan layaknya sepasang kekasih, walaupun Rena merasa kaku dan kikuk. "Mas, aku masuk ke supermarket. Mas Dani boleh naik duluan" Rena mempunyai alasan supaya terlepas dari genggaman Dani. "Nggak papa aku temani sekalian. Mau belanja apa?" "Mau beli ice cream" "Ok, kita cari ice cream." Rena pun pasrah, mereka berjalan menuju supermarket yang berada dilantai dasar apartemen. "By the way kapan terakhir mas Dani belanja? Kayaknya ga pernah dech" goda Rena. "Hari ini aku belanja" "Oh ya? Belanja apa aja?" "Saham bank. Saham perusahaan." "Hmmmm...itu mah bukan belanja. Tapi investasi." ucap Rena mencibir. Dani tertawa dan meremas tangan Rena. "Kok diremas?" tanya Rena dengan meringis seolah kesakitan. "Gemes.... " jawab Dani melihat Rena dengan hangat. "Uda berapa wanita yang tangannya di remas seperti saya?" tanya Rena. "Kamu memang bukan yang pertama." "Ya iya lah. Uda ketahuan kok." ucap Rena dengan nada sedikit merendahkan Dani. "Tapi cuma pegang tangan doank... " "Masak tangan doank?! Nggak percaya!" ucap Rena dan mencibir lagi. "Bibirnya kok gitu sih! Aku cium lho ya.... " ancam Dani karena melihat bibir Rena yang mudah sekali memainkan bibirnya. Mengerucut. Mencibir. "No way! We are in the public facility, i'm sure you won't do that" ucap Rena sambil tersenyum tipis. Lalu secepat mungkin Dani mengecup pipi Rena sekilas. Mulut Rena ternganga kaget. "Jangan pernah menantang aku" ujar Dani sambil menatap Rena yang masih melongo. Rena pun terdiam menenangkan jantungnya yang mau lepas. 'aaarrrrghhhh....nich orang bikin gilaaaaaaaa, main sosor aja' Rena menggerutu. "Ok...i'm sorry" ucap Rena lirih. Rena berusaha mengontrol detak jantungnya, tapi tetap saja, jantung normal, tapi otaknya ga normal kalo dia mengingat ciuman itu. Lalu mereka berjalan kembali, dan membeli sesuai kebutuhan. Setelah membayar total belanja, Dani membawa bungkusan kecil yang berisi barang belanjaan, dan 1 tangannya tetap menggenggam tangan Rena. Hingga tiba didepan apartemen. "Kita sudah didepan apartemen, tidak akan ada kejahatan. Aman" ujar Rena memberi alasan supaya Dani melepaskan genggamannya. Dani seolah tidak mendengar apa yang diucapkan Rena, tangannya tetap menggenggam Rena sambil menuntun ke tangga menuju lobby apartemen. "Hi Ronald " sapa Dani, Rena hanya mengangguk dan tersenyum kaku kepada Ronald, Rena merasa malu. Ronald selaku keamanan pribadi hanya tersenyum melihat wajah Rena, Ronald paham bahwa Rena tidak nyaman diperlakukan demikian. Setelah memasuki apartemennya, Dani melepaskan genggamannya. Lalu Dani duduk di sofa, sedangkan Rena memasukkan barang belanjaan di tempatnya. "Kamu boleh istirahat. Terimakasih makan malamnya. Lain kali kita makan malam disana lagi" ujar Dani. "Baik" Rena pun melewati sofa yang diduduki Dani dan menaiki tangga. Dani menatap sosok Rena hingga hilang dari pandangan. Rena masih belum memahami sikap Dani, yang selama ini tidak pernah memperhatikan dirinya, namun sekarang????? Dia sudah memberikan ciuman. 'kalo cowok ganteng gitu kali ya? Bisa cium cewek seenaknya' Rena kembali melamun mengingat kejadian tadi. Tapi Rena sadar, dia hanya pegawai Dani, dan mungkin dia bukan tipe wanita Dani. Rena pun tidak pernah tahu bagaimana tipe Dani, dan memang tidak pernah ingin tahu, dia hanya fokus bekerja demi adiknya. *** Esok Pagi Rena menyiapkan sarapan Dani. "Kamu masak apa?" Tiba tiba Dani sudah berada disampingnya Rena, dan mengagetkan Rena. "Pak! Kelakuan anda mengagetkan saya" ujar Rena menarik nafas dan melihat Dani sekilas. Dani terkekeh melihat wajah Rena yang agak panik karena ulahnya. "Kenapa bapak sudah disini? Kan saya belum selesai menyiapkan sarapan?" tanya Rena. "Please ...do not call me PAK anymore. Jangan ada kata 'saya' 'anda', CUKUP 'aku' 'kamu'. PAHAM?!" Ujar Dani sambil membalikkan badan Rena secara paksa untuk melihat ke arahnya. "Ok, boleh aku lanjutkan pekerjaanku? Mas Dani mandi dulu aja ya...." Ujar Rena melihat Dani lalu menunduk. "Baiklah ...." Seusai sarapan, Dani berdiri didepan sofa, tempat Rena memakaikan dasi. Rena menyiapkan jantungnya, karena akan berhadapan dengan Dani dengan menyibukkan didapur, padahal hal itu biasanya dikerjakan nanti saat Dani berangkat ke kantor. Dani menghampiri Rena, dan menyeret tangannya menuju sofa. Jantung Rena berdetak kencang lagi. 'Iiihhhhh! Orang ini pengen aku cepet mati, jantungku ga kuat lagi' gerutu Rena dalam hati. "Ini sudah jamnya memakai dasi" ujar Dani dan mengangkat Rena ke sofa. "Mas Dani ..." Jerit Rena sambil memegang bahu Dani takut jatuh. Dani tertawa keras mendengar jeritan Rena. "Kamu tau ini jam berapa? Aku hampir telat" Dani berkata sambil menatap Rena. "Kenapa mas ga bilang aja, ga perlu melakukan seperti itu" Rena membalas tanpa melihat mata Dani, dia fokus pada ikatan dasi. Dani pun merasa jika Rena bukan perempuan yang mudah disentuh. "Nanti jam 15.00 aku jemput kamu" ujar Dani "Kemana?" "Beli gaun, untuk temani aku di luar kota. Bukan untuk jalan-jalan, aku keluar kota juga kerja." "Baik" Usai selesai semuanya, Dani berangkat menjalankan rutinitasnya. Rena lemas merasakan jantungnya yang sejak tadi berolahraga cepat. ****** Jam 15.00 Rena menunggu di lobby apartemen. Tampak mobil Dani memasuki halaman depan. Ronald memberi tahu Rena mengenai keberadaan Dani. Rena pun menuju mobil Dani dan duduk disisi Dani. Mereka menuju ke salah satu pusat perbelanjaan, dimana tempat itu hanya menjual barang barang mewah dengan brand ternama. Turun dari mobil, Dani langsung menggenggam tangan Rena. Rasanya Rena sudah harus membiasakan perlakuan Dani terhadap dirinya. Mereka langsung menghampiri ke salah satu toko yang menjual gaun malam. "Sore pak Dani, ada yang bisa dibantu?" ucap salah satu pelayan. "Bikin dia secantik mungkin, aku mau 3 gaun terbaik mu " sambil melepaskan Rena. Dani pun duduk di sofa sambil sesekali melihat ponsel. Rena berjalan menyusuri gantungan yang ada di butik. Pelayan toko pun memperlihatkan kepada Dani koleksi terbaiknya. "Rena., coba kesini bentar! Liat gaunnya bagus bagus dech!" panggil Dani. Rena berjalan menuju sofa yang diduduki Dani, berdiri disisinya dan pelayan toko berdiri disamping stand hanger yang berisi 3 gaun. Pelayan pun mengambil gaun itu, dan memperlihatkan kepada Rena dan Dani. Rena menggelengkan kepalanya. "Maaf mas, saya ga mungkin pakai baju seperti itu" ujar Rena setelah melihat gaun yang diperlihatkan pelayan butik. "Kenapa?" Dani terheran, karena selama ini banyak wanita yang minta dibelikan gaun dengan model seperti itu. "Eeemmmmm... menurut aku terlalu terbuka. Not my style" ujar Rena polos. Dani tertawa mendengar ucapan yang dilontarkan Rena. "Tapi itu bagus lhooo" ujar Dani dengan nada memaksa. "Kan aku yang pakai...kalo aku merasa tidak nyaman, aku nggak mau pakai" bela Rena. "Ok, terserah Rena aja" jawab Dani, 'kenapa gadis ini selalu menolak? susah kontrolnya, but i like it, aku suka wanita yang punya prinsip' pikir Dani. Rena meninggalkan Dani, dia melanjutkan melihat gantungan yang berisi jajaran gaun. Lalu setelah beberapa jam, Rena memutuskan pilihannya. "Aku mau 2 gaun itu. Boleh?" Tanya Rena ke Dani "Ok, bagus juga. Coba dulu! Aku mau liat!" ujar Dani sambil membayangkan Rena dalam balutan gaun itu. "Sudah tadi" jawab Rena pendek. "Kan aku belum liat" "Ntar aja kalo pas acara" ucap Rena. Sebenarnya dia malu mencoba gaun di depan bosnya. "Baiklah" ujar Dani menarik nafas panjang karena kecewa. Lalu mereka keluar butik dan kembali ke apartemen untuk makan malam. "Lebih baik setelah ini kamu persiapkan barang yang akan dibawa keluar kota, besok pagi mampir kantor sebentar, langsung berangkat" "Baik. Kira-kira kita berapa hari di luar kota?" Tanya Rena, karena akan mempersiapkan keperluan Dani serta dirinya juga. "Mungkin 2 malam" "Baik, nanti saya siapkan" Rena pun meninggalkan Dani dan menuju kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN