Kunjungan ke Sheriff

1111 Kata
Bella duduk di ruang tamu sebuah rumah kayu dengan banyak hiasan dinding dari kulit binatang. Ada aroma gaharu samar, tercium harum dengan campuran wewangian unik. Di sudut meja, terdapat mesin pembuat kopi yang kini sedang bekerja dengan dengungan pelan. Wanita mungil dengan wajah berbentuk hati berdiri di dekat mesin pembuat kopi, dengan dua camgkir di tangan. "Gula?" tawar Anne pada Bella. "Ya. Satu sendok. Dengan cream, tolong!" Bella tersenyum dengan ramah. Tak berapa lama kemudian, Anne menyuguhkan secangkir kopi pada Bella dengan tatakan berukir. "Sesuai permintaanmu!" katanya ramah. Anne adalah wanita mungil dengan mata hitam yang jernih dan menawan. Wajahnya yang manis memberikan kesan ramah dan mudah didekati. Pembawaannya yang ceria terlihat dari caranya bersikap. Dalam sekali pandang saja, Bella bisa dikatakan menyukai tipe karakter sepertinya. "Tunggu sebentar. Clive sedang mandi. Dia tak akan menghabiskan banyak waktu!" Anne tersenyum ringan, mengamati Bella dengan tatapan yang terang-terangan. Sore ini, Bella memutuskan untuk bertemu dengan sheriff setempat untuk mengatakan beberapa hal. Karena tak ingin terlalu resmi, Bella akhirnya memilih berkunjung ke rumah Clive secara pribadi setelah ia mencari tahu dari Amy tempat tinggal ini, alih-alih pergi ke kantor sheriff. "Apakah kau wanita kota yang disebut-sebut tinggal di kediaman Mic?" tanya Anne kemudian. Mereka telah saling bertukar nama. Mendengar nama Bella Shancez, Anne langsung bisa menebak status Bella dalam sekejap. Rumor Mic menerima tamu dari kota bernama Bella telah merebak ke mana-mana. Di kota kecil seperti Outhsphilled, mudah sekali informasi berkembang dari mulut ke mulut. "Ya. Tampaknya kabar tentangku telah tersebar ke mana-mana!" Bella tersenyum getir. Sebenarnya, mengingat bagaimana Amy dan Jasmine bergosip, Bella sudah menebak keberadaannya pasti telah diketahui banyak orang. Dengan dua mulut besar seperti mereka, justru dipertanyakan jika berita keberadaan Bella tidak tersebar. "Kau harus terbiasa dengan kota kecil ini. Kabar sekecil apa pun akan dikomsumsi publik! Ini berbeda dengan kebiasaan kotamu!" Anne mengingatkan. Sebagai wanita yang pernah tinggal di kota besar untuk menyelesaikan study, Anne tahu dengan baik perbedaan besar tinggal di kota metropolitan dan tinggal di kota kecil seperti tempat ini. "Ya. Banyak hal berbeda!" Bella mengangguk kecil, merasa kesepian dan sendirian. Tidak banyak aktifitas yang bisa ia lakukan di sini. Sebagai wanita yang terbiasa sibuk dan suka mengejar waktu untuk banyak kegiatan, Bella mulai merasa bosan dan jenuh. Sampai kapan ia tinggal di tempat kecil ini? Jika terlalu lama, Bella takut mentalnya tidak sanggup menerima. Melihat ekspresi tertekan Bella, Anne dapat memahami dengan baik konflik yang dialami Bella. Wanita mana pun yang terbiasa hidup di kota sibuk yang tak mengenal waktu, tentu saja tak mudah beradaptasi di kota kecil ini. Banyak hal berbeda. Banyak hal tak sama. "Apa profesimu sebelumnya?" tanya Anne dengan penuh minat. "Model!" Bella tersenyum kecil. "Oh Tuhan." Anne terkesiap pelan. Dia kembali mengamati sosok Bella lebih hati-hati, kemudian mengangguk kecil tanpa sadar. "Pantas. Dengan kecantikanmu, seharusnya aku bisa menebaknya!" Tak ada olok-olok dalam nada suara Anne. Hanya rasa ingin tahu murni sebagai bentuk reaksi penasaran. Melihat reaksi Anne, Bella tanpa sadar menghela napas lega. Setelah dihakimi buruk oleh Mic karena status modelnya, Bella entah kenapa jadi memiliki kewaspadaan pada setiap orang di kota ini setiap kali ada yang bertanya tentang profesinya. Namun, tampaknya Bella terlalu berlebihan. Tidak semua orang sama dengan Mic. Tidak semua orang berpikiran sempit seperti Mic. Model bukan jenis profesi yang rendahan. Ini tak berbeda dengan profesi lain dengan tingkat kesulitan dan ketekunan yang tinggi. "Ada apa? Kau tampaknya sedikit tegang sebelumnya?" Anne yang melihat perubahan respon dari Bella, menjadi semakin penasaran. "Tidak apa-apa. Hanya saja melihat reaksimu yang tidak menunjukkan antipati pada profesiku, itu sedikit melegakan!" Bella berkata jujur. Dia bukan jenis orang yang akan tertekan dengan banyak hal. Tapi entah kenapa, setiap kali teringat olok-olok Mic pada profesinya, Bella merasa tidak nyaman. Kini, ketidaknyamanan itu terbayar kembali melihat reaksi Anne yang normal. "Kuduga ini pasti terkait dengan Mic, bukan?" tebak Anne dengan akurat. "Dia pasti mengolok-olok profesimu! Hei, jangan dengarkan dia! Setiap profesi itu berharga. Masing-masing memiliki perannya sendiri! Jangan memasukkan semua kata-kata Mic ke dalam hati! Mulutnya memang setajam itu!" Anne sepertinya mengenal Mic dengan baik. Dia mengibaskan tangannya, tak setuju oleh tindakan Mic yang selalu menilai orang secara subjektif. "Kau tampaknya mengenal Mic dengan baik!" Bella berkomentar. "Ya. Kami mengenal cukup baik. Aku tahu bagaimana karakternya. Dia memang memiliki mulut yang tajam dan mudah menghakimi seseorang, terutama wanita-wanita kota. Kau jangan terlalu mendengarkannya! Hanya akan membuatmu tertekan dan sedih nantinya!" Anne mengingatkan. Sudah bukan rahasia lagi bagaimana Mic membenci wanita-wanita kota. Bagi lelaki itu, makhluk berrok pendek yang berasal dari kota adalah monster yang patut ia hindari. Antipati yang Mic miliki pada wanita kota sangat kuat dan dalam. "Dia sepertinya memang memiliki kebencian tak masuk akal pada wanita kota. Yah, sekarang kebencian itu jatuh padaku!" Bella meringis kecil, suaranya getir dan dipenuhi keluhan. Apa salah Bella? Apa kekeliruan yang Bella buat? Sehingga dia selalu diserang secara verbal oleh Mic di setiap waktu. Seolah-olah Mic memang dilahirkan untuk mengganggu dan menekannya. "Kau harus belajar mengabaikan dia! Jangan buat dirimu tertekan hanya karena omongannya! Jika aku melihatnya lain kali, aku akan memberinya peringatan!" Anne sedikit kesal. Lama-lama sikap paranoid Mic pada wanita kota semakin tak masuk akal dan berlebihan. Kebenciannya bisa dipahami, tetapi jika Mic memukul rata dalam menilai setiap wanita kota seperti sekarang, sebenarnya ini juga bukan hal yang bagus. Banyak pendapat dan opini Mic mulai tidak objektif lagi. Mendengar nada kesal Anne dan janjinya untuk memberi Mic peringatan, Bella mengerutkan kening dalam-dalam. Tampaknya Anne ini bukan orang sembarangan. Orang-orang bilang Anne adalah tunangan sheriff, tapi mungkin ada kekuatan tersendiri yang Anne pegang di tangannya. Sesuatu yang tidak bergantung pada kekuatan tunangannya sama sekali. Selain itu, wanita yang bisa memberi Mic peringatan pasti bukan wanita sembarangan. Bella harus bersyukur tentang ini. "Terimakasih atas pengingatmu, Anne!" Bella dengan tulus menyatakan terimakasih. "Ini bukan apa-apa. Sebentar, tampaknya Clive telah selesai, aku akan memanggilnya lagi!" Anne meninggalkan Bella sendirian di ruang tamu selama beberapa menit. Tak berapa lama kemudian, seorang lelaki n***o berperawakan kuat keluar dari dalam, dengan pakaian kasual yang menunjukkan temperamen mulianya. "Kudengar dari Anne kau ingin bertemu denganku?" tanya Clive, tersenyum profesional dan duduk di kursi yang sebelumnya Anne gunakan. "Ya. Aku Bella Shancez, tamu Mic Navaro yang sementara ini tinggal di kediamannya. Panggil saja aku Bella!" "Clive Burke. Panggil saja aku Clive." Mereka saling berjabat tangan, tersenyum tulus satu sama lain. "Baiklah, Bella, tampaknya ada sesuatu yang ingin kaubicarakan denganku!" Clive langsung menuju topik pembicaraam utama. "Ya, Sir. Kudengar kau adalah sheriff daerah ini!" "Itu benar. Jadi jika kau mengalami masalah atau hal-hal yang mengganggu, katakan saja padaku dengan baik. Aku pasti akan berusaha membantumu!" "Sir, aku ingin mengungkapkan sesuatu terkait Mic. Aku melihat dia dua kali memiliki jejak darah! Mungkin ada sesuatu yang disembunyikan Mic!" …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN