Pintu pertama Academi.

1497 Kata
BUGH!! “Oauch … sialaan!” Neron melihat pintu masuknya lalu, melihat apa yang ada di depannya. Siaal! Itu tembok sungguhan. Keningnya berkedut kesal, perasaanya tidak mungkin salah sesaat tadi ada yang mendorongnya membuatnya sedikit kehilangan arah. Pandangan Neron beralih ke sana kemari mencari orang yang sudah mengganggunya tetapi, bukan menemukannya Neron melihat orang di sekelilingnya tengah menertawakannya. “Puas tertawa?! Tidak pernah melihat orang lain terbentur, huh?” Dalam kondisi marah Neron melanjutkan kembali langkahnya, kali ini dia tidak terburu-buru sebaliknya, berhati-hati dan sesaat setelah memasuki pintu itu perubahan alam disekitarnya terjadi. Dia berdiri sendiri di sepanjang jalan di mana di belakang maupun jauh di depannya adalah pintu. “Apa ini stairway itu?” tanya Neron sambil mengingat-ingat informasi yang pernah di dengarnya tentang Academi ‘BigTuneS’. Tidak berselang lama sebuah kotak energy muncul di depan Neron dan sebuah tulisan tertera di sana. ‘Pass Masuk.’ Tergesa Neron segera mengeluarkan lembar undangan tersebut yang dicurinya dari Oris itu. Meletakkannya di kotak yang tersedia, tak lama sampai terkonfirmasi dan surat undangan hitam itu berubah warna menjadi merah. Neron sukses masuk karena, tiba-tiba saja alam lain sebelumnya telah berubah. Kini, sebuah lapangan luas terbentang di depan mata, langitnya masih berwarna biru, matahari juga bersinar cerah dan yang paling mengagumkan adalah belasan kereta kuda api sudah berjajar rapi sepertinya siap untuk mengangkut para siswa ‘BigTunes’ sampai ke academi. Semua hal ini membuat Jantung Neron berdebar keras, matanya terbelalak antara percaya dan tidak, selama ini dia tidak pernah bermimpi akan pergi ke tempat para Mage setelah tahu, dia tidak memiliki Mana dan tidak mungkin bisa menggunakan sihir. Neron sangat sadar di dunia ini orang yang memiliki kekuatan sihirlah yang paling diutamakan, dielukan karena bakat-bakat alami itu di cari dan akan didik serta dikembangkan agar membuat peradaban negeri bisa semakin maju. Dengan adanya penggendali sihir semua orang berpikir jika, kehidupan sehari-hari mereka akan lebih mudah dan juga akan memperbaiki taraf ekonomi mereka karena sebagai pengendali sihir/Mage mereka akan diberi tunjangan oleh kerajaan sebagaimana kontribusi mereka pada sang Raja. Sayang, para turunan pengendali sihir/Mage sendiri tidak banyak. Dalam satu keluarga tidak semua ibu akan melahirkan anak yang memiliki Mana dan bersiap nantinya untuk menjadi seorang penyihir/Mage. Hal ini termasuk keluarga Clemen, yaitu diri Neron sendiri yang sampai hari ini tidak pernah memiliki tanda-tanda kelahiran untuk jadi seorang yang mempunyai kekuatan sihir padahal, kedua orang tuanya sendiri merupakan orang yang berbakat yang memiliki mana besar yaitu, air serta api. Dan, seolah ingin menertawakannya dari kedua cabang keluarga orangtuanya itu semua anak-anak lahir dengan bakat akan sihir. Sayang itu terhenti, di bawah kelahirannya. Kedua orang tuanya merupakan orang memiliki bakat sihir, keduanya juga pernah menjadi prajurit dan berperang ke garis depan untuk melawan monster. Setelah pembasmian selesai dan daerah aman, bertahun-tahun akhirnya mereka pindah ke sebuah daerah terpencil dan sederhanan yang sampai saat ini mereka tempati, yaitu Moonfast. Di sana keduanya menjadi tokoh yang sangat disegani dan dihormati bahkan, ditunjuk sebagai kepala wilayah karena kemampuan mereka. Plak! “Jangan bersedih! Tidak akan lama sampai aku bisa melihat mereka lagi,” ujarnya setelah menampar pipinya sendiri membuatnya harus sadar dan mencoba menghilangkan bayangan kedua orang tuanya. “Fokus, Neron! Ayo cari kereta kuda mana yang harus dinaiki?!” Neron berjalan mendekat, memerhatikan satu persatu kereta kuda yang sebagian sudah terisi penuh oleh anak-anak remaja. “Aku naik kereta yang mana ya? Ini atau yang di sana saja?” “Hey, kau mau ke mana, hah? Minggir, jangan masuk sini!?” seorang remaja yang tidak lebih tinggi dari Neron menyingkap bahunya, membuatnya hampir jatuh saking kasarnya orang itu. Mulut Neron tanpa ragu langsung mengumpat keras, menarik kerah baju anak sombong itu dan menghempaskannya jatuh ke tanah. Kaki Neron dengan mudah menginjak dadanya. “Bocah sombong ingin buat masalah, hah? Memangnya kau siapa melarangku masuk kereta kuda ini, hm? Ini kereta milikmu?” “Sial!”erang kesal Tulois dengan wajah memerah menahan marah dan malu. Dia bahkan tidak bisa menggerakkan kaki Neron yang sedang menginjak dadanya. “Lepas! Atau akan melaporkanmu pada perfectur kau akan dihukum dan tidak akan pernah bisa menginjakkan kakimu di academi.” “Coba saja! Kau pikir aku takut …kau lah bocah sombong jadi, minta maaflah jika ingin kulepaskan.” Percikan api seperti itu dengan cepat membuat orang disekitar mereka tertarik dan berkumpul untuk menonton. Neron melihat semakin banyak orang mendekat membuatnya tak nyaman, dia tidak bisa menarik banyak perhatian bahkan, di saat dia saja belum ada di academi. “Cih, kali ini aku melepasmu begitu saja! Lihat nanti kalau bertemu lagi, kuhancurkan semua perilaku burukmu.” Setelah mengatakan itu Neron berbalik pergi, mencari tempat terjauh untuk menaiki kereta kuda lain. Sedangkan, Tulois harus menahan malu dan bangkit sendiri dengan menyimpan dendam. ‘Lihat saja, nanti! Kau yang bakal kuhabisi!’ ujarnya dalam hati. * “Apa aku bisa masuk kereta ini?” tanya Neron melihat remaja lain sedang membaca buku di dalam kereta. Saat berbalik wajahnya cukup… unik, memakai kacamata khas seorang kutu buku. Yang paling lucu gaya rambutnya seperti tanaman hijau yang baru dipangkas dengan rapih. “Ayo, masuk saja! Tidak perlu bertanya,”sahutnya dengan ramah. Neron tersenyum lebar dengan puas. “Halo,” sapanya setelah mengambil tempat duduk dan mengulurkan tangannya meminta berkenalan. “Namaku Neron.” “Aku Fred,” jawabnya sambil menjabat tangan Neron bahagia. “Aku sedikit lapar, apa kau punya makanan?” tanyanya tanpa malu-malu seolah mereka sudah berteman lama. “Aku juga lapar, sudah waktunya makan siang, yah?” Neron berbicara sambil merogoh tas kulit kucelnya, mencari-cari makanan yang sudah ia beli sebelumnya. “Tidak ada. Apa aku sudah menghabiskannya, ya?” “Ya, sudah tidak apa-apa. Kita hanya bisa menahan lapar sampai waktu makan malam nanti di academi.” “Ahh,” desah Neron sedih, ia memukul perutnya yang juga terasa lapar. “Kau mau membaca buku?” tawar Fred, dia mengeluarkan buku dari ranselnya.”daripada tidak melakukan apapun membaca lebih baik.” “Tapi, kan kita bisa berbincang,” sahut Neron tetapi, tidak menolak dan mengambil yang disodorkan Fred. Keduanya akhirnya hidup dalam keheningan menikmati waktu membaca tanpa mengatakan apa-apa lagi sampai waktunya anak-anak lain berdatangan dan kereta kuda api mulai berangkat pergi melayang di atas langit bak pesawat terbang menuju castle ‘BigTunes’ academi sihir. *** “Bagaimana ini, kamu tidak bisa pergi, Oris!?” Filothea mengguncang tubuh putra semata wayangnya Oris dengan besar oleh kekecewaan dan kesedihan. Raut wajah Oris sama tak baiknya, matanya memerah menahan tangis dan sampai tak bisa menatap wajah ibu juga ayahnya, bahkan, bibirnya pun kelu tidak mengatakan apapun. Harapannya untuk membuat bangga kedua orang tuanya hilang sudah di tahun ini, pintu menuju academi ‘BigTuneS’ baru saja tertutup rapat. Dia sudah mencoba untuk masuk ke sana tetapi, karena Pass surat itu hilang kesempatannya pun hilang sudah. Padahal begitu besar mimpinya untuk bisa pergi dan belajar di academi menjadi seorang penyihir terkenal dan bisa membuat bangga kedua orang tuanya tetapi, karena kehilangan selembar kertas itu mimpinya baru saja menjauh. Eros Daril, ayah Oris menepuk bahu putranya, meremasnya lembut. “Tidak apa-apa kamu bisa pergi tahun depan.” “Ayah.” “Mau bagaimana lagi,” ujar Filothea sedih dan kecewa, berpaling muka menolak melihat Oris, putranya. “Orang-orang itu juga bilang kamu tidak akan bisa masuk tanpa kartu itu yang hanya bisa dikirim oleh dewan sekolah.” “Ibu, aku minta maaf.” “Oris, kamu tidak perlu minta maaf.” Eros mencoba menenangkan, “masih ada kesempatan. Kamu anak berbakat cepat atau lambat kamu pasti dipanggil lagi oleh academi.” Di sisi lain, Philip Clemen dan Calee Yesaya juga tidak mengatakan apapun mereka hanya menatap Oris, keponakan jauh mereka dengan mata simpati. Pintu untuk masuk Academi sudah tertutup, tidak ada lagi ada murid yang tertinggal. Yang tersisa hanya beberapa orang tua yang sepertinya sudah mengantar kepergian putra dan putri mereka. Sebelumnya dua keluarga ini datang untuk melihat apakah ada harapan untuk Oris masih bisa berangkat meski, tidak memiliki kartu undangan. Sayang para penjaga yang mengawasi pintu masuk tidak mengizinkan meski, Oris sudah menunjukkan bakat sihirnya. Bagi mereka yang masuk tanpa kartu undangan hanya akan menjadi penyesalan belaka karena, mereka hanya akan terjebak di lorong Stairway . “Philip, apa kamu sudah menemukan Neron?” tanya Eros sambil berjalan mendekat. Mereka datang bukan hanya untuk Oris tetapi, juga mencari keberadaan Neron yang tiba-tiba menghilang selama beberapa hari ini. Philip mendesah, dia tidak melihat ataupun sekadar mendengar info tentang anaknya itu. entah ke mana perginya putranya itu. “Kami belum menemukannya mungkin nanti.” “Sebenarnya ke mana Neron? Mungkin, aku tidak akan terlalu sedih seperti ini jika, ada dia. Biasanya dia yang paling pandai menghibur.” “Bibi juga merindukannya. Bocah nakal itu ke mana perginya,” sahut Calee, ibu Neron dengan tatapan sendu melihat jauh ke depan. “A-aku tidak tahu tapi,” ucap ragu Filothea lalu memandang kedua orang tua Neron, Philip dan Calee. “Neron pergi tiba-tiba saat itu juga … Oris kehilangan surat undangannya. Apa tidak mungkin Neron yang melakukannya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN