Bab 2

1892 Kata
Hari kedua Rena bekerja, dia tampak sudah menguasai. Rena tampak asyik dan menikmati pekerjaannya. Di sisi lain, setelah melewati meeting dengan koleganya, Dani memiliki waktu senggang. Dia berencana mencari dimana gadis itu bekerja. Dia menyusuri beberapa lantai, tidak sulit menemukan unit yang sudah beraktivitas. Karena dia meminta info dari pihak pengelola secara langsung. Siapa yang tak mengenal Dani? Selain selaku direktur properti ini, dan dia adalah anak dari pencipta ide office building ini. Wajah yang tampan dan berhati dingin dalam bisnis. Dani sangat royal terhadap para wanita yang menemaninya.Tapi sayangnya belum ada wanita yang dikenalkan secara resmi oleh Dani sebagai pendampinganya. Jika di tanya, dia selalu menjawab, " Dia teman saya." Dani termasuk pria yang sedikit egois. Mungkin ini karena latar belakang dia sebagai anak yang paling kecil. Dengan karakter yang seperti itu, semua perintah dan kemauan Dani harus dapat terealisasi dengan cepat. Dia negosiator yang handal. Setiap investor selalu puas jika Dani yang memberikan presentasi. Akhirnya Dani menemukan kantor dimana gadis itu bekerja. Dia hanya memperhatikan dari jarak jauh sambil berpura pura melihat sekeliling. 'Oh. dia di depan... ' batin Dani dengan tersenyum tipis ketika melihat Rena beraktivitas layaknya seorang receptionist. Dani kembali ke ruangannya. "Stella, apakah kita menerima penawaran dari PT. Bahagia Abadi?" Tanyanya ke sekretarisnya melalui telepon internal. "Belum ada pak. Apa perlu saya minta? Jika boleh tau kantornya dimana ya pak?" Stella bertanya balik dengan ramah dan sopan. "Kantornya di tower 7, aku minta secepatnya. Bisa sore ini? Kalo bisa sebelum pulang kantor." Tanya Dani tegas. "Saya usahakan pak" jawab Stella tenang. Lalu sekretaris ini meletakkan gagang telpon nya. "Ck! Kenapa kalo kasih perintah selalu mendadak dan selalu minta cepat dituruti. Untung bos ganteng coba kagak, aku kerjain taon depan" gerutu Stella sambil mencari informasi PT yang dimaksud. Beberapa jam kemudian, amplop yang berisi penawaran sudah ditangan Stella, lalu ia berjalan menuju ruang bosnya. Dia mengetuk pintu ruangan. "Ya... masuk" terdengar teriakan dari dalam. Stella berjalan menuju meja kerja Dani yang berwarna hitam. Dani, selaku bos tampak cuek dengan tetap melihat layar monitor. "Ini pak surat penawaran dari Bahagia Abadi" sambil meletakkan dimeja Dani. "Ada yang butuh dikoreksi penulisan surat penawarannya? Tolong kamu cek sekarang, cermati! Cari kesalahan apa?" Perintah Dani tegas, matanya tidak lepas dari layar monitor komputer. Dia seolah tak peduli dengan amplop yang di sodorkan sekretarisnya. "Baik pak" ujar Stella lalu meninggalkan ruangan. Stella kembali ke mejanya yang penuh dengan tumpukan dokumen. 'Dia minta surat penawaran. Di kasih, tapi di abaikan. Terus ini ngapain di koreksi? Aku bukan guru bahasa Indonesia. Walaupun kalimatnya tidak sesuai dengan standar baku bahasa Indonesia, kalo pelanggan bisa mengerti ya nggak masalah kan?!' batin Stella dengan memperhatikan setiap kata pada surat penawaran. Stella memeriksa seluruh dokumen penawaran, akhirnya dia menyerah. Otaknya sudah cukup lelah. "Semuanya uda bener, nggak ada yang salah. Masak cari-cari kesalahan orang?" Stella berbicara sendiri sambil keningnya berkerut. Setelah beberapa menit, Stella kembali mengetuk pintu. Dan diijinkan masuk oleh pemiliknya. "Kesalahan apa yang kamu temukan?" Tanya Dani yang matanya selalu menatap monitor. "Hampir sempurna pak, hanya bagian depan saja. Pada tujuan tidak tertera 'bapak/ibu', selain itu, tidak ada Pak" jawab Stella sambil berdiri didepan meja dan menyerahkan surat penawaran itu. Sebenarnya Stella tak tahu dengan pasti, apakah tanpa 'bapak/ibu' dokumen ini bisa dikatakan tidak sempurna? Dia bisa mengatakan hal itu karena berdasarkan kebiasaannya saja. "Coba tanyakan, siapa yang membuat label address itu? Tanyakan namanya? Kamu tidak perlu menjelaskan kesalahannya. Biar aku sendiri yang telepon." Perintah Dani. "Iya pak" jawab Stella dengan patuh. "Beri jawaban melalui telepon saja, kamu tidak perlu datang keruangan ini" imbuh Dani. "Baik pak" Jawab Stella dengan sabar. "Kenapa perintah nya nggak sekalian? Aku capek lho keluar masuk ruanganmu Pak... " gerutu Stella. Sekretaris yang patuh ini pun menghubungi kembali perusahaan yang di maksud bosnya. Lagi-lagi Stella mendapatkan sambutan hangat dari si receptionist. "Maaf mbak, mau tanya." Ucap Stella dengan sopan. "Iya Bu, ada apa ya?" Tanya Rena. "Ini yang buat label address siapa ya?" "Oh... Itu saya Bu, Rena. Kenapa ya?" jawab Rena dengan ramah. "Nggak papa. Mbak Rena kok tau kantor kita? Saya pikir kesulitan mencari alamat kantor kami." Stella mencari alasan. "Kalo alamat, sudah ada info dari marketing Bu. Saya hanya menyalin dan menyetak." "Oh, begitu. Surat penawaran sudah kami terima. Saya sampaikan dulu ke atasan saya ya mbak. Semoga kita bisa menjalin kerjasama. " Setelah sedikit berbasa-basi, Stella menutup pembicaraan. Selang beberapa menit, telepon Dani berbunyi. "Ya?" Tanya Dani. "Namanya Rena, petugas reception. Dia yang kasih label address." Stella memberikan informasi. "Ok terimakasih" Dani langsung menutup telepon. Tak lama Dani menghubungi PT. Bahagia Abadi. Suara dering telpon berdering di meja Rena. "Selamat siang, dengan Rena ada yang bisa dibantu?" Sambut Rena dengan hangat. "Benar dengan PT. Bahagia Abadi?" tanya Dani dengan sedikit tersenyum sinis. "Benar pak, ada yang bisa saya bantu?" "Saya dari manajemen Artomoro, bisa bicara dengan pimpinan? Kami baru terima surat penawaran." "Sebentar, saya sambungkan" Setelah menunggu beberapa detik akhirnya Dani tersambung dengan pimpinan Rena. "Pagi, dengan Miko. Maaf ini dengan siapa?" pimpinan Rena berbicara. "Saya salah satu manager officer Artomoro, kami terima surat penawaran, tapi tolong sampaikan pembuat label address, lain kali seluruh tujuan gunakan 'bapak/ibu', supaya keliatan lebih sopan. Silahkan diberi pengertian untuk pegawai nya ya pak.." "Maaf pak, akan kami sampaikan hal ini kepada yang bersangkutan, terimakasih atas perhatiannya, akan kami koreksi pada dokumen berikutnya" "Sampaikan koreksi ini dari Daniel Artomoro, tower 1, terimakasih" "Ba-baik Pak... sekali lagi saya minta maaf" Miko sedikit gugup saat nama pejabat utama gedung ini di sebut. Dani menutup gagang telepon sambil tersenyum, dia terlihat bahagia. Setelah mengakhiri pembicaraan, Miko menarik nafas panjang. Pria yang bernama Miko sangat tau siapa yang baru saja menelponnya. Walaupun bukan artis, tapi sosok Dani sudah akrab di sekitar penyewa office building ini. "Renaaaaaaaa....." Teriak Miko. "Iya pak." Sahut Rena sambil sedikit berlari menuju ruang pimpinannya. "Rasanya ini hari terakhir kamu kerja disini." Ujar Miko "Lho?? kenapa pak?" Rena terkejut, karena dia merasa tak membuat kesalahan. Ucapan bosnya membuat badannya lemas dan mengeluarkan keringat dingin. "Label address yang kamu buat tidak ada tertuju 'bapak/ibu'. Gara gara itu aku dimarahi. Sepele kan?! Tapi fatal!" Miko berkata sambil mendengus kesal pada Rena. "Tapi_" "Tapi apa? Kalo udah salah nggak usah menyangkal. Itu kerjaan paling gampang, dan kamu nggak bisa. Kayaknya aku salah terima kamu untuk kerja disini." Hati gadis ini rasanya sakit ketika mendengar kalimat dari bosnya ini. Karena dia merasa di sepelekan. Rena tak dapat berkata apa-apa, dia pun tak mampu membela diri. Badannya dikuatkan untuk berjalan hingga tempat duduknya. Dia duduk dengan diam dan badannya lemas. Meratapi dan merenungkan kembali kata kata bosnya. "Masak kurang 'ibu/bapak' bisa marah kayak gitu... " Rena berucap lirih. Dia tak bersemangat melanjutkan kerja di sisa waktunya. Bahkan dia mengabaikan beberapa dering telpon. Hatinya perih ketika mengingat wajah adik panti dan adik kandungnya. 'Sabar ya... Mbak Rena pasti bisa kasih sesuatu buat kalian.' batin Rena dengan hati yang seperti teriris. Jam pulang telah tiba. Rena berjalan lambat, menyusuri tower-tower. Sambil berharap ada informasi lowongan yang biasa ditempel dikaca. Kadang perusahaan tidak mempublikasikan ke media jika mereka membutuhkan tenaga kerja. Jadi tidak banyak orang yang tau. Hingga tower pertama Rena tidak menemukan apapun. Dia tetap berjalan dengan wajah cemberut dan kusut. Dari arah kejauhan, Dani melihat sosok Rena. Entah kenapa Dani yang biasanya cuek, ingin sekali menyapa gadis itu. "Hey, kamu cari siapa? Ini Uda jam 7 malam, kantor uda tutup semua" sapa Dani. Rena menoleh sekilas, dia ingat wajah Dani. "Kamu bukannya pria sombong yang melemparkan uang ke aku kemarin ya?" Tanya Rena sambil tetap berjalan. "Bukannya sombong, hanya membantu supaya kamu cepat masuk ke tempat parkir. Dan kemarin aku juga buru buru karena ada meeting" ucap Dani yang berjalan di samping Rena. "Tapi kamu ga perlu sampai melemparkan uang, ga sopan. Cari uang itu susah" kata Rena yang tetap berjalan sambil celingak-celinguk berharap ada informasi lowongan. "Ok...i won't do that again" jawab Dani datar. 'Padahal tiap hari aku dapat keuntungan dari trading saham. Dan hasilnya beberapa kali lipat.' pikir Dani. Dani yang tidak pernah berjalan santai, tetap berada disisi Rena. Mereka terdiam, hanya suara langkah sepatu yang terdengar dalam gedung yang mulai sepi. "Kamu cari apa? Tadi saya tanya, tapi belum dijawab" Dani mengulang pertanyaan. "Cari info lowongan kerja" jawab Rena enteng tanpa melihat Dani. "Lho, bukannya kamu uda kerja?" tanya Dani lagi. "Uda dipecat. Saya kerja cuma 2 hari kerja. Hebat kan saya? Makanya saya nggak suka kalo liat situ buang uang kayak kemarin." Ujar Rena sambil tersenyum sinis. "Hah?! beneran?!" Dani terkejut, sambil bertanya dalam hati 'Apa ini karena ulahku yang aku komplain tadi? Jika iya, kebangetan itu Bos, kan masih bisa ditolerir' "Iya, saya dipecat. Persoalannya sepele..cuma kurang nulis 'ibu/bapak' di label address" Rena menjelaskan sebelum Dani bertanya lagi. Jantung pria ini mencelos, karena dia merasa bersalah. Rena menghela nafas sambil membayangkan dia kembali menjadi job seeker. Menyebarkan lamaran dan menunggu interview. Tiba didepan lobby tower 1, Rena berpamitan. "Maaf saya ke arah sini. Mari pak.." Kata Rena sambil sedikit menganggukkan kepalanya dengan sopan. "Hei tunggu! Sebenarnya aku butuh personal asisten. Kalo kamu mau, boleh hubungi aku. Kamu nggak harus jawab sekarang. Aku kasih waktu 1 bulan" ucap Dani sambil memberikan kartu namanya ke Rena. Rena menerima sambil melihat nama di kartu. "Terima kasih ...pak Daniel". Rena berjalan perlahan menyusuri tangga menuju parkiran motor. "Ok, may i know your name?" Tanya Dani agak berteriak, dia masih berdiri di depan pintu kaca. "You can call me Rena Sir" ujar Rena dari agak jauh. Rena pun berbalik, tampak punggung nya mulai menghilang dari pandangan Dani yang masih tetap berdiri menatap gadis itu. 'Hmmmm, kasian. Gara gara aku dia dipecat. Padahal aku cuma mau dia datang ke ruangan dan minta maaf ke aku. Moga dia segera dapat kerjaan' batin Dani dengan penuh penyesalan. 'Seandainya ada lowongan kerja di kantor, pasti aku akan merekomendasikan kamu. Tapi sekarang belum ada, walaupun aku seorang presiden direktur, seluruh lowongan dan penerimaan pegawai harus sesuai prosedur' pikir Dani. Sebulan telah berlalu. Rena masih belum mendapatkan pekerjaan. Sedangkan kondisi keuangan sudah makin menipis. Dia tidak sanggup menyampaikan ke ibu jika dia di pecat. Beberapa kali telpon, Rena mengaku masih bekerja. Rena membuka tasnya hendak menghitung sisa uang saku yang diberikan ibu. Secara tak sengaja dia menemukan kartu nama yang diberikan Dani. 'Personal asisten itu apa ya? Kerja nya gimana? Rasanya aku harus menghubungi pak Daniel. Duitku sudah abis' Rena membatin. 'Aku akan mengirim pesan saja, ntar klo telpon kuatir pak Daniel sibuk' pikir Rena lagi dan melihat kartu nama. Rena: Pagi pak Daniel, saya Rena. Tempo hari bapa memberikan kartu nama saat saya mencari lowongan di Art Tower. Semoga bapak masih mengingat saya. Saya tertarik mengenai pekerjaan yang Bapak tawarkan, tapi ada beberapa hal yang saya tanyakan sehubungan dengan pekerjaan tersebut. Dani mendengar suara ponsel berbunyi tanda pesan masuk. Dia tersenyum saat membaca pesan dari Rena. Dani : Pagi juga Rena, you can call me Dani, untuk hari ini saya ada waktu di atas jam 17.00. Rena bisa datang ke kantor saya jam 17.30? Atau besok jam 13.00? Kamu bisa langsung ke alamat yang ada di kartu nama saya. Rena menerima pesan dari Dani, dia berpikir mengenai pertemuan dengan Dani. Kapan sebaiknya bertemu? Rena : Baik pak, terimakasih atas perhatian dan waktu yang disediakan. Saya akan datang besok jam 13.00 dikantor Bapak. Dani: Ok, aku tunggu. 'Semoga ini menjadi awal yang baik.' batin Rena penuh harap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN