"Sayang, bagaimana keadaanmu? Aku ingin melakukan panggilan video denganmu, tetapi gagal terus. Jadi aku beralih meneleponmu melalui panggilan berbayar!" Celline menghubungi putrinya dengan nada cemas dalam suaranya.
Sebagai seorang ibu, siapa yang tidak khawatir dijauhkan dari putrinya?
"Baik, Mom. Jangan khawatir. Aku baik-baik saja! Di tempat ini terkadang jaringan tidak mendukung, panggilan video tidak selalu bisa dilakukan." Bella menjelaskan.
"Mengenai Mic Navaro. Itu namanya, bukan? Apakah dia memperlakukanmu dengan baik?"
Mendengar ini, tanpa sadar Bella berbalik ke belakang, menatap punggung Mic yang tengah sibuk mengurus beberapa hal di ruang depan.
Dua hari ini kondisi Mic mengalami peningkatan. Namun meski begitu, ia belum bisa sepenuhnya bergerak bebas. Aktifitasnya masih dibatasi karena beberapa luka perlu penyembuhan lebih lama. Hasilnya, Mic mengurus beberapa hal di rumah. Bella pernah melihatnya sekilas dan mendapati banyak desain furnitur yang dibuat Mic secara manual di lembar kertas miliknya. Sebenarnya kalau mau diakui, bakat Mic dalam desain cukup bagus. Sayang sekali ia harus tenggelam di kota kecil ini dan tidak bisa mengaplikasikan skill miliknya ke tempat yang lebih besar lagi.
"Yah … cukup baik!" Tidak mungkin Bella mengatakan pada Mom jika lelaki yang dipercayakan Steve untuk menjaganya adalah lelaki dengan rumor buruk dan karakter yang lebih buruk lagi. Mom memiliki kebiasaan mudah tertekan. Sangat tidak bijaksana memberinya kabar buruk. Cukup Bella saja yang memendam semua ini.
"Baguslah jika orang itu baik padamu. Kakakmu tidak mungkin menitipkanmu pada orang sembarangan. Kau adalah putriku yang paling aku cinta. Mana mungkin Steve menempatkanmu serampangan di luar kota tanpa jaminan!"
Mendengar suara ceria dan bahagia ibunya, Bella rasanya ingin muntah saat ini juga. Steve baik? Selalu memikirkannya? Bella justru berpikir mungkin kakaknya memiliki dendam tertentu sehingga menempatkannya di bawah perlindungan Mic yang mengerikan. Akhir-akhir ini, Bella sempat bertanya-tanya apakah Steve adalah kakak biologisnya atau bukan.
"Kuharap Steve minum obat pencahar dan keracunan selama sebulan penuh!" Bella merutuk kakaknya dengan kesal.
"Apa yang baru saja kaukatakan, Sayang?" Celline meragukan apa yang baru saja ia dengar.
"Tidak, Mom. Aku hanya berharap Steve mendapatkan hari-hari indah yang baik!"
"Oh itu, tentu saja! Dia baru saja pergi bersama Lyana untuk bulan madu ke Dubai."
Ah orang terkutuk itu! Bella di sini jatuh dalam kesuraman hidup sementara Steve bahagia dengan istrinya. Sungguh tidak adil.
Semoga Steve jatuh dari lantai hotel dan tidak bangun dari ranjang selama dua bulan. Bella diam-diam mengutuk kakaknya di dalam hati.
"Setelah semua ini selesai, setelah penerormu ditemukan, biarkan aku mengundang Mr. Navaro ke kediaman kita sebagai ungkapan kita untuk berterimakasih!"
"Tidak perlu!" Lepas dari Mic adalah anugerah besar. Untuk apa mengundangnya ke rumah lagi?
"Tapi—"
"Mom, sampaikan salamku pada Dad. Ada sesuatu yang harus aku lakukan. Nanti aku akan menghubungimu lagi!"
Tak ingin Mom semakin banyak mengatakan omong kosong, akhirnya Bella memutuskan panggilan terlebih dahulu.
Bella masuk ke dalam rumah dengan langkah lambat, menatap pergelangan kakinya yang kini telah membaik. Saat dia melewati ruang tamu, Mic menghentikannya tiba-tiba.
"Kita perlu bicara sebentar!" Mic sengaja menahan Bella yang sebelumnya berniat pergi ke kamar di lantai dua.
"Apakah ada masalah?" Bella duduk tak jauh dari Mic, mengamati reaksi lelaki tersebut yang tampak terganggu.
"Malam ini aku akan pergi sebentar ke suatu tempat. Bisakah kau bermalam di rumah Clive?"
Mendengar ini, Bella mengedipkan matanya dua kali dengan bingung. Kenapa dia harus bermalam di rumah Clive, si sheriff yang memiliki kepribadian sarkasme itu?
"Tidak!" Bella menolak dengan kuat. Sudah cukup mengguncang hidup bersama dengan Mic. Bella tak ingin melakukannya lagi bersama orang lain yang kemungkinan besar memiliki kepribadian buruk juga.
"Di sana ada Anne! Kau akan aman di sana!" Mic mengatakan dengan nada serius, seperti seorang profesor membujuk mahsiswanya agar mengambil tesis secepatnya.
"Keamananku tidak ada hubungannya dengan Anne atau pun Clive!" Bella berdecih, menunjukkan jejak kekesalan yang tak lagi ia tutup-tutupi.
"Aku akan pergi nanti malam. Aku ingin keamananmu terjamin. Bermalamlah dengan Cive dan Anne! Demi kebaikanmu sendiri!"
"Demi kebaikanku? Kau yakin itu? Kudengar Anne adalah mantan kekasihmu. Kau hanya ingin membuat kedekatan kembali dan melemparkanku ke sana dengan alasan ini, bukan?" Bella tidak pernah menghakimi orang, terutama saat mereka mengejar orang yang ia cintai. Dalam cinta, memang kadang diperlukan trik.
Hanya saja, jika Mic menggunakan Bella dan menitipkannya pada Anne dengan tujuan melakukan pendekatan pada Anne, ini sangat tak termaafkan. Bella tak ingin dijadikan alat bagi orang lain, dengan tujuan apa pun.
"Rumor apa yang telah kaudengar di luar sana? Sedangkal itukah otakmu berpikir? Kenapa kau tidak menyumbangkan otakmu ke institut jika memang tidak digunakan lagi?" Mic tak bisa lagi mengendalikan mulutnya. Apa pun itu, selama terkait dengan Bella, selalu berhasil memancing Mic bertindak ekstrem dan penuh kemarahan.
Sejujurnya jika mau diakui, Mic benar-benar lelah tinggal bersama Bella. Masa damai dan masa perseteruan mereka setara persamaan satu banding tiga. Sekali mereka damai, tiga kali mereka berseteru. Begitu terus entah hingga kapan.
"Kau selalu menganggap aku dangkal. Tapi mungkin sebenarnya kau lebih dangkal dariku." Mungkin karena Bella mulai terbiasa dengan aura Mic yang menindas, atau mungkin karena alasan lainnya, ia menjadi lebih berani daripada sebelumnya kali ini. Keinginannya untuk mendebat Mic semakin besar.
"Cukup! Kau berada di sini di bawah peraturanku! Ingat itu! Malam ini, kemasi beberapa baju ganti dan tinggallah di kediaman Clive!"
"Aku tidak mau!"
"Kau mungkin tidak aman jika tetap di sini!"
"Omong kosong! Aku berada di rumah ini terus dan semuanya baik-baik saja. Berhentilah membodohiku!"
"Apa kau lupa aku baru saja terluka?"
"Itu lukamu. Itu masalahmu sendiri. Orang-orang yang terkait dengan kejadian itu tidak mungkin akan mendatangi rumah ini dan mencelakaiku. Aku pihak netral yang tidak tahu apa-apa!" Bella berkata dengan keras kepala. Tidak bisakah Mic melihat kenyataan yang ada? Dia yang memiliki masalah di luar sana, Bella yang harus diseret dan terkena imbasnya.
Urusan Mic adalah urusan Mic. Bella tidak akan pernah terlibat di dalamnya.
"Sialan kau, Bella! Kenapa Steve bisa memiliki adik sebebal dirimu?!" Mic memukul meja di depannya, otot-otot rahangnya kaku karena amarah. "Kenapa kau sulit sekali diatur!"
Wanita itu benar-benar kepala batu. Pikirannya sekeras granit. Terlalu liar dan semaunya sendiri.
"Sudahlah, Mic! Kau bisa pergi ke mana pun kau mau nanti! Tapi aku tidak akan pergi ke rumah Clive!" Bella benar-benar tidak tertarik menjadi pihak ketiga di rumah Clive yang kata Amy sekarang sudah bertunangan dengan Anne.
"Kau benar-benar sulit mendengar nasihat orang!" Mic berjalan pelan ke ruangan dalam, berhati-hati dengan luka-lukanya yang belum sepenuhnya pulih.
Bella menatap punggung Mic cukup lama, kemudian mendesah panjang sebelum akhirnya pergi ke kamarnya sendiri di lantai dua.
Menghadapi Mic benar-benar melelahkan. Menguras semua tenaganya yang tersisa.
…