Malvin dengan perlahan membuka pintu kamar tersebut menggunakan lengan nya, lalu membaringkan tubuh Zeta yang tertidur di atas sana.
Zeta memang tertidur saat di perjalanan mereka menuju kantor tadi, seperti nya dia begitu lelah.
Malvin duduk di tepi ranjang tersebut, mata nya tidak berhenti menatap lekat pada istrinya yang tertidur pulas tersebut, terlihat dari deru nafas nya yang beraturan. Dia tersenyum, lalu meraih tangan kanan Zeta, menggenggam nya dengan lembut seraya di kecup nya.
Rasa nya tidak bosan Malvin menatap wajah tersebut, mau dalam kondisi bangun ataupun tidur. Dia juga tidak pernah berhenti mengumandangkan ini, bahwa Zeta memang takdir yang paling dia syukuri di hidup nya.
"Terima kasih sayang, kamu hadir di hidup aku. Merubah sosok seorang Malvin yang dulu jarang tersenyum, menjadi sosok seseorang yang benar-benar paling bahagia di muka bumi ini." Seru Malvin di keheningan kamar tersebut, pandangan nya lalu beralih pada perut rata Zeta yang di lapisi dengan blouse merah muda tersebut.
Tangan Malvin terangkat dan mendarat tepat di atas perut rata Zeta, perlahan tangan nya bergerak mengelus perut tersebut, membuat Zeta melenguh sesaat dalam tidur nya.
"Aku harap suatu saat nanti akan ada kehidupan di dalam sini." Gumam Malvin, dan terus mengelus perut Zeta.
Malvin tidak pernah mempermasalahkan entah cepat atau lambat Zeta bisa memberi nya keturunan. Karna jujur, bagi nya sendiri anak atau apa pun itu bukan lah prioritas utama nya. Bagi Malvin sendiri, Zeta lah yang selalu menjadi prioritas nya. Namun, jika di berikan Tuhan maka Malvin tidak akan menolak, terserah mau umur nya masih muda sekalipun.
Malvin terkekeh pelan, membayangkan dia mejadi orang tua muda. Dulu, dia bahkan tidak pernah terpikir untuk menikah muda, apalagi sampai mempunyai anak. Tapi, semua berubah saat hubungan nya dan Zeta baru berumur setahun, entah kenapa Malvin begitu yakin jika Zeta lah pendamping hidup nya kelak. Dan lihat lah sekarang! Semua terbukti, Zeta ada di sini, di setiap pagi Malvin menbuka mata, wanita cantik ini lah yang di lihat nya.
Pandangan Malvin kembali teralih pada wajah Zeta, di elus nya pipi tersebut dengan lembut. "Aku sayang kamu, selama nya. Jangan pernah tinggalin aku, dan tetap berdiri di samping aku apa pun yang terjadi ya sayang."
Di kecup nya kening Zeta begitu lama, sembari memejamkan mata. Merasakan desiran di d**a nya, beserta detak jantung nya kembali liar. Merasakan gejolak cinta yang semakin hari nya, selalu bertambah besar.
"Aku pergi dulu. Tidur yang nyenyak sayang. Aku cinta kamu." Bisik Malvin, lalu mengecup bibir Zeta sekilas. Menyelimuti istrinya itu hingga sebatas d**a.
Jika bukan karna ada rapat dadakan, mungkin Malvim tidak akan ke kantor hari ini. Dia sudah berjanji akan menghabiskan hari bersama istri tercinta nya itu, tapi mau bagaimana lagi, dia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaan yang sudah menjadi tanggung jawab nya.
"Tetap berdiri di pintu ini! Jangan biarkan siapa pun memasuki ruangan ini!" Malvin bersuara dingin, kepada dua orang bodyguard yang memang di tugasi nya untuk menjaga Zeta.
Kedua bodyguard itu mengangguk dan menunduk sopan. "Baik tuan!"
"Di dalam ada istri saya yang tengah tidur! Saya tidak ingin seorang pun masuk, apalagi itu berjenis kelamin pria! Mengerti!" Tegas Malvin.
"Baik tuan, kami akan menjaga nona Zeta dengan baik." Jawab salah seorang dari mereka.
Setelah memastikan Zeta di jaga dengan aman di dalam sana, barulah Malvin berjalan menuju ruangan rapat dimana rekan-rekan nya sudah menunggu.
Sesibuk apa pun dia, keselamatan Zeta tetap prioritas nya. Dia tidak ingin kejadian yang menimpa istrinya setengah tahun yang lalu, terulang.
"Gara-gara lo tau gak! Zeta jadi pergi, untung tadi sama Malvin, kalau kejadian waktu itu ke ulang lagi gimana?" Gerutu Sabrina dengan pandangan ke luar jendela perpustakaan.
Gevan menghela nafas nya, "Iya sorry. Gue salah." Balas nya mengalah, lebih baik dia mengalah dari gadis ini daripada berujung perdebatan yang tidak ada ujung nya.
"Ya trus ini gimana?" Sabrina mengalihkan pandangan nya pada tugas mereka yang masih berceceran di atas meja.
"Gimana ngerjain nya kalau gak ada Zeta. Ya udah pending dulu aja, besok atau lusa lagi di kerjain." Jawab Gevan sembari menyandarkan punggung nya di sandaran bangku.
Sabrina tidak menjawab, dan memilih membereskan buku serta kertas-kertas yang berceceran di atas meja. Sementara Gevan, sibuk menatap Sabrina yang tampak serius nembereskan meja.
"Mau kemana?" Gevan spontan bersuara, saat melihat Sabrina bangkit berdiri dan menenteng tas nya.
"Pulang lah." Balas Sabrina dingin.
"Lo gak lihat hujan?" Gevan menaikkan sebelah alis nya.
Sabrina melirik ke luar jendela, di luar memang hujan deras sejak setengah jam yang lalu dan belum berhenti, lebih tepat nya semakin deras.
"Mobil gue di bengkel."
Sabrina menatap datar pada Gevan yang kembali bersuara, dia lalu menaikkan sebelah alis nya. "Trus?"
"Ya---" Gevan menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"Lo minta anterin?"
Gevan tersenyum simpul pada Sabrina. "Ya, kalau lo berbaik hati mungkin."
Sabrina menghela nafas nya, lalu kembali duduk menatap Gevan yang ada di depan nya. Sorot mata nya terlihat datar dan dingin. "Gak salah kan kalau gue bilang lo cowok gak tau malu!" Desis nya dingin.
Gevan hanya mendengus, "Mobil gue rusak, dan harus di bawa ke bengkel Sa. Bukan modus."
"Yang bilang lo modus siapa?"
Skakmat
Gevan terdiam, dengan pandangan kaku pada Sabrina. Kenapa setiap menghadapi gadis ini dia selalu mati kutu sih? Terlebih tatapan Sabrina, padahal gadis itu menatap nya super datar dan dingin, tapi kenapa dia bisa salah tingkah jika di tatap lama oleh mata Sabrina?
Gevan mengalihkan pandangan nya ke luar jendela. Arrghh--lama-lama gue deket Sabrina, bisa jantungan terus. Tatapan dingin dia kenapa bikin gue deg deg kan ya. Gevan membatin, merutuki diri nya.
Suasana perpustakaan itu hening sejenak. Sebelum akhir nya Gevan berdehem. "Sa! Gue boleh nanya?" dia menatap Sabrina.
Sabrina tidak menjawab, dia hanya diam dan melirik sekilas pada Gevan.
"Hhmmm, kalau gue boleh tanya, elo---hmm---lo pernah pacaran?" Tanya Gevan dengan suara yang mendadak berubah gugup.
Sabrina diam sejenak, sebelum akhir nya menjawab dingin. "Gak!"
"Suka sama cowok?" Tanya Gevan kali ini lebih santai.
"Gak!"
Gevan melongo mendengar jawaban singkat Sabrina. "Jangan bilang lo suka cewek?"
Sabrina mendesah kasar, lalu mencondongkan wajah nya pada Gevan. Spontan membuat Gevan menahan nafas nya, melihat wajah Sabrina sedekat ini. "Denger! Gue normal, gue gak suka cewek! Dan gue juga gak suka cowok!" Desis nya. "Kenapa? Karna dua-dua nya gak penting buat gue."
Gevan baru bisa bernafas lega saat Sabrina menjauhkan wajah dari nya. "Tapi lo gak bisa dong hidup sendiri terus, setiap hal itu di ciptain berpasang-pasangan. Ada siang ada malam, ada makan ada minum, ada baju ada celana, ada cewek ada cowok." ujar nya panjang lebar.
Sabrina menatap malas ke arah Gevan. "Lo ngomong buat gue? Atau buat diri lo sendiri?"
Gevan nengerutkan dahi nya, "Maksud lo?"
"Lo sendiri gak punya pacar." Seru Sabrina santai.
Gevan diam sejenak, dia kembali merutuki diri nya. b**o banget sih gue ngomong kayak gitu? Orang gue sendiri juga gak punya pacar. Batinnya.
"Kenapa diam?" Sabrina menaikkan sebelah alisnya, lalu mencondongkan wajah nya ke arah Gevan, mempertipis jarak nya dengan cowok itu. Lalu tersenyum miring. "Lo lagi mikir kalau lo itu b**o karna mempertanyakan hal yang sebenarnya juga terjadi dalam diri lo?"
Gevan termangu menatap wajah Sabrina yang begitu dekat dengan nya. Bukan hanya karna itu saja, tapi senyum gadis itu mampu membuat nya tersihir.
"Lo---senyum lo cantik." Gumam Gevan.
Seketika wajah Sabrina berubah datar, membuat senyum itu hilang. Dia langsung saja memundurkan wajah nya, dan kembali mengalihkan pandangan dari cowok itu.
Kini giliran Gsvan yang tersenyum. "Kenapa gak dari dulu aja lo senyum kayak gitu. Lo cantik kalau senyum." seru nya.
Sabrina mengusap wajah nya sejenak, bukan tanpa alasan dia berusaha menyembunyikan wajah nya yang tiba-tiba saja terasa memanas. Sedikit banyak nya ucapan Gevan berpengaruh pada nya.
"Lo tau gak Sa, gue emang gak punya pacar. Tapi---" Sabrina kembali menoleh pada Gevan, cowok itu juga menatap ke arah nya dengan senyuman yang selalu dia tampilkan. "---Tapi paling gak ada seseorang yang gue tunggu untuk buka hati buat gue."
Sabrina tidak bersuara, hanya sekedar menatap datar ke arah Gevan. Membuat Gevan berdecak, "Ck, tanya kek siapa gitu."
Sabrina mendesah malas, "Ya udah siapa? Biar lo seneng."
Gevan tersenyum, lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju bangku Sabrina yang ada di seberang nya. Dia lalu berdiri di belakang Sabrina, menyentuh kedua pundak gadis itu. Membuat Sabrina seketika mematung.
"Gue tunggu Sabrina buka hati nya buat gue." Bisik Gevan.
Deg
Jantung Sabrina untuk pertama kali nya berdetak cepat, perlahan dia memutar kepala nya, bersitatap dengan mata Gevan yang begitu dekat dengan nya.
"Dan gue buktiin bahwa gak semua cowok seperti apa yang ada dalam pikiran dia." lanjut Gevan dengan wajah serius.
Sabrina tertegun, lalu bangkit berdiri dan meninggalkan Gevan di sana.
Gevan menghela nafas nya, dia yakin suatu saat nanti dia akan bisa merebut hati Sabrina.
"Lo duduk dulu! Biar gue pesanin."
Sabrina tidak menanggapi suara Gevan, dia hanya duduk dengan pandangan menilik lokasi tempat nya kini. Hanya sebuah warung bakso yang berukuran kecil, namun begitu banyak pengunjung di sini.
"Bentar lagi di antar bakso nya."
Sabrina menoleh pada Gevan yang sudah duduk kembali di samping nya. "Lo tau darimana tempat ini?" Tanya nya dengan suara datar.
Gevan menoleh pada Sabrina. "Oh, ini tempat makan favorit gue sama Oma kalau ke Jakarta. Biasa nya, kalau pingin makan bakso ya kami ke sini. Bakso nya enak, lo harus cobain!"ujar nya di akhiri dengan senyuman.
Sabrina memperhartikan Gevan yang sibuk memainkan kotak tisu di depan nya. "Nyokap bokap lo?"
Pertanyaan pelan Sabrina membuat pergerakan tangan Gevan terhenti, mata nya menatap lurus pada kotak tisu tersebut.
Melihat keterdiaman Gevan membuat Sabrina juga ikut bungkam. Seperti nya dia salah menanyakan sesuatu. "Sorry gue---"
"Mereka udah meninggal."
Sabrina tertegun mendengar lirihan Gevan, mata nya tidak putus menatap Gevan yang kali ini menatap lurus ke depan.
"Dari gue kecil." Gevan menoleh pada Sabrina. "Kata Oma, nyokap meninggal waktu ngelahirin gue. Trus bokap---bokap depresi, sampai akhir nya meninggal karna overdosis." Suara Gevan begitu terdengar lirih, dan juga bergetar.
Mendadak perasaan bersalah bersarang di d**a Sabrina. Ini pertama kali nya dia melihat cowok ajaib kayak Gevan bisa se mellow ini.
"Sorry gue---gue gak tau." Gumam Sabrina.
Gevan tersenyum dan menatap Sabrina. Dia lalu mengusap puncak kepala gadis itu. Mau segalak dan sebrutal apa pun Sabrina, di mata Gevan gadis itu tetap manis jika tengah diam seperti ini.
"Santai aja kali. Gue malah seneng ada yang nanyain hal itu. Selama ini, gue curhat nya sama Malvin mulu, atau gak sama Risky dan Rendra. Bosen gue."
Sabrina terkekeh pelan mendengar jawaban Gevan, lalu mengeratkan jaket kulit yang di pakai nya. Hujan telah berhenti beberapa menit yang lalu, namun menyisakan udara yang begitu dingin.
"Selama ini gue cuman bisa ngelihat foto nyokap dan bokap, tanpa pernah ketemu langsung." Gevan bersuara kembali, memecah keheningan. Membuat Sabrina menoleh pada cowok itu. "Gue selalu membayangkan suatu saat nanti nyokap dan bokap gue balik, walau cuman satu menit bersama gue. Tapi gue juga sadar, hal itu gak akan pernah terjadi." Gevan tersenyum kelu.
Sabrina hanya diam dan mendengarkan Gevan mengeluarkan keluh kesah nya. Mungkin dengan mengeluh, beban di d**a cowok itu sedikit berkurang.
"Lo tau maksud gue kan Sa?" Sabrina tersentak, saat Gevan menatap nya.
"Maksud lo?" Gumam Sabrina pelan.
"Lo punya kesempatan yang gak gue punya." Ujar Gevan, menatap lekat ke mata Sabrina. "Lo masih beruntung punya bokap yang bisa---"
"Jangan bandingkan diri gue dan lo!" Sabrina memotong suara Gevan dengan cepat. "Kita beda!" desis nya.
"Gue tau kita beda." Balas Gevan, "Lo punya bokap, gue gak punya bokap." mata nya menatap lekat ke mata Sabrina.
Sabrina menyeringai, "Iya. Tapi seperti tidak memiliki. Lo gak ada di posisi gue Van, lo gampang ngomong kayak gitu. Tapi apa lo bisa jika ada di posisi gue?" Sabrina menggeleng, "Enggak. Gak ada yang bisa."
Gevan tertegun menatap mata Sabrina yang berkaca-kaca. "Gue tau, hanya lo yang bisa merasakan itu, kaena lo memang sudah melaluinya. Lo tau Sa, apa persamaan di antara kita?"
Sabrina tidak menjawab, dia memilih memalingkan pandangan nya dari Gevan, berusaha mengendalikan emosional dalam diri nya.
"Kita sama-sama terlahir tanpa seorang ibu. Lo gak pernah mengetahui rupa ibu lo, lo gak pernah ketemu dengan ibu lo. Gue? Gue juga gak pernah ketemu ibu gue, gue hanya bisa melihat dia dia dari selembar foto---"
"Lo punya foto nya!" Desis Sabrina sengit, "Tapi gue? Gue bahkan gak tau rupa dia sama sekali. Gue---"
"Tapi lo punya bokap!!" Suara Gevan meninggi, memotong suara Sabrina. "Lo punya bokap yang ngebesarin elo! Tapi gue?! Gue gak punya Sa!"
Tatapan mereka sama-sama berubah tajam. "Lo gak mensyukuri itu Sa! Lo gak bersyukur atas apa yang lo lunya!! Gue ingin sekali ketemu sama bokap gue, bukan hanya sekedar di dalam foto. Gue ingin ngerasain sayang nya bokap. Tapi elo? Lo seakan ingin melenyapkan peran bokap lo dalam hidup lo."
Mata Sabrina tidak berkedip menatap Gevan, bahkan saat setetes air mata mengalir di wajah nya.
"Sa---lo selalu membandingkan diri lo dengan orang yang ada di atas lo, lo gak pernah coba membandingkan diri lo dengan orang yang ada di bawah lo. Kita gak akan pernah tau kelebihan diri kita, kalau kita selalu membandingkan dengan mereka yang berada di atas kita. Kita akan lebih bersyukur, kalau membandingkan diri dengan mereka yang ada jauh di bawah kita."
Gevan menatap lekat mata Sabrina yang menatap nya datar, namun terlihat sendu di sana.
"Elo dan Zeta. Kalau lo selalu membandingkan diri lo dan Zeta, lo gak akan pernah ada di atas Zeta. Kenapa? Karna Zeta memiliki apa yang enggak elo miliki Sa!!" Gevan bersuata lantang.
Sabrina memejamkan mata nya, lalu mengalihkan nya ke depan.
"Sorry kalau ini bakal nyatikin lo! Tapi lo harus sadar posisi lo. Berhenti membandingkan diri lo dengan Zeta, karna Zeta berada jauh di atas lo. Dia punya keluarga yang sempurna, harmonis dan menyayangi dia. Dia punya Malvin yang cinta sama dia. Lo gak punya semua itu!!"
Gevan menatap Sabrina dari samping, dia tau kata-kata nya ini akan menyakiti Sabrina. Tapi dia tidak ingin jika Sabrina hidup dalam bayang-bayang kesempurnaan Zeta lagi.
"Gue! Kita sama Sa! Lo gak bisa bersanding dengan Zeta. Begitupun gue, gue gak bisa bersanding dengan Malvin." Lirih Gevan.
Sabrina menoleh pada cowok itu. Menatap mata Gevan. "Malvin, dia punya kedua orang tua yang sayang sama dia. Dia memiliki pujaan hati yang selalu berusaha dia lindungi, dia mendapatkan cinta seseorang begitu dalam. Sementara gue? Gue gak punya orang tua, kalau bukan karna Oma, mungkin gue gak ada di dunia ini. Gue gak bisa ketemu kedua orang tua gue, bahkan di saat pertama kali nya gue bernafas di dunia ini." Mata Gevan memanas, kata-kata nya tercekat di tenggorokan.
"Cinta. Bahkan setiap orang yang gue cintai selalu jadi milik Malvin. Gue gak bisa ngalahin Malvin, dalam hal apa pun. Di sekolah, dia yang populer, dia yang menjabat kapten tim basket, dia yang paling pintar, dia yang paling kaya. Dia paling dalam segala hal. Sementara gue? Gue selalu jadi bayang-bayang Malvin yang ngikutin dia kemana pun dia pergi. Gue selalu jadi nomor dua. Gue gak pernah bisa menyamakan kedudukan Malvin, jangan kan unguk melampaui dia, untuk setara aja gue gak bisa Sa."
Sabrina tertegun mendengar suara Gevan, terlebih saat setetes air mata lolos di wajah cowok itu.
"Tapi gue gak pernah membandingkan diri gue dengan Malvin. Karna itu hanya akan buat gue sakit hati, hingga akhir nya minder dan membenci Malvin." Lanjut Gevan dengan helaan nafas nya.
Sabrina tertegun, kenapa dia baru sadar, jika sosok Gevan sebenarnya adalah duplikat diri nya. Mereka hampir mempunyai kisah hidup yang sama.
"Van---Kenapa lo selalu mengalah dari Malvin?" Sabrina bertanya pelan, lalu melirik Gevan. "Kenapa lo rela ngasihin orang yang lo cinta ke dia? Bukan sekali, tapi berkali-kali." lanjut Sabrina.
Gevan terdiam sejenak, dia menarik nafas nya, lalu menjawab. "Sekarang gue balikin pertanyaan itu ke elo. Andai, lo mencintai seorang cowok, tapi Zeta juga mencintai cowok yang sama dengan yang lo cinta. Apa yang akan lo lakuin?"
Pertanyaan Gevan membuat Sabrina mematung, bayangan wajah Zeta langsung saja memenuhi benak nya.
"Lo paksain diri lo untuk memiliki cowok itu? Atau lo ikhlasin untuk sahabat lo?" Tanya Gevan lagi.
Sabrina masih diam dengan pandangan kosong ke depan.
"Apa jawaban yang ada di benak lo, itu juga yang ada di benak gue. Malvin sahabat gue. Gue mencintai seorang gadis, tapi Malvin juga mencintai gadis itu. Gue bisa apa? Selain mengorbankan perasaan gue. Kadang memang sakit Sa, tapi akan lebih sakit kalau Malvin membenci gue setelah itu.
"Kalau gue ingin egois, mungkin sekarang status Zeta bukan istri Malvin. Tapi gue gak mau, keegoisan gue akan menghancurkan hidup banyak orang. Bukan hanya Malvin, tapi juga Zeta." lanjut Gevan.
Sabrina menunduk, kata-kata Gevan malam ini benar-benar membuat nya sadar akan posisi nya dengan Zeta selama ini. Gevan benar, dia harus sering melihat ke bawah agar dia bisa melihat bahwa banyak orang uang lebih kurang beruntung dari nya.