Sinar matahari menyusup melalui celah-celah ventilasi jendela, jatuh ke lantai dingin bangsal rumah sakit. Aroma obat dan disinfektan menguar kuat di udara. Seorang wanita terbaring lemah di tempat tidur, dengan dua balutan perban di bahu dan kaki kirinya.
Detik berlalu dengan lambat. Jam dinding menjadi satu-satunya aktifitas suara yang tetap bertahan. Setelah beberapa waktu berlalu, tangan wanita yang terbaring bergetar beberapa kali.
Sakit. Itulah satu kata yang paling tepat untuk mendefinisikan perasaan Bella saat ini. Hal pertama yang ia rasakan saat kesadarannya mulai kembali adalah seluruh tubuhnya seperti baru saja dihantam oleh truk besar. Seluruh sendi-sendinya protes setiap kali digunakan untuk bergerak. Saat tangannya mulai ditarik karena tidak nyaman, sebuah jarum infus yang tersambung dengan selang menghalanginya.
Bella menatap langit-langit bangsal rumah sakit dengan bingung, mengerjapkan matanya berulang kali untuk membiasakan pupilnya menerima cahaya tiba-tiba. Bella merintih pelan, saat ingatan tak nyaman hadir dalam memorinya sebelum ia pingsan.
"Kau sudah bangun?" Suara seorang wanita yang lembut dan hangat menyapa Bella.
Di sisi Bella, Anne, wanita mungil yang menjadi pasangan Clive berdiri di sisi ranjang, menatap Bella dengan cemas.
"Anne?" Bella tampak linglung. Bagaimana bisa Anne ada di sini? Di sisinya?
"Bella, kau mengalami luka dan kehilangan darah lumayan banyak. Dokter bilang seharusnya siang ini kau bisa kembali stabil. Kau menghabiskan beberapa kantong darah. Mic menghubungiku dan Clive untuk membantu beberapa hal. Jadi sekarang aku akan menemanimu untuk sementara ini!" Anne meraih segelas air di tempat tidur, menawarkannya pada Bella, sebelum akhirnya memanggil dokter untuk mengontrol keadaannya.
Meskipun Anne juga berspesialisasi sebagai dokter, tapi ia selalu menangani hewan. Jadi lebih baik Anne berhati-hati dan segera mengonfirmasi keadaan Bella melalui dokter yang bertanggung jawab.
Tak lama kemudian dokter datang dengan seorang perawat di belakangnya. Dia mengecek keadaan vital Bella, detak jantung, pupil, tekanan darah, dan hal-hal lain yang diperlukan.
"Kondisi Anda baik. Hanya luka di bahu tolong diperhatikan. Jangan banyak bergerak terlalu keras sementara ini agar luka jahitnya tidak robek." Dokter mencatat sesuatu di sebuah kertas, mengintruksikan beberapa hal pada Bella dan Anne tentang perawatan standar.
"Apakah kondisinya sudah memungkinkan untuk menerima kunjungan demi penyelidikan?" Anne bertanya.
"Mari kita tunggu sebentar. Seharusnya sore ini tidak apa-apa. Tetapi jangan terlalu banyak menekannya! Dia masih butuh waktu untuk menstabilkan diri!" Dokter memberikan saran pada Anne.
"Baik. Terimakasih, Dok!" Anne tersenyum ramah, sudut-sudut bibirnya membentuk lengkungan indah.
Tak lama kemudian, dokter meninggalkan bangsal Bella, meninggalkan Bella dalam pengawasan Anne.
"Penyelidikan?" Setelah dokter itu pergi, Bella menatap Anne dengan bingung.
"Ya. Kejadian yang menimpamu dan Mic bukan sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Kemungkinan besar kau akan dimintai keterangan nanti oleh pihak polisi. Jangan khawatir, kau hanya harus menjawab beberapa pertanyaan sederhana." Anne menjelaskan, mengupas apel dengan pisau tipis dan meletakkan potongan irisan apel dalam mangkok kecil berukir.
"Jangan pikirkan itu saat ini. Beristirahatlah dengan baik. Kau sudah mengalami malam yang berat, Bella!" Anne membetulkan selimut Bella, merawatnya dengan sikap ramah yang alami, seolah-olah mereka berdua adalah kenalan lama.
Mungkin itu kepribadian Anne yang menyenangkan, atau mungkin rata-rata karakter masyarakat kota kecil ini seperti ini. Tapi apa pun itu alasannya, tetap saja membuat Bella merasa canggung. Bella mengangkat kakinya yang terluka secara tidak sengaja, kemudian meringis karena tidak nyaman.
"Hati-hati. Jangan paksakan dirimu untuk bergerak. Nanti ada saatnya kau harus mengembalikan lagi fungsi motorik kakimu, tapi itu nanti, bukan sekarang!" Anne mengingatkan.
"Terimakasih. Maaf, aku merepotkanmu!" Bella merasa tidak nyaman.
"Ini bukan apa-apa. Bagaimanapun juga, Mic dan aku kenalan lama. Sudah seharusnya aku membantunya untuk merawatmu!"
"Ngomong-ngomong, bagaimana kondisi Mic?" tanya Bella kemudian. Dia teringat Mic melawan lelaki bernama Jason.
Tampaknya perkelahian itu bukan perkelahian sederhana. Terakhir kali Bella ingat, luka-luka Mic yang sebelumnya mendekati pulih kembali mengeluarkan darah.
"Luka sebelumnnya kembali terbuka. Tertusuk di beberapa bagian tubuh. Tapi semua itu bukan bagian vital, jadi kau bisa tenang! Lelaki itu sulit dibujuk. Dia berhasil dipaksa untuk ditangani di rumah sakit, tetapi menolak perawatan lebih jauh. Jadi saat ini Clive mengatur seorang perawat untuk menangani Mic di rumah. Kondisinya seharusnya sudah lebih baik. Kau bisa bertemu dengannya setelah pulang dari tempat ini!" Anne menjelaskan.
Anne mengambil sesuatu dari tas kecil, kemudian menyerahkannya pada Bella. Sebuah novel misteri.
"Berada di rumah sakit bisa sangat membosankan. Kau bisa membaca ini jika kau suka!"
Tak ingin menolak kebaikan Anne, Bella menerimanya dengan canggung. Gerakan Bella masih tidak nyaman karena beberapa luka yang ia derita.
"Kau pasti akan segera sembuh, Bella! Percayalah!" Senyum Anne membewa kehangatan yang merasuk ke dalam hati Bella.
Mau tak mau, Bella mengagumi Anne yang berkarakter ramah dan mudah didekati.
"Anne, mengenai orang yang menyerangku dan Mic—"
"Bella, jangan pikirkan hal itu dulu! Clive akan menjelaskannya padamu secara perlahan setelah kondisimu lebih baik. Sekarang yang terpenting adalah mengembalikan kesehatanmu dan membuat vitalitasmu lebih baik!"
Anne mengangsurkan apel yang telah ia kupas, memberikannya pada Bella dengan gerakan lembut. Tak ada kecanggungan sama sekali dengan sikapnya.
"Manis?" tanya Anne.
"Hm. Terimakasih!" Bella mengangguk, lagi-lagi mengernyit saat merasakan luka di bahunya mudah tertarik setiap kali ia bergerak sedikit saja.
"Aku mendengar keluhanmu beberapa waktu yang lalu terkait Mic pada Clive!" Ekspresi Anne sedikit rumit.
Bella yang mendengar bisa menebak ini pasti keluhannya tentang Mic yang memiliki jejak darah. Jadi Anne sudah mengetahuinya? Yah. Sebenarnya mudah ditebak. Dari Clive ke Anne. Apa yang aneh?
Bella memilih diam, tak bersuara. Sepertinya Mic bukan orang yang mudah. Orang itu terlalu rumit. Terlibat dengan beberapa masalah. Sungguh sial nasib Bella harus terhubung dengan orang seperti itu.
"Mic bukan orang yang sederhana. Tapi dia selalu memiliki batas yang jelas. Dia bukan jenis orang yang akan membuat kerugian pada orang lain begitu saja!" Anne menjelaskan. Keningnya berkerut dalam.
Bella tidak heran mendengarkan pembelaan Anne untuk Mic. Mereka berdua pernah dekat di masa lalu. Wanita mana yang tidak akan membela mantan kekasihnya? Dengan kata lain, penjelasan Anne menunjukkan dukungannya terhadap Mic.
Namun, sebagai orang yang mampu berpikir rasional, Bella tidak bisa serta merta mempercayai apa yang Anne katakan. Orang bisa berkata apa pun, tapi kebenaran tidak ada yang bisa menjamin. Kehidupan ini terlalu sering membalikkan hitam dan putih dalam sekejap. Jika Bella mudah mempercayai orang, bukankah dia bodoh? Jika suatu hari nanti ada yang mengatakan bumi itu kotak dan matahari itu segi enam, bisakah dia mempercayainya tanpa syarat? Jangan harap!
"Bella, Mic memang … memiliki pengalaman traumatis dengan wanita kota sebelumnya. Itulah yang menyebabkan dia murung dan karakternya kurang ramah. Tapi aku percaya kau wanita yang rasional. Jangan menghakiminya dengan mudah seperti orang lain. Mic sebenarnya lelaki yang baik!" Anne berusaha meyakinkan Bella lebih jauh lagi.
Mic lelaki yang baik? Bella merinding membayangkannya. Dia teringat serangan Mic yang mematikan pada Jason tadi malam. Bella lebih suka berpikir gajah bisa terbang daripada berpikir Mic laki-laki yang baik.
"Anne. Aku lelah. Aku ingin tidur!" Bella menghentikan pembicaraan Anne, tak ingin wanita itu semakin meracuni pikirannya dengan hal-hal yang mustahil.
"Baiklah! Istirahatlah dengan baik! Jika kau membutuhkan sesuatu, katakan saja padaku!"
"Kita hanya pernah bertemu satu kali. Kau terlalu baik padaku!" Nada suara Bella dipenuhi sarkasme.
"Aku melakukan ini untuk Mic, bukan untukmu!" Anne terdengar tidak senang.
…