Menjadi Pencuri!
Langit malam saat itu sedang bertabur bintang, menjadikannya malam yang indah dan terang diseluruh hamparan bumi. Di tengah indahnya langit, angin musim semi masihlah cukup kencang bertiup mendinginkan suhu bumi tetapi, di sisi terkecil bumi ada seseorang yang tubuhnya sedang bercucuran keringat, panas tubuhnya tak kunjung hilang malah semakin menjadi karena degup jantungnya berpacu cepat. Di antara kegugupan juga ketakutan baru saja dia melakukan kejahatan. Ah, tidak. Bukan membunuh tepatnya, mencuri. Di sentuhnya benda hasil curianya di balik bajunya seraya menarik napas, menenangkan hatinya.
Neron Clemen Nicolas, dirinya baru saja berhasil menyelinap keluar dari sebuah rumah seperti bagaimana masuk, seperti itu juga keluar. Tentu saja sebelumnya sudah dipersiapkannya. Dia dan si Pemilik kamar adalah teman sekaligus saudara dekat tentu jadinya cukup mudah diakali. Seperti mencekokinya dengan ramuan tidur jadi tidak mengganggu aksinya. Sekarang bagi Neron, yang sulit adalah turun dari sini. Tangga yang dipakainya untuk naik malah jatuh, kapan tepatnya Neron tidak tahu. Siallan, kenapa tangganya jatuh?
Penuh kekesalan, tangannya yang terkepal memukul dinding. Shaaa, sakit! Awww, pekiknya nyeri dan langsung ditutup mulutnya sendiri. Melirik ke sana kemari berharap tidak ada siapapun yang mendengarnya. Sekarang dia hanya bisa turun tetapi, tidak mungkin harus loncat. Melihat ke samping ada sebuah saluran pipa air yang bisa digunakannya segera Neron merayap di dinding bagai cecak untuk bisa turun dan melarikan diri. Sangat tidak memungkinkan, kan, jika, dia keluar dari pintu rumah?! Menarik napas Neron masih melirik-lirik ke bawah, wow cukup jauh. Fix, tidak mungkin dia juga langsung loncat kalau tidak bisa-bisa terluka, paling parah dia tertangkap.
Waktunya dia turun, dengan memegang pipa sambil menutup matanya sedetik kemudian Neron meluncur aman. Ssshhh! buk. Kakinya goyah, bokongnya lah yang mendarat terlebih dulu. Menghembuskan napas berat, Neron menyentuh jantungnya yang berdebar sangat kencang. A-aku selamat. Oh, Tuhan. Aku tidak akan melakukan h-hal seperti ini lagi, janjinya yang entah bisa dirinya tepati atau tidak.
Perasaan berbuat nekad seperti mencuri, baru pertama kalinya dia lakukan. Tidak bisa dikatakan, entah setaan gila macam apa yang merasukinya sampai berani melakukan hal ini. Tetapi, hal itu sudah dilakukannya. Neron menarik napasnya dalam-dalam dan mulai berjalan pergi. Di tengah langkah Neron berbalik dan melihat ke belakang, di mana ada rumah orang tuanya dan di sebelahnya rumah Oris, yang baru saja dia masuki. Sampai jumpa! Ayah, ibu kamu juga ..Oris. Maafkan aku.
Tanpa menunggu waktu fajar, Neron setengah berlari menuruni lereng bukit meninggalkan kampung halamannya yang sudah tujuhbelas tahun lamanya menjadi tempat tinggalnya yang penuh kenangan. Saatnya, kini dia harus memlih jalannya sendiri dan hanya dengan berbekal tas kulit-nya yang berisi tak lebih dari dua puluh tiga keping emas dan beberapa ratus uang tembaga sisa dari tabungannya yang ia simpan. Lakkserta beberapa lembar pakaian setelah itu hanya surat pass/ surat undangan masuk Academi BigsTunes yang seharusnya milik Oris dan terpaksa kini harus jadi miliknya, bukan tanpa alasan dia mencurinya.
Neron yakin pada Oris, saudara sekaligus temannya itu pasti dia akan lebih banyak memiliki kesempatan yang akan datang tetapi, tidak dengannya. Jika, Oris memang merupakan anak yang diberkati dengan Mana dan sihir yang luar biasa. Tidak dengannya. Neron hanya bisa mengandalkan kekuatan otot dan otaknya tetapi, sepertinya di Academi dia tidak semudah itu tetap, perlu kekuatan sihir. Biar saja, yang terpenting aku bisa bertemu Marvella. Soal sihir, sebisa mungkin nantinya aku harus mengelak dan jangan jadi, menonjol. Gak semua orang punya inti Mana bisa menggunakan sihir juga, kan?! monolognya sendiri di tengah heningnya kesendirian.
Dulu Neron pernah sangat kecewa dan marah, ketika dirinya tahu. Tidak mungkin baginya melakukan sihir karena dalam tubuhnya tidak ada inti Maana. Inti di tubuh di manusia yang bisa menyerap dan mengumpulkan kekuatan lima element. Namun, sudah lama dia tidak mmbiarkan hal itu menjadi penghalangnya untuk menjalani hidup bahagia. Terima kasih pada orang tuanya, yang terus mendukungnya dan tak sedikitpun kecewa mendengar tentang kemampuannya.
padahal jika ditilik, keduanya adalah pengguna sihir yang mampu dan bahkan, cukup kuat dan terkenal di wilayah mereka ini. Bahkan, sampai ayahnya dijadikan ayahnya pemimpin desa plus yang dihormati.
Ayah, Ibu. Maafkan anakmu yang tidak berguna ini! Semua kulakukan agar aku bisa membawa menantu masa depan kalian, ucapnya penuh penyesalan tetapi, matanya berbinar melihat ke depan. Melihat surat pass/ undangan masuk di tangannya. Tanpa benda persegi di depannya tidak mungin Academi membuat seorang remaja tanpa Mana bisa masuk tetapi, dengan surat pass/ masuk dari academi ini dia bisa melakukannya mungkin, jika dia tidak terendus dia bisa lama tinggal di sana menemani kekasihnya, Marvella, yang juga sudah diterima terlebih dulu sebagai murid di Academi.
Terakhir kalinya Neron menoleh ke belakang, melihat tempat di mana orang tuanya tinggal. Kini semakin jauh dia berjalan, semakin hilang juga pemandangannya. Ada perasaan takut menyesal, saat ini ketika langkah meninggalkan mereka dia hanya bisa memberi pesan dengan sepucuk surat. Berapa besar mereka mengkhawatirkan, ini pertama kali dia pergi terlalu jauh seorang diri. Selamat tinggal ibu, ayah. Aku pasti akan pulang, ucapnya setelah berada diperbatasan daerahnya.
Di langit sana matahari senja, baru saja muncul ketika Neron siap berbalik untuk berjalan lebih jauh dengan tatapan matanya kini, berubah teguh. Menarik napas Neron melanjutkan perjalanannya seorang diri sambil dengan telaten memerhatikan sekitar takut, jika sewaktu-waktu ada warga desa yang mengenalinya karena terkadang ada saja warga yang bekerja pagi buta.
**
Di kota Fugheri
Neron menatap ke atas, melihat plakat kayu dengan nama penginapannya Irissable. Sebelumnya Neron sudah memesan tempat karena sebelum waktunya berangkat, sebaiknya dia bersembunyi agar tidak ada yang menemukannya tetapi, dasar penginapan murahan mereka, belum juga buka padahal matahari semakin naik sehingga, Neron hanya bisa berjongkok dipinggir sebuah toko roti menunggu dengan perut yang mulai keroncongan.
Hey, sedang apa kamu di sini?Apa kau pencuri,hah!
Hampir saja Neron terjengkang saking kagetnya mendengar suara teriakan itu, menghela napasnya dirinya segera berdiri lalu bertatapan dengan pria bercelemek putih dan bertopi tinggi jelas tampak seperti koki. Mungkin dia pemilik toko roti bangunan itu. pria itu berkacak pinggang, setelah membuang kantong di tangannya begitu saja. Neron cepat-cepat saja, menundukkan kepalanya seakan memberi hormat agar kecurigaan orang itu segera berhenti.
Aku bukan pencuri, jawabnya, meski dalam hati dia membenarkan hal itu. Salam, Pak! Aku hanya menunggu penginapan di depan sana buka jadi, hanya berjongkok di sini saja.
Pemilik toko itu menyipitkan matanya seakan tak percaya. Lalu, kenapa pakaianmu seperti itu, huh? Untuk apa pakai jubah segala jelas seperti orang yang mengintai dan akan mencuri.
Dengan kedua gerakan tangannya Neron menolak dan sedikit panic. T-tidak, sungguh bukan. A-aku akan menginap di penginapan itu l-lalu aku harus pergi jauh?
Mencurigakan, ungkap si Pemilik toko sambil berjalan ke arahnya dan mengarah ke tas yang berada di bahu Neron.
Neron yang juga mulai was-was mengelak dari tangan pria itu. Anda mau apa? tanya Neron, yang kini dengan wajah menantang.
Aku hanya ingin melihat tasmu , apa kau sungguh bukan pencuri?
Sudah kukatakan aku bukan? Apa aku terlihat mencuri sesuatu dari tempatmu, Bapak Tua? Aku hanya berjongkok di sini.
Bocah busuk! Kenapa kau marah kalau bukan pencuri. Sini biar aku lihat tasmu mungkin saja di sana ada barang-barang curianmu. Mendengar riak-riak suara pria ini yang semakin keras tentu, akhirnya mengundang kerumunan yang mulai penasaran. Di mana ada seorang anak remaja dan pria berumur saling membuka mulut. Jika aku tidak melihatnya, akan kulaporkan kau pada penjaga keamanan, ancamnya.
Jantung Neron tentu saja bergemuruh kencang, bagaimana jika benar-benar tertangkap lalu, dipulangkan ke desanya dan harus mengakui jika dia mencuri surat pass masuk sekolah Oris. Neron menarik napas tenang meski, dalam wajahnya ada raut panic tetapi, dia berusaha baik-baik saja. Orang tua di depannya hanya ingin membuat masalah saja dengannya dan tidak boleh dibiarkannya untuk menang. Aku katakana lagi. Aku bukan pencuri? Dan kenapa aku harus membiarkanmu memeriksa tasku? Apa di sini tiap orang yang masuk atau bahkan, melewati toko roti mu harus kamu periksa tas-nya, orang tua!
Mendengar itu orang-orang disekitar mereka yang berkumpul, mulai berbicara dan menatap si Tukang roti itu. Mendapat kecaman dari mata orang orang disekitarnya pemilik toko roti itu mendengus keras lalu, berbalik menunjuk Neron. K-kau bocah busuk!Menyingkir dari sini, jangan mengganggu pelangganku.
Cih, siapa mau mengganggu, hah? Seperti banyak saja pelangganmu dan belum tentu juga roti yang kau buat itu enak, balas Neron sama pedasnya. Dirinya segera meninggalkan tempat itu, berjalan ke depan pintu penginapan yang akhirnya terbuka.
Sesampai di depan kamarnya Neron segera berlutut, rasanya kakinya menjadi jelly meleyot begitu saja. Hah, akhirnya selamat! Orang tua itu benar-benar kurang ajar! Aku harus lebih hati-hati. Oh, ayah, Ibu. Maafkan anakmu yang berdosa ini, keluhnya seraya bersujud, bersyukur selamat dari orang-orang berniat jahat seperti pak tua itu. Aku akan lebih berhati-hati ayah, ibu. Doakan saja dan ampuni dosaku ini.
**
Ke mana anak itu? tanyanya berguman pada diri sendiri. Mendengus keras, Philip kembali menghadap ke depan di mana para pegawainya yang bertugas sebagai pelayan juga pekerja kasar, yang berjumlah tigapuluhan ini berkumpul dan berjajar hanya untuk mendengar apa yang ingin dikatakan Tuannya. Kalian, apa di antara kalian ada yang melihat Neron pagi ini?
Saat itu langit sudah sangat terik. Para pegawai melihat tuannya dengan tatapan setengah bingung. Memangnya ke mana Tuan muda? tanya salah seorang pegawai kebun. Rendah riuh suara di antara para pegawai mulai terbangun, sama hal-nya dengan Philip mereka pun bertanya-tanya memangnya ke mana tuan mudanya bisa pergi. Anak itu tidak pernah berpergian dan bahaimana bisa pergi sendiri, apa dia punya keberanian? ujar tanya beberapa para pegawai.
Kalian jika bertemu atau mendengar sedikit saja tentang Neron anakku kalian harus segera memberitahuku. Mendapat anggukan kuat dari para pegawainya, Phili merasa sedikit lega tetapi, tak lama sebelum hal lain terjadi.
Di rumah Oris Darel. Filothea Maulvi menjerit keras dan marah, tangisnya pun tak kalah keras. Seperti orang linglung karena penuh emosi, dirinya belum juga bisa berhenti mengacak-acak atau sebenarnya mencari- cari sesuatu di seluruh ruangan kamar persegi itu. Di mana?Di mana kamu meletakkannya?!
Bu, Ibu, panggil remaja enambelas tahun itu setengah takut dengan berdiri di samping pintu, memegang engselnya kuat-kuat.
Filothea menoleh dengan mata tajam dan merah melihat anaknya yang ceroboh. Kamu?! Di mana kamu simpan surat itu, hah?
A-aku sudah mencarinya itu tidak ada!
Oris, sebenarnya apa yang sudah kau lakukan?! Filothea berjalan menghentak keras di lantai permukaan kayu menjambak rambut Oris kesal lalu menamparnya. Bagaimana kamu bisa pergi tanpa surat itu, huh? Oris Darel! Apa yang harus kulakukan padamu.
I-ibu, ibu. Maafkan aku. Oris berlutut dengan kedua tangan menyatu, memohon maaf pada ibunya.
Tangan Filothea kembali melayang tanpa sadar dan menatap anaknya yang berlutut di lantai. Aku tidak membutuhkan maafmu. Pikirkan dirimu kau harus cari surat itu. Aaaahh! Bagaimana kamu akan pergi ke academi tanpa itu? Cari kertas itu sampai dapat! Atau, kau akan mendapat pukulan lebih keras dari ayahmu.
Oris menahan air matanya, sambil mengusap pipinya yang nyeri dia mengangguk patuh. A-aku akan mendarinya,Bu.
Lalu, kenapa masih diam! Ayo, cari!
Mendengar perintah itu, Oris segera bangkit dan mulai mencari di setiap sudut kamarnya. Bagaimana surat undangan academi yang semalam masih ada kini, bisa tiba-tiba hilang. Filothea pun tidak tinggal diam, berbalik keluar mencari di seluruh rumahnya. Oris adalah putranya satu-satunya, harapannya besar padanya karena dialah kebanggan mereka keluarga Darel yang masih memiliki darah titisan dari Dewa Angin, Ness. Yang diberkati.