Gevan melirik gadis yang duduk menyetir di samping nya itu, pandangan Sabrina tampak lurus ke depan dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Bahkan tak jarang, dia menyelip di sela kecil yang tersisa di jalan.
Gevan menggeleng-gelengkan kepala nya, benar-benar cewek ini tidak takut mati. Dia saja yang cowok, tidak pernah melajukan mobil sampai kecepatan penuh seperti ini.
"Lo gak takut mati apa? Gak sayang nyawa lagi? Pelanin mobil lo Sa!!" Gevan bersuara, saat kecepatan mobil itu semakin meninggi, membuat dia spontan mencengkram pegangan mobil tersebut.
"Duh Sa, kalau ni mobil nabrak bukan hanya lo yang mati! Gue juga akan ikut mati! Lo kan tau gue masih jomblo, gue masih mau cari cewek dulu, mau nikah juga kayak Malvin. Mau---"
CITTT
BRUUUKKK
"ARRGGG---"
Sabrina tiba-tiba saja mengerem mendadak, Gevan yang tidak siap otomatis terdorong ke depan dan kening nya terbentur dashboard mobil dengan keras. Membuat dia meringis, menahan sakit di sekitaran kening nya itu.
"Eh---Lo gila ya?!! Ngerem gak ngira banget!!! Untung gak nabrak Sabrinaaa!!" Gevan menjerit seraya memegangi kening nya yang pasti kini memerah. Dia menatap tajam pada gadis itu yang tampak santai menatap ke arah nya.
"Mangka nya lo diam!! Berisik banget sih lo!!" Sabrina bersuara dingin. "Ngurusin hidup mati gue!! Emang kalu gue mati apa urusan nya sama lo!!"
Gevan masih meringis dan mengelus kening nya yang nyut-nyutan. "ya gak ngerem mendadak juga kali! Gak tau apa lo, sakit di perut gue aja belum hilang! Ini di tambah sakit di dahi!!" dumel Gevan, tanpa melirik Sabrina. Tubuh nya benar-benar bisa remuk kalau lama-lama berada di dekat gadis ini.
Sabrina menghela nafas nya pelan, lalu tangan nya merogoh sesuatu di balik kursi mobil yang duduki nya.
"Nih! Obatin lebam lo!" Di lemparnya kotak p3k itu ke pangkuan Gevan, lalu mengalihkan pandangan nya ke luar jendela.
Gevan menatap kotak p3k tersebut, lalu melirik ke arah Sabrina. Dia heran, terbuat dari apa hati Sabrina sampai bisa sekeras ini. Kalau sama Zeta aja kicep, kalau sama nya boro-boro deh.
"Lo yang bener aja Sa! Mana bisa gue ngobatin sendiri, gak kelihatan." Ujar Gevan.
Sabrina melirik malas pada Gevan, "Banyak banget sih mau lo. Nyusahin!!" Desis nya, sembari meraih kotak p3k di pangkaun Gevan, mengeluarkan obat merah dan kapas.
Gevan menahan senyum geli nya, lalu mendekatkan wajah nya pada Sabrina. Tangan gadis itu mulai mengobati lebam di kening nya, sementara itu mata nya tidak berhenti memandangi wajah Sabrina dari sedekat ini.
"Lo tau Sa, kalau lama-lama gue deket lo. Yang ada gue berumur pendek tau gak." Gevan bersuara, Sabrina menatap cowok itu sekilas, sebelum kembali mengobati lebam di kening Gevan tanpa membalas ucapan cowok itu.
"Lo mau tau kenapa?" Tanya Gevan, tidak memutuskan pandangan nya dari wajah Sabrina. "Karna jantung gue berdetak liar setiap dekat lo." Lanjutan ucapan Gevan membuat tangan Sabrina terhenti, mata nya lalu menatap mata Gevan. Tangan nya masih setia di lebam cowok itu.
Detik berikut nya, Sabrina menekan lebam Gevan lalu mendorong kepala cowok itu hingga membentur pintu mobil.
"Aduh!" Gevan kali ini meringis, dengan setengah menahan tawa nya. Sebenarnya dia yang selalu memancing Sabrina untuk memukul nya. "Tu kan! Gak sekalian aja lo jotosin kepala gue aspal!" desis Gevan, memegang kepala bagian belakang nya.
Sabrina mengjembuskan nafas gusar nya, seraya memukul stir mobil cukup keras. Dia lalu menoleh dan menatap tajam pada Gevan. "Lo tu kenapa sih? Bisa berhenti gak sih lo bikin gue naik darah!!"
Gevan tertegun mendengar suara Sabrina yang meninggi, dan terdengar serius. "Van, gue bukan cewek yang bisa lo ajak bercanda. Gue bukan cewek yang bisa lo ajak ketawa! Gak bisa! Gue gak bisa jadi kayak cewek yang sering lo temuin! Trus buat apa lo kayak gini? Gak akan ngaruh buat gue!"
Suasana mobil itu berubah hening, Gevan tak melepaskan pandangan nya pada Sabrima yang menatap nya tajam. "Harusnya gue yang nanya kenapa sama lo Sa." Gevan bersuara pelan.
"Kenapa lo jadi cewek susah banget buat di deketin? Kenapa lo anti banget sama gue? Oke, bukan hanya sama gue, tapi sama semua cowok? Kenapa?"
Sabrina tisak menjawab, kali ini pandangan gadis itu tertuju ke depan.
"Sa---lo---"
"Van, lo gak ngerti hidup gue." Sabrina menoleh pada Gevan, "Prinsip hidup gue dari dulu emang ini, trus lo bisa apa? Lo tanya kenapa gue gak mau deket sama cowok. Ok gue jawab. Karna gue gak suka. Udah, jawaban nya simpel."
"Tapi kenapa?" Tanya Gevan terdengar pelan.
"Karna semua cowok brengsek." Balas Sabrina dingin, lalu kembali melajukan mobil nya.
Membuat suasana mobil itu hening, tanpa suara. Bahkan kini, Gevan termangu dengan tatapan lurus ke depam.
"Mbak Lilis!"
"Iya den."
Mbak Lilis langsung saja menghampiri majikan muda nya itu, yang baru saja turun dari atas dengan setelan kantoran yang sudah rapi.
"Mbak nanti mungkin saya pulang nya agak sore, atau mungkin sampai malam karna ada rapat dadakan. Nah, nanti mbak tolong lihatin Zeta ya, pastiin dia makan, tidur siang, minum vitamin, sama jangan biarin dia nyentuh kulkas untuk minum air dingin." Pesan Malvin pada pelayan rumah nya itu.
Mbak Lilis mengangguk paham. "Iya den,"
"Silahkan den."
"Makasih ya Bi."
"Sama-sama den. Non Zeta nya gak sekalian mau bibi bangunin den?" Tanya Bi Ira sopan, setelah memberikan segelas teh hangat untuk Malvin.
Malvin meneguk teh tersebut, seraya mengecek ponsel nya. Kalau saja ada chat atau pesan penting dari karyawan kantor mengenai rapat dadakan mereka pagi ini.
"Gak usah Bi, biarin aja dulu dia tidur. Dia---"
"Malvinnn!!"
Ucapan Malvin terpotong saat mendengar teriakan seseorang yang sudah amat di kenal nya. Siapa lagi kalau bukan Zeta si istri kecil nya yang kini tampak berlari menuruni tangga.
"Jangan lari-lari sayang." Tegur Malvin, seraya merentangkan tangan nya, siap menyambut tubuh Zeta yang menghambur ke dalam pelukan nya.
Di kecup nya pipi Zeta dengan gemas, lalu sedikit di urai nya pelukan itu, dengan tangan yang masih melingkari pinggang ramping Zeta. "Kenapa sayang? Pagi-pagi kok teriak-teriak hm." Di sampirkan nya rambut Zeta yang sedikit menutupi wajah.
"Ck, kamu curang! Masak bangun duluan sih? Harus nya kan aku yang bangun duluan, kan kamu udah janji." Zeta merajuk memasang wajah memberengut nya, menatap mata Malvin.
Malvin terkekeh melihat Zeta yang cemberut, di kecup nya bibir Zeta yang maju ke depan.
"Jangan cium-ciym ah! Aku kesel sama kamu." Zeta melepaskan tangan Malvin di pinggang nya, lalu membuang muka dari suami nya tiu.
Malvin yang melihat hal tersebut tersenyum, istri nya ini tengah dalam mode ngambek sekarang. Lihat lah bagaimana lucu nya pipi itu menggembung, dan sorot mata yang tampak kesal. Membuat Malvin selalu ingin mencubit dan mencium nya.
"Sayang, dengerin aku dulu sini." Malvin meraih tubuh Zeta, lalu menggendong Zeta dan mendudukkan nya di atas meja bar pembatas antara dapur dan ruangan tengah.
"Lihat sini dong sayang, gak baik loh buang muka gitu dari suami." Malvin merentangkan kedua tangan nya di sisi kanan dan kiri meja bar tersebut, mengurung Zeta di sana.
Di raih nya dagu Zeta agar menatap ke arah nya, "Maaf ya sayang kalau aku bangun duluan. Lagian tadi alarm nya udah bunyi, tapi kamu gak bangun, jadi aku bangun duluan." ujar Malvin, menatap lembut ke mata istri nya itu.
"Trus kenapa kamu gak bangunin aku?"
Zeta masih memasang wajah cemberut nya, tangan nya berpindah ke dua kancing kemeja bagian d**a Malvin yang tidak di kaitkan, membuat d**a bidang suaminya itu terekspos.
Malvin tersenyum, dan mengusap lembut kepala Zeta. "Emang kesayangan aku mau bangun pagi buat apa hm?"
Zeta membalas tatapan Malvin, "Kan aku mau tu pagi-pagi nyiapin kamu sarapan, nyiapin baju kantor buat kamu. Ini enggak, 6 bulan menikah tapi aku bangun siang terus." gumam nya pelan.
Malvin menatap lekat pada Zeta seraya menahan senyum geli nya mendengar keluhan Zeta.
"Aku berasa kayak jadi istri gak baik, suami nya bangun duluan, istri nya---"
Cup
Malvin mengecup bibir Zeta, menghentikan istrinya itu untuk bersuara.
"Sayang, hey dengerin aku." Malvin menangkup wajah Zeta, menatap lebar ke mata istrinya itu. "Mau kamu bangun pagi, bangun siang. Gak masalah kok buat aku, siapa bilang kamu gak jadi istri yang baik. Kamu tau gak istri yang baik itu, istri yang bisa buat suami nya seneng. Kamu gak melakukan apa pun, diam aja di kamar juga aku udah seneng sayang.
"Kamu itu istri aku, bukan asisten rumah tangga yang harus ngurus rumah. Kan udah ada Bi Ira sama Mbak Lilis yang masak, buat apa kamu masak lagi. Jadi kamu gak perlu bangun pagi, justru aku seneng tau kalau kamu di kamar terus, gak kemana-mana. Jadi jangan ngomong gitu lagi ya, aku sayang sama kamu apa ada nya."
Wajah Zeta yang tadi cemberut kini berubah cukup cerah, dia lalu memeluk tubuh kekar Malvin, menenggelamkan wajah nya di sana.
Malvin membalas pelukan Zeta tak kalah erat, di kecupnya puncak kepala istrinya itu berulang kali. Dia tidak ingin Zeta kembali mengatakan hal tersebut, karna bagi nya tidak masalah Zeta mau bangun pagi ataupun tidak. Zeta jadi istri penurut saja dia sudah sangat senang.
"Kamu kuliah sayang?" Tanya Malvin sembari mengurai pelukan nya.
Zeta mengangguk. "Iya nanti jam 9. Kamu ke kantor?"
Malvin membelai wajah Zeta, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya itu. "Iya. Kamu mau aku antar ke kampus nya? Jadi rapatnya bisa aku pending dulu."
"Gak usah deh, aku sama Sabrina. Dia jemput nanti."
Malvin terdiam sejenak, "Aku antar aja gimana?"
Zeta menggeleng, "Kenapa sih? Kan sama Sabrina juga."
"Bukan nya gitu sayang, aku takut kalau---"
Cup
Zeta mengecup bibir suami nya itu untuk mneghentikan Malvin bersuara. "Gak akan kenapa-kenapa Malvin. Kamu janji loh gak bakalan nyuruh bodyguard itu ngingutin aku."
Malvin menatap lekat ke mata Zeta, lalu tangan nya meraih dagu Zeta, mengecup bibir istrinya itu dan melumatnya sebentar. "Iya sayang. Ya udah sekarang kamu mandi, trus sarapan."
Zeta mengangkat kedua tangan nya pada Malvin yang lansgung di sambut oleh cowok itu. Dia terkekeh geli saat Malvin mengecup leher nya sembari menggendong nya turun dari meja bar.
"Sana mandi, atau kamu mau aku yang mandiin?" Malvin mengedipkan sebelah mata nya pada Zeta yang langsung mendapatkan cubitan di pinggang nya.
"m***m!"
"Biarin, sama kamu juga kan."
Zeta pasrah saat Malvin mengecupi sekitaran wajah nya, hingga ke ceruk leher. Sebelum suaminya itu menjadi-jadi, Zeta memilih mendorong pelan d**a Malvin, dan berlari menjauh dari suami m***m nya itu.
Malvin tersenyum saat melihat Zeta berlari pelan menaiki tangga, istrinya itu terlihat imut dengan baju tidur bermotif doramemon tersebut.
"Hat-hati ya nanti di kampus, kalau gak ada yang nganterin pulang telfon aku biar aku jemput. Jangan lupa makan siang, istirahat, dan minum vitamin. Sama---"
Zeta memutar bola mata nya jengah mendenger pesan dari Malvin yang begitu banyak, dia hanya mengangguk setiap Malvin bersuara.
"Iya Malvin, iya. Aku gak lupa kok sama setiap pesan kamu." Ujar Zeta setelah menghela nafas nya.
Malvin tersenyum, dan mengusap puncak kepala Zeta. "Bagus, awas ya kamu ngelanggar. Aku punya banyak mata-mata loh di rumah ini."
"Iya. Tapi kamu janji kan, kalau aku lagi sama Pop Girl bodyguard nya gak ikut?" Tanya Zeta, seraya mengalungkan tangan nya di leher Malvin. Tersenyum super manis pada suaminya itu.
Malvin menatap lekat pada Zeta, seraya mengulum senyum nya. Dia tau, istrinya itu tengah membujuk nya agar mengabulkan permintaan barusan.
"Malvin."
"Ya udah, tapi inget ya, hanya kalau sama Pop Girl aja, lain dari itu, aku bakalan nyuruh mereka ngikutin kamu."
Zeta tersenyum lebar setelah mendapatkan jawaban yang di inginkan nya. "Iya, makasih sayang."
Malvin ikut tersenyum mendengar balasan Zeta yang begitu manis. "Ya ampun manis banget sih istri aku." Dengan gemas di kecup nya setiap inci wajah Zeta, membuat istri nya itu terkekeh geli karna sesekali mengendus leher Zeta.
"Sana ah! Kamu berangat!" Ucap Zeta sembari merapikan dasi Malvin, sementara kedua tangan suami nya itu melingkar di pinggang nya.
"Ya udah aku pergi ya. I love you."
"Love you too."
Mvin mengecup bibir Zeta, serta kening Zeta sekilas. Lalu berlalu memasuki mobil nya, sembari melempar pandang pada dua bodyguard yang tengah berdiri di depan pintu, pastinya tanpa Zeta ketahui.
Zeta baru saja akan memasuki rumah saat klakson mobil seseorang terdengar. Dia lantas berlari memasuki rumah untuk mengambil tas nya.
"Hati-hati non." Ujar salah seorang bodyguard tersebut, saat Zeta kembali berlari keluar rumah setelah mengambil tas.
Zeta hanya tersenyum sekilas, lantas berlalu menuju mobil jaz yang tengah menunggu nya di depan pagar.
"Ayo jalan!" ujar Zeta setelah duduk di bangku belakang.
"Mau di depan Zi?" Tanya Zoya, seraya menoleh ke belakang, menatap Zeta.
"Loh kok ada lo?" Tanya Zeta.
"Biasa si Sabrina numpang di rumah gue. Daripada jadi gelandangan gidur di luar, lebih baik gue pungut." balas Zoya, yang membuat Zeta terkekeh pelan.
Sementara Sabrina hanya mendengus, dan memusatkan perhatian nya ke depan jalanan yang tidak terlalu ramai itu.
"Lo mau pindah ke depan?" Tanya Zoya kembali.
Zeta menggeleng, "Gak ah gue di sini aja." Blaa nya sembari memainkan ponsel.
"Tumben gak di antar Malvin?" Sabrina melirik Zeta melalui kaca spion nya.
"Dia ada meeting pagi." Balas Zeta tanpa mengalihkan pandangan nya dari ponsel. "Vinny minta jemput gue." Ujar Zeta setelah membaca sebuah pesan dari Vinny.
"Puter balik rumah Vinny Sa!" Perintah Zeta pada Sabrina.
Sabrina hanya menurut dan kembali memutar mobil nya ke arah rumah Vinny, yang memang berbeda jalur dari rumah Zeta sekarang.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil jaz merah itu berhenti tepat di depan pagar putih tinggi, dengan rumah yang tampak besar dari luar.
Tak lama, baik Zeta, Zoya dan Sabrina sama-sama di kagetkan dengan pintu mobil yang di buka terburu-buru tersebut.
"Jalan Sa!! Buruan!!" Ujar Vinny dengan suara panik.
Sabrina menatap aneh pada gadis itu, yang tampak kacau pagi ini. Tidak seperti Vinny yang terlihat lebih rapi biasa nya. "Kenapa lo? Gembel banget dandanan lo?" Sabrina bersuara, masih menatap aneh pada Vinny.
Vinny berdecak, "Buruan jalan ah!!" Suara nya meninggi.
"Sabar anjing!" desis Sabrina datar.
"Kenapa sih lo? Kayak di kejar setan gitu." Zoya bersuara, dan membalikkan tubuh nya menatap Vinny yang duduk di belajang nya, saat mobil Sabrina mulai kembali melaju.
Vinny menghela nafas nya, lalu menyandarkan punggung nya di sandaran kursi mobil. Dia masih menetralkan nafas nya, karna terburu-buru tadi.
"Hufftt---lebih bahaya dari setan." Balas Vinny kembali dengan suara santai nya.
Ketiga teman nya yang lain mengerutkan dahi, "Maksud lo?" Zeta menatap heran pada Vinny, tidak biasa nya satu teman nya itu sepeti ini.
"Nyokap. Dia pulang dari singapur." Vinny mendesah pelan.
"Bagus lah! Anak durhaka banget lo bilang nyokap lebih nyeremin dari setan." ujar Zoya seraya mengulum senyum geli nya, menggoda Vinny.
Vinny mendesah panjang, "come on Zoy, lo kayak gak tau nyokap gue kayak gimana aja. Jangan ngeledek bisa?"
Zoya tertawa pelan, begitupun dengan Zeta. Hanya Sabrina yang tidak bereaksi sama sekali.
"Emang nyokap lo kenapa lagi? Bikin lo pusing 7 keliling hah? Atau bikin lo ingin mati mendadak?" Celetuk Zeta di tengah tawa nya, ikut menggoda Vinny.
"11 keliling kali ini Zi. Tauk deh, habis kata-kata gue kalau ngomongin nyokap."
Zeta tertawa dan menepuk pundak Vinny. "Sabar Vin, lagian nyokap lo gaul gitu."
"Gaul apaan? Gila iya." balas Vinny kesal, namun mengundang tawa Zoya dan Zeta. "Bayangin dong, kemarin gue jadi sopir pribadi dia kemana-mana."
"Oh jadi itu kenapa lo gak bisa ngumpul?" Tanya Zoya, dan di anggukan Vinny langsung.
"mintak di anterin ke kantor, ke mall, ke butik, ke restoran. Ya bagus kalau gue di traktir, ini enggak. Jadi sopir yang gak di gaji. Mana di restoran kelakuan nya, na'uzubillah, ngegodain pelayan cowok mulu. Gak ingat umur!" gerutu Vinny, namun wajah gadis itu tampak tenang.
Zeta dan Zoya tak bisa menyembunyikan tawa mereka. Karna apa? Mereka sangat mengenal keluarga Vinny yang super gaul. Terutama mama nya yang berprofesi sebagai pengacara dan psikolog klinis. Mama Vinny itu seusia mama nya Zeta, namun terlihat lebih petakilan, berbeda dengan mama Zeta yang lebih terlihat kalem.
"Pokok nya hari ini gue ogah pulang cepet. Males di suruh-suruh mulu sama nyokap, udah kayak sopir merangkap asisten pribadi tau gak. Kesel gue lama-lama punya orang tua model begituan." Gerutu Vinny lagi, kali ini wajah nya ikut berubah kesal.
"Sabar Vin. Syukur tau gak lo punya nyokap kayak gitu, bisa di ajak gaul bareng. Lo nya aja yang kelewat datar dan dingin jadi orang." Seru Zoya.
"Tuh, lo emang benar anak nya apa bukan sih?" Zeta ikut menimpali.
Vinny mendesah, "Dasar temen bangsat." dumel nya, saat Zeta dan Zoya tak berhenti menggoda nya.
Sementara Sabrina yang tengah menyetir hanya diam sejak tadi, tidak menanggapi sama sekali. Apa yang harus dia tanggapi? Toh dia tidak punya seorang ibu.
"Sariawan lo Sa?" Vinny bersuara, menatap Sabrina melalui kaca spion.
Sabrina ikut melirik ke arah kaca spion, dimana pandangan nya bertemu dengan Vinny. "Gak."
Vinny, Zoya dan Zeta saling pandang satu sama lain, menyadari bungkam nya Sabrina. Mereka memilih diam, tidak lagi membahas mama Vinny, karna mereka tau itu akan melukai hati Sabrina.
Setelah 5 menit hening, Zoya bersuara. "Kurang Lisa sama Alya. Gimana kalau hari ini kita gak usah ngampus, kita senang-senang di luar." Usulnya, sembari melirik ketiga teman nya yang lain dengan alis yang di naik turunkan.
Vinny dan Zeta saling pandang, sebelum akhir nya Vinny melemparkan bantal mini yang ada di mobil Sabrina ke arah Zoya. "Bolos nulu otak lo! Kapan lo mau hidup bener? Tapi lo ada benar nya juga, ya udah ayok."
Zoya balas melempar Vinny, "Sok nasihatin gue lo! Ujung nya lo juga mau!"
Zeta menggelengkan kepala nya, tidak menanggapi.
"Kemana?" Tanya Sabrina.
"Ya kemna aja, yang jelas gak ke kampus. Telfon Lisa sama Alya, suruh nyusul."
Sabrina melirik Zeta di belajang nya, "Gimana?" tanya nya meminta persetujuan Zeta.
Zeta menghela nafas nya sejenak, melirik ketiga teman nya yang sama-sama menatap ke arah nya, menunggu dia kembali bersuara.
"Ya udah."
"Ya udah."
Jawaban singkat Zeta di sambut bahagia oleh Zoya, si Ratu bolos jagad raya.