Bella duduk di salah satu kursi kayu sederhana di sebuah kedai, menatap ke arah dinding dengan banyak tulisan tangan yang berantakan. Di depannya, secangkir kopi dengan pai berukuran sedang tersaji utuh. Tangan Bella melingkari cangkir, meniupnya pelan beberapa kali, kemudian menyesap cairan itu dengan malas.
Semuanya berada di luar dugaan. Laporan tidak resmi yang Bella lakukan pada sherif nampaknya tak berdampak apa pun. Suasana hati Bella berubah menjadi lebih suram, selera makannya hilang seketika. Pai di depannya tidak ia sentuh sama sekali.
Setelah setengah jam duduk di sini, Bella menyadari hari telah berubah senja. Ia pergi dari kedai, menyisipkan tips tambahan di atas meja, dan melambai ramah pada salah seorang pelayan yang berdiri di belakang konter.
Hari telah senja. Matahari sebentar lagi tenggelam. Semburat merah di langit menciptakan pemandangan indah, seperti cahaya ajaib kemerahan dengan sentuhan emas yang menawan. Bella sedikit linglung. Saat ia tiba di pertigaan jalan, arah yang ia ambil berubah dalam sekejap. Bukan ke kiri jalam di mana kediaman Mic berada, tapi ke kanan jalan. Suasana hati Bella sedang tak terlalu baik. Daripada kembali ke kediaman Mic dan bertemu lelaki itu, lebih baik mampir ke kediaman Amy terlebih dahulu.
Meskipun Amy memiliki mulut besar, setidaknya wanita itu cukup ramah dan memberikan kenyamanan tersendiri untuk Bella.
Wajah Bella yang halus dipenuhi bulir-bulir keringat saat ia tiba di depan rumah Amy. Dia mengetuk pintu kayu beberapa kali sebelum akhirnya Amy membukanya dari dalam.
"Hei, Bella sayangku …." Amy menyambut dengan baik. "Ini menjelang petang. Kau sengaja mampir ke sini?" Kening Amy berkerut dalam, menatap langit yang kini mulai sepenuhnya gelap.
Di kota kecil ini, aktifitas harian masyararakat masih sederhana dengan waktu teratur. Pagi bekerja hingga sore, pulang kembali ke rumah, begitu terus kebiasaan yang terbentuk. Jarang dari mereka yang bekerja larut tanpa ada alasan-alasan khusus. Jadi di waktu seperti ini, kunjungan Bella sedikit tidak biasa.
"Aku baru saja berkunjung ke rumah sheriff, mampir ke kedai sebentar, kemudian datang ke sini!" Bella masuk ke ruang tamu kecil, duduk di salah satu kursi tua berlengan, dan membiarkan Amy membuatkan secangkir teh untuknya.
"Apakah aku tidak salah dengar? Kau baru saja datang ke rumah sheriff?" Sebelumnya Bella memang sempat bertanya pada Amy terkait lokasi kediamam Clive. Hanya saja Amy tak menyangka akan secepat ini Bella bergerak.
"Ya. Aku merasa curiga pada beberapa tindakan Mic sebelumnya. Dua kali aku melihat Mic memiliki jejak darah, jadi aku membicarakan ini pada sheriff setempat!" Bella menjelaskan.
Sebelumnya, Bella sengaja menyimpan informasi ini dari Amy karena Amy memiliki kebiasaan bergosip yang sangat parah. Namun, mengingat tanggapan ringan Clive dan sikapnya yang sepele, mungkin informasi yang Bella simpan ini sebenarnya tak terlalu berharga. Untuk apa sekarang ia tetap menyimpannya sebagai rahasia?
"Ah ah apa ini? Kau melihat Mic berdarah? Tunggu tunggu sebentar, biarkan aku duduk dan mendengarkan dengan baik ceritamu. Ayo kita ke ruang tengah. Bawa tehmu dan aku akan membawakanmu waffle yang tadi kubuat. Di ruang tengah lebih hangat karena aku baru saja menghidupkan perapian!"
Meskipun ini musim gugur, tapi bagi Amy yang suka kehangatan, ia sudah siap sedia menggunakan perapian untuk meningkatkan kenyamanannya sendiri. Usia semakin bertambah. Udara musim gugur sering kali membuat Amy kedinginan di malam hari. Tubuhnya tidak lagi sekebal dulu saat ia masih muda dalam menghadapi suhu rendah.
Terpaksa pindah tempat, Bella akhirnya menjelaskan dengan sabar situasi yang ia hadapi beberapa waktu sebelumnya saat ia melihat Mic dengan jejak darah. Amy yang mendengarnya, menatap Bella dengan ekspresi tertarik seperti nenek tua menyaksikan pertunjukan teatrikal luar biasa, sesekali membetulkan selimut tipis yang ia gunakan untuk menutupi kakinya.
"Ya Tuhan. Jadi kau melihat Mic bernoda darah dua kali? Kau melaporkan hal ini pada Clive? Itukah tujuanmu datang ke rumahnya hari ini?"
"Ya. Itulah kenapa aku ke sana. Aku mengatakan ini padanya sebagai pembicaraan yang tak resmi!" Bella mendesah panjang, merasa tidak nyaman setiap kali teringat tanggapan sheriff tentang ceritanya.
"Bagaimana tanggapannya?" Amy mengusap keningnya yang berkerut beberapa kali, tatapan matanya sedikit melayang.
Derak suara kayu yang dibakar menambah kesan kehangatan suasana di antara mereka. Bella merasa lebih santai dan nyaman. Dia membetulkan posisi duduknya, mencoba bersandar ke belakang dengan tambahan sandaran bantal rajut berukuran mini di belakang punggung.
"Dia tidak menanggapinya dengan baik. Clive berkata aku melihat Mic berdarah tidak bisa menjadi indikasi hal-hal buruk. Bisa saja darah itu darah binatang, atau darah luka Mic sendiri." Bella mengerucutkan mulutnya dengan ekspresi suram. "Sebenarnya, aku tahu mungkin kecurigaanku terlalu mengada-ada. Apa yang dikatakan Clive bisa saja benar. Tapi aku merasa curiga dan tidak nyaman. Aku merasa Mic seharusnya tidak sesederhana itu."
Berbicara tanpa bukti yang kuat telah menjadi kesalahan bagi Bella. Ia tahu itu. Tapi ia bertindak berdasarkan kewaspadaannya sendiri Apakah salah jika terlalu waspada?
"Sherif seolah-olah menganggap aku sengaja melakukan tuduhan tak berdasar pada Mic. Alih-alih dia menghargai informasi yang aku berikan, aku lebih merasa dia seperti ingin membuatku tetap diam dan tidak membesarkan masalah. Amy, apakah aku salah? Mungkinkah aku terlalu picik dalam menilai orang? Tapi aku benar-benar merasa ada yang tidak benar dari tindak-tanduk Mic. Bagaimana menurutmu?"
Tidak ada yang bisa ajak Bella untuk berbagi pikiran selain Amy. Jadi kini ia memutuskan untuk terbuka pada wanita tua itu.
Melihat pembicaraan dua orang yang tampak serius, Cathy, kucing menggemaskan yang baru saja bangun dari tidur, berjalan pelan ke arah Bella dan mengusap kakinya dengan manja. Bella menepuk-nepuk kepala Cathy penuh kasih sayang.
"Jika aku jadi kau, aku pun akan merasa tidak nyaman pada Mic. Tapi melaporkan hal-hal ini pada Clive juga tidak bisa dikatakan tindakan yang tepat, Bella." Amy menilai dengan objektif. "Ceritamu masih penuh dengan celah. Pertama, seperti yang kaukatakan, darah itu bisa saja darah binatang atau darah luka seseorang. Belum tentu hasil dari tindak kriminal. Kedua, tidak ada tindakan yang Mic lakukan sebagai bentuk untuk membungkammu saat kau melihat jejak darah itu, bukan?"
"Sebenarnya … tidak!"
"Nah itu dia. Dia tidak memukulmu hanya untuk membuatmu tutup mulut?"
"Tidak!"
"Dia tidak mengancammu?"
Bella ragu-ragu. "Tidak terlalu."
"Dia tidak menekanmu?"
"Yah, secara verbal dia membuatku tertekan. Meskipun secara fisik aku tidak dirugikan!"
"Tekanan verbal sulit dikategorikan sebagai bentuk ancaman kecuali ada bukti kuat yang mendukungmu. Apakah ada rekaman tertentu? Bukti pengawasan?"
"Tidak tidak. Ini tidak seperti itu. Mic tidak menganggap jejak darah yang aku lihat darinya sebagai suatu ancaman baginya. Jadi dia tidak mengancamku sejauh itu!"
"Itu dia. Ceritamu masih penuh dengan celah. Logikanya, jika Mic melakukan kesalahan, dia pasti akan sengaja membungkammu. Tidak ada yang suka meninggalkan saksi. Jadi dinilai dari sikap Mic, dia tampaknya tidak merasa melakukan hal-hal negatif. Untuk apa kau menyampaikan hal ini pada sheriff? Apakah kau kekurangan masalah?"
Diingatkan seperti ini, kini Bella menyadari ia telah melakukan kesalahan. Kenapa ia bisa sebodoh ini mengungkapkan pada sheriff? Pantas Clive merespon Bella dengan jejak ketidaksukaan.
"Kau benar! Aku terlalu impulsif!" Bella menatap Amy dengan ekspresi penyesalan yang tulus.
"Jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri. Lagi pula, meskipun kau memiliki bukti yang kuat, tak mudah bagimu menjatuhkan Mic. Apalagi tanpa bukti kuat."
"Kenapa memangnya?"
"Bukankah aku pernah mengatakan padamu sheriff kota ini memiliki hubungan dekat dengan Mic? Kaupikir, bagaimana Clive bisa melawan sahabatnya sendiri? Bertahun-tahun yang lalu saat Mic dituduh membunuh, sheriff yang menjabat adalah Eiden Burke, kakak Clive. Kini, sheriff yang menjabat adalah adiknya. Baik Clive dan Eiden sama-sama sahabat Mic. Dua orang ini memiliki sikap istimewa pada Mic. Ah tambahkan satu lagi. Anne, tunangan Clive, dia juga mantan kekasih Mic. Tiga orang ini selalu berada di pihak Mic."
…