Di suatu pedesaan kecil di pinggir sungai. Tinggallah sepasang suami istri yang sudah berusia paruh baya bernama Abah Engkus dan Nyai Kosasih. Mereka berdua sepasang suami istri yang tidak memiliki keturunan. Keluarga mereka pun sudah tidak ada. Mereka berharap suatu hari nanti mereka mendapatkan rezeki berupa keturunan yang Saleh dan Salehah. Namun semua itu tampaknya tidak akan terwujud. Mengingat usia mereka yang sudah paruh baya.
Siang itu, tepat di hari terjadinya kecelakaan mobil yang ditunggangi Hapsari dan Gendis. Hujan lebat mengguyur wilayah Puncak dan sekitarnya. Nyai Kosasih merasa waswas karena suaminya belum pulang. Ia memutuskan untuk menjemput suaminya yang sedang memancing ikan di sungai. Pekerjaan utama mereka yaitu menjadi buruh bunga potong. Sedangkan Abah Engkus bekerja serabutan sebagai pemancing ikan di sungai. Beliau biasa menjualnya kepada orang-orang kaya yang gemar makan ikan hasil pancingan di daerahnya.
Hujan yang turun begitu deras membuat Nyai Kosasih khawatir akan keselamatan suaminya. Mengingat sungai tempat suaminya memancing sering meluap jika hujan deras. Sehingga Nyai Kosasih berinisiatif untuk menjemput suaminya di sungai.
Namun sesuatu yang tidak terduga terjadi saat itu. Nyai Kosasih yang tengah berjalan tergopoh-gopoh di antara hujan deras. Membawa dua payung. Satu untuknya dan satu lagi untuk suaminya. Jantungnya serasa mau copot ketika tiba-tiba Abah Engkus muncul di hadapannya.
“Ambu!”
“Astagfirullahaladzim! Ai si Abah teh meni ngagetin Ambu!” ucap Ambu yang masih terkejut melihat suaminya tiba-tiba muncul di hadapannya.
“Hayuk, pulang!” Ambu menyodorkan sebuah payung untuk suaminya.
“Tunggu dulu, Ambu! Ini teh Ada hal penting! Hayuk ikut Abah sebentar!” Abah Engkus menarik lengan istrinya dengan spontan.
“Heh, Ai si abah teh Aya naon? Main tarik-tarik wae! Tah tingali hujan teh meni ngagebret! Mau ke mana lagi Abah?” Nyai Kosasih masih bingung karena melihat sikap suaminya yang begitu panik.
“Ulah gogorowokan wae, Ambu! Hayuk, sakedap! Ikutin Abah!” Abah Engkus langsung menarik lengan istrinya dan berjalan dengan cepat menuju tepi sungai.
“Tingali eta, Ambu! Eta teh manusia atau boneka? Abah teh kaget pas mancing, cai teh tiba-tiba melual! Pas abah mau pergi teh, tiba-tiba mereka itu nyangkut di bebatuan.” Abah terlihat begitu panik.
“Buru atuh Abah kita periksa bareng-bareng saja!” Nyai Kosasih merasa sangat gemetaran melihat mereka yang diduga boneka tapi sangat mirip dengan manusia.
Setelah Nyai Kosasih dan Abah Engkus memeriksa mereka. Tidak lain mereka adalah Hapsari dan Gendis yang masih berpegangan tangan. Nyai Kosasih buru-buru memeriksa denyut nadi dan jalan napas mereka. Hal pertama yang dilakukan Nyai Kosasih adalah menekan d**a Hapsari dan juga Gendis untuk mengetahui apakah mereka masih bernapas atau tidak. Ternyata mereka memuntahkan air dan Nyai Kosasih segera memiringkan kepala mereka agar tidak tersedak. Itu berarti Hapsari dan Gendis masih bernapas. Kalau denyut nadinya lemah.
“Masih bernapas ini teh Abah! Denyut nadi teh masih ada dua-duanya! Cing buru atuh kita bawa ke rumah!” Nyai Kosasih berteriak karena sungai yang banjir begitu deras.
“Kita berdua atau kita panggil tetangga kita?” Abah Engkus merasa bingung karena takut tidak bisa membawa mereka.
“Kita berdua saja! Abah bawa wanita ini! Dan anak ini biar Ambu yang bawa!” Ambu bersiap-siap untuk menggendong Gendis.
“Payungna teh kumaha ini Ambu?” Abah benar-benar panik.
“Buang Abah! Nyawa manusia teh lebih penting! Biar nanti kalau kita udah nolong mereka Abah balik lagi ke sini buat ambil payung!” Nyai Kosasih kembali berteriak-teriak karena kesal dengan sikap Abah yang begitu panik sampai tidak bisa berpikir jernih.
“Buruan, Abah!” Nyai Kosasih kembali berteriak. Lalu Abah Engkus segera menggendong Hapsari menuju ke rumahnya. Sedangkan Ambu menggendong Gendis. Mereka berjalan menuju rumah Abah Engkus di bawah rintik hujan yang deras. Rindangnya pepohonan di sana seakan menjadi saksi bisu tentang apa yang terjadi pada mereka.
***
Setelah mereka semua sampai di rumah. Nyai Kosasih bergegas untuk mengganti pakaian mereka. Sedangkan Abah kembali ke tepi sungai untuk mengambil payung yang mereka tinggalkan.
Ambu benar-benar cekatan dalam merawat Hapsari dan Gendis. Ibu dan anak itu tubuhnya sangat dingin. Sehingga Nyai Kosasih langsung menyelimuti mereka setelah pakaian mereka diganti oleh Nyai Kosasih.
Tidak hanya berhenti sampai di situ. Nyai Kosasih merebus air untuk mengompres tubuh mereka. Setelah semuanya selesai. Nyai Kosasih kembali mengganti pakaian mereka.
Tak lama berselang Abah datang. Lalunya Nyai Kosasih meminta Abah untuk memanggil dokter Niken yang sedang praktik di dusun itu. Supaya dokter Niken memeriksa keadaan dua orang yang baru saja mereka temukan di tepi sungai.
Abah Engkus bergegas pergi ke rumah dokter Niken. Dengan segera dokter Niken ikut berjalan bersama Abah Engkus menuju rumah Beliau.
Setibanya dokter Niken dan Abah Engkus di rumah itu. Nyai Kosasih langsung meminta dokter Niken untuk memeriksa dua orang yang masih tertidur di atas tempat tidur milik Nyai Kosasih.
Raut wajah dokter Niken begitu tegang, ketika memeriksa mereka.
“Kalau boleh tahu mereka itu siapa Nyai?” dokter Niken penasaran.
“Mereka sepertinya hanyut di sungai, Bu Dokter. Karena tidak tega dan masih bernyawa maka Kami bawa ke sini,” ucap Nyai Kosasih mengejutkan dokter Niken.
“Astaga, baik langsung akan saya periksa!” dokter Niken memeriksa keadaan mereka.
Terlihat beberapa luka lebam akibat benturan. Luka lecet juga terdapat di tubuh mereka. Dokter Niken berusaha untuk memeriksa jalur napas mereka dan denyut nadi mereka.
“Semuanya normal. Napas mereka juga stabil. Hanya saja mereka terlalu lama di dalam air sehingga tubuhnya terasa begitu dingin dan melemah atau sering kita kenal sebagai hipotermia. Bantu saya untuk mengompres mereka menggunakan air hangat dan lap kering. balurkan minyak kayu putih ini ke seluruh tubuh mereka Nyai!” dokter Niken meminta bantuan Nyai Kosasih.
“Siap, Bu dokter!” Nyai Kosasih bergegas mengambilkan handuk kecil dan beberapa kain kering beserta air hangat untuk mengompres mereka.
Setelah tubuh mereka menghangat. Kemudian dokter Niken dan Nyai Kosasih membalurkan minyak kayu putih ke seluruh tubuh mereka. Fungsinya untuk menghangatkan mereka.
“Nyai, pantau terus kondisi mereka! Segera hubungi saya kalau sampai malam mereka belum sadarkan diri. Tapi biasanya mereka akan sadarkan diri dengan sendirinya setelah semua menghangat dan berangsur normal.” Ucap Dokter Niken kepada Nyai Kosasih yang membuat wanita paruh baya itu tenang.
“Oh begitu, baik, Bu dokter!” Nyai Kosasih merasa bahwa rumahnya didatangi oleh dua malaikat, yang tidak lain adalah Hapsari dan Gendis.
“Semoga mereka segera siuman!” Bu Dokter segera kembali ke rumah kontrakannya diantar oleh Abah Engkus. Sedangkan Nyai Kosasih menunggui dua orang yang belum sadarkan itu.