Chapter 26

1002 Kata

Angin berhembus kencang menghadirkan hawa dingin tidak karuan. El kembali memeluk dirinya sendiri. Pikirannya sedang kacau mengingat pembicaraan yang orang tuanya bicarakan dan tidak sengaja dia dengarkan. Air mata El menetes, dia masih belum percaya dengan kenyataan yang sebenarnya. El menuruni tangga tanpa ada suara, dia haus. Malam ini memang banyak angin hingga tenggorokannya kering. "Kita harus apa mas?" El menghentikan langkahnya, tubuhnya tertutupi tembok dapur. El mengernyit mendengar suara bundanya yang menangis. "Jangan nangis, nanti Quen denger." Monik terlihat sangat kacau, wajahnya sudah muram dan matanya pun sudah membengkak, mungkin karena menangis. El menyenderkan tubuhnya. Dia masih ingin mendengarkan mereka. "Mereka ingin putrinya kembali." ucap Revan, tanganny

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN