Bella menarik tirai kamar Mic saat fajar menyingsing. Sepasang matanya yang berwarna keemasan dilingkari bayangan hitam karena kurang tidur. Wajahnya yang sempurna sedikit pucat.
Max benar. Mic demam dari tengah malam dan baru reda menjelang fajar. Bella bolak-balik beberapa kali untuk memberikan kompres dan memberinya obat. Sekarang kondisinya sudah lebih baik. Tetapi sebagai gantinya, stamina Bella yang terkuras. Dia kekurangan tidur, lelah, rasa-rasanya bisa jatuh tidur di mana pun ia berada.
Bella memyapukan seluruh pandangan ke kamar Mic. Kamar Mic merupakan ruangan berukuran empat kali empat meter, dengan sedikit perabotan di dalamnya. Satu ranjang besar, meja dan kursi di sudut ruangan, dan lemari berukuran sedang terbuat dari kayu dipernis. Tirai jendela berwarna putih dengan motif abu-abu. Sementara dinding kayunya dibiarkan dalam warna natural tanpa diberi sentuhan apa pun.
Secara keseluruhan, ruangan ini sederhana dengan warna-warna dasar. Hampir mirip dengan karakter Mic. Terlalu praktis dan biasa.
Bella duduk di kursi kayu di sudut ruangan, menatap fajar yang merekah di langit, tenggelam dalam banyak perenungan. Siapa yang akan mengira pada akhirnya ia berada di kota kecil, jauh dari keluarga, tinggal bersama lelaki paling sarkasme dan paling sulit bergaul, dan meninggalkan karir modellingnya untuk sementara.
Agennya telah memberi tahu resiko Bella. Seorang model bergantung pada ketenaran publik dan dituntut untuk selalu eksis, menunjukkan keberadaannya. Meninggalkan dunia model untuk waktu yang lama bisa berimbas pada nilai ketenaran yang dimilikinya. Apalagi sekarang Bella benar-benar hiatus dan sengaja tidak muncul di mana-mana. Semua ini pasti mempengaruhi pamornya nanti.
Namun mau bagaimana lagi. Kondisi Bella saat ini memang tak berdaya. Dia tak bisa menunjukkan keberadaannya di depan umum, bahkan sosial media saja tidak bisa ia sentuh. Steve telah mewanti-wantinya agar tak mengoperasikan akun apa pun yang terhubung dengan identitas Bella. Semua itu bisa mengarah pada lokasi Bella saat ini.
Kini, di sinilah Bella berada. Terkucil di tempat terpencil, terjebak bersama orang semenyebalkan Mic Navaro. Hidup terkadang membuat leucon parah seperti ini.
Suara selimut bergeser dengan ringan, membuyarkan lamunan Bella. Dia menoleh ke arah Mic yang sebelumnya tertidur, mendapati lelaki itu kini bangun dengan alis berkerut tak menyenangkan.
"Bangun?" Bella berdiri dan melangkah hati-hati mendekati Mic. Mic memiliki aura yang tak bisa diabaikan. Seolah-olah berada satu ruangan dengannya mampu membuat seseorang jatuh dalam tekanan yang tak bisa dijelaskan.
"Hm." Mic terdiam sebentar, sepertinya sedang memilah-milah ingatan terakhirnya. "Kau memanggil dokter untukku?" Suara Mic serak dan dalam, efek dari kondisinya yang baru saja bangun.
"Ya. Kau pulang dengan kondisi yang mengenaskan. Memanggil dokter adalah satu-satunya tindakan yang masuk akal!" Bella menjaga jarak aman dari Mic, berusaha menjelaskan situasinya.
Mic tidak akan marah hanya karena Bella memanggil dokter, bukan? Tanpa pertolongan Max, mungkin hidup Mic perlu dipertanyakan. Dia kehilangan darah dalam jumlah yang banyak, penuh luka di mana-mana, dan kondisinya seperti orang yang siap melangkahkan diri ke jalur kematian.
"Terimakasih!"
Bella tercengang saat mendengar Mic mengucapkan terimakasih. Ini benar-benar seperti iblis yang bertobat menjadi malaikat. Seorang lelaki penuh sarkasme dan kebencian di mana-mana, sungguh-sungguh mengucapkan terimakasih? Mungkinkah hari ini matahari terbit dari barat?
"Max bilang seharusnya kau dibawa ke rumah sakit. Tapi katanya kau tak mudah dibujuk." Bella menjelaskan, bermaksud mengatakan pada Mic luka-luka yang diderita Mic sungguh serius. Jika tidak dirawat dengan benar, mungkin akan menimbulkan efek lain yang tidak baik.
"Tidak perlu!" Seperti yang dikatakan Max, Mic langsung menolak gagasan tersebut. Tampaknya rumah sakit memang bukan sesuatu yang akan dengan mudah didatangi Mic.
Bella tampak ragu-ragu untuk sesaat. Setelah menimbang-nimbang, dia akhirnya memutuskan untuk bertindak nekad dan mengambil resiko dengan melontarkan pertanyaan yang sensitif.
"Luka-lukamu sepertinya bukan hal yang sederhana. Apakah kau terlibat masalah serius? Kenapa tidak memanggil Clive dan mencoba menyelesaikan segalanya dengan baik?" saran Bella. Kata-katanya terdengar logis dan masuk akal.
Masalah bukanlah sesuatu yang bisa dipancing begitu saja. Namun, masalah juga tidak bisa dihindari. Jika itu belum terjadi, lebih baik dijauhi. Jika sudah terjadi, lebih baik diatasi dengan baik.
Clive adalah teman Mic. Mungkin berbicara dan meminta bantuannya adalah solusi yang paling baik dan masuk akal. Seharusnya saran Bella bisa dipertimbangkan dengan baik.
"Jangan ikut campur masalahku!" Mic mengingatkan. Dia paling tak suka ada orang yang mencoba mendiktenya ini itu, seolah-olah orang lain berhak memutuskan hidupnya seperti boneka.
Bella yang mendengar penolakan Mic, mendesah panjang tak berdaya. Masih saja sinis dan sarkastik. Dari mana sebenarnya pendidikan moral Mic berasal?
"Aku hanya memberi saran yang masuk akal. Terserah kau akan menggunakannya atau tidak. Tapi menilai dari karaktermu yang keras kepala, tampaknya tak mudah membujukmu agar bertindak masuk akal!" Bella membuka sedikit jendela, membiarkan udara pagi di musim gugur masuk ke dalam ruangan, memberikan efek kesegaran yang langka. Kota kecil benar-benar liar biasa. Bahkan udaranya adalah suatu mukjizat. Belum tersentuh polutan dan kandungan kemurniannya masih tinggi.
"Hidupku adalah hidupku. Tidak ada yang bisa mencampurinya, apa pun yang terjadi!" Mic mengingatkan. Bulir-bulir keringat tampak muncul di keningnya, menunjukkan stamina Mic terkuras banyak hanya untuk berbincang dengan Bella.
"Bella, kau harus ingat posisimu sebenarnya. Kau hanyalah tamu di tempat ini. Kau tak memiliki wewenang mengambil keputusan dan mendikteku sesuai kemauanmu! Lebih baik kau menjaga mulutmu dengan baik dan tidak berkicau ke mana-mana!" Mic memberikan peringatan kuat.
Dengan kadakter Bella yang impulsif, Mic khawatir situasinya yang sedang terluka disebarkan ke mana-mana. Ini bukan hal yang baik menjadikan situasi Mic sebagai konsumsi publik.
"Tampaknya kau menilaiku dengan sangat buruk!" Bahkan tanpa Mic ingatkan, Bella tahu situasi Mic tidak baik. Kali ini ia tak berencana untuk membaginya dengan Amy atau pun Jasmine. Dengan dua orang itu, satu berita bisa diramu menjadi drama berdarah-darah dengan tambahan adegan di mana-mana. Sungguh tidak baik memberi informasi pada mereka berdua.
"Bukankah kau memang seburuk itu? Bahkan tanpa bukti, kau bisa melaporkan kecurigaanmu terhadap aku kepada Clive. Haha. Tapi sayang, kau tak tahu seberapa baik komunikasi antara aku dan Clive. Apa pun yang kaukatakan padanya, semuanya diteruskan kembali padaku!"
Hubungan adalah sesuatu yang sulit dirusak. Sebagaimana hubungan Mic dengan Clive. Mereka telah menjalin ikatan pertemanan yang erat. Sebagai teman, Clive tak ingin hal-hal buruk terjadi pada Mic, seperti tuduhan lemah yang dilontarkan Bella padanya.
"Hubungan antata kau dan Clive memang cukup baik. Itulah kenapa kau masih bisa bertahan hidup dengan layak di tempat ini!"
"Jadi kau berpikir keberadaanku di sini adalah murni karena belas kasihan Clive dan perlindungannya padaku dalam segala hal?" Kali ini Mic tak bisa menyembunyikan olok-olok dalam suaranya.
"Memangnya apa lagi?" Bella mengerucutkan mulutnya, dalam hati merasakan aura berbahaya yang akan datang padanya.
"Kau benar-benar memancing amarahku, Bella! Kau telah bermain api!" Mic mengingatkan wanita itu. Salah satu matanya yang tak tertutup menyala-nyala penuh api.
…