10. Liburan Ke Puncak

1318 Kata
Akhir pekan ini, Bramantyo berniat mengajak keluarganya untuk berlibur ke Puncak. Hapsari merasa begitu senang. Karena semenjak mereka menikah. Mereka sama sekali belum pernah berlibur bersama. Hapsari juga berharap kalau liburan bersama kedua anak mereka bisa membuat mereka bahagia. Sekaligus honeymoon untuk Hapsari dan Bramantyo. Namun, Gendis memiliki perasaan lain. Gadis itu justru takut untuk berlibur bersama Bramantyo. Karena dia mengetahui kebusukan dan kelicikan Papa barunya beserta Ayu. Gendis hanya takut kalau Papa barunya akan mencelakai mereka. Sehingga saat Bramantyo mengutarakan keinginannya untuk berlibur bersama keluarga ke Puncak. Gendis merasa takut. Awalnya Gendis mengurungkan niatnya untuk ikut. Tapi semua tidak mungkin karena Hapsari sangat antusias dan percaya kepada suami barunya itu. Sehingga Gendis hanya bisa pasrah dan berdoa untuk selalu dilindungi Allah SWT. “Pokoknya nanti kita berangkat ke Puncak hari Jum’at sore, biar kita bisa menginap di sana menikmati suasana asri di Villa yang sudah dipesan!” Bramantyo bermulut manis di depan Hapsari. “Ma, gimana kalau kita ajak Om Wijaya sekalian?” Gendis menyeletuk. Karena dia merasa aman kalau Wijaya ikut serta. Hapsari menatap lembut ke arah Gendis. Dia mengusap pipi Gendis dengan penuh kelembutan. “Sayang, ini kan acara keluarga kita! Hanya kita berempat saja, biar semakin akrab.” Hapsari justru melarang Gendis untuk mengajak Wijaya. Gendis semakin meragu. Gadis itu tertunduk. Dia tidak lagi bisa melibatkan Wijaya lagi dalam acara keluarga inti. Gendis hanya berharap kalau semua akan baik-baik saja. *** Hari yang dinanti oleh Hapsari pun tiba. Hapsari terlihat sibuk. Dia menyiapkan segala keperluan dibantu Mbak Murni. Sedangkan Gendis tengah bersiap dan masih ada di kamarnya di lantai dua. Ayu masih asyik menonton televisi sebelum mereka berangkat. Hapsari terlihat mondar-mandir tidak tenang. Wanita itu berusaha menghubungi Mas Ripin—sopir pribadi keluarganya. Namun tidak ada jawaban sama sekali. “Mas Ripin ke mana, ya?” gumam Hapsari sembari memegangi gagang telepon. “Bu, kira-kira butuh apa lagi? Biar saya siapkan!” Mbak Murni melihat Nyonya rumah itu gelisah. “Sepertinya sudah semua, Mbak! Hanya saja, saya menghubungi Mas Ripin kok nggak ada jawaban yo? Saya jadi bingung, Mbak!” Hapsari merasa kalau ada yang tidak beres dengan Mas Ripin. Kegelisahan Hapsari sepertinya diketahui oleh Bramantyo. Pria flamboyan itu mendekati istrinya. “Ada apa, Dek?” Bramantyo berusaha untuk memberikan perhatian. “Ini, Mas! Sopir kita kok dihubungi susah ya, Mas? Aku jadi khawatir!” Hapsari takut kalau sampai liburan mereka batal. “Oh, tadi pagi Mas Ripin izin sama Mas, katanya mau ada keperluan keluarga jadi mendadak tidak bisa mengantar kita.” “Lah terus piye, Mas?” Hapsari benar-benar pasrah. “Tenang saja! Mas sudah menghubungi sopir cadangan, teman Mas. Mungkin sebentar lagi akan sampai.” Bramantyo sudah memberikan solusinya. “Syukurlah! Itu berarti liburan kita nggak jadi batal kan, Mas?” Hapsari memastikan. “Tentu saja, Dek! Bersiap-siaplah! Mungkin sebentar lagi sopir kita tiba di rumah!” Bramantyo meminta semua untuk bersiap-siap. “Memangnya teman Mas itu namanya siapa? Biasa membawa mobil jarak jauh?” Hapsari merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya. “Namanya Jono. Dulu dia sopir di tempat kerja saya yang lama. Sekarang Dia sedang menganggur karena urusan kesehatan membuat dia resign dari kerjaannya. Namun setelah sembuh, dia bingung untuk kembali mencari pekerjaan. Kebetulan Mas Ripin itu tadi izin kalau ada keperluan penting. Jadi saya berinisiatif untuk menghubungi Jono. Ya ... Itung-itung ngasih kerjaanlah.” Bramantyo mengulas senyuman kepada Hapsari. “Oh, begitu? Tapi aman kan Mas?” Hapsari takut kalau sampai Jono menyopir ugal-ugalan. “Tenang aja, Dek! Mas Jono ini bisa diandalkan kalau urusan menyetir kendaraan roda empat!” Bramantyo kembali mengulas senyumannya. “Ya sudah, aku percaya kok sama pilihan Mas! kalau gitu aku bersiap-siap dulu ya Mas!” Hapsari merasa hatinya lebih tenang dan saat ini dia akan bersiap-siap sebelum Jono datang untuk membawa mereka menuju Puncak. *** Raut wajah bahagia terlihat mewarnai keluarga itu kecuali Gendis. Dia masih tetap merasa curiga dan ada perasaan tidak enak yang menggelayuti dalam benaknya. Terlebih saat ini mereka bersama sopir cadangan. Perjalanan panjang dari Jawa tengah menuju Puncak terasa sangat melelahkan. Walau demikian Hapsari merasa begitu bahagia karena pada akhirnya mereka berempat bisa pergi berlibur Setelah sekian lama Hapsari mengurung dirinya. Gendis juga merasa lelah, sesaat setelah mereka semua sampai di villa yang sudah dipesan oleh Bramantyo. Sebuah vila yang tidak terlalu besar tetapi memiliki desain dan interior yang sangat mewah. Pemandangan di sana terasa begitu asri. Walaupun Hapsari dan keluarganya tinggal di suatu daerah perkebunan teh dan terbiasa dengan pemandangan asri. Namun kali ini mereka merasa begitu berbeda. Lama kelamaan, Gendis merasa nyaman berada di sana bersama mereka. Gadis itu merasa Bramantyo dan Ayu begitu menyenangkan ketika Hapsari juga bersama mereka. Tidak ada rasa curiga sama sekali setelah Satu malam mereka lewati dengan begitu indah. Kamar tidur yang terpisah antara Ayu dan Gendis membuat dua gadis itu merasa lebih privasi. Begitu juga dengan Hapsari. Rencana bulan madu Hapsari dan Bramantyo berjalan sesuai rencana mereka. Rayuan Bramantyo mampu membuat Hapsari terhanyut. Hingga pada akhirnya untuk pertama kalinya Hapsari dan Bramantyo berhubungan layaknya suami dan istri. Lagi-lagi Bramantyo membuat Hapsari merasa begitu itu yakin kalau pria itu benar-benar mencintai dan menyayangi keluarga Hapsari. *** Setelah dua malam mereka lewati dengan bahagia. Hari Minggu pagi itu rencananya Sari akan membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang ke rumahnya. Namun cuaca seakan tidak mendukung. Hari Minggu itu mendung terasa begitu gelap. Angin terasa begitu dingin menerpa pori-pori. Berapa kali Hapsari keluar di teras Villa untuk melihat situasi dan cuaca yang begitu mendung seperti akan ada badai yang turun. “Ada apa, Dek?” Bramantyo melihat raut wajah gelisah terpancar dari Hapsari. “Aku itu sebelum pulang ke rumah sebenarnya mau beli oleh-oleh, Mas! Tapi cuacanya kok begini, ya?” mengungkapkan kegelisahannya. “Ya sudah kalau gitu kamu di rumah saja! Menunggu suasananya cerah! Tuh lihat sebentar lagi sepertinya akan turun hujan!” Bramantyo berusaha mengingatkan Hapsari. “Tapi, Mas! Kita nggak punya waktu lagi! Aku nggak mau kalau liburan kita pulang dengan tangan kosong! Aku pergi saja, ya! sebentar! Jadi nanti kalau kita pulang sudah tidak bingung harus mampir-mampir lagi buat beli oleh-oleh!” Hapsari tidak mau kalau dia tidak membawa buah tangan ketika pulang ke rumah. Karena dia ingin memberikan buah tangan kepada keluarga Nyonya Bestari dan juga pembantu di rumahnya. “Ya sudah kalau memang kamu mau ke tempat oleh-oleh, biar saya temani saja!” Bramantyo menawarkan diri untuk menemani Hapsari membeli oleh. “Nggak apa-apa, Mas?” Hapsari mengukir senyuman di wajahnya. “Ya nggak apa-apa, dong! Saya mau bilang dulu sama Ayu, mau menemani kamu beli oleh-oleh.” Bramantyo berlalu dari pandangan Hapsari. Begitu juga dengan Hapsari yang berpamitan kepada putrinya. Tidak lama kemudian. Hapsari mendengar Bramantyo memanggil-manggil namanya. Hapsari dan Gendis berlari menuju kamar Ayu. “Ada apa, Mas?” Hapsari yang panik langsung menemui Bramantyo ditemani Gendis yang juga ikut untuk melihat apa yang terjadi. “Ayu badannya panas banget!” Bramantyo mendapati putrinya demam tinggi. Hapsari bergelas untuk memeriksa. “Iya, Mas! Ayu demam.” Hapsari segera berlari menuju kotak P3K yang ada di Villa itu. Dia mengambil Paracetamol untuk menurunkan panas tubuh Ayu. “Ya sudah,Mas! Yang beli oleh-oleh biar aku sendiri saja! Mas lebih baik di sini menemani, Ayu!” Hapsari tetap nekat untuk pergi membeli oleh-oleh sendiri. Namun Gendis merasa iba kepada mamanya. Sehingga dia menawarkan diri untuk menggantikan Bramantyo menemani Hapsari. Tidak ada keraguan di benak mereka berdua. Jono diberi mandat untuk mengantar mereka. Hujan angin turun seketika. Rasa-rasanya Gendis dan Hapsari merasa ketakutan dan tidak tenang. “Pak Jono, tolong berhati-hati saja menyetirnya! Jangan cepat-cepat! Yang penting kita selamat sampai tujuan!” Hapsari merasa kalau Jono menyopir dengan cepat. Perintah Hapsari tampaknya tidak digubris oleh Jono. Hapsari dan Gendis berpelukan untuk mengurangi ketakutan mereka. Brak! “Aaaaaa ....” Mobil yang dikendarai Jono untuk membawa Hapsari dan Gendis menabrak pembatas dan terjun ke sungai yang lumayan tinggi. Sedangkan Jono berhasil keluar. Namun, Hapsari dan Gendis terjebak di dalam mobil itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN