Sabrina melangkahkan kaki nya memasuki rumah sakit yang sudah atas nama nya itu dengan santai, memasang wajah dingin dan datar nya tanpa ada raut khawatir apalagi panik. Kalau bukan semua orang memojokkan nya untuk datang ke sini, pasti dia tidak akan ingin melakukan hal yang membuang waktu seperti ini. "Pak! Non Sabrina sakit. Demam nya dari semalam gak turun-turun." "Kamu kompres saja dengan air dingin. Saya tengah sibuk." "Tapi pak---" "Udah lah Bi. Demam gak akan bikin anak ini langsung mati!" Tangan Sabrina yang berada di dalam saku jaket seketika terkepal saat bayangan itu kembali memasuki benak nya. Mata tajam nya menyorot pintu coklat yang ada di hadapan nya, yang mana jika di buka akan membawa nya ke dalam sana. Dimana seseorang tengah di rawat di sana. "Sa!" Sampai sebuah

