ENAM

2627 Kata
"Makan yang banyak sayang. Biar asam lambung kamu gak kambuh." Ujar Malvin, tangan nya sejak tadi tidak berhenti membelai rambut Zeta. Zeta melirik Malvin yang duduk di samping nya, seraya memasukkan setusuk sate ke mulut. "Kamu gak makan?" Malvin terkekeh, dan mengecup bibir Zeta yang belepotan kuah sate. "Pelan-pelan makan nya sayang, ntar keselek loh. Kan aku tadi udah." "Dikit doang aku lihat." "Lihat kamu makan aja aku udah kenyang sayang." Bisik Malvin tepat di telinga Zeta, meninggalkan kecupan ringan di sana. Zeta menjauhkan kepala nya dari Malvin, "Ih kamu mah, ini lagi rame. Gak lihat tempat banget sih." Omel Zeta ke arah Malvin. Mvin tersenyum, dan meraih tangan Zeta, menggenggam nya lembut. "Kan cuman cium sayang." "Ya tetap aja gak boleh." Gumam Zeta dengan mulut penuh. Malvin mengelus tangan Zeta yang ada dalam genggaman nya, sesekali mengecup tangan istrinya itu. Mata nya menatap Zeta dari samping, wanita di samping nya ini benar-benar membuat nya gila setiap saat. Merasakan cinta, yang tidak pernah bosan dia ucapkan. "Kamu makin hari kok makin cantik sih?" Goda Malvin, menatap Zeta. Zeta memutar bola mata nya malas, "Vin, kamu kapan sih pensiun gombalin aku? Gombal mulu tiap hari." Cibir nya. "Sayang, kamu aja yang bilang aku gombal terus. Kamu emang gak bisa bedain mana yang gombal, mana yang ngomong jujur hm?" Dengan gemas Mavin mencubit pipi Zeta. Zeta menatap Malvin dengan senyuman manis nya, "Emang iya?" "Iya. Kamu itu wanita paling cantik buat aku. Gak pernah terlintas di benak aku untuk ninggalin kamu. Bukan karna alasan cantik, tapi karna kamu takdir yang disiapkan Tuhan untuk pelengkap seorang Malvin." Ujar Malvin, sembari menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah istrinya. Lalu tersenyum menatap lekat ke mata Zeta. Zeta lagi-lagi tersenyum mendengar kata-kata manis Malvin yang tiada habis nya. Tangan nya yang di genggam Malvin, balas menggenggam tangan suami nya itu. "Aku harap itu bukan hanya omongan di mulut, tapi di hati kamu juga." Malvin merengkuh pundak Zeta, mendekap istrinya itu singkat, dan mengecup kening Zeta. "Aku akan buktikan ke kamu, kamu akan selalu jadi wanita paling beruntung. Karna apa? Kamu itu ratu di hati, di hidup aku." Zeta tersenyum di dalam dekapan Malvin, lalu balas mendekap tubuh suaminya itu. Tanpa mereka sadar, semua pasang mata yang di sana menatap ke arah mereka, seraya tersenyum melihat pasangan muda yang begitu romantis. "Udah makan nya?" Tanya Malvin dan di anggukan Zeta. "Ya udah kamu tunggu di mobil, aku mau bayar dulu." Malvin menjatuhkan kecupan di kening Zeta kembali, sebelum berlalu menuju si penjual sate tersebut. Sementara Zeta berjalan menuju mobil Malvin yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka makan tadi. Dia baru saja akan membuka pintu mobil, bertepatan dengan seseorang yang menabrak tubuh nya. Bruukk.. "Awww!!" Tubuh Zeta terhuyung, dan tersungkur ke aspal kasar tersebut. Pekikan Zeta spontan membuat Malvin membalikkan tubuh nya, dia membulatkan mata nya melihat Zeta yang terjatuh terduduk di aspal. "Zetaaa!!" Tanpa buang waktu Malvin berlari ke arah Zeta, mengabaikan kembalian uang nya. "Mbak! Mbak maafin saya, saya gak sengaja." Suara panik seseorang terdengar, membuat Zeta mengangkat kepala nya, bersitatap dengan seorang wanita yang menampilkan wajah super panik. Zeta masih termenung, menatap wanita yang baru saja menabrak nya itu, bahkan mengabaikan uluran tangan wanita tersebut. Hingga, seseorang mengangkat tubuh nya hingga berdiri. "Mbak maafin saya. Saya---" "Eh!! Lo sengaja nabrak istri gue!! Lo gak lihat jalan segede ini, kenapa lo harus lewat di dekat istri gue!!" Suara Malvin terdengar tinggi dan tajam, setajam tatapan nya pada wanita tersebut. Wanita bersetelan baju kaos putih dan rok sebatas lutut berwarna coklat tersebut menunduk, "Maaf mas saya gak sengaja, saya tadi buru-buru, karna di kejar orang---" "Lo pikir gue peduli!! Yang gue tau lo membahayakan istri gue!! Tangan nya lecet gara-gara lo!! Lo harus--" "Vin udah!" Zeta memegang lengan Malvin, menghentikan amarah suami nya itu yang semakin memuncak, terlihat dari mata nya yang memerah memancarkan emosi. "Aku gak papa kok. Dia juga udah minta maaf." Ujar Zeta dan mengusap lembut lengan Malvin, lalu melirik wanita yang tampak berumur lebih tua dari nya, mungkin sekitaran 27 atau 30 tahun. Wanita itu tampak menunduk takut dengan tubuh gemetar. "Gak bisa gitu dong sayang!! Dia udah bikin kamu jatoh!! Aku aja gak pernah biarin tubuh kamu sampai luka!! Enak aja dia---" Cup Zeta menegcup bibir Malvin, menghentikan suara suaminya itu yang semakin menggebu-gebu. Tidak peduli mereka menjadi pusat perhatian semua orang. "Aku gak papa sayang. Bener deh, ini cuman lecet kecil aja, nanti di obatin juga sembuh kok." Dia berusaha menenangkan Malvin, sembari menunjukkan telapak tangan nya yang sedikit lecet. Malvin menatap mata Zeta, lalu menarik lembut tangan istrinya itu. "Kita pulang sekarang!" ucap nya tegas tak terbantah. Zeta hanya pasrah saat Malvin membukakan pintu mobil untuk nya, namun langkah nya seketika terhenti saat mendengar suara teriakan. "NINAAA!!" Zeta dan Malvin spontan menoleh, mata mereka langsung saja menangkap reaksi wanita itu yang tampak panik dan ketakutan. "Mas mbak tolongin saya. Saya dikejar-kejar orang yang mau menjadikan saya p*****r. Tolongin saya!!" Ujar wanita itu dengan panik, dan memohon kepada Malvin dan Zeta dengan berurai air mata. Malvin menepis kasar tangan wanita itu, hingga wanita tersebut tersungkur. "Bukan urusan gue!!" Ujar nya sakartis dan tajam, "Masuk sayang." "Vin!" Zeta menahan tangan Malvin, lalu melirik wanita itu yang menangis dengan tubuh bergetar ketatukan. "Kasihan!" cicir nya. "Zeta! Udah bukan urusan kita! Kita gak kenal sama dia, mana tau dia bersekongkol sama orang jahat! Masuk sekarang!" Ujar Malvin tegas, menatap Zeta. "Tapi Vin---" "Zeta!" Zeta menghela nafas nya, jika Malvim sudah memanggil mama nya seperti ini. Itu tanda nya Malvin tidak main-main dengan perintah nya. Zeta menatap prihatin wanita tersebut yang tampak ketakutan. "NINAAA!!" Teriakan itu kembali terdengar, membuat wanita itu semakin ketakutan hebat. Zeta dengan spontan menarik tangan wanita itu, dan mendorong nya memasuki mobil. Tidak peduli Malvin mengizinkan atau tidak. "Masuk sekarang!" Ujar Zeta cepat, saat melihat beberapa orang tampak berlari dari jauh. "Malvin ayo masukk!" Zeta bersuara panik dan menarik tangan Malvin. Malvin berdecak, dan memasuki mobil. Melajukam mobil tersebut dengan kecepatan tinggi. Biarlah kali ini dia mengikuti kemauan istrinya itu. Zeta menoleh ke bangku belakang, menatap wanita itu yang masih menangis sesegukan dan memeluk tubuh nya sendiri. "Jangan nangis, kan lo udah aman sekarang." Zeta bersuara, membuat wanita itu mengangkat kepala nya dengan mata yang berair. Zeta menyenggol lengan Malvin berulang kali, namun suami nya itu masih memandang datar ke arah jalanan yang mereka lewati. "Ck, apasih sayang?" Malvin berdecak, saat Zeta terus mencolek lengan nya. "Ih kamu mah!!" Zeta menatap kesal ke arah Malvin. Mvin menghela nafas nya, "Iya sayang. Kamu mau apa?" Suara nya melunak, sembari melirik wanita yang ada di belakang bangku mobil Zeta. "Itu ambilin tisu nya, kasian dia nangis daritadi gak pakai tisu."  Zeta menunjuk kotak tisu yang berada di balik stir Malvin. Malvin mendesah, dan meraih kotak tersebut memberikan nya pada Zeta. Jika bukan permintaan istrinya, malas sekali rasanya dia membawa wanita tidak jelas ke mobil. Zeta memberikan kotak tersebut pada wanita itu. "Hapus air mata lo." perintah nua. Wanita itu meraih kotak tersebut, dan menghapus air mata nya menggunakan tisu. "Makasih mbak." gumam nya pelan. Zeta mengangguk, dan masih memperhatikan wanita tersebut. Penampilan wanita ini sangat cupu, seperti nya bukan orang kota. "Nama lo Nina kan?" Wanita itu mengangguk dan tersenyum ke arah Zeta. "Iya mbak." "Tadi kenapa lo bisa di kejar-kejar gitu?" Tanya Zeta lagi, menatap wanita itu lekat. Nina menghela nafas nya sejenak, "Saya tadi nya dari yayasan pembantu mbak, saya---" "Lo dari yayasan pembantu?" Malvin memotong, dan melirik melalui kaca spion. "Ih Malvin!! Jangan di potong dong." Zeta memekik kesal ke arah Malvin. Mavin tersenyum dan meraih dagu Zeta, menjatuhkan kecupan singkat di bibir istrinya itu. "Maaf sayang." Ujar Malvin lembut, mata nya lalu kembali melirik wanita itu. "Lanjutin!" perintah nya. "Saya pikir saya di panggil untuk bekerja sebagai pembantu di sana, tapi sehari saya bekerja majikan saya mulai kurang ajar. Sampai puncak nya hari ini, saya mendengar bahwa akan di jadikan p*****r di club malam milik majikan saya mas, mbak." jwlas Nina, dan di dengar seksama oleh Zeta. Sementara Malvin, hanya fokus pada jalanan di depan nya dengan sesekali mengelus tangan Zeta yang ada di genggaman nya. "Trus lo kabur?" "Iya mbak, saya gak mau jadi pelacur." Gumam Nina, seraya menyeka air mata nya yang kembali mengalir. "Trus sekarang lo mau kemana?" Tanya Zeta. "Saya gak tau mbak, saya bukan orang sini. Awal nya selain jadi pembantu, saya juga mau nyari seseorang di kota ini. T---" "Siapa?" "Anak mantan majikan ibu saya dulu. Saya di tugaskan alm ibu saya untuk mencari anak mantan majikan nya di sini." Zeta mengangguk, dia baru saja akan bersuara saat mobil Malvin berhenti di dalam garasi rumah. Bahkan dia tidak sadar jika Malvin telah membukakan pintu untuk nya. "Masuk! Cuci tangan, cuci kaki kamu. Habis itu tunggu aku di kamar. Nanti aku suruh Mbak Lilis ngobatin tangan kamu." Ujar Malvin dan mengecup kening Zeta. Zeta mengangguk dan tidak banyak protes. Dia langsung saja berjalan memasuki rumah. Malvij menatap wanita yang di depan nya itu, setelah memastikan Zeta telah menaiki tangga menuju kamar. "Lo dari yayasan pembantu kan?" Tanya nya pada wanita itu. Nina mengangguk sopan. "Iya mas." "lo mau kerja dengan gue? Tugas lo gak berat, lo gak harus masak, nyetrika, nyuci baju atau nyuci piring dan beres-beres rumah. Karna tugas itu sudah ada yang mengerjakan. Tugas lo gampang, cuman menjadi pelayan pribadi Zeta." Mata Nina berbinar mendengar hal tersebut, dia langsung saja mengangguk semangat. "Iya mas, saya mau. Saya mau kerja di sini." Malvin mengangguk, "Oke. Lo lihat mading yang ada di sana!" Nina mengangguk, menatap tunjukan Malvin. "Itu semua peraturan untuk Zeta, apa yang boleh dia lakuin, apa yang enggak. Dan ini note book, berisi tambahan peraturan untuk Zeta dan peraturan di rumah ini. Tugas lo mengawasi nya kemana pun dia pergi, sama siapa, jam makan siang nya, jam tidur siang, apa saja yang boleh dia makan." jelas Malvin, tanpa merubah ekspresi datar nya. Nina mengangguk mengerti, mendengarkan dengan seksama penjelasan majikan baru nya itu. "Jangan sampai kamu melakukan kesalahan! Saya tidak mau ada luka sedikit pun di tubuh istri saya, sampai dia sakit atau kenapa-kenapa. Saya mempercayakan Zeta ke kamu kalau saya sedang tidak bersama dia. Mengerti?" Nina mengangguk, "Iya mas---eh tuan, saya mengerti." dia mengulas sebuah senyum sumringah. "Ya udah, kamar kamu di atas paling ujung. Bi Ira akan menunjukkan nya! Tolong di antar Bi!" "Baik den." Nina mengangguk dan mengikuti langkah wanita paruh baya tersebut. Sementara Malvin, berjalan menuju kamar dimana istri kecilnya sudah menunggu. Sebenarnya, Malvin juga tengah mencari pelayan perempuan untuk mengontrol Zeta di rumah. "Lama banget sih! Ngapain dulu di bawah?" Zeta membalikkan tubuh nya, menatap Malvin dengan kerutan dahi nya. "Maaf sayang, tadi aku ngobrol dulu sama Nina." Balas Malvin, seraya membaringkan tubuh nya di samping Zeta. Zeta langsung saja merapatkan diri nya ke arah Malvin, dan di balas dekapan hangat oleh suaminya itu. "Ngapain?" Tanya nya sembari mendongak menatap Malvin. "Gak ada. Aku cuman bilang, besok dia mulai kerja di sini." balas Malvin santai, sembari mengelus kepala Zeta. Zeta spontan mengangkat kepala nya, menatap lekat pada Malvin. "Kerja? Emang kamu kasih kerja apa ke dia?" Malvin tersenyum, mengecup bibir Zeta sekilas, lalu mengangkat tubuh mungil istirnya itu ke atas d**a bidang nya. Mendekap erat pinggang ramping tersebut. "Jadi pelayan pribadi kamu." Balasan Malvin sontak membuat Zeta membulatkan nata nya, dan siap akan protes. "Vin aku---hhmmmp--" Suara Zeta teredam karna ciuman maut Malvin yang langsung mengunci bibir nya. Bahkan kini posisi mereka telah berbalik, dengan Malvin menindih tubuh Zeta, dan terus melumat habis bibir ranum Zeta. "I want you." Bisik Malvin dengan suara serak nya, lalu kembali menyerang bibir Zeta. Sabrina menatap lurus ke depan sana, bahkan membiarkan semilir angin membuat rambut nya menutupi setengah dari wajah nya. Kadang terlintas di benak nya, untuk meninggalkan segala takdir yang dia dapat sekarang. Rasanya terlalu sulit untuk menghadapi hidup seperti ini. Dulu, saat dia masih berusia 5 tahun, orang-orang di sekitar nya selalu mengatakan bahwa dia adalah anak haram. Tanpa dia tau, apa itu arti anak haram. Hingga usia nya menginjak 10 tahun, dia mengetahui apa itu arti dari kata anak haram. Membuat jiwa dalam diri nya memberontak, dan ingin menepis takdir itu. Setiap hari, setiap waktu, setiap tahun nya dia selalu bertanya siapa ibu nya, kenapa dia tidak pernah di pertemukan dengan wanita yang mengandung nya itu? Bukan kah anak haram itu identik dengan tidak mempunyai ayah? Lalu kenapa dia justru tidak mempunyai ibu? "Makan dulu! Lo pasti belum makan kan?" Sabrina tersentak saat sebuah piring berisi nasi goreng tepat berada di hadapan nya. Dia menoleh pada Gevan yang baru saja menjatuhkan b****g di samping nya. "Makan Sa! Emang lo kenyang ngelihatin gue hm?" Gevan menoleh pada Sabrina, membuat gadis itu spontan memalingkan wajah. Dia terkekeh pelan lalu mengusap puncak kepala Sabrina. "Habis makan, gue anterin lo pulang." Sabrina yang baru saja meraih sendok kembali menjatuhkan nya, lalu melirik Gevan. "Harus nya lo yang pulang." Gevan tersenyum, "Iya, setelah gue pastiin lo pulang." Ujar nya, seraya memasukkan sesendok nasi goreng ke mulut nya. Sabrina menatap cowok itu dari samping. Dia kadang heran dengan Gevan, setahu nya Gevan itu sebelas dua belas dengan Malvin. Sosok yang datar dan dingin kepada semua orang, tapi kenapa cowok ini begitu bawel jika bersama nya. "Lo belajar bawel dari siapa sih?" Sabrina bersuara datar, tanpa mengalihkan pandangan nya. Gevan menoleh,  dan pandangan nya langsung saja bertemu dengan Sabrina. Sorot mata gadis itu terlihat datar dan dingin. "Emang bawel harus belajar?" Sabrina menghela nafas nya, lalu memutus kontak mata dengan Gevan. "Gue tau lo bukan tipe cowok bawel." "Gue emang gak bawel. Tapi gue sendiri juga gak tau kenapa bisa secerewet itu kalau deket lo." Gerakan tangan Sabrina terhenti, begitupun dengan kunyahan di mulut nya. Suasana di antara mereka berubah hening, sampai Sabrina berdehem dan kembali melanjutkan makan nya, tanpa suara. Gevan tersenyum dan juga ikut melanjutkan makan nya. Dia tau, Sabrina pasti gugup karna ucapan nya tadi. Dia yakin perlahan demi perlahan dia akan bisa mencairkan kebekuan di diri Sabrina. "Sa, gue boleh nanya?" Gevan menoleh pada Sabrina. Gadis itu mengangguk samar. "Kenapa lo benci banget sama bokap lo?" lirih nya. Sabrina terdiam sejenak, dia tau Gevan pasti akan menanyakan hal tersebut.  Melihat keterdiaman Sabrina, membuat Gevan merasa bersalah. "Sorry Sa gue---" "21 tahun, gue gak pernah tau siapa ibu gue. Bahkan melihat wujud nya pun gue gak pernah." Sabrina bergumam lirih, tangan nya sibuk memainkan sendok di atas piring. Gevan tertegun, dia tidak bersuara dan hanya menatap lekat pada Sabrina dari samping. "Kurang 10 tahun lama nya gue selalu nanya siapa ibu gue. Tapi setiap gue tanya, dia selalu mukul gue." Gevan tersentak, pantas selama kurang lebih 3 tahun dia mengenal Sabrina. Tak jarang gadis itu tampak lebam di wajah. "Di umur 13 tahun, gue membiarkan dia pergi dari rumah demi wanita lain yang dia cintai. 4 tahun lama nya, gue hidup sendiri, gue bisa melakuakn apa pun tanpa bantuan dia. Tapi sekarang, dia kembali tinggal. Siapa yang bisa menerima itu?" Gevan terdiam mendengar cerita Sabrina. Walaupun gadis ini mempunyai seorang ayah, tapi menurut Gevan percuma. Jika ayah nya sendiri selalu main fisik dengan anak nya sendiri, dan malah meninggalkan anak nya. Sabrina wajar jika tidak bisa menerima ayah nya lagi. Sabrina menarik nafas nya lalu menghembuskan perlahan. "Udah malam, lo bisa pulang. Tapi sorry gue gak bisa antar." Sabrina bersuara datar, mengalihkan pandangan nya dari Gevan. Gevan menatap Sabrina yang menunduk memakan nasi goreng nya. "Sa gue---" "Pulang Van. Gak usah pikirin gue, 4 tahun gue bisa melakukan apa pun sendirian." Potong Sabrina. Gevan terdiam sejenak, dia lalu mengelus puncak kepala Sabrina. Mungkin malam ini Sabrina butuh ketenangan. "Ya udah, gue balik. Tapi kalau lo butuh sesuatu, lo bisa telfon gue." Sabrina hanya diam, bahkan tidak melirik Gevan sama sekali. Sampai Gevan beranjak dari tempat nya, dia lalu menoleh dan menatap punggung Gevan yang menjauh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN