Babak Belur

1848 Kata
Belum lagi Neron membuka mulutnya sebuah bogem mentah bersarang di pipinya. Sakit tentu saja bahkan, Neron sampai harus tersungkur karena kekuatan yang Oris layangkan tidak kecil. Tetapi, tidak cukup sekali Oris masih menambah pukulannya, dia melakukannya beberapa kali lagi sampai akhirnya dia puas. Keduanya sekarang berada di sebuah taman belakang academi, dibalik pepohonan yang gelap meski, tidak sepenuhnya gelap karena lampu-lampu yang terpasang di pinggiran jalanan taman sudah menyala jadi, hanyalah bayangan keduanya terlihat jika dari jauh. Oris yang memilih tempat itu tidak ingin orang lain melihat dia memukuli Neron dan menyebutnya pedendam meski, sebenarnya tak ada salahnya orang-orang akan memakluminya. “Aku sudah lama ingin melakukan ini tapi, aku baru bisa melakukannya sekarang,” ujarnya dengan posisi bangga. Berdiri di atas tubuh Neron yang sedang terbaring kalah sehabis dihajar olehnya. “Kamu tidak menyangka aku akan menghajarmu, kan? Apa kamu pikir aku bakal selalu mengalah padamu?” Neron melirik ke atas melihar tingkah Oris lalu, tersenyum kecut sambil meludahkan darah. “Kapan kamu mengalah?” tanya Neron sambil mencoba bangkit bahkan, dengan mudahnya di mengulurkan tangannya pada Oris seolah, tengah meminta pertolongan. Mata Oris membesar, melihat uluran tangan itu. sekali lagi dengan kemarahan besar, dia menamparnya dengan sangat keras. Plakk! “Apa yang kamu mau, hah? Apa aku ini masih mau jadi temanmu? Tidak akan?” “Menolong orang, kan, tidak harus dia jadi temanmu dulu,” sahut Neron masih santai sambil menatap telapak tangannya yang memerah karena tamparan Oris barusan. Meski, begitu dia tidak mengatakan apa-apa lagi dan masih mencoba bangun kali ini dengan usahanya sendiri. Neron akhirnya bisa berdiri di depan Oris, teman dan sekaligus saudaranya. “Aku tidak ingin memaafkanmu tapi, aku masih saja ingin tahu alasanmu melakukan hal itu?” tanya Oris dengan kecewa dan seolah-olah ada gelombang air mata yang tertahan membuatnya harus tersedak banyak. Neron masih memandangnya, butuh waktu sampai akhirnya suara helaan napas tertiup dari mulutnya sendiri. “Aku belum minta apapun padamu, Oris! Jadi, nanti saja saat aku minta maaf … kamu baru boleh memaafkanku.” Mendengar hal itu tentu saja, emosi Oris seakan robek dan ingin meledak lagi. Dia mencengkeram kerah baju Neron, mengguncang berkali-kali menahan diri untuk tidak melayangkan kepalan tangannya apalagi menggunakan kekuatan sihirnya jika, tidak ingat Neron pernah menjadi temannya dan lemah dengan sihir. Ingin sekali Oris membawanya untuk saling bertarung seperti seorang pria. “Apa kamu pikir aku ini anak bodoh, hah? Aku memberitahumu agar kamu bisa berpikir jika, tidak selamannya apa yang kamu perbuat itu sepele di mata orang lain dan hal itu gak akan mudah dimaafkan juga.” “Aku tidak pernah berpikir seperti itu.” “Neron!” “Oris, aku minta maaf sudah membuatmu susah. Saat itu, aku … tidak punya pilihan lain,” jawab Neron berusaha jujur, tangannya pun bergerak ingin memegang kedua lengannya yang tengah mencengkeram kerahnya. Oris menghempaskan tangannya dengan pandangan jijik. “Apa kamu juga tidak berpikir jika, aku tidak punya pilihan bahkan, tak punya harapan jika aku tidak masuk ke sini?” Sesaat Neron tertegun, dia juga tahu dan cukup sadar bahkan, seringkali melihat usaha besar yang dilakukan Oris sebelumnya saat berlatih. “Maaf, aku tidak berpikir …jika kamu tidak punya harapan. Sejak dulu kamu sudah sangat hebat banyak orang yang menghargaimu dan kukira kamu bisa masuk ditahun berikutnya tapi, …lihatlah! Kamu sekarang sudah di sini. Bukankah, berarti Academi menghargaimu?” “Tetap saja aku kesal denganmu!” teriak Oris emosi sambil mengangkat kepalannya dan tepat mengenai rahang Neron sekali lagi. Setelah, itu Oris pergi Meninggalkan Neron tampak lebih geram dari sebelumnya dan kali ini tidak peduli lagi dengan alasan yang akan diberikan ‘Mantan temannya’. Oris ingin memutuskan hubungannya. Neron memandang punggung Oris dengan sedih. Dia sudah membuat masalah besar tidak hanya untuknya tapi, juga untuk Oris bahkan, Marvella sendiri. Jika orang lain tahu alasan bodohnya datang ke mari karena wanita itu sepertinya akan lebih berat hukuman yang diterimanya juga, pasti menyulitkan Marvella. Beruntung dengan akal cerdik dia punya alasan yang kini menjadi tujuan terbesarnya. Menjadi Penyihir sesungguhnya. “A-aaa-ah! Sakit,” rintih Neron saat mulai merasakan sakit di mana seluruh wajahnya mulai lebam membiru. Neron bangun dan kembali berjalan ke asrama tidak hanya dengan wajah hancur tetapi, juga pakaiannya yang kotor. Semua tidak terlihat bagus yang memalukan dan menambah perhatian banyak orang pada dirinya saat melewati lorong asrama kali ini karena dia melewatinya seorang diri, orang-orang itu tidak takut tertawa di depannya. Bibir Neron hanya bisa mencibir diam-diam dan menahan kekesalannya sampai memasuki kamar asrama-nya. Di sana dia melihat Fred sedang bertengkar dengan pria berbadan tinggi. Selain pria itu masih ada satu orang lain berkulit terlalu putih seperti vampire, tangannya terlipat di depan d**a. Mendengar suara pintu terbuka ketiga berpaling kea rah suara di mana Neron sudah berdiri di pintu masuk. “Apa aku mengganggu kalian? Aku bisa keluar jika kalian masih ingin bicara, ya, silakan!” Neron hendak berbalik pergi tetapi, Fred segera memanggilnya. “Neron! Kamu tidak perlu pergi , Senior Gallahan yang akan pergi. Pembicaraan kami sudah selesai. Bukan begitu senior?!” Senior itu berdecak kesal, matanya mendelik marah. “Kalian tidak mendengarkanku lihat saja apa yang terjadi nanti,” ujarnya sambil melengos pergi dan mengibaskan jubahnya. Neron berjalan ke depan untuk menghindari remaja senior tersebut tetapi, yang terjadi adalah senior itu berjalan tepat kearahnya dan dengan angkuhnya membentur bahu dan bahu lalu, pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun kecuali, matanya yang penuh kemarahan. “Siapa dia? Apa ada sesuatu yang salah denganku?” “Tidak ada,” jawab Fred. “Jangan dipikirkan, orang itu sendirilah yang bermasalah! Dan, Hey… apa yang terjadi dengan wajahmu?” Diingatkan lagi tentang hal itu, rasa sakitnya kembali berkedut. “Aah, Fred/ seharusnya kamu bisa menebaknya sendiri, kan?! Oris memukuliku.” “Cepat bersihkanlah dulu! Di sana kamar mandinya.” Tunjuk Fred pada salah satu pintu yang ada. “Oh, ya sebelumnya kamu harus kenal dulu …dia roommate kita Roman, yang kubicarakan tadi siang.” “Hai,” sapa Neron datang menghampirinya dengan senyuman jelek karena tiba-tiba harus meringis sakit akibat luka-lukanya. “Namaku, Neron Clemen.” Roman pun hanya tersenyum dan memperkenalkan diri . “Roman,” jawabnya singkat . Neron juga tidak terlalu peduli tentang hal itu. “Pergilah! Baru nanti kita mengobrol.” “Ah, ya, wajah tampanku memang jadi hilang gara-gara luka ini. Baiklah,Aku bersih-bersih terlebih dulu lalu kita bicara lagi.” “Apa kamu butuh obat?” pertanyaan itu diajukan keduas sahabat baru Neron, mereka saling berpandangan lalu, akhirnya tertawa karena merasa lucu. “Kalian kompak sekali.” Neron mengacungkan jempol untuk mereka berdua. “Oh, dan terima kasih! Ini hanya luka luar beberapa hari akan sembuh juga, tidak perlu obat-obatan,” tukasnya menolak lalu berbalik pergi memasuki kamar mandi. ‘Ck, kenapa juga harus berbohong! Tentu saja aku wajah ini harus menggunakan obat-obatan, rasanya bengkak semua,’ keluhnya dalam hati. Keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih bersih Neron menemukan jika kedua teman kamarnya masih tampak sibuk dengan obrolan mereka sampai, Neron yang sedang berganti baju bisa mendengar apa yang keduanya bicarakan. “Eoh, Neron. Kamu sudah keluar?” “Y-yah, kalian sedang sibuk bicara jadi, aku tidak mengganggu. Apa yang kalian bicarakan sampai serius begitu?” tanyanya, meski tidak banyak yang ia dengan , dia bisa tahu intinya. Fred awalnya ingin menyembunyikannya tetapi, tidak dengan Roman yang langsung berbicara. “Mereka tidak suka kamu di sini.” Neron menghela napas setalah mendengarnya. “Tinggal di mana pun bagiku sebenarnya tidak terlalu masalah. Baiklah jika, memang harus seperti itu aku bisa keluar sekarang juga.” “Hey, Neron. Tidak seperti itu, aku yang menawarimu tinggal di sini. Aku sama sekali tidak keberatan.” “Aku juga,” jawab Roman setelah tanpa sengaja pandangannya beralih padanya. “Aku bersungguh-sungguh. Aku tidak picik seperti mereka,” jujurnya meyakinkan. “Terima kasih, aku tidak menyangka masih ada orang-orang seperti kalian,” ungkap Neron sedikit terharu sambil meringis karena sudut bibirnya terluka.“ tapi, tetap saja aku pindah saja. jadi, mereka ingin aku pergi ke mana?” “Kamu tidak perlu pindah. Aku ini juga punya sedikit suara… ingatkan aku ini wakil President Council seharusnya mereka tidak terlalu berani.” Neron tersenyum kecut, dia tidak yakin dengan sedikit suara Fred yang malah mungkin akan membuat masalah buatnya. “Jangan terlalu memaksa Fred. Ini hanya soal tempat tinggal karena, aku memang bukan milik keempat asrama dan tidak berguna karena tidak seperti kalian semua… wajar, banyak orang tidak menyukai perbedaan apalagi dengan sebelumnya, masalah yang kubuat tidak kecil.” Fred dan Roman saling berpandangan dan menatap Neron. “Kami tidak seperti mereka jadi, kamu bisa tenang. Tetap tinggal di sini saja… lagian kami sendiri yang berbagi tempat denganmu… seharusnya, orang lain tidak perlu protes apalagi ikut campur!” “Apa yang dikatakan Roman benar. Neron, tidak perlu mendengarkan orang lain lebih baik kita istirahat sekarang,” ujar Fred, seolah tak ingin berbicara lebih jauh lagi. Khawatir dengan pikiran Neron yang akan benar-benar pergi. “Terutama kamu, Neron. Kamu pasti lelah dan ingin tidur yang nyaman. Oh, aku tidak bisa membayangkan bisa tinggal satu hari saja di pulau berkabut! Banyak cerita jika, di sana sangat menyeramkan dan monster-monsternya … ukh!!” Neron tertawa mendengar cerita Fred lalu, diberbicara sambil berbaring emang benar dia sedikit lelah tapi, benar-benar tidak ada yang memberinya obat atau salep … ‘Bagaimana jika besok wajah membengkak parah? Bagaimana bisa berpergian?’ katanya dalam benak pikiran. “Sebenarnya jika, sudah lama di sana tidak seseram yang diceritakan. Monster-monster di sana sebenarnya mutasi dari hewan-hewan buas, ukuran mereka bisa sepuluh sampai seratus kali lipatnya dari hewan biasa. Di sana juga ada seorang Master aku tinggal bersamannya …sst! Tapi ini semua rahasia, yah, jangan katakana pada siapapun,” kata Neron yang kembali bangkit duduk dan melihat kedua temannya. “Ouw!” sahut Fred dan Roman kompak mengangguk. “Jadi, bagaimana kehidupanmu di sana?” tanya Fred semakin penasaran. “Y-yah, jangan banyak bertanya yang baru saja itu sebuah rahasia bagaimana cerita lainnya … kamu tidak takut? jika, terlalu banyak tahu bisa-bisa giliran kita dilemparkan ke sana.” Neron tertawa mendengar kata-kata Roman yang seperti lelucon. “Tidak seperti itu juga, hey! Aku menyebut itu rahasia hanya agar tidak merusak fantasy orang lain tentang gelapnya pulau Blackfog jika, nanti ada yang tahu sebenarnya mereka bisa saja berbuat nakal dan tidak takut lagi untuk dilemparkan ke sana.” “Aa-ah seperti itu, tenang kami tidak akan membicarakan hal ini dengan orang lain,” ucap Fred dengan jari tangan terangkat membentuk janji. Roman pu mengangguk dan berjanji. “Lalu, bagaimana yang katanya ada beberapa siswa yang dilemparkan ke sana lalu mati, apa itu juga benar?” “Sir Abram pernah berbicara kalau itu benar?! Menurutnya itu karena kelalaian mereka sendiri juga… yah, tidak bisa seperti itu juga. saat aku jatuh pun sebenarnya tidak mau menolongku itu, karena sir Taemu…oh, yah, dia master kodok dan bisa bicara juga…’ Malam itu ketiganya tidak bisa berhenti untuk mengobrol, Neron seperti sebuah kotak obrolan banyak hal yang dia ceritakan pada Fred dan Roman tentang semua pengalamannya saat di pulau Blackfog sampai tanpa sadar ketiganya tertidur dengan lelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN