"Anne Stewart mantan kekasih Mic?" Informasi ini cukup mengguncang. Bella teringat dengan wanita mungil berparas manis yang menyiratkan aura keramahan dan jejak ketulusan. Membayangkan wanita seperti itu bersama Mic, ini seperti sinar matahari bersanding bersama kegelapan malam.
"Ini cerita lama. Bisa dikatakan mereka kekasih sejak remaja. Dan hubungan ini berlanjut hingga sepuluh tahun yang lalu. Ini … sangat lama sebenarnya, sehingga aku kadang lupa tepatnya kapan. Yang jelas, dulu banyak masyarakat sini beranggapan Mic akan menikahi Anne, mengingat hubungan mereka yang langgeng. Tapi itu berubah setelah kedatangan Sevana. Wanita itu datang ke kota kecil ini, penampilan dan kecantikannya cukup glamor untuk mengguncang banyak orang.
"Ah. Siapa yang mengira akhirnya Mic jatuh dalam pesona wanita itu. Dulu ada banyak rumor. Ada yang mengatakan Sevana pihak ketiga antara Mic dan Anne, ada yang mengatakan saat itu Mic memang sudah berpisah dengan Anne karena suatu alasan dan Sevana masuk ke dalam kehidupan Mic di tengah-tengah masa kekosongan ini. Intinya adalah, Mic akhirnya menikah dengan Sevana. Hubungannya dengan Anne agak kacau saat itu! Anne dan Sevana sering terlibat perdebatan. Entah siapa yang memulai lebih dulu!"
Mendengar ini, tampaknya masa lalu Mic tidak sederhana.
"Aku tidak menyangka Mic bisa memiliki orang seperti Anne!"
"Ah. Dulu Mic cukup menawan. Wajahnya masih baik-baik saja. Prestasinya juga cukup bagus di sekolah dan dia melanjutkan pendidikannya di collage Washington D.C.. Selain itu, sikap Mic tidak sedingin sekarang!"
"Kau bercerita seolah-olah Mic menjadi orang lain!"
"Itu memang benar. Mic yang dulu dengan Mic yang sekarang jauh berbeda."
"Mengenai wajah itu …." Bella tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Yah. Luka ini terkait dengan kejadian kematian Sevana. Banyak rumor beredar, aku sendiri tidak terlalu yakin bagaimana itu terjadi. Karena setiap rumor dibumbui kejadian-kejadian berlebihan. Siapa yang tahu apa yang terjadi sesungguhnya?"
Bella mengangguk, tampak memahami dengan baik. Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia modelling, Bella tahu bagaimana kekuatan rumor bekerja. Bukan hal yang mustahil fakta sederhana bisa beredar menjadi seribu satu cerita berlebihan dengan banyak detail palsu di mana-mana. Hanya saja, segila apa pun rumor beredar, biasanya tetap memiliki garis merah yang tak jauh dari kenyataan yang ada, meskipun garis ini samar. Garis inilah yang banyak orang tidak mengetahuinya.
Rumor itu layaknya asap. Selalu ada api sebagai sumbernya. Letak sumber inilah yang kadang tidak diketahui, karena arah asap yang pergi menjangkau jauh tergantung kekuatan angin.
"Sekarang kau langsung menerjang rumah Clive dan mengatakan semua pikiran burukmu padanya terkait Mic. Bukankah ini sama saja dengan bunuh diri?"
Yah. Nasi sudah menjadi bubur. Tak ada obat bagi penyesalan di dunia ini. Bella merentangkan tangan dengan pasrah, tak tahu lagi harus bagaimana.
"Sudahlah, Bella. Jangan ulangi lagi kebodohanmu!" Amy tak ingin terlalu menekan mental Bella. Dia menghibur Bella dengan kata-kata manis dan kembali menyemangati Bella. Tapi tetap saja suasana hati Bella masih suram. Semakin malam, semakin ia tak ingin kembali ke kediaman Mic.
"Kau bisa menginap di sini, Sayang! Aku akan menghubungi Mic nanti. Sepertinya nomor rumah Mic masih belum berubah dari buku telepon yang kumiliki!" Amy yang mengetahui keengganan Bella, mencoba menawarkan jalan keluar.
"Tidak perlu. Biarkan aku kembali!" Meskipun ingin, tetap saja Bella tak bisa bermalam di sini. Steve menitipkan Bella pada Mic, dan Mic pernah mewanti-wantinya agar tidak bertindak liar dan bekeliaran sesukanya. Hari ini Bella telah keluar cukup lama. Dia tak ingin menciptakan masalah untuk dirinya sendiri.
"Kau yakin?"
"Yakin. Aku kembali dulu, Amy. Istirahatlah dengan baik!"
"Tunggu sebentar. Aku akan meminta Megg Candy mengantarmu!" Megg adalah tetangga Amy yang masih berusia awal tiga puluhan. Dia seorang janda dengan temperamen riang dan mudah didekati. Sebenarnya jarak antara rumah Amy dan Mic masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki meskipun menghabiskan waktu yang lumayan lama. Namun, karena ini malam hari, Amy tak tega membiarkan Bella berjalan seorang diri.
Tak ingin menolak keramahan Amy, akhirnya Bella menerima tewaran tersebut. Tak berapa lama kemudian, Bella tiba di kediaman Mic yang berpenerangan redup. Megg yang mengendarai pick up menatap Bella dengan tatapan simpati.
"Apa kau yakin akan kembali ke sini?"
"Ya. Terimakasih, Megg. Hati-hati saat kau berkendara pulang!"
"Kau …."
"Ada apa?" Melihat keraguan Megg, Bella menaikkan salah satu alisnya dengan penuh tanda tanya.
"Tidak apa-apa. Hati-hati, oke?"
Bella mengangguk, memahami kekhawatiran Megg. Meskipun wanita itu baru pertama kali berinteraksi dengan Bella, Bella mampu merasakan ketulusan dan rasa simpatinya. Sudah bukan menjadi rahasia lagi jika Mic memiliki antipati tertentu pada wanita seperti Bella. Keberadaan Bella di kediamam Mic telah menjadi sorotan bagi sebagian besar orang.
Bella mendesah panjang, berjalan perlahan ke rumah kayu bergaya tudor dengan cahaya lampu keemasan. Cahaya bulan jatuh menyinari halaman, membuat rumput yang terhampar luas tampak seperti karpet lembut dengan pantulan riak yang menawan. Kolam di samping rumah bergemericik, sesekali ikan di dalamnya melompat keluar bermain-main.
Susana seperti ini seharusnya membawa kedaiaman dan jejak kenyamanan. Seandainya saja tak ada Mic. Mungkin pondok di depannya bisa Bella jadikan sebagai tempat liburan paling indah sepanjang sepuluh tahun terakhir hidupnya.
Saat Bella tiba di undakan tangga terakhir menuju teras, pintu utama berderit, terbuka perlahan dari dalam. Detak jantung Bella berdegup lebih kencang. Seluruh tubuhnya kaku karena waspada.
Detik selanjutnya, sesosok tubuh yang sangat familier berdiri di hadapannya, dengan kedua lengan disilangkan, menatap Bella penuh permusuhan.
"Mic." Bella menyebut nama tersebut tanpa sadar. Ujung-ujung jemarinya terasa dingin, menunjukkan betapa ia gugup.
"Sudahkah kau puas, Bella?" tanya Mic santai, tetapi auranya memancarkan tekanan yang tak bisa Bella abaikan.
"Puas?" Bella tampak bingung.
"Setelah melaporkan kecurigaanmu melihatku memiliki jejak darah pada sheriff, apakah sekarang kau puas? Ataukah masih ingin melaporkan hal-hal lain lagi?" Sebelah mata Mic yang tak tertutup kain tampak menyipit membentuk garis lurus, menghujam Bella dengan tatapannya yang mematikan.
Bella mengerutkan bibirnya dengan tak nyaman. Siapa yang mengira tindakannya langsung diketahui Mic?
"Tampaknya hubunganmu dengan sheriff cukup bagus, sehingga informasi apa pun yang Mr. Burke miliki disampaikan padamu dalam waktu yang singkat!" Bella menguatkan mentalnya, mencoba menutupi rasa takut yang ia alami.
Apa yang dikatakan Amy benar. Clive dan Mic bersahabat. Kemungkinan besar Clive cenderung memihak Mic.
"Kau datang ke sini untuk perlindungan. Tapi tampaknya kau terlalu lancang mencampuri urusan yang seharusnya tidak kaucampuri. Wanita sepertimu akan selalu merepotkan dan menciptakan masalah secara berulang!"
"Apa … apa maksudmu?"
"Sudah kukatakan kau tak bisa bertindak sembarangan, Bella. Pahami batasmu! Atau—"
"Atau apa?" Bella mundur selangkah, tampak gugup saat Mic berjalan mendekat ke arahnya.
"Atau kau akan menyesalinya!" Mic tersenyum sinis, memberikan peringatan secara langsung.
Bella melangkah mundur lagi, untuk menjauhkan diri dari aura Mic yang menekannya. Hanya saja, Bella kali ini melupakan satu hal.
"Aahh!"
Kaki Bella melewati tangga teras, pergelangannya terpuntir dalam posisi yang salah. Dia terjerembab jatuh ke halaman berlapis rumput, merasakan nyeri luar biasa di pergelangan kaki kirinya.
Bella beringsut mundur dengan penampilan menyedihkan, menahan seluruh rasa sakit di kakinya. Kedua tangannya gemetar hebat, sementara matanya dipenuhi ketakutan yang nyata.
…