Mycle Shows it

3059 Kata
"Kau bertemu dengannya kemarin??" Mendengar pertanyaan ayahnya, ia menoleh. Kemudian mengangguk. "Kau berbincang banyak??" "Lumayan. Tetapi itu semua terganggu, oleh wanita sialan itu!!" Jawabnya kesal. Arlond terkekeh, meletakan wine yang sudah habis di tangannya ke atas meja. "Mengapa harus marah, sayang?? Sangat mudah bagimu untuk menyingkirkannya. Maka segeralah singkirkan. Dan kau akan mendapatkannya, " Anak perempuan nya itu menatapnya. Dengan lengkungan di bibir yang perlahan mengembang. Seperti mengisyaratkan sesuatu. Keduanya saling melemparkan tatapan yang benar benar penuh arti. "Benar ayah! Sangat mudah untukku! Sa-ngat mu-dah!!" »»——⍟——«« "Mycle?" Mendengar namanya di panggil Mycle membalik tubuhnya. Ternyata Clora, ibunya. "Ada apa, ibu??" "Bagaimana Amara?? Apa dia masih pusing karena suara wolf nya itu??" Tanya Clora khawatir. Semenjak keadaan buruk Amara di ruang makan tadi membuatnya menjadi cemas. "Dia sudah lebih baik, ibu. Kau tenang saja," Jawab Mycle jujur. Clora menghela nafas lega. "Aku senang mendengarnya!" "Kau harus terus ada bersamanya, Mycle. Jangan biarkan ia sendirian. Dia akan-" "Aku mengerti, ibu!" Potong Mycle tersenyum. "Dimana Diana??" Tanya Mycle tiba tiba ketika ia mengingat kakak nya itu. Terakhir ia bertemu Diana adalah saat wanita itu menuruni tangga di acara penobatannya. Setelah itu, entah. Diana tidak terlihat. "Ah? Dia sudah kembali ke kota kemarin malam, dia berkata maaf padamu karena tidak pamit dan mengucapkan selamat untuk penobatan mu kemarin, " Clora menghela nafasnya. "Anak itu memang sudah nyaman sekali seperti nya dengan kehidupan manusia!" Clora menggeleng kan palanya. Mycle tersenyum. "Biarkan saja ibu, lagi pula ia mempunyai butik dan toko perhiasannya yang harus ia urus," Ucap Mycle. Clora mengangguk setuju. "Kau benar!" "Kalau begitu aku akan kembali ke kamar," Pamit Mycle kemudian. Clora mengangguk cepat. "Iya! Segeralah, Amara pasti sudah menunggumu." »»——⍟——«« Mycle melangkah masuk, setelah sebelumnya menutup pintu lebih dulu. Dari sini ia masih melihat Amara yang tertidur tenang. Melihat itu senyumnya terukir. Ia mendekat, bergerak naik ke atas kasur dan ikut berbaring di samping wanita itu. Dengan tangan yang bertumpu menahan kepalanya menyamping agar bisa menatap wajah Amara Tangan yang lainnya bergerak merapihkan anak rambut Amara kepinggir. Kemudian mengelus lembut pipi mulus itu. Mendengar nafas Amara yang teratur dan tenang entah mengapa Mycle menyukainya. Terlebih dengan wajah tertidur seperti ini. "Kau cantik sekali, sayang!" Bisik Mycle lembut pada telinga Amara. Kemudian mencium sekilas pipi wanita itu. Rupanya perlakuan Mycle menggangu Amara, terbukti oleh wanita itu yang bergerak. Wajahnya mengkerut, matanya terlihat bersiap untuk terbuka. Melihat itu Mycle terkekeh, wajah Amara sangat menggemaskan. "Mycle??" Dan akhirnya wanita ini bangun. Suara serak khas bangun tidurnya entah mengapa terdengar manis dan sexy ditelinga nya. "Iya sayang??" Jawab Mycle halus. Amara menatap sekelilingnya. "Apa aku di kamar??" Mycle menjawabnya dengan anggukan. "Aku tertidur ya," Amara sedikit menaikan tubuhnya. Dengan cekatan Mycle membantu wanita itu. Meletakan satu bantal dibelakang Amara agar posisi wanita ini lebih nyaman. Amara tersenyum. "Terimakasih," Ucap suara lembut itu. "Your welcome, sweet heart," Jawab Mycle membuat Amara tersenyum salah tingkah. Mycle melihat itu terkekeh gemas. "Mycle??" Panggil Amara lagi. Kali ini wajah wanita itu terlihat serius. Mycle menaikan kedua alisnya. "Ada apa??" Jawabnya. "Apa kau ingin berjanji padaku??" Tanya Amara tiba tiba. "Untuk??" Amara terdiam. Kemudian tersenyum. "Berjanji untuk tetap di samping ku. Berjanji untuk selalu bersama ku dalam keadaan apapun dan berjanji untuk selalu menyayangi dan mencintaiku! " Jelas Amara. Mycle terkekeh, tangannya bergerak membelai rambut Amara lembut. "Tentu saja, Amara. Bahkan tanpa kau minta aku sudah melakukan semua janji itu pada diriku sendiri!!" Jawab Mycle membuat Amara terdiam. Wajah wanita itu terlihat menegang. Mycle mengerutkan kening bingung. "Apa lagi??" Tanya nya penasaran. Amara menarik nafas dalam dalam, menghela nya panjang. Menyakinkan diri untuk mengucapkan nya kali ini juga pada Mycle dengan berani. "Mycle?? Hmm, sebenarnya. Aku sudah mengetahui itu semua!" Ucap Amara pelan. Mycle mengernyit semakin bingung. "Maksudmu??" "Sebenarnya- hmmm, aku sudah mengetahui segalanya. Tentang siapa kau dan keluargamu. Maksudku. Rahasia yang selama ini kau tutupi- atau mungkin kau ulur waktunya untuk memberitahu ku. Yang jelas, aku sudah mengetahui bahwa kalian semua... Werewolf." Ucap Amara menjelaskan, akhirnya ia mempunyai keberanian untuk memberitahu Mycle ini. Karena ia fikir, Mycle juga perlu tahu. Agar pria ini tidak terus menerus menahan, mencari waktu untuk berkata jujur padanya. Mycle terdiam beberapa menit. Mata birunya menatap Amara lekat, rasanya penjelasan Amara barusan sedang berputar di otaknya. "Mycle?" Panggil Amara pelan sembari menyentuh lengan pria itu yang mengeras. "Apa kau takut sekarang denganku, Amara?? Setelah kau mengetahui semua fakta itu. Apa kau takut dengan kami semua??" Tanya Mycle tiba tiba. Dengan cepat Amara menggeleng. Menatap Mycle yakin. "Aku sama sekali tidak takut, Mycle! Aku percaya adamu, aku percaya pada Ayah Bov, ibu Clora, Diana. Kalian semua!" Ucap Amara pasti. Tanpa ada keraguan di sana. Amara tersenyum, tangannya terangkat menyentuh rahang Mova dan mengelus nya lembut di sana. "Aku tahu kau sangat mencintai ku. Begitupun dengan aku, aku sangat mencintaimu Mycle. Dan sudah seharusnya aku mulai mempercayai mu, apapun itu. Dan aku juga akan menerimamu dengan sepenuh hati. Apapun dirimu, sikap mu, dari mana asal mu aku akan menerimanya tanpa alasan!" Lanjut Amara lagi. Mycle menghangat, mendengar ucapan Amara barusan benar benar membuat benak nya lega. Rasanya lilitan tali di tubuhnya sudah terlepas. Mycle mengambil tangan Amara di lengannya, kemudian mencium tangan itu berkali kali. Penuh sayang. Amara melihatnya senang, ia menatap Mycle tersenyum. Mycle menarik tubuh wanita itu untuk di peluknya, mencium dalam dalam aroma Vanilla Amara yang menyeruak di lekukan leher wanita itu. "Aku sangat mencintaimu, Amara!! Sangat!! Tidak ada alasan sedikitpun. Hanya kau! Apapun yang akan terjadi, itu tidak bisa merubahnya!" Bisik Mycle sambil mengeratkan pelukan mereka. Amara menarik kedua ujung bibirnya, membuat lengkungan sempurna yang sangat cantik. "Aku juga sangat mencintaimu, Mycle!" Pelukan mereka terlepas. Keduanya masih tersenyum sembari menatap satu sama lain. "Jadi kau sudah mengetahui ini, bahkan sebelum acara penobatan ku??" Tanya Mycle. Amara menjawabnya dengan anggukan cepat. "Bagaimana aku bisa tidak sadar, jika kau sudah mengetahui semuanya. Bahkan tentang apa itu Alpha, Luna dan sebagainya," Amara terkekeh. "Oleh karena itu, saat aku menjawab mu untuk menjadi Luna dari Black Moon Pack. Aku pikir kau akan menyadarinya. Kau harusnya sadar, karena saat itu aku bisa dengan mudah menerima mu. Terlebih kau memintaku sebagai Luna. Kau tidak berfikir aneh karena aku bersikap biasa saja di panggil Luna??" Mycle menyipitkan matanya. Berpikir keras. "Mungkin itu karena yang mendominasi otakku saat itu adalah kau, kau dan kau. Dimana kau akan menerima ku sebagai Alpha mu, dan menerima penobatan mu sebagai Luna. Dan saat kau menjawabnya, aku hanya bisa menikmati kebahagiaan itu tanpa memikirkan yang lain!" Amara terkekeh. "Yang terpenting saat ini adalah. Sudah tida ada lagi yang akan kau sembunyikan, Mycle. Aku sudah mengetahui nya. Bahkan sekarang aku ingin tahu semua tentang werewolf lebih jauh," Ucap Amara menyeringai. Mycle tersenyum geli melihat itu. "Kau yakin ingin mengetahui semuanya lebih dalam??" Amara mengangguk cepat. Ah, benar benar menarik. Mycle mempunyai ide yang mendadak muncul di otaknya. Ia bangkit menuruni kasur, menarik lengan Amara lembut. Amara mengernyit. "Kenapa??" Tanya wanita itu penasaran. "Ikut saja, kau bilang ingin tahu lebih jauh kan??" Amara mengangguk abadi tersenyum. Dan kini ia hanya mengikuti Mycle saja. Kemana pria itu akan membawanya. Mereka sudah menuruni anak tangga, menginjak lantai dasar berjalan menuju lorong istana. Menyusuri nya panjang, di belakang mereka terdapat beberapa warrior dan Darvin yang mengekor. Mycle membelok, menuntun Amara kesebuah taman. Taman yang sangat cantik dan indah. Terlihat asri dan alami karena tanaman tanaman yang tumbuh dengan segar. Juga bunga bunga yang bermekaran. Untuk waktu beberapa saat Amara menatap indah sekeliling taman takjub. Mengagumi semuanya. Melihat mata abu Amara yang berbinar, Mycle tersenyum puas. Tangannya kembali menarik lembut Amara, menuju sebuah bangku taman bewarna putih di ujung sana. Bangku yang terletak dekat pohon pohon yang menjulang tinggi. Amara menoleh kearah Mycle. "Kau ingin aa membawaku kesini, Mycle??" Tanya nya penasaran. Mycle tersenyum. "Aku ingin menunjukan mu sesuatu. Tetapi kau duduklah terlebih dahulu, ya." Mycle membawa Amara mendekati bangku. Amara menurut, dan mulai menduduki bokongnya di bangku putih itu. "Ah, aku sungguh tidak sabar bertemu dengannya Mike!!" Teriak Alex tiba tiba. Mycle mendengus. "Jangan berbuat macam macam padanya yang akan membuatnya tajuk, Lex. Kalau sampai wanitaku ketakutan kemudian pergi meninggalkanmu. Maka aku akan membunuhmu!!" Ancam Mycle tajam. "Dasar bodoh! Aku ini satu tubuh denganmu, jika aku mati maka kau akan mati! Ingat itu!!" Balas Alex menusuk. Dan ternyata benar juga. Oke, dan sekarang Mycle merasa malu ada wolf nya ini. Darvin muncul, berjalan mendekati Mycle dengan tangannya menyerahkan sebuah salinan berupa kemeja bewarna hitam dan juga celana bahan. "Aku sudah menyiapkan salinan mu, Alpha," Ucap Darvin menunjukannya. Melihat itu Amara mengerutkan kening bingung. "Untuk apa Mycle??" Mycle menoleh. "Ini untuk baju ganti ku." "Baju ganti?? Apa kau perlu menggantinya, bagimu bahkan tidak kotor sedikitpun!" Mycle terkekeh. "Setelah ini kau akan tahu alasan baju ganti itu!" Jawab Mycle. Kemudian kakinya melangkah mundur, membuat jarak beberapa meter dari Amara. Amara kebingungan, menatap Mycle bertanya tanya. Terlebih saat pria itu kini menggeram, matanya terpejam kuat. Tangannya terkepal, sehingga membuat ujung ujung jarinya memutih. Seluruh urat dan otot pada tubuh Mycle menonjol membuat baju yang di kenakan Mycle robek tak berbentuk. Semua bagian pada kulit nya memerah dan mengeluarkan asap, Mycle seperti mendidih. Amara melihat itu sedikit panik. Ia meringis saat Mycle mengerang hebat. Dan detik selanjutnya Amara dibuat membeku saat tubuh Mycle dengan cepat membesar, tulang tulangnya berubah, membentuk sebuah serigala besar. Sangat besar! Bahkan besarnya 3 kali lipat dari serigala ada umumnya. "Aaaauuuuuuuuuu.... " Dan suara mengaum dari Alex pun sudah terdengar merdu. Menggemparkan seisi hutan, bahkan istana. Mungkin jika rakyat dan penduduk Black Moon Pack mendengar itu. Mereka akan menyadari bahwa itu adalah Alpha mereka. Mycle. Amara terdiam. Bahkan ia tidak berani untuk bergerak sedikitpun. Melihat serigala besar hitam di depannya ini membuatnya seketika merasa takut. Amara benar benar bersumpah, serigala milik Mycle benar benar sangat besar. Bahkan sepertinya serigala ini mengalahkan dua lipat dari tubuhnya. Alex, serigala hitam itu menatap Amara lembut dengan mata birunya. Rupanya itu masih tidak membuat Amara sedikit tenang. Akhirnya Alex memutuskan mendekati Amara, perlahan tapi pasti, langkahnya semakin dekat dengan wanita itu. Amara bergidik. Sedikit memundurkan duduknya. "Jangan takut denganku, Amara." Amara menyatukan alisnya bingung. Baru saja telinganya menangkap suara itu. Sangat jelas! "Percayalah. Aku tidak akan menyakitimu!" Suara itu lagi. Amara menatap serigala hitam Mycle curiga. "Kau kah, yang berbicara??" Tanya Amara pelan. Dan demi Tuhan, Amara baru saja melihat serigala itu mengangguk. Matanya membulat sempurna, sedikit terkejut. Alex semakin mendekat ke arah Amara. Membuat jarak di antara mereka sudah tidak ada lagi. Amara merasakan buku buku halus Alex yang menyentuh kulit paha nya, lembut. Amara terkekeh pelan, rasanya geli. Terlebih saat ini serigala itu mengelus nya dengan kepala nya. Seperti seekor anak anjing yang ingin bermanja-manja. Amara tertawa. Tangannya spontan mendorong sedikit kepala serigala itu agar tidak lagi menyentuh kulit paha nya. "Sudah cukup, aku geli!" Ucap Amara masih dengan sisa tawanya. Ia menatap Alex lembut, tangannya tanpa ragu mulai menyentuh buku buku Alex yang lebat dan harum. Entahlah, Amara sangat bingung. Serigala Mycle ini terlihat sangat berbeda dari serigala pada umumnya. Jika serigala biasanya akan mempunyai liur dan buku yang sangat kasar. Tetapi itu justru berbanding terbalik oleh serigala Mycle. "Kau sangat cantik," Ucap Amara jujur. Tangannya masih mengelus elus lembut bulu Alex nyaman. "Terimakasih Amara! Aku senang kau memuji ku!!" Jawab Alex girang. Amara tertawa mendengarnya, benar benar menggemaskan. "Siapa namamu??" Amara bertanya tiba tiba. Kepala serigala itu terangkat menatapnya. Dan, oh Tuhan. Mata birunya sangat indah jika dilihat dari dekat seperti ini, memang mirip dengan Mycle. Tetapi entah mengapa milik serigala ini terlihat bersinar dan berkilat. "Namaku, Alex." Jawab Alex akhirnya. Amara tersenyum. "Namamu bagus," Puji Amara. Dan rupanya itu membuat Alex sanga senang, serigala itu kembali mengelus elus paha nya. "Hahaha, berhenti Alex. Ini sangat geli," Amara tertawa. Kemudian Alex berhenti, kepalanya kembali menatap Amara. Dan tiba tiba saja Alex tersenyum, dan Amara memekik tertahan melihat itu. Alex benar benar menggemaskan. Amara bergerak mencium kening Alex lembut, penuh kasih sayang. Ia tersenyum senang. "Aaaauuuuuuuuuu.... " Alex mengaum panjang, seakan ia sedang berteriak pada dunia bahwa Amara baru saja menciumnya. Melihat itu Amara tertawa. "Aku senang bertemu denganmu, Alex! Kau singgung menggemaskan!!" Ucap Amara jujur. Ia menangkup wajah besar Alex dengan kedua tangannya. "Apa kau bisa berganti lagi menjadi Mycle?? Aku perlu berbicara dengannya," Ucap Amara tiba tiba. Dan saat itu juga ia melihat perubahan wajah Alex. "Apa mau tidak menyukaiku??" Tanya Alex tiba tiba. Mendengar itu Amara menggeleng cepat. "Tidak! Ya tuhan, aku benar benar menyukaimu. Kau menggemaskan, kau cantik, kau indah. Kita nanti akan bertemu lagi. Tetapi aku ingin berbicara lagi pada, Mycle. Apa kau mengerti, Sayang??" Ucap Amara meyakinkan. Kemudian kembali bertanya pada serigala hitam ini. Dan Amara tersenyum senang melihat Alex mengangguk. Setelah itu Alex melangkah mundur, kembali menjauhi Amara. Amara masih tersenyum menatap Alex, hari ini ia bahagia bisa menemui serigala menggemaskan itu. Sebelum berganti shift dengan Mycle, Alex kembali menatap Amara lembut dengan mata birunya. "Sampai bertemu kembali Amara, " Ucap Alex membuat Amara terkekeh. "Sampai bertemu kembali juga Alex!" Balas Amara ramah. Dan kini ia sudah melihat Alex membungkuk, kembali menggeram. Tubuhnya perlahan mengecil, tulang tulangnya seperti kembali menyatu menjadi kumpulan kerangka manusia yang utuh. Bulu bulu alus Alex pun sudah menghilang. Dan kemudian Amara membulatkan mata tidak percaya saat ia melihat Mycle kini tidak menggunakan apapun. Tanpa sehelai benang apapun yang menutupi tubuh pria itu. Mycle berdiri, menegakkan tubuhnya. Melihat itu spontan Amara menuntup kedua matanya cepat. "Astaga Mycle!! Bagaimana bisa kau telanjang seperti itu??!!" Pekik Amara keras. Melihat itu Mycle terkekeh. Darvin mendekat, memberikan salinan milik Mycle yang masih setia berada di genggaman tangannya. Mycle menerima pakaiannya, kemudian mengenakan nya dari mulai celana lebih dulu. Sembari mengenakan kemeja nya, ia berjalan mendekati Amara yang masih terpejam. "Jangan seperti itu, Amara! Oh ayolah, sebelumnya kau sudah melihat tubuh telanjang ku. Bahkan kau sudah merasakan-" "Mycle!!" Omel Amara kesal. Mycle tersenyum geli. Ia benar benar menyukai ketika dirinya sudah menjahili Amara. Wanita ini terlihat menggemaskan. Mycle sudah sampai di kancing terakhir, ia membiarkan dua kancing teratas di kemeja nya terbuka. "Amara, aku sudah selesai. Kau bisa buka matamu sekarang," Ucapnya lembut. Amara menurut, dengan percaya ia sudah membuka matanya perlahan. Dan ternyata benar, kini Mycle sudah mengenakan pakaiannya lengkap. Mycle mendudukkan bokongnya di samping Amara. Tubuhnya menghadap wanita itu. "Kenapa kau memperlakukan Alex semanis itu?? Sampai memanggilnya sayang??! Kau tidak pernah sekalipun memanggilku sayang!" Ucap Mycle tina tiba saja. Wajahnya terlihat marah, tapi itu justru malah menggemaskan di mata Amara. Mendengar ucapan Mycle membuat Amara tertawa renyah. "Ah, rupanya kau Cemburu?? Mycle??" Tanya Amara menggoda. Mycle membuang hadapannya dari Amara. Menatap lurus ke depan. Melihat itu Amara terkekeh geli. Amara merapatkan duduknya dengan pria itu. "Oh ayolah, Mycle. Alex adalah wolf mu, bagaimana bisa kau cemburu dengannya??" Mycle menoleh protes. "Karena dia wolf ku dan berada satu tubuh denganku, bukan berati aku tidak boleh cemburu dengannya Amara. Kau akan merasakan itu nanti saat kau memiliki wolf mu! Dan aku akan rasakan bagaimana nanti aku memuji wolf cantikmu itu. Akan aku pastikan kau juga cemburu!" Ucap Mycle panjang. Amara terdiam, matanya memicing tidak suka. "Jadi kau nanti akan balas dendam??!" Tanya Amara. Mycle mengangkat bahunya. "Maybe," Jawab pria itu. Dan itu benar benar menyebalkan. Mycle mengintip sedikit, menatap wajah menekuk Amara. Oh, Dewi bulan. Sungguh, Mycle tidak bisa menahan untuk tidak mencium wanita menggemaskan ini. Lihatlah, sekarang saja Mycle sudah mengambil bibir manis itu, melumat nya dalam. Tangannya ia letakan pada bagian belakang leher Amara, membawa wajah gadis itu semakin merapat membuat ciuman mereka bertambah dalam. Beberapa Maid yang berada di sana juga Darvin yang hanya berdiri sedari tadi, ia hanya menundukkan kepalanya. Ya memang sedikit iri melihat pemandangan Alpha dan Luna nya itu, tapi mau bagaimana lagi, dia masih belum menemukan Mate nya. Setelah itu Mycle dan Amara kembali kedalam istana, saat akan menaiki tangga menuju kamar mereka tiba tiba seorang Maid memanggil Mycle membuatnya menoleh. "Alpha?? Maaf Alpha," Ucap Maid itu sambil menunduk. "Ada apa??" "Ada Alpha Thomas yang ingin menemui Anda dan juga Luna, dia sudah menunggu anda di ruang tamu, " Ucap Maid itu memberitahu. Mycle mengeraskan rahangnya, membuat gurunya merapat dan mengeluarkan suara Gemelutuk dari dalam. Mendengar nama Thomas selalu membuatnya naik pitam. Mycle menoleh pada Amara, tatapannya menghangat menatap wajah cantik itu. "Kau ke kamar lebih dulu ya. Beristirahat lah, tidak akan lama setelah itu aku menyusulmu." Suruh Mycle lembut sambil tersenyum manis. Awalnya Amara terdiam. Tetapi kemudian wanita itu tersenyum dan mengangguk. Mycle mengecup keningnya lama, matanya menatap punggung wanita itu yang menjauh menaiki tangga menuju kamar mereka. Setelah hilangnya Amara dari hadapannya, dengan cepat Mycle berbalik kembali menuruni tangga untuk menemui lelaki yang tidak tahu diri itu. Dibelakangnya Dari mengekor. Mycle sudah melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan. Dari sini ia sudah bisa melihat pria itu berdiri tepat di depan jendela besar, membelakangi nya. Tidak jauh dari Thomas berdiri terpadat seorang pria juga, dia Daniel. Beta dari Thomas. "Mau apa kau kemari??!" Mycle membuka suara dinginnya. Mendengar itu membuat Thomas membalik tubuhnya, seperti biasa. Thomas dan senyum menyebalkan nya. "Ah, selamat pagi Alpha Mycle Culles yang terhormat!!" Ucap Thomas tiba tiba sembari membungkukkan tubuhnya seolah ia adalah seorang pelayan Mycle yang menghormati tuannya. Mycle menatap tidak suka sikap Thomas itu. "Tidak usah berbasa-basi kau, Thomas!!" Thomas mendongak, kemudian tersenyum. Ia kembali menegakkan tubuhnya. "Oh, baiklah. Aku baru ingat, Alpha Mova kita ini sama sekali tidak menyukai hal yang bertele tele. Aku benar bukan??" Mycle tidak menjawab, masih menatap Thomas dengan kilat permusuhan. "Tenanglah Mycle. Niatku kesini benar benar sangat baik!" Ucap Thomas, kemudian berjalan sedikit mendekatinya. Dan itu membuat Mycle semakin tajam menatap pria itu. Thomas berhenti, masih dengan senyumnya. "Besok adalah acara istimewa untuk keluargaku. Kau pasti sudah tahu itu. Dan aku dengan sangat terhormat, mengundangmu dan keluargamu untuk hadir di istanamu, Alpha Mycle." Mycle terdiam. Ia tahu, besok adalah hari dimana perayaan ulang tahun Alrond, Alpha Silver Moon itu. Sekaligus perayaan keterima nya posisi dia sebagai perdana menteri Kanada. Besok benar benar acara besarnya. Mycle masih menatap Thomas terdiam. "Kau mungkin perlu waktu memikirkannya, Alpha Mycle. Tetapi aku dan keluarga ku akan sangat merasa terhormat ketika Culles family hadir di sana," Ucap Thomas lagi berusaha sok ramah walaupun sebenarnya Mycle ingin sekali memukul wajah sok kegantengan nya itu. Setelah mengucapkan itu, Thomas berlaku begitu saja dari hadapan Mycle dengan sebelumnya kembali menunduk hormat. Benar benar memalukan! Mycle tidak memperdulikan nya, justru ia ingin pria itu cepat menyingkir dari hadapannya. "Sungguh kehormatan bagiku untuk menunggu kedatangannu Amara," Batin Thomas licik. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN