TIGA

2582 Kata
Malvin melirik jam tangan nya, sudah pukul 3 sore. Sudah sekitaran dua jam Zeta tidur dan belum juga bangun. Di lirik nua Zeta yang masih setia dalam tidur, dia tersenyum lalu mengelus pipi istrinya itu dengan lembut. Malvin sengaja membawa laptop nya ke kamar tersebut guna menemani Zeta yang tengah tidur. Tok tok... Malvin bangkit berdiri saat pintu ruangan nya di ketok dari luar. Mungkin itu OB yang dia suruh membeli makanan tadi. "Maaf pak, ini makanan yang bapak minta." Ujar Dina seraya memasang senyuman termanis yang dia punya. Namun, di mata Malvin justru senyuman itu tidak semanis milik Zeta pasti nya. Dia tau sekretarisnya ini sering kali berusaha menarik perhatian nya, namun sayang tidak akan ada yang bisa menduakan Zeta di hati nya. "Kenapa kamu yang bawa?" Tanya Malvin dingin. "Tadi---" "Oke terima kasih." Tanpa menunggu jawaban Dina, Malvin langsung saja mengambil kantong tersebut, membuat Dina melongo di tempat. Malvin menutup pintu dan tak lupa mengunci nya. Dia tidak ingin moment nya bersama Zeta di lihat oleh orang lagi, seperti Zoya tadi. Untung tadi itu Zoya, bukan karyawan nya. Dia berjalan kembali menuju kamar, dimana istrinya masih tertidur di sana. "Sayang, bangun dulu yuk. Kamu belum makan siang." Malvin mengusap kepala Zeta dengan lembut, membangunkan nya secara perlahan. Zeta melenguh dalam tidur nya, menarik selimut tanpa membuka mata. "Bangun dulu, nanti sambung lagi tidur nya ya. Jam makan siang kamu udah lewat, nanti sakit lagi." Di kecup nya setiap inci wajah Zeta, sampai istrinya itu membuka mata dengan perlahan karna merasa tidurnya di ganggu. Malvin tersenyum saat mata Zeta terbuka sempurna dan menatap ke arah nya. "Makan dulu ya, aku udah beliin kamu makanan." Zeta mengangkat kedua tangan nya, Mvin yang seakan tau apa mau istrinya itu, terkekah dan meraih punggung Zeta, membantu Zeta untuk duduk bersandar di kepala ranjang. "Mau makan sendiri atau mau aku suapin?" Tanya Malvin, seraya membuka kantong kresek yang dia bawa tadi. Membuka kotak makanan yang ada di sana, sebelum memberikan pada Zeta, dia memastikan bahwa makanan itu tidak pedas dan sesuai dengan yang dia mau. Zeta hanya diam, dia justru menjatuhkan kepala nya di pundak Malvin, mata nya masih begitu berat untuk di buka. "Aku suapin aja ya," Malvin mengelus pipi Zeta, membiarkan Zeta menjadikan pundak nya sebagai sandaran. Lalu dia mulai menyuapi Zeta. Sesekali Malvin mengecup bibir Zeta yang mengunyah makanan. Dia terus menyuapi Zeta hingga makanan itu habis. "Ngantuk banget ya?" Malvin membelai rambut Zeta, saat Zeta menjatuhkan kepala di pangkuan nya. Zeta menggeleng, "Udah enggak kok. Kamu masih banyak kerjaan ya?" Tanya nya, saat menangkap laptop Malvin yang menyala di atas nakas. "Enggak kok, tinggal dikit lagi. Paling satu jam lagi kelar. Emang kenapa sayang?" Tangan Malvin tidak berhenti membelai rambut Zeta. "Gak papa. Aku ganggu kamu ya, mangka nya kerjaan kamu gak siap-siap." Malvin terkekeh, "Siapa bilang kamu ganggu. Justru kehadiran kamu di sini, buat aku makin semangat. Sering-sering aja kamu ke sini kalau gak ada kuliah." Di rengkuh nya Zeta ke dalam dekapan nya, membuat posisi Zeta berubah menjadi duduk di pangkuan nya. Jarak wajah mereka begitu dekat, hingga Zeta bisa merasakan hembusan nafas Malvin di sekitaran wajah nya. Malvin tersenyum, dan mengecup bibir Zeta, lalu berpindah ke pipi, kening dan menenggelamkan wajah nya di ceruk leher Zeta. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Zeta yang selalu dia sukai. "Cantik. Bikin aku jatuh cinta terus." Gumam Malvin, menempelkan kening nya dengan kening Zeta. Zeta tersenyum mendengar ucapan Malvin yang terdengar begitu manis. "Oya? Yakin cuma aku yang buat kamu jatuh cinta terus. Nanti kalau aku gak cantik lagi, kamu ninggalin aku." Malvin terkekeh pelan, "Ya enggak dong, kamu harus tau di sini, cuman ada nama kamu. Yang lain gak bisa masuk, soal nya kunci hati aku kan cuman di pegang sama kamu." Zeta ikut terkekeh saat Malvin mengarahkan tangan nya menyentuh d**a bidang itu, dimana dia bisa merasakan detak jantung Malvin yang begitu hebat di sana. Zeta menjatuhkan kepala nya di d**a bidang Malvin, membiarkan tubuh nya di peluk begitu erat oleh Malvin. Rasa nya, hanya Malvin yang selalu bisa membuat nya tersenyum hanya dengan kata-kata dan perlakuan manis cowok itu. Walaupun kadang, Zeta di buat kesal dengan segala aturan Malvin. Tapi dia yakin, Malvin tau yang terbaik untuk nya. "Terima kasih Vin, kamu memilih aku dari sekian banyak wanita di dunia ini." Ujar Zeta seraya menjatuhkan kecupan singkat nya di rahang Malvin. Malvin tersenyum, "Karna mata aku hanya tertuju pada kamu. Seakan buta melihat wanita yang lain Zi, karna yang mata aku tangkap di mana pun aku berada hanya kamu." Zeta memejamkan mata nya saat Malvin mencium bibir nya begitu lembut. "Aku mencintai mu, selalu, selamannya." lirih Malvin di tengah ciuman nya. "Segini doang nih, yang lain pada kemana?" Zoya menjatuhkan b****g nya pada bangku yang berada di samping Alya. "Elo yang kemana aja, kenapa gak nongol di kampus? Bolos lagi kan?!" Semprot Alya, menatap intens pada Zoya. Zoya mengacak dambut nya perlahan, "Gak elo gak Zeta, ngurusin gue bolos mulu!" "Ya iya lah, justru karna lo temen kita, mangka nya kita ngomong gitu. Gak ada berubah nya lo sejak dulu." Timpal Lisa kali ini, seraya mencomot kentang goreng milik Alya. Zoya hanya mendesah mendengar ceramah teman-teman nya itu. Lagian dia harus seperti apa lagi, kalau memang dari dulu dia memang tidak mempunyai niat sedikitpun untuk sekolah, sejak mengenal dunia balapan. Di tambah, semenjak kedua orang tua nya meninggal. Untuk siapa lagi dia harus menyiapkan masa depan. "Eh ada Zoya. Baru datang Zoy?" Sapa Rendra dengan antusias. Zoya mengangkat kepala nya, lalu mengangguk ke arah Rendra dan Risky yang baru datang. "Gak bawa motor? Gak keliatan soal nya di parkiran cafe." tanya Risky kali ini. "Enggak, tadi gue sama Zeta sih. Mangka nya bawa mobil." "Trus Zeta nya mana?" Tanya Rendra. "Ck, biasa lah sama laki nya. Di kantor Malvin. Parah banget sih temen lo berdua, bayar bodyguard buat ngawal Zeta kemana-mana." Cerita Zoya. "Serius lo?" Rendra mengulum senyum nya mendengar cerita Zoya. "Makin hari makin posessive." "Tanda sayang itu. Malvin mungkin takut kejadian waktu itu terulang lagi." Tambah Risky. "Lebay sih jatuh nya menurut gue. Kasian Zeta nya juga, gak bisa bebas." Gumam Alya. "Ck, udah jadi bini orang ya mana bisa bebas kayak ABG, lo jomblo sih maka nya gak tau rasa nya. Cepet-cepet nikah sana sama Risky." Lisa mengerlingkan mata nya menggoda Alya. Risky lantas tersenyum dan bertos ria dengan Lisa. "Gila! Lo paling ngertiin gue banget Lis." Lisa terawa, "Iya lah, lo itu tipe Alya banget. Jadi pepet aja terus." Alya yang kesal lantas mendorong kepala Lisa cukup kuat. "Ngomong lo sekali lagi gue gampar lo Lis." Semua yang ada di sana tertawa melihat wajah kesal Alya yang terus di ledeki Lisa. Gadis itu tidak ada kapok nya, berulang kali sudah kena jitak, masih saja terus menggoda Alya. "Cie Alya!! Bilang aja gitu iya, besok di bawa Risky ke pelaminan." Rendra ikut-ikutan menggoda Alya. "Ihhh nyebelin banget sih lo berdua!!" Alya menjerit dan melayangkan kotak tisu ke arah Rendra, namun dengan cepat cowok itu menghindar. Alhasil kotak tisu itu melayang tepat di belakang Rendra. "Arrgghh---" Alya spontan membulatkan mata nya saat kotak tisu itu mendarat sempurna di kening Zeta yang baru saja datang. "mampus lo Al!" Gumam Zoya, membuat Alya seketika panik. Terlebih saat Zeta menatap tajam ke arah nya. "Alyaaa!!" Alya meringis mendengar teriakan Zeta, "Duh Zi gak sengaja." Alya spontan bersembunyi di belakang Zoya, melindungi diri nya dari amukan Zeta. Lisa yang melihat itu justru tertawa paling keras, sudah lama rasanya dia tidak melihat Alya yang kicep dengan amukan Zeta. "Sini lo!! Sakit begoo!!" Teriak Zeta, dan balas melemparkan kotak tersebut. Bertepatan dengan tangan nya yang di tahan oleh Malvin. "Hey jangan marah-marah dong sayang." Malvin mengambil alih kotak tisu tersebut, lalu melemparkan nya pada Risky yang langsung di tangkap oleh cowok itu.  "Sakit Vin!!"  Keluh Zeta seraya mengusap dahi nya. "Gak sengaja Zi. Nih gara-gara Lisa sama Rendra." Alya memasnag wajah memelas nya. "Mana yang sakit, ini aku lihat." Malvin menangkup wajah Zeta, lalu mengecup dahi Zeta yang terlihat sedikit memerah karna timpukan kotak tisu tersebut. "Mulai! Mulai romantis-romantisan gak ngenal tempat." dumel Rendra melihat adegan tersebut. "Tauk! Nih ada lima jomblo di sini Vin. Ngira-ngira kek." Timbal Risky. Malvin memutar bola mata nya malas, "Emang kalian siapa yang harus gue jaga perasaan nya? Mending gue jaga perasaan istri gue." Dia mengedipkan sebelah mata nya pada Zeta. Zeta mengulum senyum nya, dan menyembunyikan wajah nya di d**a bidang Malvin saat suaminya itu merangkul pundak nya. Alya menggeser duduk nya, memberikan akses untuk Zeta duduk di sana. Dia melirik takut-takut pada teman nya itu. "Kenapa lo? Ngelihat gue kayak ngelihat teroris gitu!" Semprot Zeta. "Enggak Zi, maaf gue gak sengaja." cicit Alya. "Ya udah sini! Lo ngapain ngesot sana ngesot sini!" Semua yang ada di sana tertawa melihat wajah kicep Alya. Alya itu termasuk gadis unik di antara PopGirl, dia itu paling cengeng sekaligus paling penakut. Apalagi, kalau udah membuat kesalahan pada Zeta, sikap berani nya ke Lisa pasti langsung hilang. Tak lama kehadiran dua orang yang mereka tunggu-tunggu akhir nya datang. "Cieee! Sabrina mengingkari janji jomblo sampai mati nya!!" Ledekan Lisa langsung saja menyanbut kedatangan Sabrina. Sabrina melirik Gevan yang berdiri di samping nya, lalu memilih duduk di samping Zoya. Kini mereka sudah lengkap semua, kecuali Vinny, karna gadis itu memang tidak bisa datang untuk nongkrong. Karna ada urusan keluarga yang harus dia kerjakan. "Ehem---gimana cerita nya nih tom and jerry bisa bareng?" Rendra ikut melanjutkan ledekan Lisa, melirik menggoda ke arah Sabrina dan Gevan. "Ck, apaan sih lo, ngelihatin gue kayak gitu! Biasa aja kali, kayak gak pernah lihat cowok ganteng aja." Ucapan Gevan langsung saja mengundang tawa yang lain nya, kecuali Sabrina. Gadis itu hanya diam dengan pandangan dingin ke depan. "Kenapa bisa bareng Sa sama Gevan?" Tanya Zoya, melirik Sabrina yang duduk di samping nya. Mata nya sempat melihat lebam di sudut bibir teman nya itu. "Ketemu di jalan." Balasan Sabrina yang terdengar membuat Gevan membulatkan mata nya. "Enak aja lo! Lo pikir gue gembel apa!" Ujar nya tidak terima. "Emang kan. Mobil lo mogok depan rumah gue, trus lo ngemis minta bareng sama gue." Balas Sabrina santai. Gevan baru saja akan melempar Sabrina dengan sendok makanan di atas meja, saat suara Risky menghentikan nya. "Tunggu----mogok? Loh bukan nya mobil lo habis di service ya Van." Skakmat Gevan menggeram tertahan, dan mengalihkan pandangan nya ke arah lain seraya mengusap kepala bagian belakang nya. Reaksi Gevan lantas membuat Malvin tertawa pelan, dia tau bahwa tubuh cowok itu tengah panas dingin karna kartu nya di buka. "Mulai gerak cepat." Sindir Malvin, memgulum senyum geli nya. "b******k lo Ky." Gumam Gevan pelan. "hmm---jadi ceritanya pdkt yang haqiqi nih, pura-pura mogok depan rumah gebetan lagi. Boleh di contoh." Timpal Rendra dan di sambut tawa yang lain nya, sementara Gevan tampak panas dingin karna sejak tadi Sabrina menatap nya dengan sebelah alis terangkat. Sial, Dia salah tingkah, di depan semua orang. Terlebih karna tatapan Sabrina yang terus tertuju pada nya. Sudah pukul 9 malam, terhitung sudah satu jam Sabrina berdiri dengan bersandar di bemper mobil nya, setelah acara nongkrong dengan teman-teman nya selesai. Menatap kegelepan malam yang di terangi dengan satu benda langit tersisa, bulan. Malam ini, benar-benar tidak berbintang, sepi. Sabrina menghela nafas nya, setelah mendapatkan pesan dari Bi Sri beberapa menit yang lalu. Bapak masih di rumah non, seperti nya menunggu Non Sabrina pulang. Entah lah, rasa nya perasan malas untuk pulang semakin besar dalam diri nya. Sabrina merasa sudah tentram tinggal sendirian di rumah, dan hanya di temani oleh pembantu rumah tangga nya, di bandingkan harus tinggal satu atap dengan laki-laki yang mengenalkan nya akan keras nya hidup. Dulu, tidak terhitung berapa kali dalam sehari Sabrina di pukul oleh ayah kandung nya itu, entah lah rasanya menyebut Tama sebagai ayah, membuat d**a Sabrina sesak. Apa ada seorang ayah yang dengan tega mengatakan bahwa anak nya sendiri adalah anak haram? "Lo belum pulang ternyata." Sabrina melirik seseorang yang tiba-tiba saja muncul di samping nya. Dia sama sekali tidak membalas ucapan orang tersebut. "Lo mau tidur di jalanan? Jam segini belum balik." Gevam kembali bersuara. Sabrina kali ini mendesah, "Yang jelas gue gak ngerepotin lo kan? Jadi terserah gue mau tidur dimana, bukan urusan lo." Balasnya dingin. Gevan menghela nafas nya, "Iya sih. Tapi masalah nya bukan itu." Dia lalu menatap Sabrina lekat, menampilkan wajah khawatirnya. Sabrina menaikkan sebelah alis nya membalas tatapan Gevan. "Apa?" "Masalah nya, kalau lo masih di sini, itu arti nya lo harus nganterin gue pulang." Ucapan santai Gevan lantas membuat Sabrina melongo, terlebih saat cowok itu menampilan cengiran nya. "Dasar cowok gak tau malu lo!" gumam nya pelan. "Bukan gak tau malu, tapi lo kan tau tadi gue ke sini sama lo. Jadi balik nya juga harus sama lo." Gevan menaik turun kan alis nya. Sabrina menatap aneh pada Gevan. "sumpah ya, lo itu cowok paling aneh, paling gak tau malu. Eh--dimana-mana cewek yang mintak anterin cowok. Bukan sebalik nya! Punya otak gak sih lo?!" dia bersuara dingin namun terdengar tajam. "Ck, udah lah Sa gak usah ngomongin gender. Lo casing doang cewek tapi jiwa lo melebihi cowok. Jadi gak---" BUGH "---aarghhh!!" Gevan spontan memegangi perut nya yang baru saja mendapatkan sikutan super kuat dari lutut Sabrina. Dia bahkan sampai membukuk, saking menahan sakit nya. "Gila lo!! Kan baru juga gue bilang, tenaga lo melebihi cowok Sabrina!!" Gevan menggeram dan masih memegangi perut nya. Sabrina menatap malas adegan dramatis di depan nya itu, saat Gevan menyandarkan punggung nya ke pintu mobil seakan benar-benar merasakan sakit yang besar. "Ck, gak usah lebay lo! Kata nya cowok." Dengus Sabrina, seraya mengusap rambut sebahu nya ke belakang. Tidak ada respon dari Gevan, tapi cowok itu masih terdengar meringis dan memegangi perut nya. Selang beberapa detik, Sabrina melirik Gevan yang tidak beranjak dari posisi membungkuk nya. Apa sesakit itu? "Beneran sakit?" Tanya Sabrina, tangan nya menyentuh pundak Gevan. Rasa bersalah mulai melingkupi nya. Kalau-kalau nanti Gevan mati kejang di sini, bisa-bisa jeruji besi jadi tempat tinggal nya. "Woi! Jawab dong! Sesakit itu sampai lo gak bisa ngomong!" Suara Sabrina tidak sedingin tadi, dia ikut membungkuk menyentuh pundak Gevan. "Ya udah kita ke rumah---" "Lo khawatir sama gue?" Gevan secara tiba-tiba mengangkat kepala nya, tatapan nya langsung saja bertemu dengan Sabrina. Jarak wajah mereka bahkan terbilang sangat dekat. Untuk beberapa detik, suasana hening menyelimuti mereka, tanpa suara dan hanya di temani dengan sorot mata mereka masing-masing. Sebelum akhir nya, Sabrina menjatuhkam satu bogeman mentah ke perut Gevan. BUGH... "ARRRGHHH---" Gevan menjerit lebih kuat dari yang tadi, asli yang kali ini benar-benar sakit luar biasa. "Itu konsekuensi kalau lo ngerjain gue!" Ujar Sabrina dingin, dengan pandangan lurus ke depan. "Arrghh---sumpah sakit banget!! Lo gila ya!! Hobi banget ngeaniaya gue!!" geram Gevan, seraya memegangi perut nya. Sabrina melirik dingin pada Gevam, "Siapa suruh lo ngerjain gue. Gue bikin sakit beneran kan." Gevan menarik nafas nya perlahan, berusaha menetralkan rasa ngilu di perut nya. "Gak kebayang gue kalau lo berumah tangga. Yang ada anak sama suami lo kena kdrt terus." Sabrina tidak menghiraukan ucapan Gevan, dia memilih memasuki mobil nya. Bersiap akan meninggalkan cafe tersebut, bertepatan dengan Gevan yang masuk ke dalam mobil nya. "Anterim gue pulang." Sabrina menatap tajam pada cowok itu yang duduk santai di bangku penumpang. "Ayok! Lo harus tanggung jawab, karna udah ngebogem perut gue dua kali." Gevan menoleh santai pada Sabrina. Sabrina menggeram dan memukul stir mobil nya, lalu menggas mobil jaz milik nya itu meninggalkan parkiran cafe dengan kecepatan tinggi. Gevan mengulum senyum nya, melihat Sabrina yang menahan emosi. Seru juga, kalau mengerjai gadis ini. Itu lah yang ada di pikiran Gevan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN