Mobil yang ditunggangi oleh Hapsari dan putrinya jatuh ke jurang yang di bawahnya terdapat sungai. Namun sebelum mobil itu meluncur ke jurang, sopir yang bernama Jono berhasil keluar. Sopir itu luka-luka dan mendapatkan pertolongan warga sekitar. Kemudian Jono melaporkan semuanya kepada Bramantyo.
Bramantyo merasa panik dan akhirnya dia menelepon Wijaya untuk mengabarkan kecelakaan yang menimpa Hapsari dan Gendis.
“Maksud kamu apa, Bram?” Wijaya yang menerima telepon itu merasa sangat terpukul.
“Jay, maafkan saya yang tidak bisa menjaga Hapsari dan juga Gendis. Saya tidak menyangka kalau liburan ke Puncak ini justru membawa petaka untuk kami. Saya sudah melaporkan kepada pihak kepolisian tim SAR untuk mencari keberadaan mereka.” Bramantyo terlihat sangat panik dan dia benar-benar menyesal tidak bisa menjaga Hapsari.
“Astagfirullah ...,” ucap Wijaya yang begitu lemas mendengar kabar itu.
“Kalau gitu hari ini juga saya datang ke sana! Berikan alamatnya!” Wijaya berusaha pergi ke Puncak untuk menemui Bramantyo. Liburan yang seharusnya pulang dalam keadaan bahagia justru membuat keluarga itu terjerumus dalam petaka.
Setelah Bramantyo menghubungi Wijaya. Dia bersama pihak kepolisian pergi ke lokasi kejadian. Mereka semua menyisir wilayah. Sedangkan Jono tengah mendapatkan perawatan di sebuah rumah sakit.
Hujan lebat masih mengguyur wilayah Puncak dan sekitarnya. Namun hal itu tidak menyurutkan Bramantyo beserta tim SAR dan pihak kepolisian untuk terus mencari keberadaan Hapsari dan juga Gendis yang hanyut bersama mobil mereka ke dalam sungai.
Pencarian pun terus berlanjut hingga sore hari, ketika hujan mulai reda. Bramantyo terlihat pucat dan takut kalau sampai terjadi hal buruk paling buruk menimpa Hapsari dan Gendis. Pasalnya dia yang mengajak keluarga kecil itu untuk berlibur ke Puncak. Dia juga yang memanggil temannya yang bernama Jono untuk mengemudikan mobil milik Hapsari dan membawanya dalam perjalanan jauh. Jono adalah satu-satunya saksi kunci terjadinya kecelakaan yang menimpa mereka.
Pencarian dihentikan karena memang sungai banjir dan risiko untuk tim SAR mencari korban yang hanyut di dalam sungai. Walau mobil yang ditumpangi oleh mereka sudah ditemukan. Namun tubuh kedua korban sampai malam ini belum ditemukan.
Ayu menunggu di Villa sendirian. Dia terus menangis karena kecelakaan menimpa Ibu serta adik tirinya. Walau Ayu sering berbuat picik dan membully Gendis. Bukan berarti Ayu membenci Gendis. Memang sudah watak Ayu selalu ingin menjadi nomor satu dan merasakan kekayaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Namun dengan kejadian ini, Ayu merasa kehilangan sosok baik itu.
***
Wijaya tiba di Puncak saat malam hari. Dia datang ke villa tempat di mana Bramantyo beserta keluarganya menginap. Raut wajah Wijaya benar-benar terlihat khawatir.
“Bram, bagaimana kejadiannya?” Wijaya langsung menerobos masuk karena di villa itu masih ada beberapa polisi yang berusaha untuk menenangkan Bramantyo dan juga putrinya.
“Jay! Saya benar-benar minta maaf! Saya tidak tahu kalau musibah itu akan terjadi. Siang tadi sebelum kami kembali, Hapsari meminta untuk diantar membeli oleh-oleh. Tadinya Saya akan mengantar Hapsari, karena memang cuaca sangat mendung, dan Saya khawatir kalau Hapsari akan kesulitan bawa oleh-oleh yang dia beli. Tapi ternyata Ayu demam. Sehingga Hapsari memutuskan untuk pergi bersama Gendis Setelah dia memberikan parasetamol untuk Ayu. Ya sudah, mereka berangkat siang itu. Diantar oleh sopir yang bernama Jono.” Bramantyo menceritakan kejadian yang sebenarnya.
“Jono? Emangnya mas Ripin ndak masuk?” Wijaya semakin bertanya-tanya karena ada sosok lain yang ternyata menjadi sopir yang mengantar Hapsari.
“Memang benar, Mas Ripin itu meminta izin kepada saya kalau dia ada keperluan. Tidak mungkin kalau liburan yang sudah dirancang jauh-jauh hari batal begitu saja, kan? Sedangkan biaya sewa vila sudah digelontorkan. Akhirnya saya ingat kalau saya punya teman seorang sopir ya memang sedang membutuhkan pekerjaan. Niat saya berbagi rezeki dan kebahagiaan dengan Jono. Namun ternyata musibah datang begitu saja. Sampai detik ini pun saya belum menengok Jono di rumah sakit karena dari tadi saya bersama polisi ikut mencari Hapsari dan juga Gendis yang hanyut di dalam sungai,” Bramantyo menjelaskan sembari menatap kedua bola mata Wijaya yang begitu mengkhawatirkan keadaan Hapsari dan Gendis.
“Sungai?” Wijaya benar-benar khawatir. Merasa akan terjadi sesuatu hal yang buruk padahal Hapsari dan juga Gendis. Karena sampai detik ini belum ada kabar tentang kondisi mereka.
“Jadi perjalanan menuju tempat penjualan oleh-oleh itu melewati jembatan besar. Kronologis kejadiannya saya belum paham Karena saya belum menemui Jono di rumah sakit. Namun polisi mengatakan, kemungkinan terbesarnya roda ban tergelincir dan akhirnya mobil tersebut selip, sebelum akhirnya terjun ke jurang setelah menabrak pembatas. Sedangkan Jono berhasil keluar dari mobil sebelum mobil itu terjatuh. Namun tidak dengan Hapsari dan Gendis yang ada di jok belakang. Sedangkan hujan begitu lebat membuat tim SAR gabungan menunda untuk mencari keberadaan mereka sampai sungai tidak banjir dan keadaan tidak begitu berisiko. Mobil memang sudah ditemukan Jay! Tapi tubuh Hapsari dan Gendis belum. Bayangkan bagaimana jadi saya yang kebingungan mencari keberadaan mereka dan melihat kondisi Ayu yang sedari tadi nangis terus.” Bramantyo terlihat begitu lelah. Wijaya yang mendengar semuanya bergegas pergi ke rumah sakit.
“Ya sudah, kamu tetap di sini Bram! Saya akan menemui Jono untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi! Kalau nanti ada kabar, jangan lupa hubungi saya!” Wijaya bergegas pergi meninggalkan villa itu untuk menemui Jono.
***
Wijaya menanyakan informasi kepada polisi tentang rumah sakit tempat di mana Jono dirawat. Setelah polisi memberitahu rumah sakit tersebut. Wijaya bergegas menuju ke sana.
Pria itu langsung berlari menuju kamar Jono untuk mengetahui bagaimana kronologis kejadiannya. Setelah suster memberitahu ruangan tempat perawatan Jono. Wijaya bergegas menemuinya.
Namun raut wajah Wijaya berubah sesaat setelah dia membuka pintu ruang rawat inap tempat Jono mendapat perawatan.
“Apa? Kosong?” Wijaya berusaha untuk menenangkan dirinya. Memejamkan mata dan menghirup napas dalam-dalam. Dia membuka matanya perlahan.
“Astagfirullah!”
“Ke mana perginya Jono?” Wijaya mencari di kamar mandi dan seluruh sudut ruangan itu. Hasilnya nihil. Jono tidak ada di sana. Wijaya pun kembali melihat nomor yang ada di pintu ruangan itu. Dia memastikan kalau dia memasuki ruangan yang benar.
‘Nomor ruangan benar kok!! Ada yang gak beres sama Jono!’ tandas Wijaya dalam hatinya. Dia terus berlari mencari suster yang ada di ruang jaga. Wijaya memastikan keberadaan Jono. Suster pun bergegas memeriksa dan ternyata Jono menghilang.
Wijaya hanya bisa duduk lemas. Dia tidak tahu ke mana perginya Jono. Akhirnya Wijaya menghubungi Bramantyo dan menceritakan keadaannya. Ternyata Bramantyo juga terkejut dengan informasi yang baru saja Wijaya sampaikan. Lantas Bramantyo langsung melaporkannya pada polisi yang ada di vila itu. Karena mereka selalu update perkembangan informasi tentang Hapsari dan Gendis yang masih belum ditemukan.
***
Satu minggu sudah pencarian Hapsari dan Gendis tidak juga mengalami perkembangan apa pun. Karena memang tubuh mereka berdua tidak ditemukan di hilir sungai. Akhirnya tim SAR gabungan memberitahu kepada pihak keluarga untuk menghentikan pencarian terhadap mereka.
Nyonya Bestari yang Mendengar hal itu langsung dilarikan ke rumah sakit karena kondisinya memburuk. Akibat syok yang diderita setelah kehilangan dua orang yang sangat disayangi oleh Nyonya Bestari. Cucu satu-satunya Nyonya Bestari—Gendis.
Wijaya merawat ibunya sembari bersabar karena musibah itu datang secara tiba-tiba. Sedangkan Bramantyo dan Ayu kembali ke rumah milik Hapsari.
Dua minggu berlalu setelah musibah kecelakaan yang menimpa Hapsari dan Gendis. Nyonya Bestari memutuskan untuk pindah rumah ke kota lain. Karena setiap kali dia menginjakkan kaki di rumahnya, langsung teringat kenangan tentang Adiwilaga, Hapsari, dan Gendis. Nyonya Bestari pun meminta Wijaya untuk datang ke rumahnya. Beliau ingin berdiskusi mengenai hal ini.
Setelah Wijaya datang menemui ibunya ditemani Laksmi. Mereka duduk di ruang keluarga.
“Wijaya, Ibu ingin pindah dari sini ke luar kota yang jauh dari kota ini!” Nyonya Bestari langsung mengutarakan isi hatinya.
Sontak Wijaya tersentak kaget mendengar keinginan Ibunya. Pria itu berusaha tenang menghadapi segalanya.
“Kok Ibu tiba-tiba ingin pindah?” Wijaya berusaha mengetahui alasan sang Ibu.
“Ibu ingin membuka lembaran baru! Ibu nda bisa terus-terusan dibayang-bayangi kenangan indah bersama Hapsari, Gendis, dan Kakakmu! Hati Ibu benar-benar hancur, Nak!” Nyonya Bestari kembali menitikkan air mata.
Wijaya hanya bisa menunduk. Laksmi berusaha menenangkan Wijaya dengan mengusap punggung suaminya.
“Tapi, Bu ... kalau kita pindah, takutnya Mbak Sari sama Gendis tiba-tiba kembali ke sini. Kalau mereka tahu, kita pindah. Lalu ke mana mereka harus mencari?” ucap Wijaya langsung dibantah Nyonya Bestari.
“Wijaya! Mereka tidak akan pernah pulang! Kamu harus menerima kenyataan! Sampai detik ini pun jasad mereka nda ditemukan! Nda ada jejak mereka! Kita sebagai keluarga mereka harus mengikhlaskannya! Kalau kita nda ikhlas, kasihan mereka! Itu alasan Ibu minta pindah dari sini, Nak!” Nyonya Bestari tetap ingin pindah dari sana.
Wijaya hanya menunduk dan dia merasa bingung. Karena Wijaya yakin Hapsari dan Gendis masih hidup. Namun pihak kepolisian dan tim SAR sudah menghentikan pencarian mereka sejak satu minggu yang lalu. Nyonya Bestari juga mengatakan kalau mereka semua harus mengikhlaskan kepergian Hapsari dan Gendis.
Wijaya berpikir sejenak sebelum dia kembali berdiskusi dengan ibunya. Kemudian Wijaya menatap Laksmi yang ada di sebelahnya. Mereka seakan berbicara dan Laksmi menganggukkan kepala. Itu pertanda Laksmi menyetujui keputusan Nyonya Bestari.
“Ya sudah Bu, Wijaya meminta waktu untuk mencarikan rumah baru yang akan ditempati ibu dan juga ditempati Laksmi. Mungkin kita akan pindah ke Jogjakarta. Mungkin usaha perkayuan saya juga akan pindah ke sana. Lalu usaha perkebunan untuk sementara waktu dikelola oleh Bramantyo saja!” lagi-lagi ucapan Wijaya dibantah oleh Nyonya Bestari.
“Nda boleh! Perkebunan itu milik Adiwilaga yang diwariskan kepada Gendis. Bramantyo bukan siapa-siapa setelah Hapsari meninggal! Lebih baik kamu yang mengelolanya! Tidak harus datang ke lapangan kan? Bisa mengurusnya dari tempat baru kita nanti! Kalaupun kamu merasa keberatan, lebih baik untuk sementara waktu perkebunan dibiarkan tidak beroperasi!” Nyonya Bestari memberikan pilihan kepada Wijaya.
“Seperti yang Ibu katakan! Berada di sini ataupun di perkebunan sama saja mengingatkan masa lalu yang penuh kenangan. Mungkin lebih baik operasinya dihentikan untuk sementara waktu Setelah semua urusan produksi diselesaikan. Kita tidak memiliki pegawai tetap. Kebanyakan dari mereka adalah buruh harian yang bekerja di lapangan. Sedangkan untuk mereka yang bekerja di kantor, lebih baik akan saya pindahkan ke kantor perkayuan saya!” Wijaya sudah memberikan keputusannya.
“Ya sudah kalau keputusan kamu seperti itu! Sesegera mungkin kamu mencari tempat tinggal baru untuk Ibu dan juga kamu! Ibu harap tidak sampai satu minggu kita sudah pindah ke Jogja!” Nyonya Bestari ingin segera pergi dari tempat tinggalnya saat ini.
“Lalu apakah rumah ini akan dijual atau bagaimana, Bu?” Wijaya ya harus menentukan pilihan sesuai dengan keinginan ibunya.
“Rumah ini kamu jual saja setelah kita pindah!” Nyonya Bestari tidak ingin memiliki kenangan yang bisa mengingatkannya kepada mereka—Hapsari, Adiwilaga, dan Gendis.
Tepat sepuluh hari setelah Nyonya Bestari dan Wijaya mengambil keputusan untuk pindah. Rumah lama mereka pun dijual. Namun rumah milik Adiwilaga tidak mereka jual. Karena Wijaya berharap kalau suatu hari nanti ada keajaiban yang membawa Gendis kembali ke rumah itu.
Namun sesuatu hal yang tidak diketahui oleh Wijaya. Bramantyo justru tengah mengiklankan kalau rumah peninggalan Adiwilaga akan dijual.