21. Menginap Di Kantor

1863 Kata
Tatapan Marchel tidak bisa lepas dari gadis yang sedang merangkai bunga. Hal itu membuat Ayu menggerutu dalam hatinya. ‘Si Marchel kenapa melihat gadis desa itu seperti melihat artis papan atas? Gadis itu tidak ada istimewanya dibandingkan denganku! Menjadi sekretarisnya rela aku lakukan karena aku yakin cinta datang karena telah terbiasa bertemu setiap hari. Tapi sampai detik ini aku sendiri belum mengetahui bagaimana tipe gadis yang disukai oleh Marcel! Semua seakan menjadi misteri yang belum terungkap! Kalau tidak karena Papaku, Mungkin aku akan menyerah untuk mengejar perhatian dan cintanya Marchel!’ ucap Ayu dalam hatinya sembari terus berperan lemah lembut dan mengulas senyum ramah kepada setiap orang. Mita bahkan tidak mengetahui kalau Marchel terus menatapnya. Karena Mita tidak ingin menatap Ayu berlama-lama. Dia takut kalau Ayu akan mengenalinya. Sehingga Mita lebih banyak menunduk dan tetap fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya. Rasa penasaran Marchel membuatnya harus memikirkan cara untuk bisa menyapa gadis yang mencuri perhatiannya. Marcel pun berpura-pura berjalan untuk melihat sejauh mana dekorasi ruangan itu dikerjakan. Tentu saja dia selalu menggunakan ciri khasnya. Ekspresi dingin dan nada bicaranya jelas tanpa basa-basi. Walaupun kali ini Marchel memiliki rasa penasaran untuk mendekat ke arah gadis itu. Namun tetap saja dia harus menjaga wibawanya sebagai pimpinan kantor tersebut. Marchel mulai melangkah berjalan menuju ke arah Ujang yang mulai memasang dekorasi bunga di salah satu sudut ruangan. Ayu pun ikut mengekor pada Marchel. Kebetulan saat itu Ujang sudah turun dari tangga dan hendak mengambil rangkaian bunga yang selanjutnya. “Permisi, Pak!” Ujang mengulas senyum dan membungkukkan punggungnya di depan Marchel yang sedang melihat dekorasi untuk peresmian kantornya. “Oh, ya silakan!” Marchel sedang melihat-lihat dekorasi yang sedang digarap. Setelah Ujang kembali lewat, Marchel bertanya kepadanya sebelum Ujang kembali memanjat tangga. “Ngomong-ngomong berapa lama lagi pekerjaanmu akan selesai?” Marchel menanyakan hal itu dengan cool sembari memasukkan telapak tangan kanannya ke dalam saku celana panjang. “Mungkin akan selesai dini hari, Pak! Karena saya dan Bos saya hanya berdua.” Ujang mengatakan hal itu dengan jujur. “Terus kalian akan menginap di mana?” Marchel penasaran kalau sampai pekerjaan itu selesai melewati dini hari. “Maaf sebelumnya, Pak! Kalau boleh, kami menginap di kantor ini saja, Pak! Ya ... kami bisa tidur di kursi ataupun di atas lantai!” ucap Ujang membuat Marcel mengernyitkan dahi karena merasa heran dengan mereka. “Kenapa Bos kamu membiarkan kalian menginap di kantor ini? Apa tidak ada anggaran untuk menyewa hotel?” Marchel penasaran. Mendengar pertanyaan itu Mita terpanggil untuk menjelaskan kepada bos muda yang saat ini sedang berbincang dengan Ujang. ‘Mau tidak mau aku harus ke sana! Menjelaskan kondisi kita kepada Tuan Muda itu! Astaga! Semoga Ayu benar-benar tidak mengenaliku!’ ujar Mita dalam hatinya. Dia beranjak dari posisi duduknya saat ini. “Maaf, Pak!” Mita mendekat dan bergabung bersama mereka. “Saya Mita, owner jasa florist yang disewa oleh kantor bapak untuk mendekorasi ruangan acara pembukaan kantor cabang ini.” Dengan rendah hati Mita menyodorkan telapak tangannya untuk berjabat tangan dengan pimpinan kantor cabang tersebut. “Saya Marchel! Putra sulung dari pemilik perusahaan ini, sekaligus menjabat menjadi calon pimpinan kantor cabang yang akan diresmikan besok hari!” “Saya sangat berterima kasih karena perusahaan ini sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk bisa memberikan yang terbaik dari jasa florist yang sedang berkembang ini. Saya juga selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik kepada semua klien yang sudah mempercayakan dekorasi acara mereka kepada kami. Semoga perusahaan Bapak Marchel juga tidak kecewa dengan pelayanan yang diberikan oleh jasa florist kami. dengan begitu kami bisa sekalian mempromosikan jasa floris kami kepada tamu yang diundang ke acara besok pagi. Sekali lagi saya sangat berterima kasih.” tata bicara Mita membuat Marchel merinding. Dia yang baru pertama kali berjumpa dengan Mita merasa begitu kagum. Tanpa gengsi gadis cantik itu tetap memberikan servis terbaik untuk setiap customer yang mempercayakan acaranya menggunakan jasa florist Mita. Marchel menyambut jabat tangan itu dengan penuh kemantapan. Dia yang jarang bersikap ramah. Tiba-tiba mengulas senyuman manis kepada Mita. Bagi Marchel Mita tak ubahnya seperti gadis yang memenuhi kriterianya. Gadis cantik lemah lembut tetapi memiliki kecerdasan dan ketekunan dalam menjalani sebuah usaha. Marchel tetap mengapresiasi Mita karena gadis muda itu bekerja keras penuh tanggung jawab demi berkembangnya sebuah bisnis yang sudah dirintis. “Saya juga berterima kasih karena kalian sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk kami! Tapi kenapa kalian tidak bermalam di hotel saja?” Marcel masih bingung dengan pemikiran Mita. “Kami bekerja dengan penuh cinta, Pak! Kami berusaha merangkai dekorasi ini dengan begitu indah dan tidak berlebihan. Kami juga belum bisa memprediksi kapan pekerjaan kami akan selesai. Keinginan kami juga sama! Bisa selesai dengan cepat, dengan hasil yang maksimal dan customer kami puas! Tapi kami tidak tahu apakah pada kenyataannya proses dekorasi itu akan berjalan cepat atau tidak. Sehingga saya memutuskan untuk tidak menyewa hotel sebagai tempat penginapan kami. Oleh karena itu kami meminta izin kepada Ibu Sherly kalau setelah kami selesai mendekorasi semuanya, kami meminta izin untuk menginap di kantor ini. Tidur di atas kursi ataupun sofa di lobi pun tidak masalah untuk kami. Satu hal yang pasti dekorasi ruangan semuanya indah sesuai dengan keinginan kami dan juga customer kami.” Mita kembali memberikan penjelasannya kepada Marchel. Pria itu semakin kagum mendengar penjelasan dari pemikiran Mita Si Gadis florist yang pandai merangkai bunga dan merangkai kata-kata. “Kalau begitu kalian saya izinkan untuk menginap di ruangan kerja saya! Di sana terdapat dua sofa panjang dan ruangannya sangat nyaman. Terdapat kamar mandi di dalamnya juga. Kalau kalian merasa keberatan untuk tidur dalam satu ruangan, Ujang boleh menempati ruangan kepala humas untuk menginap. Biar nanti saya membicarakannya dengan Ibu Sherly.” Marchel mengizinkan mereka untuk menginap di kantornya. “Terima masih banyak, Pak Marcel!” Mita tersenyum dengan hati yang lega karena bos perusahaan tersebut begitu baik menyambut mereka. “Baiklah kalau begitu saya akan melanjutkan untuk melihat persiapan yang lainnya. Silakan dilanjutkan saja pekerjaan kalian! Kalau kalian membutuhkan sesuatu bisa menghubungi Ibu Sherly!” Marchel berpamitan untuk pergi meninggalkan Aula. Dalam perjalanannya menuju ruang kerja Marchel. Pria itu memerintahkan Ayu untuk mengawasi semua jalannya acara dengan sebaik mungkin. Dia pun menyuruh Ayu untuk pulang lebih awal agar besok pagi dia bisa datang lebih awal juga. Ayu sempat kaget karena tidak biasanya Marchel bersikap baik kepadanya. Namun Ayu juga merasa kalau Marchel memiliki misi untuk mendekati gadis perangkai bunga itu. Karena Marchel masih tetap menunggu di ruangannya sampai gadis perangkai bunga itu selesai mendekorasi ruangan. ‘Ini benar-benar aneh! Tapi tidak biasanya, Marchel menyuruh aku pulang lebih dulu dengan alasan agar aku bisa beristirahat dan datang lebih awal untuk memastikan semuanya berjalan dengan lancar! Why? Apakah dia tertarik pada gadis itu? Ingin mengenal lebih dekat dengan gadis itu tanpa dibuntuti oleh aku?’ Ayu masih bergeming setelah mendengar perintah Marchel. “Ayu! Ngapain kamu masih berdiri di situ?” tanpa rasa bersalah Marchel mengatakan hal itu kepada sekretarisnya. “Oh itu ... hmmm ... saya ....” Ayu hanya mematung dan menggaruk kepalanya karena dia merasa sedikit malu sudah diperintahkan pulang oleh Marchel tapi dia tetap bediri di sana. ‘Sial! Kalau bukan demi Papa, aku males banget kenal sama makhluk yang satu ini! Arogan, dingin, sepertinya bukan tipe pria yang romantis! Tapi bagaimanapun juga tetap saja Marchel terlihat tampan di mataku! Hah sudahlah!’ batin Ayu sembari membuang muka. “Sudah sekarang lebih baik kamu pulang saja! Tapi ingat! Kamu harus datang lebih awal dan pastikan semuanya berjalan dengan lancar tidak ada kekurangan satu apa pun! Kamu mengerti, Yu?” Marchel kembali mempertanyakan hal itu kepada Ayu untuk memastikan semuanya. “Iya, Pak saya ngerti! Kalau gitu Saya permisi dulu, Pak!” Ayu merasa kesal dengan sikap Marchel. Dia memilih untuk pulang ke rumah sebelum Marchel mengusirnya untuk ketiga kalinya. Setelah Ayu meninggalkan ruangan Marchel. Kini giliran Marchel bersantai di dalam ruangannya sembari menunggu Ibu Sherly mengantar Mita ke ruangan Marchel. *** Tama yang sudah bertemu dengan ibu dan adiknya. Berpamitan untuk kembali ke tempat Mita berada. Dia juga sudah memberitahu ibunya kalau malam itu dia tidak pulang ke rumah karena masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Tama kembali datang ke kantor itu dengan membawa martabak manis dan asin untuk disantap bersama Mita dan juga Ujang. Tidak lupa Tama juga membeli minuman dingin untuk menemani mereka saat menyantap martabak yang dibawa oleh Tama. Pekerjaan Mita sudah berjalan tujuh puluh persen saat Tama tiba di sana. “Hai! Bagaimana pekerjaan kalian?” Tama mengulas senyum kepada mereka sembari menaruh makanan yang dia bawa di atas meja. “Hai Tama! Sudah hampir selesai kok! Cuma ya ... gitu rasa kantuk udah mulai terasa!” Mita masih merangkai bunga-bunga yang tinggal beberapa potong lagi selesai dia rangkai. “Aku bantuin apa dong? Soalnya bingung juga belum pernah bikin dekorasi seperti ini!” Tama duduk di samping Mita dan mempertanyakan hal itu. “Kamu bantu doa aja! Soalnya kalau belum terbiasa nanti malah jadi perkara lagi!” Mita mengulas senyumnya sembari menatap ke arah Ujang. “Iya, Om Tama! Bisa-bisa nanti kalau salah terus bunganya rusak masa kita kudu balik ke toko?” jawaban menohok dari Ujang membuat Tama menggaruk kepalanya. “Ya sudah kalau begitu aku bantu bersih-bersih saja!” Tama berharap dengan pendekatan seperti itu dia bisa mengenal Mita lebih dekat. Kebersamaan mereka menjadi sebuah motivasi tersendiri. Rasa lelah yang menjalar ke sekujur tubuh mereka bisa tidak dirasa karena canda tawa mereka menemani pekerjaan itu. Setelah semuanya selesai sekitar pukul 01.00 malam. Tama langsung membantu mereka untuk membersihkan sisa-sisa tangkai bunga yang tidak terpakai. “Nah sekarang udah bersih, rapi, dan dekorasinya benar-benar cantik!” Tama melirik ke arah Mita. “Cantik seperti yang merangkai bunganya ya?” minta menoleh ke arah Tama untuk meledeknya. Karena dia tahu Tama sedang mendekatinya. “Iya, gitu sih, Mita!” mendengar ucapan Mita, Tama justru merasa grogi. Dia berpikir dari pada Mita terus meledeknya. Akhirnya Tama mengajak Mita dan Ujang untuk menyantap martabak bersama-sama. Bagi Mita pengalamannya hari itu sangat berkesan. Dia bisa menyelesaikan pekerjaan yang luar biasa banyak sampai larut malam. Dia merasa puas dengan hasilnya. Terlebih lagi saat itu Tama menemani Mita dan Ujang. Rasa lelah yang sempat menggelayut tiba-tiba menghilang begitu saja mendengar canda yang terlontar antara Ujang dan Tama. Di sela-sela istirahat, Ibu Sherly datang untuk menanyakan pekerjaan Mita. Ketika semua dirasa maksimal dan selesai. Ibu Sherly akan mengantar Mita ke ruang kerja bosnya. Karena malam ini ruang kerja Marchel akan menjadi sebuah tempat penginapan untuk Mita. Tentu saja Tama terkejut mendengarnya. Namun yang membuatnya sedikit lega bahwa Mitha dan Ujang ditempatkan di ruang terpisah. Hingga akhirnya Tama memutuskan untuk menginap di kantor itu juga dan berada dalam satu ruangan bersama Ujang. Karena ruangan Ibu Sherly juga cukup luas dan terdapat sofa di ruangan tersebut. Sedangkan Mita akan tinggal sendirian di ruang kerja Marchel. Mita sempat menanyakan kepada Sherly apakah dia akan menginap di kantor juga atau akan pulang. Namun Sherly memilih pulang, karena dia sudah memiliki seorang anak yang tidak bisa dia tinggal begitu saja. Mita memahami situasinya. Mereka mulai berjalan menuju ruangan Marchel melewati koridor panjang di lantai tiga. Sesampainya di depan pintu. Tiba-tiba Mita berkeringat dingin karena gugup. Dia baru pertama kali menginjakkan kaki di kantor sebagus itu. Sedangkan Marchel ada di balik pintu kokoh yang menjulang di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN