Malam-malam panjang, malam-malam mimpi buruk, akhirnya bisa diakhiri malam ini. Lelaki berbaju hitam itu mngambil belati lain dari pinggangnya, mengangkat belatinya tinggi-tinggi, bersiap menusukkannya ke perut Bella.
Tidak apa-apa tidak bisa mendapatkan Mic. Setidaknya wanita di depannya ini mampu mengurangi amarah dan dendam yang ia simpan.
"Ah!" Bella berhasil berbalik di saat-saat terakhir ujung belati tersebut nyaris menusuk perutnya. Tatapan Bella jatuh pada belati yang tertancap di tanah, ujung gagangnya bergetar karena tekanan yang baru saja lelaki itu berikan sebagai usahanya menusukkan benda tajam tersebut.
Bella bergidik ngeri. Hampir saja. Selangkah saja ia terlambat bergerak, bukan tanah yang akan ditusuk belati, tetapi pasti perutnya yang berharga. Bayangan perut dan organ dalamnya yang nyaris hancur membuat Bella tercengang.
"Kebencian apa yang kaumiliki padaku? Apakah kau gila? Aku tidak terkait dengan dendam masa lalumu. Aku tidak berhubungan dengan masalahmu. Kenapa kau menyeretku ke dalam urusanmu yang tak masuk akal?!" Bella berteriak, kini ketakutannya berubah menjadi amarah.
Bella melepas paksa belati di kakinya, menyebabkan ia menerima rasa sakit yang lebih besar lagi. Darah merah mengucur dengan deras, mewarnai rumput di halaman belakang dengan jejak kemerahan.
Sial. Siapa yang mengira Bella akan dirugikan dan disakiti hanya karena dendam masa lalu seseorang yang tidak ada hubungannya dengan dia? Apakah orang itu mengalami cacat mental dan ber-IQ rendah?
"Mulutmu benar-benar menjengkelkan!" Lelaki itu melayangkan pukulan yang segera dihindari Bella. Namun meski begitu, gerakan Bella masih terlambat sehingga sisi wajahnya terkena pukulan yang menyakitkan. Bersamaan dengan itu, belati yang baru saja Bella ambil dari kakinya jatuh di tanah, kemudian diambil lagi oleh lelaki asing tersebut. Gerakannya sigap dan cekatan, jelas telah terlatih lama.
Kepala Bella pening. Sisi wajahnya terasa panas dan perih.
Dengan kekuatannya yang tersisa, Bella menendang kaki lelaki di hadapannya sangat keras, membuat lelaki itu limbung ke sisi kiri. Memanfaatkan kesempatan ini, Bella menjegal kaki lainnya, berhasil menjatuhkan orang tersebut dengan suara booom keras.
"w***********g!" Marah oleh tindakan Bella, lelaki itu meraih kaki Bella, tetapi segera dihindari dengan cepat. Bella bangkit dan berlari meninggalkan lelaki itu, menuju pintu besi yang menyatu bersama pagar pembatas rumah bagian belakang.
"Kaupikir kau bisa pergi begitu saja? Kaupikir kau bisa kabur dariku seperti Mic? Hah? Jangan harap!"
"Ah! Tidak!" Bella terjatuh dengan mengenaskan.
Kaki Bella yang terluka ditendang, kemudian diinjak dengan sepatu boot kasar.
Wajah Bella yang pucat semakin pucat. Ia tak berani bergerak sembarangan, karena sedikit saja gerakan yang ia lakukan membuat kekuatan lelaki itu menginjak kakinya semakin parah. Rasa sakit yang diderita Bella menjadi tak tertahankan.
Hanya bisa merintih pilu, Bella mencengkeram rumput di sisi tubuhnya, menangis tanpa suara.
"Ja … jangan. To … tolong. Hentikan."
Rasa sakit tiba-tiba jatuh di bahunya. Bella hampir kehabisan suara untuk berteriak dan meminta tolong. Lagi pula dengan keadaannya sekarang, masih bisakah ia meminta tolong? Lihat saja lokasi kediaman Mic yang terasing dan jauh dari tetangga. Tempat terdekat adalah ranch. Itu pun harus ditempuh sekitar seratus hingga seratus lima puluh meter untuk tiba di gerbang utama.
Harapan Bella semakin pupus seiring berlalunya waktu. Dia tahu bahunya pasti terluka oleh sayatan belati. Dia juga tahu luka kakinya kian parah. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Pada akhirnya, kekuatan Bella sebagai wanita tidak bisa mengimbangi lelaki itu. Lagi pula, lelaki itu memiliki belati di tangan yang entah berjumlah berapa dan tampaknya ahli dalam melakukan beberapa hal. Poin-poin itu sendiri telah melemahkan keinginan Bella untuk melawan.
Keringat dingin membajiri punggung Bella. Rasa sakit karena robeknya kulit dan darah yang mengucur deras membuat kepalanya lama-lama terasa berat. Kedua tangan Bella gemetar hebat, ujung-ujungnya terasa dingin. Napasnya kian lemah, menghirup oksigen susah payah dengan kekuatan yang tersisa.
Bella melarikan diri ke tempat ini untuk mencari keamanan. Kota tidak lagi menawarkan keamanan yang ia inginkan. Siapa sangka akhirnya ia berada di sini dalam kemalangan? Lantas apa gunanya dia bersenbunyi di sini, meninggalkan seluruh karir modellingnya begitu saja.
Kalah.
Ya. Bella akhirnya kalah. Kalah oleh keadaan, kalah oleh nasib. Jika ada yang bisa disalahkan, mungkin, satu-satunya orang yang bisa ia salahkan adalah keberuntungannya yang tidak baik. Di dunia ini, keberuntungan selalu memainkan peran utama.
Saat Bella sedang mempersiapkan mentalnya untuk menerima luka yang lebih menyakitkan lagi di organ vitalnya, tiba-tiba suara langkah kaki yang sangat cepat datang dari sebelah kiri. Belum sempat Bella melihat sosok orang yang datang, tiba-tiba teriakan keras terdengar dari lelaki asing yang menyakiti Bella.
Suara hantaman terdengar jelas di telinga Bella. Ini seperti dua tulang saling berbenturan, menghasilkan bunyi yang mengerikan.
Dengan gerakan lemah, Bella menatap ke belakang, melihat seorang lelaki dengan penutup mata hitam di mata kirinya dan perban di beberapa bagian tubuh yang sibuk berkelahi dengan lelaki berbaju hitam dengan gerakan sengit.
"M-Mic?" Bella menyipitkan mata, sulit untuk percaya apa yang ia lihat di hadapannya.
Bagaimana bisa Mic berada di sini sekarang? Bukankah ia bilang malam ini tidak akan pulang?
Gerakan perkelahian Mic kasar dan kejam. Dia sengaja mengarah pada titik-titik vital seperti leher, s**********n, kepala bagian belakang, tenggorokan, hidung, dan d**a. Namun meski begitu, lelaki asing berbaju hitam yang menjadi lawan Mic memiliki dua belati di tangan yang telah berlumuran darah. Sepasang tangan kosong tidak bisa menandingi dua senjata tajam. Jadi meski gerakan Mic kasar dan ofensif, dia tetap tak bisa menghindari luka.
Beberapa sayatan mulai tampak di lengan dan bahu Mic. Salah satunya mengenai luka lama yang diperban, membuat Mic mengalami pendarahan dari luka sebelumnya yang belum sepenuhnya sembuh.
"Kau akhirnya muncul! Kukira kau akan menjadi pengecut dan melarikan diri malam ini! Keberanianmu patut dipuji!" Lelaki asing itu berkomentar pada Mic, sorot matanya masih dipenuhi kebencian yang mendalam.
"Jason! Kaupikir kau bisa memancing amarahku tanpa mendapat resiko? Kali ini kau terlalu berani!" Mic yang gerakan melawannya semakin kuat, berhasil memanfaatkan celah dan mengambil salah satu belati lelaki berbaju hitam yang dipanggil sebagai Jason.
Menyadari Mic berhasil mengambil belatinya, kemarahan Jason berkembang dua kali lipat lebih besar daripada sebelumnya. Kekuatan Mic tak bisa diremehkan. Bahkan dalam keadaan terluka dia masih bisa memberikan serangan balik.
Melihat perkelahian jarak dekat ini, siapa pun bisa menyimpulkan ada dendam besar di antara mereka. Dendam yang tampaknya berlarut-larut lama.
Bella yang menyaksikan perkelahian, ingin memanfaatkan situasi dan bangkit untuk meminta pertolongan. Namun, dia melebih-lebihkan dirinya sendiri. Baru saja berhasil berjalan dua langkah, Bella jatuh lagi ke tanah karena staminanya telah terkuras habis.
Bella kembali melihat Mic dan Jason yang saling bertukar pukulan. Bayangan mereka lama-lama menjadi samar, penglihatan Bella mengalami penurunan. Seluruh tubuh Bella terasa sakit. Tidak nyaman di mana-mana. Seiring waktu, harapannya untuk bertahan dan tetap sadar kian pudar dan lemah.
Hingga akhirnya, sebelum Bella pingsan sepenuhnya, dia mendengar suara Mic yang diliputi kecemasan.
"Bella! Bella!"
Bella yang tak bisa lagi merespon, dalam hati berpikir ini adalah pertama kalinya Mic terdengar mengkhawatirkan keselamatannya dengan nada yang tulus.
…