Terluka

1092 Kata
Mic menatap sesosok Bella yang semakin lama terlihat semakin kabur. Kepalanya berdenyut menyakitkan. Detik selanjutnya saat ia ingin melangkah, pandangannya berubah gelap dalam sekejap. Hal terakhir yang ia ingat adalah aroma lantai kayu yang khas merasuk ke dalam indera penciumannya. Bella tercengang saat mendapati Mic jatuh pingsan di hadapannya. Dia mendekat ragu-ragu ke arah Mic, berlutut untuk memeriksa kondisi lelaki itu, dan mendapati situasi Mic benar-benar mengenaskan. Mengambil napas panjang, mengeluarkannya, berulang kali. Bella mencoba setiap langkah untuk membuat dirinya tenang sesuai langkah yoga yang ia pelajari. Pertama-tama dia harus mengontrol dirinya sendiri, sebelum ia bisa mengontrol orang lain. Setelah cukup tenang, Bella mencari nomor dokter dari catatan telepon di meja ruang tengah, kemudian menghubunginya. Ditemukan di sana nomor dokter bernama Max Mc'Cabbot. "Dokter Mc'Cabbot?" "Ya?" "Maaf, Dok. Ini aku Bella Shancez, wanita yang tinggal di kediaman Mic!" "Ya, Bella. Apakah ada sesuatu yang salah?" "Dok, Mic baru saja kembali dengan kondisi banyak luka. Sekarang ia pingsan. Bisakah kau datang ke sini untuk melihat keadannya?" "Baiklah. Tunggu sebentar! Bisakah kausebutkan luka apa saja yang diderita Mic?" Bella menarik napas panjang. "Ini … seperti luka tusuk dengan banyak pendarahan." "Aku akan datang ke sana dalam seperempat jam. Jika kau bisa, basuh dulu luka Mic yang terlihat parah dengan alkohol, dan balut dengan kain bersih untuk menahan pendarahannya!" saran Max. Pendarahan adalah sesuatu yang harus ditangani dengan cepat. Jika terlalu banyak darah yang hilang, siapa yang tahu apa yang akan terjadi nanti? "Aku akan mencoba melakukan apa yang aku bisa, Dok!" Bella memutuskan sambungan, sebelum akhirnya mengambil beberapa hal dari kotak P3K yang tergantung di ruang tengah. Karena bobot Mic yang berat sehingga Bella kesulitan memindahkannya, Bella akhirnya memutuskan mengambil selimut besar dari kamar, menggeser posisi tubuh Mic dengan susah payah dan menjadikan selimut tersebut sebagai alas. Berurusan dengan darah bukanlah keahlian Bella. Tuhan tahu bagaimana perasaannya sekarang saat ia melihat banyak noda darah di mana-mana, terutama di beberapa luka yang masih aktif mengeluarkan darah segar. Tangan Bella gemetar. Dia terkesiap setiap kali menemukan luka-luka Mic yang menganga, memperlihatkan daging dan jaringan otot yang terputus. Dari semua yang telah dialaminya di masa lalu, Bella tak pernah mempersiapkan mental untuk menghadapi hal-hal seperti ini. Seperempat jam berlalu. Bella berhasil membalut dua luka utama Mic dengan pendarahan paling parah. Saat Max datang, Bella hampir lemas karena lega. "Kau akhirnya datang!" Bella tak pernah sebersyukur ini dalam hidupnya. "Ms. Shancez, bagaimana keadaannya?" tanya Max, menatap Mic yang tergeletak menyedihkan di lantai ruang tengah. Max adalah seorang dokter berusia empat puluhan dengan rambut pirang dan mata biru kehijauan. Dalam kondisi normal, Bella akan tertarik oleh senyum ramah lelaki itu yang mudah menularkan keceriaan dan kehangatan. "Panggil saja aku Bella. Sepertinya parah." Bella menatap sosok Mic dengan tatapan rumit. "Semoga saja masih dalam jangkauan penangananku. Jika tidak, aku akan membawanya ke rumah sakit. Tapi mengingat karakternya, membawanya ke rumah sakit bukan sesuatu yang mudah!" Max mengerutkan kening, melihat beberapa luka Mic yang masih mengeluarkan darah, meskipun darah tersebut tak separah dua luka utama Mic yang dibalut Bella. "Terimakasih untuk kerja kerasmu, Bella! Mic dulu pernah kritis karena pendarahan. Itulah kenapa aku memintamu melakukan pertolongan pertama padanya! Aku tak ingin hal-hal buruk terulang kembali. Tolong, bisakah kausiapkan air bersih untukku? Dan baju ganti untuk Mic dengan bahan yang lembut!" Max kemudian menangani Mic dengan cepat, memberikan beberapa perintah sederhana pada Bella. Satu jam kemudian, Max berhasil menempatkan Mic di ranjang kamarnya sendiri, mengatasi sebagian besar luka Mic, membuat Mic dibalut beberapa perban dan tampak mengenaskan. "Bagaimana keadaannya?" "Beberapa luka yang parah sudah kujahit. Yang lainnya seharusnya baik-baik saja. Sebenarnya, dia perlu ke rumah sakit dengan situasinya saat ini, tetapi dia sangat keras kepala. Tak mudah menyeret Mic ke rumah sakit! Ini adalah perawatan paling maksimal yang bisa aku lakukan untuknya!" Max mendesah panjang, sangat hapal bagaimana karakter Mic sejauh menyangkut tentang rumah sakit. Jika bukan masalah antara hidup dan mati, Mic tak mungkin sudi datang ke tempat itu. Luka saat ini yang dideritanya belum mencapai tahap "hidup dan mati". Membawa Mic ke rumah sakit lebih seperti menciptakan masalah daripada mengatasi masalah. "Mungkin dia akan bangun sebentar lagi. Bisakah aku merepotkanmu?" "Tidak masalah!" Bella tak berdaya. Di rumah ini hanya ada dia. Siapa lagi yang bisa menanggung tanggung jawab merawat Mic selain Bella? Akan terlalu tak manusiawi jika Bella menolaknya. "Tolong perhatikan apakah malam ini dia demam atau tidak. Jika demam, kau bisa mengompresnya dengan air hangat dan memberi obat ini!" Max memberikan kapsul yang mengandung paracetamol. "Dan obat ini, untuk menambah darah. Ini, untuk pemulihan luka. Besok aku akan meninjau lagi keadaannya. Jika ada keadaan darurat, kau bisa menghubungiku!" Max memberi instruksi. Bella mengangguk dengan patuh. Setelah semuanya ditangani, Bella mengantar kepergian Max hingga ke teras. "Tentang tarif tagihanmu …." "Jangan khawatirkan itu dulu. Aku dan Mic berteman. Biar urusan ini menjadi urusan belakangan nanti!" Max mengibaskan tangan, tak terlalu peduli pada tagihan yang sharusnya menjadi haknya. "Tentang luka-luka Mic. Seharusnya ini menjadi luka tusuk, bukan?" Luka serangan dari perkelahian. Bella tidak terlalu bodoh. Tidak mungkin luka seperti itu didapatkan karena jatuh atau menabrak sesuatu secara tidak sengaja. Max menatap Bella cukup lama, kemudian mengalihkan tatapannya pada langit malam yang kebetulan dipenuhi bintang dengan titik-titik cahaya menakjubkan. "Ada hal-hal yang lebih baik tidak kau ketahui, Miss!" Rasa ingin tahu sering kali membunuh keledai. Bella tertawa kecil dengan sinis. "Lebih baik tidak aku ketahui? Haha, lucu … sungguh lucu! Dok, aku adalah orang yang saat ini tinggal dengan Mic. Jika aku tidak tahu bagaimana karakter Mic sesungguhnya, bukankah ini sama saja aku tinggal dengan potensi bahaya? Siapa yang tahu apa yang akan terjadi padaku nantinya?" Kening Max berkerut tak menyenangkan. "Kau berbicara seperti ini seolah-olah kau yakin Mic adalah pihak yang bersalah! Bukankah kau melihat sendiri luka apa saja yang Mic alami? Dengan luka seperti itu, kenapa kau tak berpikir Mic sebagai korban alih-alih menganggap Mic sebagai tersangka?" Nada Max meninggi, menunjukkan ketidaksukaan. Melihat respon Max yang terganggu, Bella hanya bisa mencibir. "Hanya Tuhan yang tahu apakah Mic sebagai korban atau tersangka atas sesuatu!" Meskipun kalimat Bella terdengar netral dan tak memihak, tapi nada sarkasmenya menunjukkan penghakiman dan tuduhan yang kuat. "Dulu aku tidak pernah setuju dengan pendapat Mic. Tapi sepertinya kali ini Mic benar. Berinteraksi dengan wanita kota yang dangkal sepertimu merupakan sesuatu yang mengerikan!" "Apa katamu?" Wajah Bella gelap karena tak terima. Tidak Clive, tidak Max. Semua teman Mic ikut bersikap buruk pada Bella. Pendapat Mic yang subjektif tampaknya berhasil mempengaruhi teman-temannya. "Bukan apa-apa. Selamat malam, Miss. Semoga malammu menyenangkan!" Max memberikan senyum palsu, sebelum akhirnya pergi dengan langkah-langkah cepat. Ujung jasnya yang berwarna putih melambai tertiup angin. …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN