Assault On Full Moon Night

3118 Kata
"Amara??" Amara mengernyit bingung saat mendengar suara seseorang memanggilnya. Sedangkan di hadapannya tidak ada siapapun. Saat ini Amara hanya sedang duduk di atas ranjang dan menatap keluar balkon. "Amara?? Apa kau mendengar ku??!" Suara itu memekik. Amara dengan cepat memegangi keningnya. "Astaga jangan berteriak seperti itu!!" Ucap Amara masih sambil meringis kesakitan. "Ah, maafkan aku. Sungguh, aku hanya ingin membuatmu sadar bahwa aku berada di dalam tubuhmu, Amara." Ucap suara itu dengan nada menyesal. Amara terdiam, ia memejamkan matanya tenang. "Dimana sosok mu?? Aku tidak bisa melihatnya!" Ucap Amara kesal. Padahal ia sudah menutup matanya, mencoba mencari sosok wanita yang katanya di dalam tubuhnya itu. Detik berikutnya Amara mendengar wanita itu yang tertawa. "Kau menertawai ku??!" Tanya Amara kesal, ia sudah membuka matanya sekarang. Dan suara wanita itu masih terkekeh geli. "Kau sungguh aneh. Aku sudah katakan bahwa aku ini adalah wolf mu. Walaupun aku satu tubuh denganmu bukan berati kau bisa melihatku dalam tubuhmu. Itu hanya bisa jika kita bertukar shift." Amara menyatukan alis bingung. "Apa itu shift??" Tanya Amara penasaran. "Shift adalah pertukaran bentuk transformasi dari manusia menjadi serigala atau serigala menjadi manusia. Ah, itu baru saja yang di tunjukan Mycle da Alex padamu kan??" Ucap wanita itu. "Kau melihatnya juga??!" Tanya Amara sedikit terkejut. "Tentu saja aku melihatnya! Dari dalam tubuhmu ini, aku bisa melihat apapun di luar saja yang ada di hadapanmu. Begitupun juga dirimu jika bertukar shift denganku. Kau akan bisa melihat apapun melalui tubuhku!" Jelas wanita itu panjang. Amara terdiam, sungguh! Ia masih tidak mempercayai ini semua. Rasanya seperti masuk dunia novel novel fantasi yang sering di bacanya. Tapi sekarang itu terjadi benar benar nyata pada kehidupannya. "Kau tidak bisa kah berbicara kepadaku melalui pikiran mu?? Jika kau terus berbicara kepadaku dengan normal seperti itu kau justru akan dikira tidak waras Amara, " Ucap wanita itu tiba tiba. Benar juga, selalu tadi ia menjawab dengan suaranya sendiri sedangkan suara wanita itu hanya ada di dalam otaknya saja. Benar-benar tidak masuk akal. "Tapi aku tidak mengerti bagaimana harus berbicara melalui pikiran, apa aku harus bertapa begitu maksudmu??" Tanya Amara bingung. Wanita itu kembali tertawa, bahkan kali ini sedikit lebih keras. Dan entah mengapa tawanya sangat menjengkelkan. "Berhentilah tertawa dan ajari aku!!" Kesal Amara menggeram. Akhirnya tawa wanita itu mereda. "Baiklah baiklah, aku akan mengajarimu," Jawab wanita itu masih dengan sisa tawanya. "Kau tuak perlu berlebihan seperti itu Amara. Kau hanya perlu berbicara dalam hati mu, seperti saat kau berdoa misalnya, atau kau sedang bertanya pada hatimu, dan seperti itulah caranya berbicara kepadaku." Jelas wanita itu. Amara mengangguk paham. "Aku akan mencobanya!!" "Iya, cobalah!!" Amara terlihat fokus, tatapannya lurus ke satu arah. Mencoba mengucapkan aa pun dalam pikirannya. Tiba tiba saja wajahnya memerah. "Astaga mengapa susah sekali!!" Kesal Amara mengeluh. "Kau harus tenang Amara. Dan jangan terlalu serius memaksakan sesuatu terucap ada pikiranmu. Kau hanya perlu menerima lebih dulu, setelah itu kau pikirkan saja apapun itu. Aku yakin beberapa kalimat pasti akan keluar," Ucap wanita itu pelan. Seperti menuntunnya. Amara akhirnya mengangguk. Ia menarik nafas dalam, kembali fokus namun kali ini lebih tenang. Tiba tiba saja bayangan tentang Mycle lewat di kepalanya. "Aku sangat mencintainya!! Sangat!!" "Amara aku mendengarnya!!" Pekik wanita itu tiba tiba. Amara tersadar, kemudian ia tersenyum senang. "Apa iya??! Kau mendengar apa??!" Tanya Amara penasaran. "Kau berkata bahwa kau mencintainya, sangat! Itu yang ku dengar," Amara bersorak senang. Ternyata berhasil, sekarang ia bisa berbicara melalui pikiran. Amara terkejut saat tiba tiba saja ia mendengar suara ketukan pintu. "Siapa??" Jawab Amara, kemudian wanita itu bergerak menuruni kasur dan berjalan menuju pintu. Saat pintu terbuka Amara baru tahu bahwa itu adalah seorang maid. Dengan membawakan nampan di tangannya berisikan beberapa makanan. "Saya membawakan makan siang untuk Luna. Ini perintah dari Alpha Mycle, Luna." Ucap maid itu sopan. Amara tersenyum ramah, kemudian menerima nampan itu ke tangannya. "Mengapa tidak Mycle yang membawanya untukku?? Kau tahu dia kemana?" Tanya Amara penasaran. "Alpha sedang mengadakan meeting dengan para rekan pentingnya, Luna." Jawab main wanita itu masih menunduk. "Oh, begitu!" Ucap Amara sambil mengangguk kan kepalanya paham. "Kalau begitu terimakasih untuk makanannya. Kau bisa kembali bekerja," Ucap Amara ramah. Maid itu menunduk hormat, dan izin mengundurkan diri. »»--⍟--«« "Thomas kemari??!" Mycle menganggukkan kepalanya cepat. Bov mengerutkan kening bingung. "Untuk apa dia kesini??" "Dia mengundang kita semua pada acara perayaan Alrond." Jawaban Mycle membuat Bov mengerti sekarang. Ternyata itu, pantas saja kemarin Alrond juga memberitahu nya, tetapi Bov sedikit mengundur waktu untuk memberitahu pada yang lainnya. Tetapi ternyata anaknya justru sudah memberitahu anaknya duluan. "Apa kau sudah tahu??" Tanya Mycle karena melihat raut wajah Bov yang berubah. Bov menjawab nya dengan anggukan. "Saat selesai acara penobatan mu, dia memberitahuku." "Jadi, apa kita datang??" Tanya Mycle memastikan. Bov nampak diam sejenak, tetapi kemudian ayahnya itu mengangguk. "Kita harus menghadirinya, lagi pula kemarin ia sudah menghadiri acara penobatan mu. Tidak ada salahnya, ini juga acara pentingnya." Jawab Bov. Mycle menghela nafasnya, berarti ia tetap akan pergi, dan sudah pasti Amara akan ikut. "Tetapi tiba tiba saja aku mempunyai perasaan yang buruk." Ucap Mycle tiba tiba. Bov menoleh, menatap Mycle lekat. "Aku punya rencana untuk berjaga jaga. Kau tenanglah saja." »»--⍟--«« Clora saat ini tersenyum melihat Amara yang sudah cantik mengenakan mini dress merahnya yang mengkilat. Kemudian wajah gadis itu yang sudah di make up. Kali ini make up yang Amara gunakan sedikit menonjol, karena memang yang meriahnya adalah MUA langsung. Dan Amara sama sekali tidak bisa untuk mengatur, ia hanya mengikutinya saja. "Kau sudah sangat cantik!" Puji Clora sembari mengelus lembut rambut panjang Amara. Amara tersenyum senang mendengarnya. Sebenarnya ini sangat tiba tiba. Mycle sama sekali tidak berkata apapun padanya mengenai mereka akan menghadiri sebuah pesta. Saat siang tadi Amara sedang menonton, tiba tiba saja seorang MUA dan beberapa perancang busana masuk ke kamarnya. Berkata bahwa Mycle lah yang mengirim mereka kesini untuk merias nya. Dan sampailah sekarang, Amara sudah rapih dan sangat siap untuk pergi ke pesta. Di hadapannya ada Clora, wanita itu juga sudah sangat cantik menggunakan gaun hijau metalik nya dengan hiasan di pinggang bewarna gold. Sejak tadi rupanya Clora menemaninya dan menunggunya sampai selesai. "Kalau begitu kita susul mereka ke bawah ya," Ucap Clora. Amara mengangguk sembari tersenyum. Clora menuntunnya keluar kamar. Menuju Mycle dan Bov yang katanya sudah menunggu mereka di bawah. Dari sini Amara sudah melihat Mycle yang berdiri menunggunya, mata pria itu mash fokus ke ponsel. Mycle sudah rapih dengan setelan jas hitamnya yang mewah, ia berdiri tepat di pintu utama istana. Di hadapannya terdapat Bov. Bov yang melihat kemunculan Amara dan Clora menoleh. "Ah, itu dia mereka!" Ucap Bov membuat Mycle mendongak kearah Bov, kemudian ia mengikuti arah mata Bov menatap Clora dan Amara yang sedang menuruni tangga. Untuk beberapa saat Mycle speechless melihat penampilan Amara dari atas hingga bawah. Sangat berbeda dengan wanita itu biasanya, bahkan juga berbeda dengan Amara saat acara penobatan nya. Wanita ini terlihat sedikit menonjol dan keluar dari zona kebiasaannya. Tetapi tetap saja, Amara sangat cantik. Bagaimanapun penampilannya. Mereka sudah sampai di dasar, Clora dan Amara mulai berjalan mendekati Bov dan Mycle. "Diana jadi untuk meminta kita menjemput nya??" Tanya Bov sambil melingkarkan tangannya ada pinggang istrinya itu ketika Clora sudah berada di dekatnya. Itu juga yang dilakukan Mycle ada Amara, merengkuh posesif pinggang wanita itu. "Iya Bov, Diana baru saja mengabari ku. Dia bilang akan lebih baik jika dia datang bersama kita ketimbang sendiri," Ucap Clora membuat Bov terkekeh. Begitupun juga Mycle dan Amara. "Dasar anak itu! Dia seharusnya juga berusaha menemukan mate nya seperti Mycle." Ucap Bov. "Astaga Bov! Anakmu itu perempuan. Seharusnya dia yang akan di cari!" "Tetapi kalau pria nya adalah manusia biasa bagaimana?? Apa dia bisa mencari Diana duluan??" Tanya Bov balik. Kini mereka sudah berjalan melewati lorong istana menuju keluar, dimana dari sini Amara sudah melihat dua limousine yang terparkir. Kepalanya mendongak menatap Mycle. "Mengapa dua?? Apa tidak kebanyakan?? Satu saja kurasa kita sudah cukup," Ucap Amara tiba tiba. Mycle menunduk menatap wanita itu, kemudian terkekeh. "Tentu saja berbeda sayang. Kita akan menaiki milikku, dan yang satunya lagi itu adalah milik ayah dan ibu. Kita akan masing masing," Ucap Mycle membuat Amara tidak habis pikir. Dasar orang kaya! Mycle menuntunnya memasuki Limousine ini yang pintunya sudah dibuka kan oleh pria itu. Sedangkan dibelakang, Clora dan Bov sudah memasuki limousine milik mereka yang bewarna Silver metalik. Mycle sudah menyusul Amara masuk. Kemudian warrior menutup pintu mobilnya. Beberapa menit kemudian kedua limousine itu sudah melesat meninggalkan pekarangan istana yang luas. Berjalan keluar gerbang Black Moon Pack yang berdiri kokoh. Membelah hutan malam yang gelap ini, hanya di terangi oleh cahaya bulan. Daun daun kering dibawah sana berterbangan saat mobil mereka melesat cepat. Amara menyenderkan kepalanya ada d**a bidang Mycle nyaman. Sedangkan Mycle terus menerus menciumi pincang kepala Amara yang harum. Ia sangat menyukai aroma wanita ini, rasanya tidak akan bosan mau beberapa kali pun ia melakukannya. "Mycle??" Panggil Amara tiba tiba. "Hmm??" "Kita akan menghadiri pesta siapa??" Tanya Amara penasaran. Mycle terdiam. Ia sampai lupa untuk memberitahu wanitanya ini, pantas saja sejak tadi Amara terlihat kebingungan. Terlebih saat ia menyuruh para MUA itu datang ke kamarnya untuk merias mate nya ini. "Kita akan menghadiri pesta perayaan sahabat ayah yang sekarang berhasil di lantik menjadi perdana menteri Kanada," Ucap Mycle memberitahu. Amara tiba tiba duduk tegak, menatap Mycle tidak percaya. "Jadi kita akan menghadiri pesta perdana menteri??!!!" Tanya Amara dengan wajah terkejut. Mycle mengangguk. "Kenapa?? " Tanya pria itu bingung. Amara merapatkan bibirnya, kemudian menggeleng pelan. Sebenarnya ia hanya terkejut saja. Ya Tuhan, bagaimana tidak. Ini benar benar yang pertama kali baginya. Bagaimana bisa, seorang Amara. Akan menghadiri pesta seorang yang sangat penting seperti itu??? "Kau tidak perlu terkejut, sayang. Ini hanya perdana menteri. Dia masih belum ada apa apanya dibandingkan tamu tamu ku yang datang kemarin," Ucap Mycle tersenyum. Amara hanya menatap kagum. Itu membuat Mycle terkekeh. Sekarang limousine Mycle sudah memasuki jalanan perkotaan. Dan itu membuat Amara kegirangan melihat jalanan luar melalui jendela. Menatap aktivitas orang orang di luar sana. Calgary benar-benar kota yang sangat cantik sekali, terlebih saat malam seperti ini. Semua lampu lampu kota menerangi sekelilingnya. Melihat itu membuat Mycle tersenyum senang. Wanita nya itu terlihat bahagia sekali, mungkin saja itu karena dia sudah sangat lama berada di istananya yang hanya dikelilingi oleh pohon pohon besar. Tidak ada gedung gedung pencakar langit, lampu lampu jalanan, toko toko makanan, cafe atau sejenisnya di sana. Acara pesta Alrond memang di adakan di mansion dia di kota. Bukan di istananya karena ini melibatkan status politiknya. Yang sudah pasti nanti tamu tamunya bukan hanya sekedar Alpha atau Luna saja, tetapi manusia biasa juga akan ada. Setelah melewati perjalanan selama 2 jam lebih. Kini limousine Mycle sudah memasuki kediaman keluarga Dayren. Dari sini sudah terlihat ramainya mobil mobil mewah yang berbaris memasuki gerbang mansion. Juga di lobby sudah sedikit penuh oleh tamu tamu yang hadir dengan setelan formal mereka. Berpasangan, berkeluarga atau bahkan yang sendiri pun ada disana. Dan sekarang giliran limousine Mycle lah yang sudah berhenti tepat di depan lobby. Dengan cepat dia pelayan pria menghampiri dan membukakan pintu mobil milik Mycle dan Amara. Mycle menunggu Amara yang memutar dan berjalan menghampiri nya, kemudian ia melingkarkan tangan besarnya pada perut Amara erat membuat tubuh mereka menempel. Setelah itu mereka sudah mulai melangkah naik ke undakan. Amara memandang kagum rumah yang besar ini. Bangunan bergaya istana ini benar benar mewah, seluruhnya hampir ter dominan oleh warna putih ke emas antam dan lampu lampu kuning cerah. Walaupun begitu, kemegahan mansion ini masih mengalahkan besarnya dan mewahnya istana Mycle. Terlebih bukan hanya istana. Mycle mempunyai wilayah lebih luas lagi bahkan hampir memakan seluruh hutan dan itu hanya miliknya. Banyak pasang mata yang terang terangan menatap Mycle kagum. Itu kebanyakan seorang wanita, dan Amara jujur merasa tidak senang melihat itu. Tetapi mau bagaimana lagi. Inilah resiko jika mereka datang ke tempat ramai seperti ini. Meskipun begitu. Amara tidak tahu saja, sejak tadi juga Mycle memberikan tatapan membunuh pada pria bermata keranjang yang sangat berani menatap wanitanya tanpa berkedip dari ujung kepala hingga kaki. Rasanya ingin sekali Mycle menghabisi semua pria pria itu. "Mr. Culles??" Mycle menoleh saat seseorang menghampirinya. Ah, ternyata itu Mr. Andreas. "Apa kabar, Mr. Andreas??" Tanya Mycle berusaha ramah. Mr. Andreas keliahatan senang bertemu dengannya. "Puji syukur. Saya baik baik saja. Bagaimana dengan anda, Mr. Culles??" Tanya Andreas balik. Mycle juga menjawabnya dengan mengatakan baik baik saja. "Saya juga sebelumnya bertemu dengan tuan besar. Dan saya tidak mengira bahwa anda ternyata juga disini, " Ucap Andreas lagi. Mungkin 'tuan besar' yang dimaksud Andreas adalah Bov, ayahnya. "Jadi ayahku sudah di sini??" Tanya Mycle yang dijawab anggukan oleh Andreas. Mereka mengobrol sedikit. Sedangkan Amara hanya memperhatikan, tidak mengerti juga karena Mycle dan pria itu sudah memasuki topik pekerjaan mereka. Amara sama sekali tidak mengerti. Sampai akhirnya pria yang menghampiri Mycle tadi sudah pergi. Mycle menarik Amara semakin dekat ke arahnya. Kemudian kembali membawa wanita itu masuk lebih dalam. Baru beberapa langkah, Mycle kembali menoleh saat seseorang memanggilnya. "Mycle??" Dan ternyata itu adalah Alrond. Iya, si perdana menteri pemilik acara ini. Melihat itu Mycle berusaha mengembangkan senyumnya ramah. Kemudian mengulurkan tangan untuk menjabat Alrond akrab. "Selamat atas terpilihnya anda menjadi Perdana Menteri Mr. Dayren." Ucap Mycle sopan. Alrond tersenyum senang. "Terimakasih banyak, Mycle. Senang kau bisa hadis disini," Alrond kemudian melirik Amara sekilas. Melihat itu membuat Amara juga mengulurkan tangannya. "Selamat untuk anda, tuan." Ucap Amara sopan. Melihat itu Alrond langsung menoleh kearah Amara dan dengan cepat menjabat tangan wanita itu. "Ah, terimakasih Amara." Jawab Alrond membuat Amara menatap bingung. "Anda mengenalku??" "Tentu saja. Aku datang ke acara penobatan Mycle kemarin. Dan aku sudah pasti melihat kalian!" Jawab Alrond terkekeh. Amara tersenyum, ternyata seperti itu. "Aku akan menemui ayahmu," Ucap Alrond kemudian memberi basa basi untuk meninggalkan mereka. Dengan senang hati Mycle mempersilahkan. Dan kini pria itu sudah tidak ada lagi di hadapannya. Mycle menoleh pada Amara dengan wajah sedikit tidak suka. "Kenapa kau tadi mengulurkan tanganmu??" Tanya Mycle tiba tiba. Amara mendongak, menatap Mycle bingung. "Memangnya kenapa?? Aku hanya mengucapkan selamat adanya Mycle. Tidak sopan jika hanya kau saja," Ucap Amara. Mycle hanya menghela nafasnya kemudian meraih lengan Amara dan menggenggamnya erat. Mycle berjalan menuju meja makan bundar yang terdapat tulisan 'Culles Family' di sana karena memang meja itu sudah di sediakan untuk keluarga mereka. Letaknya tepat di samping jendela besar yang mengarah ke halaman mansion. Mycle menarik satu bangku untuk Amara, mempersilahkan wanita itu duduk. Kemudian di susul dengannya yang juga duduk di samping Amara. Lagi lagi dan lagi. Seseorang menghampiri mereka. Tetapi kali ini saat Mycle menoleh untuk melihat siapa, ia langsung mengeraskan rahangnya. Mata birunya menatap tajam pria itu. Terlebih saat ini Thomas mengambil kursi tepat di samping Amara. "Selamat datang Alpha dan Luna Culles yang terhormat." Ucap Thomas ramah. Mycle menatap pria itu memberi sinyal menyeramkan. Dan ia rasanya semakin ingin mencabik wajah Thomas ketika ia melihat Amara tersenyum kepada pria berengsek itu. "Ah, jadi kau adalah mate Mycle??" Tanya Thomas kepada Amara dengan wajah sok terkejutnya. Amara mengangguk membenarkan. Thomas merubah mimik wajahnya menjadi terlihat menyesal. "Maaf karena kemarin aku tidak datang di acara penobatan kalian." Ucapnya dengan nada bersalah. "Ah, tidak apa apa. Sekarang yang terpenting kita sudah bertemu," Ucap Amara ramah. Mycle mengepalkan tangannya kencang. Terlebih sampai saat ini Thomas tidak juga menatapnya, padahal ia sudah memberikan tatapan peringatan. "Kau benar!! Yang terpenting kita bertemu sekarang!" Ucap Thomas terkekeh. Begitupun juga Amara. Mycle sudah tidak tahan, ia hendak berdiri menarik Amara. Tetapi kemudian seorang wanita cantik datang dari belakang Thomas. Menggunakan dress yang sangat indah dan riasan cantiknya. Mycle bukan terdiam karena terkagum ataupun speechless. Tetapi ia merutuki kenapa harus Fana, wanita itu yang tiba tiba saja muncul. Ini semua seperti suda di rencanakan! "Ah, kalian sudah datang rupanya??" Ucap Fana yang dimaksudkan untuk Amara dan Mycle. Wanita itu tersenyum ramah. Entahlah, itu palsu atau bukan. Yang jelas Amara tidak menyukainya. Terlebih saat ini Fana berjalan kearah Mycle. Amara masih memberikan tatapan permusuhannya. Sampai ia hampir saja berteriak saat Fana mengecup pipi Mycle kanan dan kiri. Wanita itu tersenyum. "Terimakasih sudah hadir, Mycle." Ucap Fana sok manis Mycle hanya menatap wanita itu bingung. Tidak mengerti dengan apa yang sudah mereka rencanakan. Yang jelas saat ini Mycle khawatir melihat Amara dengan mata membulat nya. Dengan cepat Mycle menghampiri wanita itu, kembali merengkuh pinggang Amara posesif. Fana hanya tersenyum tipis melihatnya. Tetapi dalam hati ia menyeringai jahat. Tidak ingin berlama lama disini. Mycle langsung membawa Amara meninggalkan Thomas dan juga Fana, ia sudah merasakan hal yang buruk di sekitar mereka. Amara masih terdiam, entah mengapa. Mycle berusaha bersikap tenang. Kini mereka sudah berada kembali di lobby. Dan saat itu juga Mycle membeku. Matanya mengarah keatas, menatap bulan yang membulat dan bersinar terang itu. Seketika Mycle panik. Ia langsung menuntun Amara menuju limousine nya yang sudah terparkir karena sebelumnya ia meminta Darvin untuk menyiapkannya. Setelah sudah masuk dan duduk di dalam. Limousine itu kini melesat meninggalkan lobby. Dari sini Mycle sudah bisa melihat puluhan warrior yang yang menunggu jauh di sebrang sana. Sangat jauh, masih di kawasan perhutanan. Sengaja memang, karena Mycle ingin mereka semua mendampinginya selama perjalanan menuju istana kembali. Selama perjalanan melewati perkotaan, Mycle merasakan tubuh Amara yang dingin. Dan itu membuatnya semakin panik. "Sayang, kau tidak apa apa??!" Mycle menarik dagu Amara lembut untuk menatapnya. Dan ia melihat wajah Amara yang pucat, mata wanita itupun meredup. "Aku pusing sekali, Mycle." Ucap Amara, kemudian memejamkan matanya. "Tidak!! Tetaplah sadar Amara. Sebentar lagi kita akan sampai!!" Ucap Mycle, tetapi percuma. Amara sudah tertidur Damai. Ini semua pasti karena efek bulan purnama penuh malam ini. Bodohnya ia sampai tidak menyadari hal itu. Seharusnya ia mengingat waktu itu apa yang Clora katakan untuk hati hati karena bulan purnama akan sebentar lagi. Kini limousine Mycle sudah melesat memasuki hutan. Dan suara derap kaki yang berlarian mulai terdengar keras. Itu semua adalah warrior nya. Mereka mengelilingi limousine hingga sampai di istana nanti. Berjalan baik baik saja. Mungkin sudah sampai pertengahan hutan, beberapa menit lagi mereka akan cepat tiba di istana. Tetapi tiba tiba saja mobil mereka berhenti. Itu karena para warrior juga berhenti. "Ada apa Darvin??!" Tanya Mycle melalui mindlink. "Tiba tiba saja puluhan rogue muncul, Alpha. Jumlah mereka hampir setara dengan ara warrior kita!!" Mycle menegang. Bertambah erat mendekap Amara salam pelukanya. Ia membuka jendela penghubung antara supir dengan dirinya. "Kenapa kau juga berhenti??!! Kita tetap jalan!!!" Bentak Mycle keras. Supir nya itu nolak gemetar. Dengan kecepatan tinggi ia kembali menjalankan mobilnya. Sedangkan diluar sana Darvin sedang berusaha mengatur dan menuntun para Warrior untuk tetap mengelilingi Mycle dan Amara. Menggiring mereka hinga selamat sampai istana. Sedangkan di sini Mycle sudah sangat khawatir. Tubuh Amara sangat dingin, ia sudah melepaskan mantel tebalnya untuk menutupi tubuh wanita itu. nya erat, menyalurkan rasa panas tubuhnya pada tubuh Amara yang sedingin es. "Bersabarlah sayang! Tenanglah, aku akan tetap di sisimu!!" TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN