Zeta menuruni tangga dengan malas-malasan, dia benar-benar masih mengantuk berat dan sangat enggan untuk masuk kuliah hari ini. Bagaimana tidak? Semalaman dia di siksa Malvin habis-hanisan, dan hanya berhenti pukul 2 pagi, selalu seperti itu, Malvin tidak pernah berhenti jika soal berhubungan intim, kalau bukan dia sendiri yang berhenti.
"Pagi Non Zeta."
Zeta mengalihkan pandangan nya, lalu menyipitkan mata melihat seseorang berpakaian pelayan hitam sama dengan Bi Ira dan Mbak Lilis.
"Pagi Nina."Balas Zeta pelan, seraya menjatuhkam tubuh nya di atas kursi meja makan.
"Ini s**u untuk non Zeta, gak terlalu kemanisan. Mulai sekarang saya yang akan menyiapkam semua keperluan non Zeta." Ujar Nina, seraya tersenyum sopan pada majikan baru nya itu yang masih tampak sangat muda.
Zeta mengangguk, lalu menjatuhkan kepala nya di atas meja makan.
"Non Zeta kenapa? Sakit? Biar saya ambilin obat, atau kita ke rumah sakit aja Non. Kalau gitu----"
"Duh kok kamu bawel banget sih! Kayak Malvin tau gak!" Zeta menjerit kesal, sembari mengangkat kepala nya.
Nina meringis, "Maaf Non, saya hanya panik, kata Tuan Malvin saya harus memperhatikan setiap detail yang terjadi sama non." Jelas nya panjang lebar, membuat Zeta manggut-manggut malas memasang wajah mengantuk nya.
"Iya-iya. Itu resiko kamu dapat majikan super bawel kayak Malvin, kok mau sih di kasih kerja di sini sama dia. Asal kamu tau ya, dia itu galak, suka ngomel, bawel. Pokok nya gak asik deh."
Nina tersenyum mendengar dumelan istri majikan nya itu, mata nya sesekali melirik pada seseorang yang berdiri di belakang Zeta yang sudah rapi dengan pakaian casual khas anak muda. Tidak terlihat seperti orang kerja kantoran.
"Pokok nya ya, kamu jangan mau di suruh-suruh Malvin. Kalau dia ngomong itu diamin aja, dia itu emang----"
"Emang apa sayang?"
Zeta membulatkan mata nya sembari melongo mendengar suara tersebut, terutama saat sebuah tangan memeluk leher nya dari belakang. Reaksi Zeta itu lantas membuat Nina tersenyum geli.
"Emang apa sayang nya Malvin hm?" Malvin mempererat pelukan nya, sembari menempelkan pipi nya dengan pipi istrinya itu.
Zeta menoleh dan tersenyum manis ke arah Malvin, "Hmm---itu emang---emang ganteng banget, baik, perhatian. Emang suami idaman." ujar nya dengan suara super lembut, sembari mengelus rahang kokoh Malvin.
Malvin tersenyum lalu mengecup bibir Zeta, "Oya? Bukan suami bawel? Kerjaan nya ngatur! Nyuruh mulu! Gitu kan sayang? Udah bisa sekarang ngomongin suami di belakang hmm."
Zeta memanyinkan bibir nya, "Iya maaf."
"maaf di terima." Malvin mengecup puncak kepala Zeta, seraya mengambil duduk tepat di samping Zeta. "Sekarang makan sarapan nya, minum vitamin, kita berangkat."
Zeta menoleh pada Malvin, "Kita? Kamu gak ke kantor hari ini?" Tanya nya, menatap tampilam Malvin.
"Enggak. Hari ini, waktu nya aku sama istri tercinta." Balas Malvin, seraya mengoleskan selai ke roti yang ada di piring Zeta.
"Kok gitu sih?!" Zeta protes.
"Loh kenapa? Bukan nya selama ini kamu sering mencak-mencak kalau aku gak ada waktu sama kamu." Malvin menatap Zeta dengan lekat, sembari menaikkan sebelah alis nya. "Kamu takut ya, karna gak bisa bolos lagi kalau ada aku hmm?"
Zeta memalingkan wajah nya ke arah lain, menghindari tatapan intimidasi milik Malvin. "Enggak---aku---aku---ih apaan sih?! Siapa juga yang mikir nya gitu." Rajuk nya.
Malvin mengusap puncak kepala Zeta dengan lembut, menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya itu. "Iya aku tau istri aku itu mikir nya gak kayak gitu, tapi cuman ada niatan buat bolos kan?"
"Iihh Malvin!!" Zeta menjerit dan menenggelamkan wajah nya di d**a bidang Malvin. Membuat cowok itu terkekeh pelan, dan merengkuh tubuh mungil Zeta.
"Kalau hari ini aku gak kuliah gimana? Biar sama kamu aja di rumah, kalau emang kamu gak ada kerjaan di kantor." Zeta mendongak, menatap Malvin.
"Kenapa gak masuk?" Tanya Malvin, sembari menyuapi Zeta sepotong roti, aktivitas nya setiap pagi. Malvin akan makan, setelah menyuapi Zeta nanti nya.
"Aku ngantuk tauk. Kamu sih, semalam gak ngira banget. Kan sekarang capek." Gumam Zeta dengan mulut penuh roti, dia kembali menarik tubuh nya dari pelukan Malvin, bersandar di sandaran kursi.
Malvin menatap lekat wajah Zeta yang memang terlihat lelah, mata istrinya itu juga sayu seperti orang mengantuk. Tangan nya terangkat dan mengelus pipi Zeta dengan lembut. Wanita ini benar-benar membuat nya gila setiap malam, membuat nya tidak ingin berhenti, dan merupakan candu bagi nya. Tapi Malvin selalu berusaha melakukan nya dengan selembut mungkin, dan tidak menyakiti Zeta.
"Maaf ya sayang, kamu capek banget ya?" Tanya Malvin, tangan nya masih setia mengelus pipi Zeta.
Zeta mengangguk, menatap Malvin dengan mata lelah nya. "Emang kamu gak capek?" Malvim menggeleng dan itu membuat Zeta berdecak. "Ya iya lah, enak di kamu."
Malvin terkekeh mendengar dumelan Zeta, "Emang di kamu gak enak? Orang semalam---hmmpp---"
"Ihhh Malvin!! Malu!! Kamu mah." Zeta kembali merajuk sembari membekap mulut m***m Malvin. "Dasar suami m***m!"
"m***m-m***m juga kamu sayang." Cibir Malvin.
Zeta memberengut, "Jadi boleh ya gak kuliah hari ini?" Di tatap nya Malvin penuh harap.
Malvin menghela nafas nya sejenak, "Sayangnya gak boleh. Coba aja kamu kemarin gak bolos, pasti sekarang aku izinin gak kuliah."
Jawaban santai Malvin lantas membuat Zeta frustasi, dan menajtuhkan kepala nya ke lengan Malvin yang berada di atas meja.
"Udah sayang, kan kuliah cuman dua jam. Habis itu kamu bisa tidur sepuas nya." Malvin mengusap puncak kepala Zeta, "Sekarang tegakin kepala kamu, habisin dulu sarapan nya."
Zeta mengangkat kepala nya malas-malasan, lalu menerima setiap suapan Malvin tanpa bantahan. Dia tidak ingin bertengkar di pagi hari dengan Malvin sekarang.
"Nina!" Panggil Malvin, setelah selesai menyapi Zeta.
"Ya Tuan." Nina dengan cepat mendekat ke arah Malvin.
"Kamu sudah baca dan pelajari buku yang saya kasih semalam kan?" Tanya Malvin dengan suara dingin nya.
Nina mengangguk, "Sudah tuan. Saya sudah baca semua nya."
"Bagus. Tugas kamu berlaku hanya kalau saya sedang tidak di rumah. Tapi kalau saya di rumah dan bersama Zeta, kamu bebas dari tugas. Ingat! Saya tidak ingin ada kelalaian sedikit pun dari kamu." peringat Malvin dengan suara tegas.
Nina mengangguk dan tersenyum, "Iya Tuan saya mengerti."
Sementara Zeta memutar bola mata nya jengah, "Dasar suami bawel, protektif." Dumel Zeta super pelan, namun sayang di tangkap oleh pendengaran Malvin.
"Apa sayang?"
Zeta kelagapan, lalu menggeleng dan kembali meneguk s**u yang ada di tangan nya. Tingkah Zeta sontak membuat Malvin tersenyum geli dan mengacak puncak kepala istrinya itu.
Sementara Nina, menatap dengan senyuman keharmonisan rumah tangga tersebut. Pasangan muda yang terlihat romantis, bahkan tatapan Malvin selalu terlihat lembut jika sudah menatap Zeta.
"Cielah, lagi sama pawang gak bisa macam-macam deh jadi nya, ya gak Zi."
"Mana pawang nya galak banget lagi. Kok mau sih Zi, sama dia. Mending sama gue, pasti gue bebasin lo kemana aja, gak di ekorin terus."
Rendra dan Risky tertawa seraya bertos ria, karna baru saja meledek Zeta yang berada dalam rangkulan Malvin.
Zeta memberengut mendengar ledekan tersebut, apalagi mendengar tawa semua teman nya. Dia lalu mendongak menatap Malvin yang memasang wajah dingin andalan nya. Sejak tadi suaminya itu tidak melepaskan rangkulan di pundak nya.
"Gak usah di dengerin! Jomblo sirik emang kayak gitu." Bisik Malvin, saat Zeta berusaha melepaskan rangkulan tangan nya.
"Ketahuan bolos lo kemarin Zi?" Rendra bersuara sembari meredakan tawa nya, menatap menggoda pada Zeta.
"Di apain sampai rumah Zi? Pasti siksaan dari dari Malvin enak kan?" Risky menggoda dan menaik turunkan alis nya, melempar senyum geli ke arah Zeta.
Zeta yang kesal lantas menimpuk kepala Risky dengan tas nya. Membuat Risky terpekik, sementara Rendra tertawa keras.
Malvin mengusap puncak kepala Zeta, sembari tersenyum geli melihat wajah super kesal Zeta yang begitu menggemaskan, apalagi bibir nya manyun ke depan.
"Mau lagi! Lo gue bogem baru tau rasa! Belum pernah ngerasain bogeman gue?!" Zeta melotot tajam pada Risky dan menunjukkan kepalan tangan nya, menatap garang pada cowok itu.
Risky menelan saliva nya melihat kepalan tangan Zeta yang sebenarnya sangat kecil jika dibandingkan dengan punya nya. Tapi mengingat dulu dia pernah melihat Zeta membogem Dara, dia jadi ngeri.
"Damai Zi, jangan galak-galak dong, Risky bercanda kok." Risky menampilkan cengiran nya.
Zeta mendengus, masih menampilkan wajah kesal nya. "Gak gue kasih restu pacaran sama Alya baru tau rasa lo!" Ketus nya.
"Eh jangan dong! Ya ampun Zi, kan Risky udah minta maaf. Restuin dong, masak enggak sih." Ujar Risky dengan cepat.
"Mangka nya lo baik-baik sama gue." Balas Zeta.
"Ih Zeta apaan sih?" Cemberut Alya saat Zeta mengerling ke arah nya.
Semua yang ada di sana tertawa melihat hal tersebut, termasuk Malvin yang masih setia tangan nya bertengger di pundak Zeta.
Kini, mereka tengah berada di kantin bagian luar kampus. Dimana di sini, terdapat sebuah tempat duduk dengan dua buah sofa panjang, dan dua sofa kecil tanpa sandaran. Tepat untuk bersantai-santai jika ingin berkumpul.
"Yang lain kemana? Lisa si solmate lo mana?" Tanya Zeta pada Alya yang tampak sibuk menulis, seperti nya mengerjakan tugas kuliah nya. Memang anak PopGirl di sini hanya ada Alya, dan Zeta.
"Gak tau, mungkin bentar lagi dateng." Balas Alya, mengangka tkepala nya sejenak menatap Zeta. "Nah tu mereka." Tunjuk Alya pada beberapa orang yang tampak berjalan ke arah mereka.
"hay!! Kangen ya sama Lisa!! Sampai nunjuk-nunjuk gitu!!"
Brukk..
Alya spontan memukul kepala Lisa dengan buku sembari meringis setelah mendengar suara melengking gadis itu.
"Sakit Al!!"
"Suara lo kecilin begoo!! Berisikkk!" Balas Alya yak kalah berteriak, menatap kesal pada Lisa.
Lisa memanyunkam bibir nya, "Ih makan apa sih lo pagi-pagi! Marah-marah mulu!"
"Biarin!!" Ketus Alya.
"Berantem terus! Tapi udah kayak amplop sama perangko, kemana-mana berdua, kalau satu nya gak ada di tanyaim. Pas satu nya ada, malah berantem. Ck, heran gue." Ujar Zoya dan menjatuhkan diri nya di samping Zeta, sembari meletakkan kotak makanan di atas pangkuan Zeta.
"Buat gue?!" Tanya Zeta antusias. Zoya mengangguk. "Asik!! Makasih Zoya!!" Ujar Zeta dengan girang saat melihat isi di dalam nya, sebuah omelet yang paling dia suka.
"Udah kayak dapat undian aja Zi." Komentar Gevan.
"Udah lama tau gak makan masakan Zoya." Balas Zeta, dan mulai memakan omelet tersebut. Malvin yang melihat itu tersenyum sembari mengecup pipi istri nya itu. "Kamu mau?" Tanya Zeta menatap Malvin.
Malvin membuka mulut nya, dan langsung saja Zeta memasukkan sesendok omelet itu ke mulut Malvin. "Enak gak?" Tanya nya.
Malvin mengangguk, "Enak. Karna kamu yang nyuapin." Dia mengedipkan sebelah mata nya pada Zeta, tersenyum geli ke arah istri nya itu. Membuat pipi Zeta seketika merona, dan lantas menyembunyikan nya di dalam d**a bidang Malvin.
"Cielah, sejak kapan lo jadi raja gombal Malvin!!" Tawa Rendra seketika pecah, begitupun dengan yang lain nya. Kecuali seseorang yang duduk di samping Alya, gadis itu hanya menampilkan wajah datar nya. Siapa lagi kalau bukan Sabrina.
"Ya elah Rend, ya sejak sama tuan putri lah. Malvin itu udah di buat klepek-klepek sama Zeta, udah gak bisa lepas." Tambah Risky.
Zeta yang di ledek seperti itu enggan mengangkat kepala nya dari d**a bidang Malvin, sementara Malvin hanya diam dan mengeratkan pelukan nya. Tidak masalah mau Zeta seperti ini sampai besok pun dia tidak keberatan.
"Udah-udah! Kasian Zeta nya tuh malu. Tapi lucu." Lisa bersuara, dan menatap gemas pada Zeta yang pipi nya memerah.
Ini bukan pertama kali nya Zeta seperti ini, dulu waktu bersama Juna Zeta juga paling gampang sekali baper, dengan wajah memerah seperti itu. Namun, hal itu lah yang membuat Zeta terlihat lucu bagi siapa yang melihat.
"Ya ampun Zi, lo sering makan gombalan Malvin kayak gitu? Gak usah makan kalau gitu, denger itu juga pasti lo kenyang." Zoya bersuara santai, dan mencomot kentang goreng di atas meja. "Ini lagi malu-malu kucing, nah ini lagi mgelamun gak jelas. Dasar rakjel lo Sa."
Semua pandangan langsung tertuju pada Sabrina. Sebenarnya gadis itu tidak melamun, dia hanya diam tanpa suara dengan pandangan lurus ke depan dan terlihat kosong.
"Kenapa lagi lo?" Alya menyenggol lengan Sabrina, karna gadis itu duduk di samping nya.
Sabrina menarik nafas nya lalu menggeleng, masih tidak mengeluarkan suara.
Zeta baru akan membuka suara nya bertepatan dengan suara keras seseorang membuat perhatian nya teralihkan.
"Ya ampun mami! Plis deh pulang!! Gak usah ketemu dosen ngapain!!"
Kini Malvin cs, dan Pop Girl menatap ke arah sumber suara tersebut. Tampak di sana Vinny, yang tengah menahan gerak seorang wanita paruh baya dengan setelan kantoran. Posisi nya sangat dekat dnegan meja mereka berada.
"Ya biarin dong!! Suka-suka mami, lagain siapa yang nyuruh kamu bolos!!" Jawab wanita paruh baya itu dengan santai, "Udah ah!! Mami mau ketemu dosen kamu dulu!"
"Mami Vinny udah kuliah, bukan SMA lagi." Vinny berdecak, dan kembali menahan tangan mami nya itu.
"Ya---"
"tante Faniii!!"
Vinny dan wanita itu spontan menoleh, mendengar suara teriakan itu. Siapa lagi kalau bukan suara Lisa.
"Aaa---Lisa!! Anak tante paling lucu!!! Apa kabar sayaangg!!"
Vinny mendengus melihat reaksi alay nyokap nya. Ini lah kenapa dia sangat malu jika berjalan berdua dengan orang tua perempuan nya ini. Dia mengusap wajah nya gusar lalu melangkah malas-malasan ke arah meja teman teman nya.
"Baik tantee!! Ya ampun tante makin cantik aja!! Tapi masih cantikan Lisa sih!!" ujar Lisa sembari tersenyum lebar dan super pede.
"Iya dong, kita harus tetap modis, harus kayak anak muda. Iya gak Vin." Fani melirik Vinny di samping nya.
"Hmm."Vinny hanya berdehem malas.
Zoya, Zeta Alya, dan Sabrina yang ada di sana menahan senyum geli mereka. Mereka sangat tau bagaimana Vinny begitu malas menanggapi kelakuam Fani--ibu nya.
"Semangat dong!! Anak muda masak loyo sih kamu!" Semprot Fani, membuat Vinny mendesah.
"Iya mami!! Iya!!"
"Nah gitu dong. Ini enggak cemberut mulu, gimana kamu bisa dapat jodoh kalau gitu. Lihat dong di sini---ya ampun banyak banget cogan nya!! Vinny kamu curang ya gak ngenalin mami ke teman-temen cowok kamu!! Kamu mau nyuri start dari mami!!" Fani bersuara antuasis, dan menatap Malvin cs di sana dengan mata berbinar.
Vinny mendengus dan menjatuhkan diri nya di atas sofa. "Kenalin nyokap gue." Ujar nya dengan suara lemas.
"Hai tante!" Sapa Gevan, Rendra, dan Risky bersamaan kecuali Malvin yang hanya menatap wanita paruh baya itu dengan senyuman sopan.
"Ya ampun ganteng banget sih kalian semua!! Apalagi yang ini, ya ampun cute banget!! Nama kamu siapa?" Fani menatap antusias pada Malvin.
Malvin meringis saat mami Vinny mencubit pipi nya, dia melirik Zeta yang tampak menahan senyum geli.
"Mal---Malvin tante."
"Tuh kan! Nama nya sesuai sama paras nya ganteng banget!!"
Vinny mengacak rambut nya melihat tingkah mami nya yang semakin tua semakin bertingkah ABG. "Mami jangan yang itu!! Itu suami nya Zeta!! Inget umur kenapa sih?!" Teriak Vinny kesal.
Fani terdiam sejenak, dia lalu melirik pada seseorang tepat di sebelah cowok yang barusan dia cubit. "Ya ampun Zetaa!!! Princess nya tante!! Kamu apa kabar sayang!!! Ini suami kamu? Ganteng banget sih, pinter loh kamu milih suami!! Kamu gak ngundang tante loh ke pernikahan."
Zeta membalas pelukan antusias Fani, dia sudah sangat maklum dengan wanita ini. "Iya tante. Zeta undang kok, tante aja yang sibuk gak dateng. Vinny aja dateng." Balas Zeta sembari tersenyum ke arah Fani.
Fani menatap tajam ke arah Vinny, membuat Vinny spontan mengalihkan pandangan nha. "Bagus ya kamu gak ngasih tau mami!!" Desis nya.
Vinny menggaruk tengku nya, "Ya mami sih! Coba aja kalau kelakuam mami gak kayak gini! Pasti aku ajak!!" Balas nya.
"Tuh! Tuh!! Temen kalian. Zoya!! Ajarin Vinny sekarang, masak ngomong sama mami nya kayak gitu!!" Fani menunjuk Vinny, namun tatapan nya pada Zoya.
Zoya hanya tersenyum mendnegar hal tersebut.
"Masak ya Zoy! Tante di tinggal lo tadi di kantor, tante sampai lari-lari ngejar mobil nya! Kam jahat kan?" Adu Fani pada Zoya.
Zoya terkekeh, "Iya tante. Ntar Zoya ajarin dia."
"Iya emang harus. Mulai ngelunjak dia, mentang-mentang tente lama gak di Indonesia." Ujar Fani, melirik Vinny yang mendengus malas, bukan nya takut.
Semua yang ada di sana terkekeh melihat tingkah mami Vinny, mereka tidak menyangka jika wanita itu mempunyai jiwa ABG di umur nya yang hampir setengah abad itu.
"Tuh contoh dong Alya!! Belajar !! Ini enggak bolos mulu!!" Semprot Fani, lalu tersenyum ke arah Alya yang sejak tadi menunduk pada buku nya. Dan di balas dengan senyuman oleh Alya. "Rajin belajar ya Al, jangan mau di hasut Vinny kalau bolos."
Alya terkekeh mendengar itu, sembari mengangguk.
"Udah ah!! Mami ngapain sih di sini?! Sana pulang!! Bikin rusuh aja!" Gerutu Vinny.
"Suka-suka mami lah, orang teman-teman kamu aja gak masalah." Balas Fani enteng.
"Vinny anak tante? Kok beda sih? Sifat nga gak gokil kayak tente." Risky bersuara melirik geli ke arah Vinny.
"Nah itu, tante juga heran kenapa dia bisa beda. Anak ketukar di rumah sakit kali ya." Balasan Fani yang tanpa dosa membuat semua orang tertawa terbahak-bahak. Sementara Vinny mendengus, dan memasang wajah datar nya.
"Terus!! Terus aja Mi! Terus aja!! Biar sekalian gak Vinny anterin pulang." Vinny bersuara dingin, dan meletakkan kunci mobil nya di atas meja.
Fani tertawa pelan, "Cie Vinny anak kesayangan mami ngambek! Jangan dong sayang, nanti siapa yang jadi supir mami!"
"Mangka nya belajar nyetir! Ngaku sosialita, tapi gak bisa nyetir."Gerutu Vinny.
"Vin berbakti sama orang tua itu nama nya." Rendra menimpali.
"Nah bener nih si ganteng! Itu nama nya kamu berbakti sama orang tua." Celetuk Fani.
Vinny menggaruk kepala nya, lama-lama menghadapi ibu nya ini benar-benar membuat nya gila. Mimpi apa dia punya mami seperti ini, kelakuan udah kayak ABG, centil, alay lagi.
"Tunggu! Sabrina mana!! Mana Sabrina?!" Tanha Fani Heran. "Kalian masih temenan sama jagoan mami itu kan?"
Zeta tersenyum, "Tante kaca mata nya pake dong, Sabrina tuh di samping Alya." Ujar nya dengan suara lembut.
Fani meraih kacamata nya, benar saja gadis yang di cari nya duduk di samping Alya. "Nah ini jagoan mami! Mami pikir gak datang." Ujar nya sembari menggenggam tangan Sabrina yang terletak di atas meja.
Sabrina tersenyum tipis pada Fani, sembari mengangguk pelan. "Apa kabar tante?"
"Baik sayang. Kamu gimana?" Tanya Fani, suara Fani yang berubah kalem membuat suasana berubah hening.
Jika Zeta cs tidak heran lagi akan sikap Fani itu kepada Sabrina yang akan mendadak berubah kalem jika berbicara dengan Sabrina.
"Seperti yang tante tau." Balas Sabrina.
Fani terdiam sejenak, senyum di wajah nya perlahan memudar namun tidak sampai hilang. Dia lalu mengusap puncak kepala Sabrina, lalu bangkit berdiri.
"Ya udah kalau gitu tante pulang dulu ya." pamit Fani.
Semua nya mengangguk.
"Gue anterin nyokap dulu." Pamit Vinny kali ini.
"Tu kan! Gara-gara lo tau gak pake acara bolos selaga kemarin!!" Gevan menggerutu dengan pandangan kesal ke depan.
"
Gak usah nyalahin gue kali. Lo sendiri yang gak ada inisiatif buat ngerjain!" Balas Sabrina tak kalah kesal, pandangan nya juga lurus ke depan.
"Inisiatif? Eh---gue kemarin udah berusaha nelfon lo! Tapi apa? Lo aja gak ngejawab telfon gue!!" Kali ini Gevan menatap kesal ke arah Sabrina.
"Kenapa harus ke gue? Kenapa gak lo telfon Zeta? Niat lo tu emang gak ada! Jadi gak usah ngeles!!" Sabrina juga ikut menatap kssal Gevan yang sejak tadi menyalahkan nya.
"Tuh Zi! Temen lo tu emang gak bisa di salahin tau gak!! Giliran hal kayak gini aja, salah gue!!" Gevan menepuk pundak Zeta yang berada di samping nya.
"Lo nya aja yang mulut kayak cewek! Ni ya Zi, kemarin-kemarin gue udah bilang sama dia kalau tugas ini harus di selasaikan secepat mungkin. Tapi apa? Setiap kerja kelompok dia gak dateng terus!! Terus sekarang gue yang di salahin!! Enak banget mulu lo ngomong!" Sabrina membalas.
Zeta yang berada di tengah-tengah mereka hanya diam, dan mengangguk jika Gevan berbicara pada nya, begitupun jika Sabrina berbicara pada nya.
"Kan percuma, kalau gue dateng, tapi pendapat gue gak di pakai! Yang betul selalu pendapat dari lo!! Ya gue kesel lah, lo pikir urusan gue tugas ini doang!" Gevan menghentikan langkah nya, menatap kesal ke arah Sabrina.
Sabrina ikut menghentikan langkah nya, membalas tatapan Gevan. "Kan di pertimbangin! Gak mungkin dong cuman ide lo aja yang di pakai! Ide Zeta sama ide gue juga harus di pakai! Lo jadi cowok egois sih!! Mangka nya ni tugas gak kelar-kelar."
Zeta mendengus mendengar perdebatan di antara ke dua nya. "Van! Sa! Menurut gue lebih baik---"
"Gak bisa Zi! Ni temen lo emang harus di kasih pelajaran tau gak!! Biar gak seenak nya!" Gevan memotong ucapan Zeta, menunjuk ke arah Sabrina.
"Ya udah ayok! Lo pikir gue takut sama lo?! Mentang-mentang badan lo lebih gede dari gue?! Lo mau ribut!! Ya udah sini maju!!" Sabrina tak kalah menyolot.
Zeta kali ini menggeram tertahan, kuping nya sudah benar-benar panas berada di tengah-tengah ini.
"Terserah deh." Gumam Zeta oelan, lalu keluar dari tengah-tengah Gevan dan Sabrina, membiarkan kedua teman nya itu mau berdebat, bertengkar, atau adu jotos sekalipun dia tidak peduli.
Kepala nya sudah cukup sakit karna mendemgar ceramah dosen mata kuliah bersangkutan tadi. Di tambah Gevan dan Sabrina yang terus saling menyalahkan, tidak ada yang mau mengalah.
"Aerghh---heran, punya anggota kelompok dua orang doang, gue pikir bakal mudah buat di atur. Ini enggak, kerjaan nya kayak kucing sama anjing, berantem mulu." Gerutu Zeta seorang diri, sesekali menoleh ke belakang, melihat Gevan dan Sabrina di sana yang masih saling adu mulut.
Bruukkk..
Zeta tersentak saat tiba-tiba tubuh nya tidak sengaja menabrak seseorang, akibat berjalan dengan pandangan terus ke belakang. Tubuh nya terhuyung ke belakang, kalau saja tidak ada sepasang tangan yang menahan pinggang nya mungkin dia akan mencium keras nya lantai.
"Lihat nya ke depan, bukan ke belakang sayang."
Zeta yang tadi memejamkan mata, kembali membuka mata nya saat mendengar bisikan lembut tersebut, terlebih merasakan bibir nya di kecup lembut. Pandangan nya langsung saja bertemu dengan mata Malvin yang berjalan begitu dekat dengan nya.
Zeta melempar senyum nya kepada Malvin, bertepatan dengan Malvin yang menarik tubuh nya semakin dekat dengan cowok itu, membuat tubuh nya menempel sempurna dengan d**a bidang Malvin.
"Lihatin apa sih kamu? Sampai jalan nengok ke belakang gitu? Bagus tadi kamu nabrak nya aku, bukan nabrak cowok lain, atau kesandung batu." Seru Malvin dan semakin mendekap erat tubuh Zeta.
Zeta mendongakkan kepala nya menatap Malvin, "Maaf, tadi aku itu lihatin mereka." Tunjuk nya pada sepasang manusia yang tengah berdebat di tengah koridor.
Malvin mengikuti arah telunjuk Zeta, dia mengangkat sebelah alis nya menatap pemandangan tersebut. Dia lalu melirik istri kesayangan nya, yang masih berada dalam rengkuhan nya.
"Mereka kenapa?" Tanya Malvin.
Zeta menghela nafas nya, "Biasa! Berantem masalah tugas."
Malvin terkekeh lalu mengusap puncak kepala Zeta, karna istrinya itu tampak murung. "Kenapa sayang?"
"Ck, kesel tau. Tugas aku gak kelar-kelar gara-gara mereka berantem terus. Kapan aku bisa wisuda kalau gitu." Dumel Zeta, memasang wajah memberengut.
Malvin tersenyum dan menatap lekat pada Zeta. Lalu mengecup gemas bibir Zeta yang manyun. "Gak papa sayang, jangan terlalu buru-buru. Jalanin aja."
Zeta membalas tatapan Malvin tak kalah lekat, "Kamu udah selesai bimbingan nya?"
Malvin mengangguk, sembari membelai rambut Zeta yang menutupi wajah istrinya itu. "Kenapa emang?"
"Aku capek, ngantuk, laper juga." Zeta bersuara manja, sembari menyandarkan kepala nya di d**a bidang Malvin.
Malvin lagi-lagi tersenyum melihat tingkah manja istri nya ini. "Ya udah. Gimana kalau kamu ikut aku ke kantor sebentar, nanti istirahat di situ aja. Aku ada kerjaan sebentar soal nya."
Zeta tampak berpikir, "Aku pulang aja deh."
Malvin menggeleng, "Enggak sayang, aku gak bisa biarin kamu pulang sendiri."
"Ya udah anterin dulu."
"Gak mau juga. Ntar kalau kamu di rumah, aku kangen, trus gak fokus kerja di kantor." Malvin mengedipkan sebelah mata nya, menggoda Zeta.
Zeta mendengus, "Lebay! Biasa nya juga aku di rumah."
"Yah ikut ya, biar aku semangat sayang."
Zeta tersenyum, lalu mengecup rahang Malvin seraya mengangguk. Anggukan nya langsung saja di sambut bahagia oleh Malvin, suami nya itu langsung saja mendekap erat tubuh nya.
"Trus itu mereka gimana?" Tanya Zeta menunjuk Gevan dan Sabrina yang masih tampak berdebat, entah apa yang masih mereka perdebatkan.
"Udah biarin aja sayang, tau-tau habis ini mereka jadian. Jadi biarin mereka berdua."
Zeta terkekeh mendengar jawaban Malvin, dia lalu memeluk pinggang Malvin. "Ya udah ayok!"
Malvin mengecup puncak kepala Zeta, berjalan tanpa melepas rengkuhan nya di pinggang ramping istrinya itu.