Invasi Orang Asing

1126 Kata
Malam datang, kegelapan merangkak perlahan dan berhasil menyelimuti langit tanpa satu pun cahaya. Suara dedaunan yang tertiup angin menjadi lagu pengantar tidur Bella, membawa Bella perlahan dalam alam mimpi yang penuh keindahan. Detik berlalu menjadi menit. Menit berlalu menjadi jam. Hingga akhirnya tengah malam datang. Malam adalah waktu paling berharga bagi seseorang untuk mengistirahatkan pikiran dan jiwa. Waktu bagi mimpi datang dan pergi. Waktu bagi banyak orang menghilangkan semua letih dan penat. Di tengah malam, tidur Bella yang nyenyak tiba-tiba terganggu oleh suara-suara gaduh dari lantai pertama. Pada awalnya suara-suara itu ringan, tak mengganggu Bella sama sekali. Namun, lama-lama keributan mulai terjadi. Gedoran pintu yang tampaknya dilakukan dengan paksa. Benturan antara besi dan kayu yang terjadi secara berulang. Bella membuka matanya dengan curiga, menajamkan indera pendengarannya dengan baik. Benar saja. Tampaknya ada sesuatu yang terjadi di lantai bawah. Mic sedang pergi malam ini. Lagi pula jika dia pulang, tidak mungkin dia menciptakan keributan yang tak penting. Satu-satunya tebakan yang tersisa di pikiran Bella adalah ada orang asing yang mencoba menginvasi rumah ini. Kening Bella berkerut tak nyaman. Kewaspadaannya meningkat berkali-kali lipat. Bella segera berdiri, berjalan tanpa alas kaki ke luar kamar, menyusuri lorong sepi yang disinari cahaya lampu temaram berwarna orange. Saat menuruni tangga, Bella mengambil tongkat bisbol yang kebetulan terletak di sisi kanan tangga. Bella menatap tongkat yang dia pegang dengan tatapan rumit, berhenti beberapa detik dalam keraguan, kemudian melanjutkan langkahnya lagi turun ke lantai bawah. Tangga ini mengarah langsung ke ruang tengah. Sesampainya di dasar tangga, Bella menatap pintu kamar Mic yang terbuka lebar, terdengar suara seseorang sedang melakukan sesuatu. Ini seperti seseorang sedang mengobrak-abrik kamar dan membanting perabotan dengan asal. Bella menajamkan penglihatannya di bawah penerangan terbatas, menyadari engsel pintu kamar Mic rusak parah. Tampaknya pintu tersebut telah dibobol dengan paksa oleh seseorang. Bella mencengkeram tongkat bisbol lebih erat, keringat tegang membajiri dahinya yang pucat. Pandangan Bella jatuh pada telepon di atas meja. Sebuah pikiran terlintas di benaknya. Dengan segera, Bella melanjutkan langkahnya, mendekati meja, kemudian meraih gagang telepon untuk menghubungi polisi. Meskipun ini kota kecil, seharusnya kinerja polisi masih bisa diandalkan, bukan? Sayangnya, kegugupan sering kali membawa masalah. Saat Bella berhasil meraih gagang telepon dan bersiap menekan tombol, tanpa sengaja gagang telepon yang ia apit di antara bahu dan leher jatuh ke meja dengan bunyi yang keras. Brak. Suasana langsung hening. Aktifitas di ruangan Mic juga langsung berhenti. Waktu seolah berjalan dengan lambat. Fokus Bella mau tak mau terkunci pada kamar Mic yang kini hening. Hingga kemudian, seorang lelaki berpakaian hitam muncul dari balik pintu kamar Mic, pandangannya langsung diarahkan pada Bella. "S-siapa kau?" Bella tercengang. Dia mundur dua langkah tanpa sadar, detak jantungnya bekerja dua kali lipat daripada biasanya. Lelaki itu menyipitkan mata, menatap Bella dengan tatapan suram. Orang itu berperawakan tinggi, dengan wajah tirus yang tampak pucat. Ada bekas luka di bawah mata kirinya yang mengurangi ketampanannya, membentuk garis lurus sekitar satu inchi. Bibir tipis lelaki itu melengkung sinis, mendekati Bella dengan … belati di tangan? Bella mundur tergesa-gesa, berusaha sejauh mungkin dari lelaki itu. Sepasang matanya yang berwarna keemasan menatap tak percaya pada belati di tangan lelaki asing itu. Tampaknya tamu yang tak diharapkan datang ke rumah ini bukan saja melakukan invasi kasar, tetapi juga memiliki niat pembunuhan. "Kudengar ada wanita kota yang tinggal di rumah Mic. Sepertinya itu kau!" Suara lelaki itu lembut, sangat lembut, kontras sekali dengan aura kejam dan sadis yang ia bawa. "Di mana Mic?" tanya lelaki itu, memain-mainkan belati di tangannya naik turun dan memutar dengan gerakan lihai. Tampaknya orang tersebut memang sudah terlatih terkait masalah senjata tangan. "Jika mulutmu tidak berfungsi, lebih baik aku menghilangkan mulutmu tanpa sisa!" Ancaman lelaki itu terdengar mengalun indah di telinga, tetapi membawa hawa dingin yang menusuk tulang Bella. Bella beringsut mundur, berbalik pergi, kemudian berlari menuju pintu belakang. Ada pintu kayu di halaman belakang yang meghadap pada jalan kecil. Jika ditelusuri memutar, maka akan tiba di jalan utama yang tak jauh dengan ranch terdekat. Dari sana, seharusnya Bella mampu mendapat pertolongan. Ketika Bella tiba di dapur dan bersiap meraih pintu, lengan Bella diseret dengan keras, ditarik ke belakang, kemudian dipelintir dengan cara yang menyakitkan. Tongkat bisbol yang ia pegang direbut dengan mudah oleh orang itu, sehingga kini Bella tak memiliki perlindungan diri. "Arghhhh! Tidaaak! Apa yang kaulakukan? Hentikan! Hentikan, tolong hentikan!" Manik-manik air mata jatuh di pipi Bella, menunjukkan betapa besar reaksi sakit yang ia derita. Tangan Bella yang terpelintir dilepaskan. Kini Bella terkapar di lantai kayu, tak berdaya beringsut di kaki orang asing itu. Udara dipenuhi kebencian dan niat membunuh yang kental. Jujur, Bella tak tahu urusan apa yang melatarbelakangi orang itu datang ke rumah ini dan memiliki permusuhan dengan Mic. Hanya saja, kenapa dia ikut menanggung kebencian yang tidak ia ketahui asalnya ini? "Hentikan? Betapa mudahnya kau memohon. Apakah Mic mendengar saat Sevana dulu memohon agar ia menghentikan dan tidak membunuhnya? Apakah dulu Mic mendengar permohonan Sevana agar tak melukainya? Tidak! Sevana memohon, menangis, merintih di depannya! Tapi apa yang ia lakukan? Tidak sekali pun Mic terpengaruh!" Lelaki itu berteriak penuh kebencian, mengeluarkan seluruh protes yang ia pendam di dalam hati. Bug! Tendangan jatuh di perut Bella. Rasa sakit yang kuat membuat Bella berkeringat dingin. Dia menatap lelaki itu, melihat dendam dalam kedua matanya yang membara. Tampaknya kali ini Bella terlanjur jatuh dalam masalah yang tak ia ketahui sebab musababnya. "Kau berurusan dengan orang yang salah! Aku hanya tamu Mic dan tinggal di sini untuk sementara!" Bella berkata lirih, mencoba menjelaskan situasinya dengan benar. Apa pun urusan lelaki itu terhadap Mic, Bella tidak tahu menahu. Bisakah dia terlepas dari penghakiman tanpa alasan ini? Bella beringsut mundur, menggunakan seluruh kekuatannya yang tersisa untuk menghindari lelaki tersebut, hingga akhirnya punggungnya menekan pintu dapur yang mengarah ke halaman belakang. Napas Bella berubah lebih cepat penuh antisipasi. Dia melirik belakang pada pintu yang terkunci, dalam hati membuat rencana dengan cepat. Bella berdiri, mengambil kunci dari kisi-kisi jendela tidak jauh darinya, dan membuka pintu dapur dalam hitungan detik. Dia baru saja berhasil membuka pintu dan bersiap melangkah keluar ke halaman saat kaki kirinya dijegal oleh orang di belakangnya. "Tidaaakkk!" Jatuh kembali di lantai kayu, Bella memberontak habis-habisan. Selemah apa pun seorang wanita, pada dasarnya saat seseorang tersudut pasti akan mengeluarkan seluruh potensinya yang tersembunyi. Begitu pun dengan Bella. Setelah berhasil menendang orang di belakang, Bella melanjutkan pelariannya, melewati halaman belakang. Namun, sering kali niat lebih indah dari ralita. Baru beberapa langkah berlari, Bella merasakan perasaan yang menusuk di paha kirinya. Darah menetes dengan hebat. Sebuah belati bermata tajam menembus kaki kirinya, jatuh ke dalam daging. Seperti boneka yang terputus dari talinya, Bella jatuh tak berdaya, menatap lelaki asing itu dengan penuh rasa takut dan teror. "Jika aku tak bisa melukai Mic, tampaknya kau menjadi ganti yang paling tepat!" kata lelaki itu dengan niat kejam yang terlihat dari ekspresi wajahnya. …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN