Chapter 1
Mata hitam itu terlihat sangat khawatir, tubuhnya mondar mandir di depan pintu itu dengan resah.
"Ya tuhan selamatkan temanku," itulah yang diucapkan nya.
Melihat kecelakaan tepat di depan matanya membuat gadis itu shock tidak terkira, apalagi yang tertabrak adalah teman kecilnya.
Pintu terbuka membuat gadis itu segera menghampiri nya, "Bagaimana keadaannya dok?" Dokter itu tersenyum melihat kekhawatiran gadis di depannya.
"Dia tidak apa-apa, hanya luka kecil saja. Kamu boleh menjenguk nya sekarang, saya permisi," Gadis itu bernapas lega mendengar penjelasan dokter tadi.
Ia memasuki ruang itu dengan pelan, ia terus menatap seseorang yang terbaring lemah.
Tepat di samping ranjang ia memukul lengan seseorang itu keras, "Lo jahat! Lo bisanya buat gue khawatir tau! Gimana kalo tadi lo ga selamat ha?! Oh ya ampun!" omelnya.
"Quenbe Elvina, bisa gak Lo diem? Udah tau temennya sakit malah ngomel, mukul lagi!," gerutu nya mengelus lengan yang jadi sasaran El.
El menatap Orang itu gemas, "Kavin Ardana Abiputra, Seharusnya Lo berterima kasih sama gue! Gue yang membawa Lo kesini! Kalo tau bakalan kayak gini tadi gue gak usah nyelametin Lo. Ah gue jadi nyesel," El berjalan keluar meninggalkan wajah sendu Kavin yang menatapnya.
"Be! Mau kemana? Lo tega ya ninggalin gue dalam keadaan yang memprihatinkan?" Kavin melihat El berhenti dan membalikkan badannya dengan kesal.
"Mau pulang! Lo nya juga udah sehat kan? Gak terluka parah juga," celetuknya.
"Setidaknya Lo nemenin gue kek, Lo mah tega ya!" Kavin memiringkan badannya memunggungi El
El mendengus dan menghampiri Kavin lagi, "Ngambekan! Ya udah gue temenin." El menarik kursi dan mendudukinya.
Kavin tidak juga membalikkan badannya dan itu semakin membuat El kesal, "Tuh kayak gitu! Ya udah gue pulang aja dari pada diacuhkan!" El berdiri namun tangannya langsung ditarik membuatnya terduduk kembali.
"Ah Lo mah gak peka, bujuk kek apa kek ini mah malah ikut ngambek," ucap Kevan cemberut.
"Ngapain juga bujuk orang yang sok ganteng kayak Lo," El menjulurkan lidahnya mengejek dan mendapatkan cubitan dipipinya.
"Au au,, lepas sakit Ar!" Kavin melepasnya dan meninggalkan kemerahan dipipi El.
"Sakit tau!" gerutu El sembari memegang pipinya.
Kavin tersenyum, tangannya mengusap pelan pipi El lembut,"Maaf ya Be, Lo nya gemes sih gimana?" ucap Kavin.
"Gue tau, gue emang gemes, lucu, cantik dan pintar terima kasih atas pujiannya," ucap El membuat Kavin mendengus.
"Harusnya gue gak muji Lo,kepedean kan orangnya," gerutu Kavin.
El mendengus, "Oh iya gue lupa belum ngabarin orangtua lo, bentar ya," El berdiri dan menjauh dari ranjang untuk menelepon orangtua Kavin.
"Halo ma,"
"..."
"Kavin kecelakaan,"
"..."
"Keadaan nya baik-baik aja kok Mom, tenang aja,"
"..."
"Oke, El tunggu," El memasukkan handphone nya ke dalam saku rok nya dan berbalik.
"Astagfirullah," El sangat terkejut melihat jarak antara dirinya dan Kavin sangat dekat.
Mata mereka terkunci, debaran jantung Kavin berdetak dengan cepat, dia menikmati wajah kaget El.
El mengerjapkan matanya dan langsung tersadar, dia mendorong wajah Kavin menjauh.
"Ngagetin tau! Kenapa juga lo bangun? Balik lagi!" El mendorong Kavin pelan untuk kembali berbaring.
"Be," El menatap tanya Kavin.
"Gak pulang? Lo juga belum ganti baju," lanjut Kavin.
El menunduk, ia ingin pulang tapi enggan. Kavin mengetahui isi pikiran El pun memegang tangan El menguatkan.
"Gak papa gak mau pulang juga, disini aja temenin Pangeran mu," ucapnya menghibur El.
El tersenyum simpul membalas ucapan Kavin.
***
El memasuki pekarangan rumahnya sembari menghembuskan napasnya dalam.
Tangannya membuka pelan pintu yang tertutup.
Sepi, El bingung dengan keadaan rumahnya itu yang biasanya ramai sekarang sepi seperti tidak berpenghuni.
"Bunda?" El memanggil bundanya pelan, perasaannya mulai tidak enak.
"Bunuh aku mas! Bunuh aku!" samar samar El mendengar teriakan itu dari arah belakang rumah.
Dengan cepat El berjalan, ia terkejut melihat Bundanya yang dijambak.
"Berhenti urusin orang lain! Termasuk saya!" Revan ayah El melepaskan jambakkanya kasar.
"Kamu gak pernah menganggapku ada mas?" Monik menatap suaminya itu dengan perasaan tersakiti.
Keadaan hening untuk sementara, El mendekati mereka.
"Bun," El memanggil Monik.
Monik menatapnya benci, "Menjauh dari saya! Saya tidak mengharapkan kehadiran kamu!" teriaknya.
Langkah El terhenti mendengar teriakan bundanya.
Revan menatap tajam Monik, "Tidak seharusnya kamu meneriaki Quen, ibu macam apa kamu ini!" tangan Revan mengangkat untuk menampar Monik.
El segera menahannya dengan air mata yang sudah mengalir, "Jangan Yah, kumohon jangan menyakiti bunda," ucapnya memohon memegang lengan ayahnya itu.
Revan menatap sendu putrinya, "Dia sudah berkata kasar padamu Quen, Ayah memang b******k tapi tidak sebrengsek ibumu!" amarah Revan memuncak melihat putri kesayangan nya membela istrinya.
"Dia bunda Quen, dia wanita yang udah ngelahirin Quen. Tanpa dia Quen ga ada di dunia Yah, plis Yah jangan pernah lagi main fisik," mohon nya, Revan menatap wajah kacau putrinya yang menangis.
Revan mendengus kasar, "Baiklah, lebih baik kamu ke dalam dan istirahat," El mengangguk, Revan menatap tajam Monik yang hanya diam.
"Sekali lagi kamu berkata kasar pada putri ku, kamu akan tau akibatnya!" Revan meninggalkan kedua wanita itu.
El menyentuh lengan Monik namun Monik menepis nya, "Jangan pegang saya! Saya benci kamu!" Monik meninggalkan El sendirian di taman itu.
El terduduk setelah mendengar penuturan tak pantas bundanya, hatinya sakit mendengarnya.
Hanya air mata yang dia keluarkan tanpa mau mengucapkan kata-kata, dia terlalu sayang dengan bundanya hingga bicara pun dia tidak sanggup.
Biarlah Monik membencinya asalkan dia tidak meninggalkannya, itu yang selalu dipikirkan El ketika dia mendengar penuturan bundanya yang membuat dia sakit hati.