Castle?!

2178 Kata
Bangunan Academi itu sudah seperti castle, memasuki pintunya saja sudah seperti gerbang sangat besar untuk dimasuki puluhan orang. Semua orang tidak ada yang tidak takjub melihat isi ruangan yang indah, berdiri tiang-tiang kokoh di sana dengan dekorasi semua element yang tercipta, hal yang paling menonjol terdapat patung dewa-dewi yang berlatar air terjun lalu tiba-tiba segerombolan lampu berkelip-kelip tampak seperti kunang-kunang terbang melayang di atas mereka sebelum akhirnya tiba-tiba berpencar dan menghilang. Neron tidak lebih sama, matanya sulit berkedip melihat keindahan yang tidak pernah dilihat bahkan, dibayangkannya sebelumnya. ‘Aku tidak tahu jika di dunia ini ada hal seperti ini!? Sungguh sangat beruntung mereka yang diterima bisa tinggal dan bersekolah di sini. Ah, … jika seperti ini aku juga harus sedikit mengingat Oris. Seharusnya dia yang sedang berdiri di sini bukan dirinya.’ Langkah mereka semakin ke dalam, ada sebuah ruangan yang tampaknya jauh lebih terang sampai dari kejauhan terlihat hingar-bingarnya. Itu semua adalah suara-suara bising orang tengah berbincang, semakin dekat juga hidung Neron cukup sensitive untuk membaui jika ada makanan di sana. “I-ini bau makanan,” ujarnya sedikit bergetar. “Makanan? Kamu yakin?” tanya remaja berambut gondrong di samping Neron setelah mendengar ucapannya. “Hm,” angguknya yakin. “Aku bisa menciumnya, akhirnya ini waktunya kita makan malam.” “Ah, aku tidak bisa membauinya jika sejauh ini! Sial!, kenapa yang di depan tidak segera masuk. Aku sudah sangat lapar, kau juga, kan?” “Tentu saja!” sahut Neron sambil berjinjit, dia juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan anak-anak lain. Tiba-tiba saja langkah mereka berhenti, yang berada di barisan terdepan belum juga masuk masih berdiri di pintu. “Apa kita dilarang masuk?” “Tidak mungkin! Lihat! Kita jalan lagi.” Neron pun bernapas lega akhirnya barisan itu kembali bergerak. Semua indah pada waktunya … sungguh. Di aula makanlah yang paling indah dibanding tempat-tempat lain bukan hanya ruangannya yang di dekorasi sangat mewah tetapi, juga makanan-makanan mempunyai tingkat seni tinggi. Bukan hanya enak dipandang mata tetapi, juga enak dicicipi. “Selamat datang untuk siswa-siswa baru kami yang berbakat!” Terdengar suara menggema dari atas arah depan, terlihat seorang penyihir tua dengan rambut putihnya yang panjang, kedua mata yang bersinat terang meski banyak kerutan di sisi kiri dan kanannya, hidngnya yang tinggi dan mancung masih tampak kokoh dan kekurangannya hanya pipi yang dimilikinya sangat tirus sehingga bentuk wajahnya persis buah yang sudah kisut. “Perkenalkan aku Demian Oblicate … kepala academi BigTunes,” ucapnya dengan senyum hangatnya. “Di samping kiri dan kananku adalah para pembimbing kalian nanti yang akan menjadikan kalian semua penyihir hebat. Berikan tepuk tangan untuk mereka semua!” Tidak terkecuali semua orang bertepuk tangan saat diperintah bahkan, banyak anak-anak dengan mata berbinar cerah bertepuk tangan dengan penuh semangat. Berbeda jika, orang lain jantungnya berdetak karena kegirangan karena sudah berdiri di sini. Jantung berdetak lebih kencang terlalu banyak kekhawatiran di benaknya meski, tidak yakin apa yang akan terjadi dia hanya berharap satu hal yaitu tidak mati, untuk itu saja dia akan bersyukur banyak. “Kalian semua pasti sudah sangat lelah? Dan, kalian datang di waktu yang tepat untuk kita mulai makan malam pertama kalinya dengan seluruh keluarga besar academi ‘BigTunes’ … setelah hiburan yang diberikan senior-senior kalian jadi, kupersingkat pidatoku saja,” ujarnya menghibur. “Jadi, semua silakan duduk di tempat yang sudah disediakan bagi para siswa baru … dan selamat makan malam bagi semua.” Tepuk tangan sekali lagi menggema bahkan, lebih besar karena rona-rona kebahagian para siswa baru yang sebelumnya sudah kuyu kini terpancar seolah sudah memiliki kekuatan lagi hanya dengan mendengar kata-kata ‘Selamat makan malam.’ . Semua orang setengah berlari memperebutkan tempat duduk yang paling nyaman untuk mereka. Tanpa perlu lagi menunggu, makanan dipersiapkan. Di atas meja semua hidangan sekejap mata sudah tersedia dengan berbagai macam menu, terserah kamu mau apa semua hidangan ada. Neron juga tidak bingung di dengan cepat mendapatkan tempat duduknya dan tanpa ragu membalik piringnya dan menyendok sesendok kentang tumbuk dengan daging steik yang bertempuk di piringnya. “Kau sangat rakus sekali?” Neron melirik orang di sampingnya ternyata itu, si anak usil. Orion. “Kamu tidak melihat piringmu sendiri?” balasnya sambil mendengus karena piring Orion tidak jauh berbeda dari miliknya dan bahkan, mungkin lebih banyak. “Aku masih dalam masa pertumbuhan,” jawabnya sambil menggigit paha ayam panggang. “Kamu sudah sangat tua, kurangi kolestrolmu atau kamu akan semakin bodoh dan tidak berguna.” “Dasar! Kamu tidak tahu berapa umurmu, hah? Kamulah yang akan jadi bodoh dan tidak berguna. Lihat saja mulutmu itu tidak bisa kamu gunakan pada tempatnya, menunjukan betapa bodoh dan tidak bergunanya dirimu.” “K-kamu!” Orion hampir saja berdiri marah jika, tidak ditahan oleh teman di sampingnya. “Orion, kita sedang makan jangan membuat keributan dan … kamu. Aku tidak tahu siapa namamu tapi, maafkan adik sepupuku. Dia hanya sedikit usil!” Tidak disangka Neron yang sebelumnya tidak memerhatikan ternyata, yang duduk di sisi lainnya adalah orang yang tadi mengalahkan Marvella. Kalil Evan, tentu saja membuat nafsu makan Neron dengan cepat turun, dia menatapnya dengan tajam dan mendengus keras tetapi, tidak mengatakan apapun. Kalil cukup terkejut dengan sikap Neron, yang dingin dan menyangkannya dia sangat marah pada perilaku Orion sebelumnya sehingga dirinya ikut terkena imbasnya karena hanya membela anak itu. Bingung ingin mengatakan apalagi, akhirnya Kalil terpaksa diam lagi tetapi, sesaat dia punya peluang untuk berbicara lagi saat tanpa sengaja keduanya ingin mengambil makanan yang sama. “Kamu mau ini? Ambillah!” Neron mendengus sebal dalam hati karena kekesalannya sendiri yang tidak bisa melakukan apapun untuk kekasihnya terutama, pada orang di depannya orang yang sudah melukai kekasihnya. Perbedaan kekuatan jadi kelemahan terbesarnya, bagaimana dia bisa melawan seorang penyihir. Baru terasa sekarang begitu rendah dirinya yang jadi orang biasa. Akhirnya dengan semua keluhan hatinya yang terpendam Neron mengalah dan berbicara dengan santai. “Tidak perlu itu milikmu. “Tidak apa-apa aku akan memberimu ini,” ujar Kalil sambil meletakkan potongan daging merah itu di piring Neron. “Kakak sepupu, kenapa memberikannya padanya? Aku juga masih mau!” “Apa dia selalu cari perhatian dengan cara menyebalkan begitu?” tanya Neron pada Kalil, lalu setelah itu berbalik dan tanpa sungkan di melahap daging merah di piringnya di depan mata Orion. Orion membalas tatapan itu dengan mata besarnya tetapi, tidak mebalas dan hanya ikut- melahap makanan dipiringnya dengan sama lahapnya. “Entah kenapa aku sudah membencimu ketika melihatmu pertama kali!” “Kamu pikir aku tidak?!” balas Neron. ** Setelah makan malam berlalu dengan sedikit kata-kata petuah dari kepala academi akhirnya, siswa-siswa baru diberikan waktu beristirahat sebelum esok hari akan diadakan kegiatan yang katanya cukup menguras waktu. Mendengar hal itu jantung Neron sudah menggedor-gedor saja sedikit ketakutan meski, begitu dia juga tidak bisa lengah dan memperlihatkan kegelisan hatinya. Neron masih bisa mempertahankan raut wajah datarnya. ‘Semua akan baik-baik saja. Ayo, tenang!” Yah, tentu saja untuk saat ini Neron masih harus tenang. Dia menegakkan punggungnya dengan tegap dan berjalan lurus mengikuti barisan paling depan untuk keluar dari aula ruang makan. Sambil terus berjalan, Neron juga memperhatikan sekitar dia ingin mencari Marvella, yang mungkin saja akan berada disekitar tetapi seharusnya dia tidak terlalu bodoh. Marvella sebelumnya terluka dan kemungkinan terbesar berada di ruang perawatan tetapi, di mana tepatnya itu. Neron harus berpikir lagi. “Selamat malam semua! Sebagai Student Council , aku akan memimpin kalian kembali, maka dengarkanlah!” William tiba-tiba berada di depan kerumunan, memimpin para siswa baru dengan kata-katanya. Melihatnya para siswa baru diam-diam berhenti dan memerhatikan, begitu juga Neron yang sebelumnya sibuk celingak-celinguk dengan patuh menghadap ke depan dan mendengarkan. Ketika tidak lagi mendengar suara keributan dari para siswa baru William tersenyum tipis merasa puas lalu melanjutkan kata-katanya. “Karena kalian adalah siswa baru jadi, dengarkan dan patuhi perasturan di academi. Mengerti!” “Mengerti!” jawab mereka serempak. “Pertama! Bagilah menjadi dua grup sebelah kanan untuk anak perempuan. Sebelah kiri anak laki-laki.” Sekejap mata gerombolan besar anak remaja itu mulai memisahkan diri menjadi dua kumpulan baru. William lalu memanggil satu teman perempuannya yang berambut merah, Marine, yang berdiri di depan anak perempuan. “Selanjutnya, karena kalian adalah siswa-siswa baru yang belum ada penentuan akan di tempatkan pada golongan yang mana jadi, untuk beristiraha hari ini kalian semua akan memasuki ruang yang sama di mana itu akan jadi aula besar. Ok! Sekarang setalah kelompok anak perempuan dan anak laki-laki di bagi mari beristirahat lebih awal. Anak laki-laki ikut denganku dan anak perempuan ikutilah Marine.” Dengan penjelasan seperti itu dua kelompok siswa baru itu berjalan pada sisi arah yang berbeda. Neron berjalan ke jalan sebelah kiri dengan ruangan yang sudah seperti lorong besar dan berkelok-kelok, yang bisa dijelaskan jika suatu saat akan ada kemungkinan orang yang buta arah akan tersesat saking luas dan tampak rumit jalan yang mereka lalui. Neron yang berjalan di belakang, memerhatikan jam pasir yang dibawanya. Diam-diam dia menghitung waktu perjalanan dari aula utama itu sampai ke ruang istirahatnya. Perkiraannya mungkin tidak meleset saking luasnya mereka membutuhkan waktu lima belas menit. ‘Lumayan, aku juga sudah memberi tanda-tanda ditiap lorong yang dilewati seharusnya tidak terlalu sulit,’ ucapnya dengan banyak keyakinan. Semua dilakukan karena, setelah semua orang beristirahat Neron akan pergi untuk mencari Marvella setidaknya dia harus tahu bahwa, gadis itu baik-baik saja. Jika, sampai tidak menemuinya bagaimana dia bisa tidur dengan tenang. Begitu juga saat makan malam tadi, dia masih merasa pahit dan makan banyak makanan saking sedihnya. “Ini ruangan kalian!” Wiliam membuka pintunya dan memperlihatkan runagan yang sangat luas dengan banyaknya ranjang bersusun sudah tersusun rapih cukup digunakan untuk mereka semua. “Masuk dan pilih tempat tidur masing-masing!” Tanpa diperintah dua kali semua orang menyerbu masuk, mencari dan milih tempat yang menurut mereka paling nyaman sedangkan, Neron hanya mengikuti arus dia bisa tidur di mana saja tidak akan sulit. Bahkan, jika itu adalah sisa pembagian dari orang-orang ini dia tidak akan keberatan dan protes. Jadi, dia hanya berjalan menyusuri tempat itu begitu saja. “Hey, aku tidak tahu namamu. Jika, tidak keberatan kamu bisa tidur disebalahku atau di atas sana?” Neron berpikir, entah kenapa dia masih harus terjebak dengan orang yang sudah mengalahkan Marvella. Jelas Neron enggan meski sudah ditawari. “Terima kasih, aku cari tempat lain saja.” “Jangan begitu!” Kalil menarik tangannya entah, kenapa dia ingin dekat dengan remaja di depannya. Dia merasa orang itu begitu kasihan tampak dari semua orang dialah yang terlihat paling lusuh dan sendirian juga, begitu sangat kesepian. Neron melihat apa yang diperhatikan Kalil. Pakaiannya sepertinya dengan cepat berubah jadi usang, jubahnya sudah tak terlihat warna hitamnya sudah tampak bintik-bintik kuning karena aus. Sungguh harus disalahkan karena dia tidak banyak membawa baju ganti. “Apa yang kamu lihat?” “Eh,aah… tidak ada, tidak ada! Oh, ya, kita belum berkenalan. Namaku Kalil Evan.” “Aku sudah tahu.” “Ah, iya?! Tentu saja tadi kamu lihat saat aku bertarung, yah?” Neron memutar bola matanya malas, hendak pergi tetapi, masih ditahan kalil. “Jadi teman tidurku, Ok?” “Kakak sepupu apa-apaan, sih, kan, aku yang mau jadi teman seranjangmu. Aku akan berada di atas,” sela Orion yang tiba-tiba datang menyela. “Ah, Orion.” Kalil mengusap rambutnya malu-malu. “aku kira kamu sudah dengan orang lain.” “Tentu saja, aku belum!” “Karena kamu sudah punya teman, aku akan pergi,” ujar Neron malas berada terlalu lama di tengah-tengah mereka. “Eh, kamu belum menyebutkan namamu?” “Apa harus?” tanya Neron sambil menghela napas setealh melihat Kalil mengangguk dengan keras. “Namaku Neron Clemen.” Setelah menyebut namanya dia melengos pergi. * Lampu diruangan itu sudah padam semua meski, begitu tidak ada kegelapan yang benar-benar gelap karena jendela-jendela besar di sana yang tanpa gorden membawa cahaya bulan dari luar hingga, semua orang masih bisa melihat bayang-bayang orang lain disekitar. Tidak hanya itu cahaya lampu dari lorong pun cukup terang untuk memberikan mereka penglihatan di tengah kegelapan seperti ini. Mata Neron masih terbuka lebar, melihat sekitar. Dia memilih tempat di atas, di bawahnya ada seorang anak gendut sudah mendengkur cukup keras membuat bising sekitar tapi, karena itu juga Neron yakin tidak akan ketiduran sampai menemukan waktu yang tepat untuk keluar dan sedikit menjelajah wilayah sekitar. “Aish, gendut berisik!” teriak orang diseberang, dia dengan beringas melempar bantalnya ke arah si Bocah gendut. Neron sendiri masih memandangnya dengan santai. Si Gendut benar-benar terlelap tidak terganggu sama sekali malah, dengkurannya terdengar semakin keras. Ternyata, bukan hanya si Gendut tetapi, beberapa anak lain pun memiliki hal yang sama yaitu suara dengkuran tidur yang satu persatu saling menyahuti yang lain. Sungguh, membuat frustrasi orang-orang yang ingin tidur dengan tenang. Neron hanya bisa ber-smirk meski, terganggu dia tidak marah malah, membiarkannya seolah dia tengah mendengar suara-suara binatang kecil yang berada di alam. Sungguh, tekadnya sangat kuat … sebelumnya. Sayang dia kalah dengan semua irama dengkuran yang bersahutan hingga matanya tertutup untuk menyelinap dalam mimpi malam di saat tertidur begitu lelap. Gagal sudah malam itu, Neron yang berniat untuk menyelinap keluar dan menjelajah bangunan academi yang mirip castle ini untuk sekadar mencari kekasihnya yang entah berada dibagian mana castle ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN