Terkilir

1071 Kata
Sosok Mic tampak seperti makhluk mitos dari kegelapan saat ia melangkah dekat ke arah Bella yang terkapar di rerumputan. Mata keemasan Bella membelalak, berkaca-kaca. Kaki kirinya sakit setiap kali digerakkan. Dia hanya bisa beringsut mundur ke belakang dengan tatapan tak berdaya. "Mic … apa yang akan kaulakukan?" Suara Bella dipenuhi getaran ketakutan. Dia belum pernah merasa terancam seperti ini. Mic menunduk, membiarkan auranya yang kuat melingkupi Bella, menatap kaki Bella sebentar, kemudian mengulurkan tangan. "Jangan! Hentikan!" Penolakan alami dari Bella menghentikan Mic. Gerakan Mic terhenti di udara, matanya yang sekelam malam menatap ekspresi wajah Bella cukup lama, kemudian mundur dengan tiba-tiba. "Bodoh!" Mic berbalik dengan cepat, pergi meninghgalkan Bella. Punggung Mic menghadap Bella, langkahnya semakin jauh, membiarkan Bella seorang diri di halaman rumah yang dingin. Angin musim gugur berembus kencang, membuat Bella bergidik tanpa sadar. Bella berdiri dengan susah payah seorang diri, langkahnya tersentak-sentak menuju pegangan tangga teras, sebelah kakinya diseret dengan memprihatinkan. Bella menatap pergelangan kaki kirinya yang membengkak merah, dalam hati menangis keras karena nasibnya terlalu sial. Jarak dari teras ke kamar di lantai atas terasa jauh, seolah-olah Bella menempuh perjalanan puluhan kilometer. Saat ia berhasil tiba di kamar, tubuhnya yang rapuh langsung terbaring di atas ranjang. Keringat dingin mengalir ke punggung Bella. Wajahnya pucat dan kedua kakinya gemetar hebat. Cedera kaki kirinya terasa lebih menusuk, bahkan digerakkan sedikit saja berhasil membuat Bella meneteskan air mata. Suara ketukan di pintu mengejutkan Bella. Tubuhnya yang tegang semakin tegang. "Bella!" Panggilan Mic. Nada suaranya berat dan malas. Menambah kewaspadaan Bella. Setelah ketukan diulang beberapa kali dan tidak ada respon, Mic membuka pintu yang kebetulan belum Bella kunci, membiarkan sosoknya yang mendominasi masuk ke kamar berukuran kecil. Yah, sebenarnya kamar ini tidak bisa dikatakan kecil juga. Masih termasuk ukuran standar. Hanya saja, saat Mic masuk, entah kenapa ruangan terasa berkerut mengecil, membuat kesan semuanya berubah sempit dan menekan. Melihat kebingungan dan ketakutan dari sepasang mata emas milik Bella, Mic hanya bisa melempar sebuah salep ke atas ranjang, kemudian berbalik pergi. "Untuk kakimu! Aku tidak ingin kau mengadu pada Steve dan mengatakan aku menelentarkan adiknya yang tercinta!" Suaranya dipenuhi sarkasme yang mendalam. Pintu kamar kembali ditutup oleh Mic dengan suara keras, tetapi Bella tak terlalu tersinggung dengan tindakannya. Lelaki itu memang selalu kekurangan sopan santun dasar. Bella mengambil salep yang ditinggalkan Mic, menatap benda kecil ini dengan tatapan rumit, kemudian dengan hati-hati mengoleskannya pada kakinya yang bengkak. "Ssshhh. Sial. Terlalu sial hari ini!" Bella tak bisa menahan kutukan saat kakinya berkedut kesakitan setiap kali ia mengoleskan gel dengan kandungan zat aktif ketoprofen. ... Sepanjang hari ini Bella menghabiskan banyak waktu di kamar untuk berbaring. Kakinya masih merasa tidak nyaman, sehingga semua aktifitas di luar ruangan terpaksa Bella hindari. Menjelang sore, Bella yang merasa kakinya sedikit membaik, duduk di ruang tengah dengan secangkir kopi panas. Mic sedang keluar saat ini, entah ke mana. Bella merasa bahagia dengan fakta itu. Tak ada sama sekali aktifitas mesin kayu yang beroperasi yang biasanya cukup mengganggu bagi Bella. Baguslah jika lelaki itu pergi. Setidaknya tanpa Mic, Bella merasa sedikit tenang, tanpa ancaman yang tak jelas. Dering telepon berbunyi nyaring. Bella yang kebetulan duduk tak jauh dari telepon rumah, beringsut mendekat untuk menerima sambungan. Mic sedang keluar. Kenapa harus ada orang yang menghubunginya? Kening Bella berkerut dengan jejak kekesalan. "Maaf, Mr. Navaro sedang keluar saat ini. Bisakah kau menghungi kembali nanti?" Tanpa menanyakan identitas si penelepon, Bella langsung beramaksud menyudahi sambungan. Namun, belum sempat hal ini terjadi, suara di seberang sana menahannya. "Bella sayang, ini aku, Amy." Amy setengah berteriak. "Amy?" Bella terdengar bingung. "Ya. Ini aku. Aku mendapatkan nomor Mic dari buku telepon lama. Aku khawatir dengan keadaanmu, aku berusaha menghubungimu siang tadi, tapi tak ada yang menjawab. Jadi aku melakukan lagi kali ini. Beruntung kau menerimanya!" Mendengar nada prihatin yang tulus dari wanita itu, Bella akhirnya tersenyum kecil. Setidaknya di tempat asing ini, masih ada orang yang tulus memperhatikannya. "Aku baik-baik saja, Amy. Jangan terlalu berpikir hal-hal buruk!" Bella menggeleng lemah, mencoha menenangkan kekhawatiran Amy yang semakin lama semakin seperti kerabat sendiri. "Bagaimana aku bisa berhenti memikirkan hal-hal buruk. Kemarin kau baru saja mendatangi Clive untuk mengungkapkam hal buruk tentang Mic. Dengan kedekatan mereka, aku pikir Clive pasti segera memberi tahu Mic terkait insiden ini. "Kau menebaknya dengan akurat, Amy. Saat aku pulang tadi malam, Mic sudah menungguku! Tebak untuk apa?" "Untuk memperingatkanmu! Memberimu pelajaran agar kau berhenti bertindak tidak menyenangkan!" "Ya." Bella menarik napas panjang, tak mengira Amy lebih pintar darinya. Jadi siapa di sini sebenarnya yang bodoh? "Apakah Mic melakukan sesuatu padamu?" tanya Amy hati-hati. "Jika kau menderita apa pun itu, jangan pendam sendiri! Katakan saja padaku!" Sebagai seorang wanita yang telah lama jauh dari anak-anaknya, Amy merasa kedekatan tertentu pada Bella. Dia tak ingin Bella mengalami hal-hal buruk terkait Mic. "Tidak." Secara fakta, Mic memang tidak melakukam hal-hal buruk pada Bella. "Tapi aku secara tak sengaja jatuh dan kakiku terpelintir!" kata Bella lagi dengan malu. "Kakimu … terpelintir?" "Ya. Aku menghabiskan sepanjang hari ini di kamar!" "Bagaimana keadanmu sekarang? Apa kau sudah memanggil dokter? Aku akan melakukannya untukmu jika belum!" "Jangan khawatir, Amy. Aku sudah menerapkan salep dan kakiku sudah membaik sekarang!" Bella mencoba menenangkan Amy. "Ini sudah lebih baik. Aku bisa berjalan pelan-pelan lagi!" lanjut Bella kemudian, tak ingin Amy semakin cemas. "Baguslah! Aku benar-benar khawatir padamu!" Amy menghela napas lega. "Ngomong-ngomong, Bella. Putraku akan pulang dua hari lagi. Dia tinggal di kota selama ini. Bisakah aku mengundangmu makan malam?" "Tentu saja! Aku pasti akan datang untukmu!" Bella berkata pasti. Mereka berbincang sebentar, sebelum akhirnya memutuskan sambungan. Hari telah sore. Senja menggantung di langit dengan cahaya keemasan yang menawan. Bella berjalan tertatih-tatih ke jendela, menarik tirai menutupi jendela besar dan menghidupkan setiap lampu di ruangan. Setelah seluruh ruangan terang oleh lampu, Bella kembali duduk di ruang tengah, menghabiskan secangkir kopi yang tadi ia buat. Suasana hati Bella mulai tenang. Berada di rumah ini seorang diri tanpa Mic memberikan rasa aman tersendiri. Andai saja Mic pergi lebih lama. Itu akan lebih baik. Sayangnya, semakin tinggi harapan, semakin besar kekecewaan yang ditanggung. Beberapa menit kemudian, Bella mendengar pintu utama terbuka, kemudian langkah-langkah orang terseok-seok. Kening Bella berkerut dengan kecurigaan. Bella berjalan tertatih-tatih menuju ruang tamu, melihat apa yang sedang terjadi. "Mic!" Bella tercengang melihat Mic penuh luka. Kemeja Mic tergores dan robek di beberapa tempat, lengan dan kakinya disayat benda tajam, dan darah keluar dengan deras. Wajah lelaki itu pucat pasi. Lantai kayu penuh noda berwarna merah. "Apa yang terjadi padamu?" teriak Bella kemudian. …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN