Drrttt... Kring...
Zeta mengangkat kepala nya, dan melirik ponsel Sabrina yang terus bergetar dan berbunyi. Dia lalu melirik si pemilik ponsel tersebut yang tampak santai menyantap makanan nya.
"hp lo tuh dari tadi bunyi!" Ujar Zeta, seraya menyeruput jus stroberry nya.
"Tauk lo Sa! Angkat kek, berisik nih!!" Timpal Lisa dengan mulut penuh dengan makanan.
"Telen dulu b**o!!" Semprot Alya, seraya menjitak pelan kepala Lisa.
Zoya melirik ponsel Sabrina yang terletak tidak jauh dari samping nya. Dia lalu mengulum senyum nya, seraya berdehem. "Ehem---pantes gak di angkat, yang nelfon gebetan." Ujar Zoya, yang terdengar menggoda Sabrina.
Sementara orang yang di sindir, justru hanya diam dan terus fokus pada makanan nya. Memasang wajah super datar dan dingin.
"Ciee Sabrina! Jangan jutek-jutek atuh, ntar gebetan nya lari loh." Lisa tambah menggoda Sabrina, dan mencolek-colek lengan gadis itu.
Sabrina menggeram dan siap melempar Lisa dengan garpu kalau tidak di tahan oleh Zeta. "Marah berarti iya kan?" Zeta ikut menggoda Sabrina, menggedipkan sebelah mata nya ke arah Sabrina.
Sabrina mendengus, "Jangan mulai deh Zi."
"Kenapa lo gak ngelempar Zeta? Gue aja yang ledekin langsung mau di lempar." Gerutu Lisa.
"Berisik!!" Desis Sabrina.
"Hp lo yang berisik daritadi bunyi!!" Timpal Vinny.
Sabrina berdecak, dan meraih ponsel nya itu. Dia mendengus malas saat melihat nama yang tertera di sana. Dengan sekali sentak, dia menekan tombol merah yang ada di sana, sekaligus mematikan ponsel nya.
"Angkat kali Sa, mana tau penting." Ujar Alya.
"Kalau berhubungan sama dia gak pernah ada yang penting." Balas Sabrina dengan suara datar andalan nya.
"Lo nya aja yang cuek nya keterlaluan." Sindir Zeta.
"Nah iya, dupu Zeta seberapa dingin nya sama cowok. Eh--tau nya dapat cowok yang posessive nya mintak ampun, ganteng, baik. Lo coba lebih terbuka dikit Sa, jangan terlalu anti sama cowok. Lagian, cowok kayak Gevan tu langka tau, mana ganteng, baik juga, sabar nya apalagi. Bayangin aja, ngadepin lo yang udah kayak macan betina, dia sabar terus. Kan jarang banget cowok kayak gitu." ujar Lisa panjang lebar.
Sabrina menatap tajam ke arah Lisa yang berbicara, "Berisik Lis, lo mau mulut lo gue gunting!"
Lisa langsung saja menampilkan cengiran nya, dan menampilkan kedua jari nya membentuk V. "Galak banget sih, bercanda gue Sa."
Zeta tersenyum melihat reaksi kesal Sabrina. Dia tau persis bahwa Sabrina sangat anti dengan cowok. Bukan tanpa sebab, gadis itu menganggap semua cowok di dunia itu sama, seperti papa nya yang tidak punya perasaan.
Zeta baru saja akan kembali memakan makanan nya saat mata nya tanpa sengaja melirik ke pintu masuk restoran. Dia seketika membulatkan mata, melihat siapa yang baru saja masuk di sana.
"Mampus." Gumam Zeta seraya menutupi wajah nya dengan buku menu.
Vinny menatap bingung pada Zeta yang tampak gemetar memegang buku menu. "Kenapa sih Zi?"
Perhatian ke empat teman nya yang lain juga teralihkan ke arah Zeta. Sama-sama memandang bingng ke arah Zeta.
"Malvin! Ada Malvin!" ujar Zeta sepelan mungkin, masih mempertahankan buku menu untuk menutupi setengah wajah nya.
Semua nya langsung saja menoleh ke arah telunjuk Zeta, benar saja di salah satu meja di sudut restoran ini ada Malvin yang tengah duduk bersama tiga orang pria, dan satu wanita. Mereka yakin tiga orang itu adalah client bisnis Malvin, sementara wanita itu adalah sekretaris super centil Malvin.
"Pantas lo panik banget." Gumam Lisa.
"Gimana dong?" Suara Zeta berubah panik, "Kalau Malvin lihat gue di sini jam segini, duh bisa habis gue sampai rumah. Bantuin dong ah!!" Ujar Zeta tidak sabar, sesekali melirik ke arah meja Malvin melalui celah buku yang dia buat.
"Tenang Zi, gak bakal keliatan, jauh gitu meja nya." Komentar Alya.
"Kalau ketahuan gimana? Bisa habis gue! Bantuin dong!!! Zoyaaa!!" Zeta mulai mengguncang-guncang tangan Zoya yang duduk di samping nya.
"Ya udah diam. Lo makim berisik, makin ketahuan." Ujar Zoya dengan suara tenang nya. "Diam aja mangka nya Zi, kalau kita keluar sekarang, yang ada benar-benar ketahuan. Itu pintu keluarnya ke arah meja Malvin. Kita pasti ngelewatin itu."
"Malvin ke sini tuh."
Ujaran santai Vinny membuat Zeta semakin panik dan merapatkan diri pada Zoya, menyembunyikan wajah nya di balik punggung gadis itu.
Semua mata kecuali Zeta kini terarah pada seorang cowok setelan kantor---yang tak lain adalah Malvin. Tampak berjalan ke arah meja mereka, bukan, tepat nya menuju toilet yang memang jalur nya berada dekat dengan meja mereka.
Vinny langsung menegakkan buku menu untuk menutupi wajah nya, seakan dia sedang membaca menu. Lisa dan Alya tampak menunduk dalam, dan seakan saling mengobrol. Zoya dan Sabrina memutar tubuh mereka, membelakangi posisi Malvin yang tengah lewat, dengan tangan Zoya merangkul pundak Zeta yang menjatuhkan kepala tepat di depan perut nya. Jika speerti ini, Malvin tidak akan melihat Zeta.
Tapi usaha mereka seperti nya percuma, karna menit berikut nya, suara seseorang yang hadir membuat mereka kaget.
"Kalian di sini?! Gue tau ini kalian!! Vinny gak usah sok baca buku menu lo!"
Vinny spontan menjatuhkan buku menu nya, lalu menatap Malvin yang berdiri tepat di depan nya. "Eh--Malvin." Gumam nya, seraya menggaruk kepala belakang nya yang tidak gatal.
Sabrina dan Zoya menoleh secara beramaan, begitupun dengan Alya dan Lisa yang langsung menampilkan cengiran andalan mereka. Sementara Zeta masih bertahan di posisi nya, menyembunyikan wajah di perut Zoya.
"Eh Malvin, ngapain Vin? Meeting? Atau apa?" Zoya bersuara, meringis saat Malvin melirik Zeta yang masih bertahan di sana.
Malvin menaikkan sebelah alis nya, melirik Zeta di sana. "Gak usah sembunyi. Aku tau itu kamu." Dia bersuara datar, mau tidak mau Zeta mengangkat kepala nya. Melempar senyum semanis mungkin pada Malvin.
Zeta menelan saliva nya saat Malvin menatap nya tajam. Sebelum Malvin kembali bersuara dia langsung saja meraih tas, dan berlari keluar restoran. Menghindari amukan suami nya itu.
"Zetaaa!!" Malvin berteriak, mengabaikan semua mata yang tertuju pada nya.
Mata nya melirik tajam pada kelima teman istri nya itu, yang bisa-bisa nya mengajak Zeta bolos jam kuliah seperti ini.
Alya, Lisa, Vinny, Sabrina, dan Zoya yang di tatap seperti itu lantas pura-pura sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, sebelum akhirnya ikut kabur menyusul jejak Zeta.
"Awas kamu sayang!!" Malvin menggeram, dan kembali ke tempat dimana client nya tengah menunggu.
Kalau bukan karna ada pertemuan penting, Malvin sudah pasti mengejar Zeta dan menyeret istri nakalnya itu pulang dan menghukum Zeta secepat mungkin.
Malvin melangkahkan kaki nya memasuki rumah besar tersebut, yang langsung saja di sambut oleh kedua pekerja rumah tangga nya.
"Zeta mana Bi?" Tanya Malvin dan Bi Ira, yang meraih tas kerja nya.
"Ada di kamar den."
"Udah makan?" Tanya nya lagi.
Bi Ira kali ini diam dan saling pandang dengan Mbak Lilis. "Maaf den, belum, non Zeta tadi bilang mau langsung tidur. Saya sudah paksa, tapi tetap non Zeta gak mau makan." ujar Mbak Lilis kali ini.
Malvin menghela nafas nya, lalu berjalan menaiki tangga menuju kamar dimana istri nya berada. Baru saja dia membuka pintu tersebut, hal pertama yang di lihat nya adalah Zeta yang berbaring dengan memunggungi arah pintu masuk.
Malvin tau Zeta tidak tidur, istrinya itu hanya menghindari amarah dari nya karna ketahuan bolos. Bagaimana tidak? Ini masih pukul 8 malam, Zeta tidak mungkin tidur secepat ini.
"Aku tau kamu gak tidur. Dan gak usah pura-pura tidur." Malvin bersuara dingin, seraya melepaskan dasi yang mencekik leher nya, di lanjut dengan kemaja yang melapisi tubuh nya.
Zeta tidak bergerak dari posisi nya, masih mempertahankan diri nya agar tidak membalik dan terus memejamkan mata. Dia berdo'a dalam hati agar Malvin tidak memerahi nya malam ini, karna itu lah dia sengaja pura-pura tidur.
Namun, semua nya percuma, saat Zeta merasakan sepasang tangan melingkari pinggang nya. Dan merasakan hembusan nafas Malvin di sekitaran leher, di lanjut dengan kecupan-kecupan di sana. Zeta sekuat mungkin masih memejamkan mata nya, walaupun tubuh nya bereaksi sebalik nya.
"Masih mau pura-pura tidur hm?" Malvin mengeratkan pelukan nya di pinggang Zeta, wajah nya dia sembunyikan di ceruk leher istrinya itu. Sementara tangan nya mulai mengelus perut rata Zeta.
"Arrgh---Malvin!!"
Zeta terpekik saat Malvin tiba-tiba saja mengangkat tubuh nya, hingga mendarat di atas d**a bidang cowok itu. Kedua tangan Malvin semakin erat memeluk pinggang nya, menbuat tubuh nya menempel sempurna di d**a bidang itu.
"Hukuman kalau kamu berani mengabaikan suami." Ucap Malvin dengan suara serak nya, mendekap erat tubuh Zeta yang berada di atas nya.
Zeta memukul-mukul lengan Malvin, karna merasakan sesak akibat pelukan maut Malvin, apalagi wajah nya yang tenggelam di dalam d**a telanjang suami nya itu.
"Malvin!! Aku sesak nafas tau gak!! Kamu mau bunuh aku!!" Zeta menjerit saat berhasil mengangkat kepala nya, menghirup udara sekitar dengan rakus. Lalu menatap kesal pada Malvin yang ada di bawah nya.
"Jangan dong. Kalau kamu gak ada, aku jadi duren sayang." Goda Malvin seraya mengedipkan sebelah mata nya.
"Biarin!! Nikah aja sana sma sekretaris kamu!" Ketus Zeta, "Lepas ah!!" Zeta berusaha bangkit dari atas Malvin, namun tenaga suaminya itu lebih kuat, membuat nya semakin menempel di d**a bidang tersebut.
"Mau kemana sayang? Mau kabur hm?!" Malvin menatap lekat mata Zeta, menatap dingin pada istrinya itu. "Gak tau, salah nya apa?"
Zeta memalingkan wajah nya dari Malvin yang tampak mengintimidasi nya. Tangan nya terangkat menyentuh d**a telanjang Malvin, membuat gerakan-gerakan abstrak disana.
"Tau kok." gumam Zeta dengan wajah di tekuk.
"Apa?"
"Bolos kuliah. Gak ngangkat telfon kamu, sama makan sembarangan." jawab Zeta, mata nya menatap takut-takut ke arah Malvin.
Malvin menaikkan sebelah alis nya, "Itu aja?"
Zeta mengangguk, tangan nya tidak berhenti bergerak di d**a bidang Malvin.
Malvin memejamkan mata nya, meremang merasakan gerakan seringan bulu dari jari telunjuk Zeta. Apalagi sejak tadi Zeta bergerak di atas nya, membuat naluri nya sebagai seorang laki-laki bangkit.
Zeta terperanjat saat Malvin tiba-tiba saja memutar posisi, menjadi menindih nya. "Kamu ngegoda aku hmm?" Malvin bersuara serak.
"Aku---hmmpp---"
Zeta melenguh saat Malvin mulai mencumbu habis bibir nya. Dia kewalahan akan serangan mendadak Malvin. Kedua tangan nya mendorong d**a Mvin, namun tangan nya langsung saja di kunci oleh Malvin.
Ciuman Malvin terlepas setelah selang beberapa menit, Zeta menghirup udara di sekitar nya karna merasa kehabisan oksigen atas ulah Malvin.
"Malvinn!!" Zeta menjerit ke arah Malvin, saat nafas nya kembali teratur.
Malvin tersenyum geli, lalu mengecup singkat kening Zeta. Tangan nya mengusap bibir istrinya itu yang tampak membengkak karna ulah nya. "Kamu sih ngegodain aku."
"Siapa yang godain kamu? Kamu aja yang mesum." Gerutu Zeta, menatap Malvin yang masih berada di atas nya.
"Iya maaf sayang." Malvin mengecup gemas bibir Zeta, lalu bangkit dari posisi nya seraya menarik kedua tangan Zeta agar ikut duduk berhadapan dengan nya.
Zeta salah tingkah saat Malvin terus saja menatap nya dengan lekat tanpa bekedip. "Kamu apaan sih? Jangan gitu ah!! Malvinn!!"
Malvin terkekeh saat Zeta berteriak kesal ke arah nya, terutama saat pipi istrinya itu berubah merah, dan menyembunyikan nya di balik telapak tangan.
"Kamu yang kenapa? Emang gak boleh ngelihatin istri sendiri, yang makin hari makin menggoda iman?"
Zeta menelungkup, menyembunyikan wajah nya di balik bantal, merasa malu dengan tatapan Malvin. Dia selalu saja seperti ini, setiap Malvin sudah menatap nya begitu lama, apalagi sampai mengeluarkan kata-kata manis. Wanita mana yang tidak tersipu akan hal tersebut.
Malvin tersenyum, tangan nya terangkat mengusap puncak kepala Zeta. Dia selalu suka jika melihat Zeta sudah tersipu malu begini karna nya.
"Aku masih menunggu penjelasan kamu loh sayang." Ujar Malvin, membuat Zeta mengangkat kepala nya kembali. Di tatap nya Zeta dengan sebelah alis terangkat.
"Maaf! Habisnya tadi Zoya yang ajak, ya udah masak iya aku doang yang gak ikut, semua nya ikut." Jawab Zeta memasang wajah memelas nya. "Kamu gak marahkan?"
"Mau nya marah. Tapi ngelihat kamu gemes kayak gini, marah nya jadi hilang." balas Malvin menarik ujung hidung Zeta, membuat Zeta tersenyum. "Tapi ingat ya, gak di ulangim lagi. Aku gak mau kamu bolos kayak gitu, trus kalau aku telfon tu di angkat."
Zeta mengangguk dan tersenyum lebar, akhirnya dia bisa meluluhkan Malvin. Langsung saja dia menghambur ke dalam pelukan Malvin, mencari kenyamanan di sana.
"Kamu belum makan kan?" Zeta menggeleng, "Ya udah, sekarang makan. Aku gak mau kamu sakit, habis makan minum vitamin, trus tidur."
Zeta mengngkat kepala nya yang berada di d**a bidang Malvin. "Aku mau makan di luar."
"Zi, kam tadi udah makan di luar sama temen-temen kamu."
"Tapi aku gak nafsu makan di rumah Vin. Aku mau makan sate."
Malvin menghela nafas, saat Zeta kembali merajuk. Ini selalu jadi kelemahan nya, tidak bisa melihat Zeta yang sudah memohon seperti ini.
"Ya udah. Aku pakai baju dulu, kamu ambil jaket tunggu aku di bawah."
Zeta langsung saja memekik kegirangan, "Makasih Malvin." mendaratkan kecupan nya di bibir Malvin.
Malvin tersenyum menatap Zeta yang berlari keluar kamar. Bagaimana dia tidak luluh, kalau sikap istri nya semanis itu.
"Untung sayang." Gumam Malvin dan mulai beranjak mengambil baju nya.
Sabrina menghentikan mobil nya tepat di depan pagar rumah yang menjulang tinggi tersebut yang sudah terbuka lebar. Di sandarkan nya punggung nya ke bangku mobil, dia kembali menatap pagar rumah tersebut. Di hela nya nafas, lalu keluar dari mobil.
"Tolong masukin mobil saya." Perintah Sabrina, seraya mlempar kunci mobil nya kepada seorang satpam rumah nya itu.
"Baik non." Ujar satpam tersebut dengan sopan.
Sabrina baru saja akan melangkahkan kaki nya memasuki perkarangan rumah tersebut seraya merapatkan jaket kulit yang dia kenakan, mengusir dingin nya udara malam itu.
Sabrina seketika tersentak saat seseorang tiba-tiba saja memegang tangan nya. Tangan nya yang bebas spontan melayang siap menjatuhkan bogeman.
BUGHH
"Arrghh---"
Sabrina terdiam dengan tangan yang mash di udara, dia spontan meringis saat melihat Gevan tersungkur ke lantai kasar perkarangan nya.
"Arrghh---lo tega banget sih sama gue Sa!" Gevan bangkit berdiri dan memegangi pipi nya yang nyut-nyutan.
"Lo manusia apa bukan sih?" Sabrina bersuara dingin, sedingin tatapan nya.
"Sa kalau gue gak manusia, tangan lo pasti nembus pipi gue! Ini lo gak lihat, pipi gue lebam kayak gini gara-gara lo!!" Ketus Gevan, menunjuk pipi nya yang lebam.
"Salah gue? Salah lo lah! Siapa yang suruh lo ngagetin gue?"
"Gue gak ngagetin, gue cuman megang tangan lo!"
"Tapi gue kaget. Lo lagian ngapain sih di sini? Kayak maling tau gak! Titisan jailangkung lo, gak di undang datang aja." Sabrina bersuara kesal, dia benar-benar heran dengan kepribadian cowok ini.
Gevan mendengus, dan meregangkan otot rahang nya yang masih ngilu karna bogeman mendadak Sabrina.
"Kenapa lo gak jawab telfon gue?!" Tanya Gevan, menatap serius pada Sabrina.
Sabrina menghela nafas nya, lalu membalikkan tubuh nya, mengabaikan pertanyaan Gevan.
"Gue nanya Sa?!" Gevan msnarik tangan Sabrina, membuat tubuh gadis itu spontan berputar menatap nya.
"Anak kecil juga tau lo nanya! Masalah nya gue gak mau jawab pertanyaan lo!!" Desis Sabrina, dan menghempaskan tangan nya hingga terlepas dari Gevan.
Gevan terdiam, mata nya tak beralih dari Sabrina.
"Penting untuk gue jawab telfon lo? Emang lo siapa? Yang harus gue jawab telfon nya?"
Ucapan Sabrina benar-benar mengenai perasaan Gevan, membuat cowok itu terdiam kaku di tempat nya. Dia baru saja akan bersuara, bertepatan dengan kehadiran seseorang di antara mereka.
"Kenapa gak masuk? Sabrina itu teman kamu?"
Sabrina seketika menghela nafas nya samar, lalu mengalihkan pandangan ke tempat lain. Dia sangat mengenal suara tersebut, suara yang sangat dia hindari.
Gevan menoleh ke kiri, dia langsung saja bersitatap dengan seorang pria paruh baya dengan setelan kemeja kantoran. Tanpa banyak bertanya dia juga tau, kalau itu ayah Sabrina.
"Iya om. Saya Gevan." Gevan langsung saja meraih tangan pria itu, menyalami nya.
"Oh iya. Saya Tama, ayah Sabrina."
"Ehem---" Sabrina berdehem dan menghembuskan nafas kasar, membuat semua pandangan tertuju pada nya.
"Ngapain anda di sini?" Sabrina bersuara dingin, sedingin tatapan nya pada Tama.
"Jelas untuk bertemu kamu. Papa menginap di sini." Jawab Tama dengan santai, menatap putri nya itu.
Sabrina kembali menarik nafas nya, lalu melangkah keluar pagar rumah. "Kunci mobil!" Ujar nya pada satpam yang tadi dia tugasi memasukkan mobil ke garasi.
"Tapi non----" Satpam itu tampak ragu memberikan.
"Kunci mobil!!" Suara Sabrina meninggi, membuat satpam itu terperanjat dan spontan memberikan nya pada Sabrina.
Tanpa buang waktu dan melirik Tama Sabrina langsung saja memasuki mobil nya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Tama, menatap Sabrina yang memasuki mobil. Gadis itu tidak menjawab pertanyaan nya.
"Masuk! Kalau lo mau ikut!" Desis Sabrina dingin tanpa melirik lawan bicara nya. Yang tak lain adalah Gevan.
Gevan melirik Tama sekilas, lalu membungkuk sejenak, dan berlalu memasuki mobil Sabrina.
Tama menghela nafas nya, menatap mobil Sabrina yang menjauh dari pandangan.