Bab 1
"Pagi. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya pria paruh baya dengan sopan.
Pria ini menghentikan kegiatannya mengelap meja kaca.
"Pagi pak. Saya Rena. Saya diminta datang untuk interview. Katanya ketemu dengan pak Miko." Ucap Rena tak kalah sopan.
"Oh iya mbak. Langsung masuk ke ruangan kaca itu ya. Ketemu dengan pak Miko langsung." Balas pria ini sambil menunjuk ke slaah satu ruangan kaca.
Rena mengucapkan terimakasih dan melanjutkan langkah sesuai arahan bapak tadi.
Gugup, itu yang Rena rasakan.
Tiba di depan pintu, ia menghela nafas dan perlahan ia mengetuk pintu.
Ada suara yang memerintah Rena untuk masuk.
Ia membuka pintu. Ada pria yang tengah duduk dan membaca dokumen.
"Pagi pak. Saya Rena." Ucap gadis ini dengan sopan.
"Pagi Rena. Silahkan duduk." Ucap si pria yang ternyata bosnya. Dan ia bernama Miko.
Setelah berbincang singkat dan menjawab beberapa pertanyaan, akhirnya ia bisa melewati tahap ini. Rena diperbolehkan bekerja esok hari.
Dalam interview disebutkan gajinya tidak banyak, karena perusahaan baru saja beroperasi.
Dan pak Miko berjanji akan menambah gajinya jika perusahaan ini sudah bisa memberikan keuntungan.
Entah ini benar atau hanya memanfaatkan keadaan Rena yang hanya lulusan SMA . Karena di perusahaan ini, pendidikan D1 tidak di anggap sebagai pendidikan formal.
Mau tak mau, Rena harus menerima pekerjaan ini. Setidaknya cukup untuk membayar kos dan biaya hidup di kota.
Rena di beri secarik surat yang harus diberikan kepada security, untuk pengurusan parking dan ID access.
Dia menelepon panti asuhan, ibu sangat senang dan bangga. Tak lupa, ibu juga memberikan petuah untuk jaga diri dan jaga kehormatan.
'Kita ini nggak punya apa-apa. Kita hanya punya harga diri dan kehormatan. Kamu sudah tau letak kehormatan wanita ada dimana. Tolong jaga baik-baik.' pesan ibu.
Ketika malam hari, Rena sulit memejamkan mata. Ini di sebabkan karena ia terlalu senang dan tak sabar menanti hari esok.
***
Hari ini hari pertama Rena masuk bekerja. Ia berdandan semaksimal mungkin, maksudnya sesuai standar perkantoran. Seperti new comer yang lain, hati deg degan, harus rapi, tidak boleh telat.
Kemarin Rena telah diberi kartu penggunaan access card untuk parkir. Beberapa meter menuju barrier gate, secara tiba-tiba Rena menghentikan motornya. Rena lupa dimana ia meletakkan kartu membernya. Dengan sedikit panik, ia mencari di setiap sisi tas. Namun kartu itu belum di temukan.
Keringat dingin mulai muncul di setiap pori pori, takut telat. Karena di perusahaannya di berlakukan jika datang terlambat, maka gaji akan di potong.
"Tiiiiiiinnnnnn! Tiiiinnnnnnn! " suara klakson super car berlogo kuda mengejutkan Rena dan membuyarkan konsentrasinya.
"Hei! Ini parkir mobil! Parkir motor disebelah sana!" pria itu berteriak sambil jarinya menunjuk suatu arah.
Karena Rena berhenti tepat dimana Dani biasa memarkirkan mobilnya.
"Iya maaf pak. Tunggu bentar" ujar Rena menoleh sekilas dengan berteriak, lalu ia lanjut merogoh tas yang sudah berantakan.
"Buruan! Telat nih" ujar si pria lagi dengan berteriak.
Rena tak menjawab, ia masih sibuk dengan tasnya.
Pria yang ada di balik kemudi itu bernama Daniel Artomoro. Dia anak kedua dari pengelola sekaligus pencetus ide office building di kota ini. Dan saat ini, ia di percaya menjabat Presiden Direktur menggantikan papanya.
Dani mendengar ponselnya berbunyi, menandakan ada pesan yang masuk.
Dia meraih ponselnya lalu memeriksa pesan yang ia terima. Ada email baru.
Beberapa saat membaca email, ia kembali melihat ke arah depan. Ternyata gadis bermotor ini masih ada di posisi yang sama.
Dia hanya melihat Rena dengan mengetukkan telunjuknya di kemudi. Sesekali ia melihat arloji di pergelangan tangannya.
'Duh! Dia ngapain sich?' batin Dani berusaha sabar.
Seorang security menghampiri mobilnya lalu mengetuk kaca jendela. Dani menurunkan kaca jendela.
"Dia ngapain pak?" tanya Dani menoleh ke arah security sekilas.
"Cari acces card." jawab si security.
"Dari tadi?"
"Hmm lumayan pak." Jawab security tak pasti.
"Maaf, mungkin bapak mau parkir di sebelah sana? Di sana ada yang kosong." ucap security menunjukkan sisi vip parking yang lain.
"Nggak usah. Saya di sini aja." Dani tak mau pindah ke lahan parkir yang lain. Karena ia sudah terbiasa di tempatnya dan posisi ini juga lebih dekat dengan pintu utama.
"Atau, perlu saya tegur?" tanya si security sambil melihat ke arah Rena
" Nggak perlu. Saya bisa handle sendiri. Atur aja lalu lintas belakang! Biar nggak macet!" kata Dani sambil melirik spion mobil.
Meskipun mobil Dani berhenti di tepi, tapi tetap saja mengganggu laju mobil yang lain. Apalagi saat ini jam padat, jam masuk kerja.
"Hei! Kenapa lama? Kamu ngapain?" Suara Dani lagi, kali ini kesabarannya sudah hilang.
"Aku cari kartu parkir." ucap Rena tak kalah keras.
"Ga usah pakai kartu parkir. Nih!" ujar pria sambil melemparkan selembar uang 50 ribuan keluar jendela. Rena menoleh sesaat dimana buntelan uang itu terjatuh. Lalu ia kembali fokus pada tasnya.
Gadis ini tersenyum lega, akhirnya dia berhasil menemukan kartu parkirnya. Rena turun dari motor dan menghampiri pria yang bermobil itu.
"Hei pak sombong! Aku sudah menemukan kartuku. Nih simpan uangmu!" Rena melempar uang itu ke dalam mobil melalui jendela.
Dani mendadak bengong.
Terlihat beberapa pengendara memperlambat kecepatan saat melintas di depan mereka dan menoleh.
Ini karena Rena menegur di tengah jalan dengan suara yang cukup keras.
Setelah melempar, dengan cueknya Rena meninggalkan Dani yang masih shock karena terkejut.
Pria ini terkejut bukan karena melihat Rena cantik. Tapi selama hidupnya, dia tidak pernah di permalukan. Apalagi di dekat staffnya. Dani melirik sekilas ke security yang berdiri tepat di sebelah mobilnya.
Wajah security ini terlihat tegang, dia kuatir Dani melampiaskan kekesalan kepadanya. Dia menoleh ke arah yang lain, pura-pura tak mendengar.
Usai memarkirkan mobilnya di lahan VIP, Dani turun berjalan menghampiri security tadi.
"Makasih ya... " Ucap Dani dan menepuk pundak si security.
Dani berjalan melewati pintu utama.
Security menghela nafas lega saat melihat punggung Dani makin menjauh.
Di sisi lain, Rena berjalan dengan terburu-buru tak memperhatikan kanan-kiri.
Tujuannya saat ini adalah supaya cepat tiba di kantor barunya. Jarak parkir dan unit kantornya cukup jauh.
Rena mengelus d**a lega saat ia tiba di kantor, waktu pada mesin fingerprint masih menunjukkan pukul 08.18.
Karena jika melewati 08.30, maka gajinya akan di potong.
Kantor Rena bergerak di bidang jasa mengenai pemeliharaan AC, pemeliharaan komputer, perbaikan jaringan telepon serta jaringan listrik. Kantor ini masih baru, sehingga pekerjaan tidak terlalu banyak. Mereka saat ini masih sibuk untuk mengenalkan dan memasarkan perusahaan. Pihak administrasi marketing membuat brosur dan daftar biaya service, dan Rena hanya mencetak nama tujuan dan menempel di amplop.
Hari pertama bekerja telah usai. Rena yang pagi tadi berjalan cepat , karena kuatir telat, tapi kali ini berjalan lebih lambat. Serasa menikmati hiruk pikuknya sesama pekerja mengakhiri aktivitasnya di tempat ini. Rena yakin, hampir semua orang pasti ingin bekerja di gedung ini. Bekerja di gedung ini adalah impian.
Tiba di kos, Rena menghubungi adik kandungnya yang ada di panti asuhan. Dia bernama Rino. Rino lah alasan utama Rena nekad keluar kota.
Dia ingin adiknya mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.
Yang ada di otak Rena saat ini adalah uang, uang, uang dan uang. Memang uang bukan segalanya. Tapi kita akan bahagia jika memiliki banyak uang.
Ketika menelpon, tak terasa airmata Rena menetes. Dia mendengar banyak harapan dari adik-adik pantinya. Mulai dari permen, hingga mobil.
"Iya, nanti mbak Rena belikan." hanya itu jawaban Rena.
***
"Sebenarnya aku takut kalo pak Dani marah." ucap pria yang mengenakan seragam security. 2 security ini membicarakan peristiwa pagi tadi.
"Kenapa bosmu ngamuk?" celetuk seseorang tepat di belakang si security.
"Eh...Pak Vino." kata security meringis karena terpergok membicarakan bosnya hingga di dengar oleh Vino. Pria ini merupakan teman akrab Dani.
Vino kembali bertanya tentang Dani, karena penasaran. Dengan terpaksa security ini bercerita lagi. Vino tersenyum tipis.
Lalu ia melanjutkan langkahnya.
"Belum pulang, Stel?" tanya Vino ketika dia melewati meja Stella si sekretaris.
"Masih siapin dokumen untuk pengacara dan legal. Besok ada agreement." jawab Stella dengan sopan.
"Wah! Duitnya Dani makin kenceng aja. Teken kontrak teruuuusss...." Seloroh Vino. Stella hanya terkekeh.
"Bosmu lagi ngapain?" tanya Vino lagi.
"Kurang tau Pak. Yang pasti nggak ada tamu."
"Aku masuk ya Stell.. " Vino meminta ijin
"Silakan Pak."
Meskipun Dani adalah sahabat Vino, tapi ia juga tahu tata krama. Yang ia temui adalah Direktur. Dan untuk masuk ruangan, harus persetujuan Stella.
Dani mendengar seseorang mengetuk pintu ruangannya. Dia tahu siapa yang ada di balik pintu, dan ia mempersilahkan masuk.
"Jam berapa ini? Kok belum pulang." kata Vino yang baru saja masuk ke ruangan Dani.
"Males pulang.' jawab Dani yang masih menulis jadwal esok hari.
"Kesepian?"
"Kalo masalah itu, nggak usah di tanya. Makanya aku suruh Stella di sini sampe suaminya datang."
"Kayaknya hari ini seru banget ya?" Vino memulai memancing.
"Seru apanya? perasaan biasa aja."
"Masak sih?! Padahal kamu jadi hot topic lho."
"Hot topic apa?" tanya Dani tak mengerti apa yang dimaksud sahabatnya.
Vino pun menceritakan apa yang di sampaikan security.
"Emang bener gitu?" tanya Vino menunggu jawaban.
"Ya maklum lah. Paling dia pegawai yang takut gajinya di potong." jawab Dani sekilas lalu kembali melihat dokumennya.
"Tapi dia ngomelin kamu, lho." Vino makin memanasi Dani.
"Nggak ngomel yang gimana-gimana. Dia cuma kembalikan duit."
"Apa kamu nggak merasa kalo harga dirimu di injak-injak sama dia?" Vino benar-benar mempengaruhi sahabatnya.
"Nggak kok. Aku biasa aja. Lagian aku juga ada jadwal meeting. Kalo nanggepin dia, bisa telat." Dani masih tetap santai.
"Tapi dia ngomelin kamu di depan pegawai dan di depan gedung kamu. Itu sama saja melecehkan nama besar kamu donk. Masak iya, anak pemilik gedung di omeli? Harga diri Artomoro, Dan." kata Vino dan menepuk dadanya.
Dani melihat Vino dan tampak memikrkan sesuatu. Dia merasa apa yang di ucapkan sahabatnya ini ada benarnya.
'Dia belum tau berurusan sama siapa?' batin Dani dan meraih gagang telpon.
"Bisa dengan security lobby yang pagi tadi? Atau dia sudah pulang?" Tanya Dani kepada reception, dia sambil melirik arloji.
Waktu sudah menunjukkan pukul 6 lewat beberapa menit.
Reception melihat CCTV sesaat.
"Masih ada di ruang security pak. Bentar saya sambungkan."
Setelah tersambung, Dani langsung pada inti permasalahan.
"Pak, saya Dani. Bapak tau kan plat nomor wanita tadi? Yang tadi pagi ngomel-ngomel kayak orang gila..."
Si security sedikit gugup. Karena orang nomor satu di perusahaan ini menelponnya.
"Sa- saya coba minta rekamannya dulu ya Pak. Nanti saya info ke bapak."
"Cari tau dia parkir dimana? Terus kasih kabar ke reception. Cukup nomor plat dan tower." Dani memberikan mandat.
"Baik Pak!" Jawab security tegas.
Tak butuh waktu yang lama untuk mencari dimana Rena berparkir.
"Ya?" sambut Stella sang sekretaris ketika menerima internal phone.
"Bisa dengan pak Daniel? Ini tadi ada permintaan dari beliau. Mengenai plat nomor." balas si receptionist.
"Bentar ya"
Stella menelepon Dani yang sedang asik mengobrol dengan sahabatnya.
"Kenapa Stel?" tanya Dani.
"Telpon dari reception. Tentang plat nomor. Bapak mau terima?"
"Iya iya. Makasih Stel..."
Detik berikutnya receptionist sudah tersambung dan sudah menyampaikan apa yang diminta Dani. Pria ini hanya tersenyum tipis sambil mengingat kejadian tadi pagi.
'Wanita tadi mengatakan aku sombong?
Ck! Gimana dia bisa menilai seseorang secepat itu?
Sok tau!
Dan yang aku bikin kesel, uang yang aku kasih dikembalikan. Ngapain di kembalikan? Uang segitu nggak ada artinya buat aku. Dalam sehari aku bisa menghasilkan beberapa kali lipat.' batin Dani.
"Gimana? Ketemu?" tanya Vino.
"Uda ketemu dia parkir dimana. Gampanglah besok aku samperin." kata Dani.
"Emang tadi pagi dia nggak tahu kalo kamu yang punya gedung ini?" Vino kembali berucap dengan nada mengejek.
"Kita bukan pemilik, Vin. Hanya pengelola aja." Dani membenarkan.
"Iya iya. Eh! emang wajahnya wanita itu gimana? cantik nggak?" Vino kembali emnggoda temannya.
"Aku nggak tahu. Dia pake helm. Jadi nggak jelas."
Mereka kembali berbincang ringan. Vino memang sering menemani Dani.
Dan Dani merasa, hanya Vino yang tahu tentang dirinya.