"Tolong kamu bawakan berkas-berkas ini ke ruangan saya!" Titah Malvin, sembari melangkah keluar ruangan rapat tersebut.
Dina mengangguk dan berjalan tepat di samping bos muda nya itu. Sesekali dia mencuri pandang ke arah Malvin, dan tersenyum. Rasa nya, jantung nya tidak pernah berhenti berdetak setiap bersama Malvin.
"hmmm---maaf pak---ini kan sudah sore, bapak mau makan tidak? Kita bisa makan bersama di cafe depan kantor." Dina bersuara super manis, dan menahan rasa gugup dalam diri nya.
"Tidak. Saya akan makan di ruangan." Balas Malvin datar, dengan pandangan dingin ke depan.
Dina merespon sumringah, "Bagaimana kalau kita makan bersama di ruangan bapak, saya akan---"
"Saya akan makan bersama istri saya! Kamu belikan saya dua bungkus makanan! Saya tunggu di ruangan. Ingat! Sesuai dengan keinginan saya, tidak pedas, dan pasti nya sehat tidak mengangdung formalin." Malvin memotong suara Dina, merebut berkas di tangan sekretaris nya itu, lalu berjalan memasuki ruangan nya. Tidak menghiraukan ekspresi melongo dari wanita itu.
Dina menggeram, mendapatkan respon yang selalu sama dari Malvin. "Apa? Istri nya? Sumpah ngeselin banget! Kenapa pake ke sini segala sih tu cewek! Sok cantik!" Gerutu Dina seorang diri, "Tapi--emang cantik sih." Gumam nya setelah itu.
Sementara itu, Malvin yang telah berada di dalam ruangan nya langsung saja menuju kamar pirbadi milik disana, dimana Zeta berada. Dia tersenyum di ambang pintu, saat melihat Zeta masih tertidur pulas di sana. Tidak berniat mengganggu, dia kembali menutup pintu tersebut.
"Permisi Tuan."
Malvin mengalihkan pandangan nya pada kedua bodyguard tersebut. "Ya. Ada apa?"
"Hanya sekedar melaporkan Tuan, tadi nona Zeta sempat bangun dan meminta segelas air. Setekah mendapatkan nya, nona kembali tertidur. Serta tidak ada seorang pun yang memasuki ruangan ini, sesuai perintah Tuan."
Mvin mengangguk, "Baik. Kalian boleh pulang sekarang."
Kedua bodyguard itu mengangguk, lalu meninggalakan ruangan Malvin.
Malvin menjatuhkan diri nya di atas sofa, meregangkan otot-otot tubuh nya yang terasa begitu remuk hari ini. Dia benar-benar butuh istirahat sekarang. Malvin merubah posisi nya menjadi setengah berbaring di sofa, kepala nya dia dongak kan ke atas sana bertumpu dengan kepala sofa.
Tok tok...
"Permisi Pak, ini makanan yang bapak pesan."
"Silahkan letakkan di atas meja!" Perintah Malvin, tanpa menoleh pada Dina.
Dina mengangguk patuh, lalu berjalan menuju meja kerja Malvin, meletakkan bingkisan tersebut di sana. Dia membalikkan tubuh nya, lalu menatap Malvin yang tampak memijat pelipis nya. Dia heran, kenapa bos nya ini sangat sulit di dekati, bahkan hanya sekedar melirik ke arah nya saja tidak.
Malvin akan selalu menatap nya dengan dingin, berbeda sekali jika tengah bersama istri nya itu. Ck, mengingat bos muda nya itu telah berkeluarga membuat Dina geram, apalagi membayangkan wajah istri bos nya itu yang benar saja---super cantik.
Dina tersenyum sinis, saat sebuah ide melintas di benak nya. Dia lalu berjalan menuju pintu keluar, melewati Malvin yang tampak memejamkam mata nya di sandaran sofa tersebut. Malihat hal itu, dengan sengaja dia menyenggol tepi sofa, membuat diri nya terhuyung jatuh tepat di atas d**a bidang Malvin.
Bruukkk...
"Arrggh---"
Malvin spontan membuka mata nya, saat merasakan berat tubuh seseorang di atas d**a bidang nya. Dia mengerutkan dahi saat melihat wajah Dina begitu dekat nya, terlebih kedua tangan wanita itu mencengkram d**a nya.
"Apa-apaan sih kamu!! Minggir!!" Sentak Malvin dengan suara tinggi.
"aw!! Sakit pak---kaki saya---"
Malvin bergerak risih saat Dina semakin memepetkan diri ke arah nya. "Minggir saya bilang!!" Desis nya sengit, setajam tatapan nya. "Saya bilang minggir!!"
Malvin mendorong pundak Dina sekuat tenaga, bertepatan dengan sebuah tangan yang menjambak rambut Dina dari belakang. Membuat wanita itu meringis hebat.
"Awww!!! Sakit!!" Dina memegangi rambut nya yang tertarik ke belakang, sebelum akhir nya tangan itu menghempaskan kepala nya begitu saja.
"Gak usah mepet-mepet suami gue!"
Suara dingin itu membuat pandangan Malvin dan Dina sama-sama teralih pada Zeta. Malvin spontan berdiri, melihat wajah Zeta yang begitu datar dan dingin ke arah Dina.
Sementara Dina hanya diam, dengan pandangan juga tertuju pada Zeta.
"Zi!!"
Malvin terkejut saat Zeta mendorong Dina begitu kuat hingga wanita itu terhempas keras ke arah tembok.
Dina meringis merasakan ngilu di punggung nya. Belum lagi pipi nya yang di jepit oleh tangan Zeta, menbuat kuku-kuku Zeta menancap di pipi nya.
"Eh---lo denger kata gue baik-baik. Gue paling gak suka sama yang nama nya pelakor. Apalagi model kayak lo? Gak selevel sama gue! Lo lihat ruangan ini?" Zeta masih mencengkram dagu Dina, lalu mengarahkan kepala wanita itu agar mendongak.
"Ruangan ini ada atap nya, ada lantai. Ibarat nya gue itu atap, sementara elo? Lo cuman lantai, yang untuk di injak-injak orang!" Geram Zeta, mengetatkan capitan nya pada dagu Dina. Membuat wanita itu semakin meringis.
Sementara Malvin yang melihat itu hanya diam. Dia juga tidak kuat jika telah melihat Zeta seperti ini. Yang ada dia juga akan kena imbas nya nanti.
"Ini adalah Sp 2 buat lo. Kalau sampai ke Sp 3, lo gue binasain! Bukan hanya dari kantor ini! Tapi juga dari muka bumi ini!" Zeta bersuara datar, namun terkesan tajam dan mengintimidasi. "Ngerti?"
Dengan sekuat tenaga Zeta menghempaskan dagu tersebut. Dina meringis dan memegang dagu nya yang nyut-nyutan. Dia lalu keluar dari ruangan tersebut tanpa berani menatap mata Zeta.
Zeta masih pada posisi nya menghadap tembok, membelakangi Malvin.
Malvin yang menyadari keterdiaman Zeta, mulai khawatir kalau-kalau setelahnini istri nya itu mengamuk pada nya.
"Zi! Sayang kamu baik-baik aja kan?" Malvin bersuara dan menyentuh kedua pundak Zeta dari belakang.
Zeta sama sekali tidak merespon, baik dari ucapan maupun gerakan. Membuat Malvin semakin khawatir.
"Sayang---kamu lihat sendiri kan tadi? Aku berusah ngedorong dia. Aku---"
"Ihhh apaan sih?!! Sana ah!! Gak usah deket-deket! Jijik tau gak!!" Ketus Zeta, dan mendorong d**a bidang Malvin yang tadi memeluk nya dari belakang.
Malvin mengerutkan dahi nya, melihat respon Zeta yang selerti itu. "Sayang---kamu kenapa? Aku---"
"Jangan deket-deket aku bilang!!"Zeta menjerit, menatap kesal ke arah Malvin. "Gak suka tau!" wajah nya berubah cemberut.
Malvin menghela nafas nya, berusaha sesabar mungkin menghadapi Zeta yang entah kenapa. "Ya tapi kamu kenapa sayang? Kenapa gak mau deket-deket aku?"
Zeta mendengus, sembari menatap malas ke arah Malvin. "Kamu gak kecium apa? Bau kemeja kamu! Parfum tu cewek nempel di sana!! Aku gak suka bau nya!!" Geram Zeta menahan kekesalan.
Malvin yang tersadar lalu mencium kemeja yang di pakai nya. Benar saja, ada wangi parfum Dina yang tertinggal di sana. Jadi ini? Istri nya itu selalu sensitif dengan parfum-parfum yang tidak dia suka.
"Ya udah." Malvin lalu membuka kemeja tersebut, lalu melempar nya ke atas meja. "Udah aku buka. Sekarang sini dong!" Malvin menatap lembut pada Zeta, merentangkan tangan nya agar Zeta mau dia peluk.
Zeta menatap Malvin, lalu melangkah selangkah, mencondongkan wajah nya ke arah tubuh Malvin yang menyisakan kaos putih ketat yang mencetak tubuh cowok itu. Dia mengendus-ngendus di sana.
"Ihhh---masih ketinggalan tau bau nya." Zeta kembali menjauhkan wajah nya, menatap kesal ke arah Malvin.
Malvin mendesah pelan, lalu membuka kaos yang di kenakan nya. Sampai dia akhir nya bertelanjang d**a. "Tuh udah! Gak ada lagi kan bau nya? Udah hilang semua sayang." ujar nya. "Sini dong! Kamu ngapain sih jauh-jauh kayak gitu?"
Zeta menatap Malvin yang merentangkan tangan ke arah nya. Dia perlahan mendekat, dan langsung saja masuk ke dalam dekapan tubuh kekar Malvin yang bagian atas nya tidak terbalut apa pun lagi. Menyembunyikan wajah nya di d**a telanjang suami nya itu, menghirup aroma tubuh Malvin dalam-dalam. Membuat dia kembalo merasakan kenyamanan.
Malvin tak kalah melakukan hal yang sama, sesekali di kecup nya rambut Zeta. Sampai akhir nya Zeta menguarai pelukan tersebut, mendongak menatap Malvin.
"Aku cariin baju lain ya di lemari?" Tanya Zeta sembari melempar senyum manis pada Malvin.
Malvin balas tersenyum dan mengangguk, lalu mendaratkan kecupan singkat di kening Zeta.
Zeta mulai memasuki kamar pribadi tersebut, dan membuka lemari di sana. Mencari baju kaos dan kemeja yang cocok untuk Malvin. Dia meraih sebuah kaos berwarna hitam, bertepatan dengan sepasang tangan yang memeluk nya dari belakang.
"Malvin!! Jangan mulai deh!" Zeta bersuara malas, sembari berusaha meraih baju kaos tersebut di rak paling tinggi.
"Udah syayang, gak usah. Mending kamu nemenin aku. Aku lagi capek banget." Malvin menjatuhkan dagu nya di pundak Zeta, semakin memeluk erat pinggang ramping istri nya itu.
"Ck, trus kenapa?" Tanya Zeta, sembari memegang kedua tangan Malvin yang berada di perut nya.
"Ya temenin aku dong. Kan kamu tau, obat dari rasa lelah aku itu cuman kamu." Bisik Malvin tepat di telinga Zeta, meninggalkan kecupan singkat di ceruk leher istrinya itu.
Zeta menarik kepala nya, menghindari Malvim yang terus mengendus-endus leher nya. Kalau Malvin seperti ini, dia sudah tau ending nya akan seperti apa.
"Vin ini di kantor kamu. Jangan aneh-aneh deh." Gumam Zeta.
Malvin membalikkan tubuh Zeta, masih dengan memeluk pinggang tersebut. Dia menatap lekat ke arah Zeta, lalu mendaratkan kecupan di bibir yang selalu menggoda nya itu. Bukan hanya sekedar kecupan, namun juga lumatan dan ciuman penuh kelembutan.
Zeta memejemakn mata nya, saat Malvin terus melumat bibir nya tanpa henti. Hingga tanpa sadar posisi Zeta kini telah berbaring di atas ranjang, dengan Malvin di atas nya.
Zeta meraup udara di sekitar nya dengan rakus, saat Malvin melepaskan ciuman tersebut. Sementara Malvin, tersenyum melihat bibir Zeta yang bengkak karna ulah nya. Di usap nya bibir tersebut, lalu di kecup nya singkat.
"Ck, kamu ya. Kebiasaan tau." Zeta memukul d**a Malvin yang masih menindih nya.
"Maaf sayang. Habis nya kamu sih, ngegoda iman terus." balas Malvin sembari tersenyum menggoda Zeta.
Zeta memutar bola mata nya malas, mata nya balas menatap sorot mata Malvin yang berbinar ke arah nya. Dia selalu merasakan cinta yang besar setiap menatap mata Malvin.
Malvin terkekeh pelan, lalu menyembunyikan wajah nya di ceruk leher istrinya itu. Saat Zeta menatap nya tidak berkedip seperti ini, membuat nya gugup plus deg deg kan. Katakan lah dia salting, tapi itu memang kenyataan nya.
Zeta ikut terkekeh geli saat Malvin terus menyembunyikan wajah nya di sana, sesekali mengecup leher nya.
"Geli vin."
"Udah bisa ya kamu sekarang ngegodain aku?"
Zeta tertawa pelan, "Kamu lucu ya kalau salting gitu. Emang kamu doang yang bisa godain aku?"
Malvin tersenyum lalu mengacak rambut Zeta. Membantunya untuk duduk. Zeta meraih tangan Malvin, dan mengarahkan nya ke perut rata nya.
"Aku suka perut aku di pegang kamu. Aku harap, suatu saat nanti ada kehidupan di sini." Ujar Zeta menatap Mavin, lalu menggenggam tangan Malvin yang berada di perut nya.
Mavin ikut tersenyum dan mengecup kening Zeta. Tangan nya bergerak mengelus perut tersebut. "Iya sayang. Aku yakin, suatu saat nanti dia akan tumbuh di sini." ujar nya lembut.
Zeta sangat berharap dia bisa memiliki anak dari Malvin. Impian nya selama pernikahan ini. Walaupun usia nya masih tergolong muda untuk memiliki anak, tapi Zeta sangat menginginkan itu. Dan dia harap suatu saat nanti, Tuhan bisa mempercayakan itu di rahim nya.
"Thank you ya, udah nganterin." Gevan menatap Sabrina yang duduk di samping nya. Membuat gadis itu juga menoleh ke erah nya.
Sabrina mengangguk, "Lain kali lo beli mobil naru. Biar gak nebeng terus."
Gevan terkekeh dan mengacak rambut Sabrina. "Gak papa dong, nebeng nya juga sama lo."
Sabrina hanya menghela nafas nya.
"Ya udah gue masuk dulu. Lo hati-hati ya." Ujar Gevan dengan suara yang terdengar begitu tulus.
Sabrina menoleh pada Gevan, lalu mengangguk. Mata nya menatap Gevan yang mulai turun dan berjalan memasuki gedung apartemen tersebut. Hingga akhir nya, Gevan hilang dari pandangan mata nya. Baru lah dia melajukan mobil meninggalkan tenpat tersebut.
Sabrina melirik jam yangan nya, sudah pukul 09.00 malam. Lama juga dia bersama Gevan dalam sehari ini. Tapi itu justru baik untuk nya, itu tanda nya dia tidak akan punya waktu di rumah dan bertemu dengan pria paruh baya yang berstatus ayah nya itu.
Sabrina menghentikan mobil nya saat jarak kurang dari satu meter, sebuah mobil berwarna hitam tampak melintang menghalangi jalanan, membuat mobil nya tidak bisa lewat.
Tanpa keraguan, Sabrina langsung saja turun dari mobil, berniat menghampiri pemilik mobil tersebut.
"Mas, tolong di pindahin mobil nya." Sabrina berduara dan menbungkuk menatap ke dalam kaca mobil tersebut.
Sabrina mengerutkan dahi nya, saat tidak melihat ada seseorang di dalam sana. Dia menatap sekeliling tempat yang telihat sepi dan gelap, karna hanya di terangi lampu jalan yang remang-remang.
"Orang nya kemana sih?" Gumam Sabrina seorang diri, dan masih memperhatikan ke sekeliling nya. Namun, tetap saja tidak ada satu orang pun yang di temui nya.
Sabrina menghentikan langkah nya, tepat di depan pintu mobil nya. Dia mengerutkan dahi, saat menangkap siluet bayangan seseorang, di kaca mobil nya. Dia langsung saja membalikkan tubuh.
Sabrina terkejut saat dia tiba-tiba saja di serang oleh orang tersebut. Dengan secepat kilat dia langsung saja menyamakan kekuatan orang tersebut. Berbekalkan kemampuan beladiri nya selama ini, dia menghantam habis orang itu tanpa memberikan jeda untuk melawan.
Bughh..
"Arrghh---"
Sabrina meringis saat seseorang tiba-tiba saja memukul pundak nya, membuat dia terhuyung ke depan, namun untung kesadaran nya masih utuh walau merasakan nyeri di bagian pundak.
Dalam hitungan detik Sabrina sudah di kepung lebih dari lima orang berpakiaan hitam, dan juga masker hitam. Terhitung ada 7 orang di sana.
"Siapa kalian?" Tanya nya, memegang pundak nya yang terasa sakit.
Sabrina menatap satu persatu orang-orang itu dengan was-was. Detik berikut nya, dia langsung saja di serang oleh mereka.
Bughh...
Bugh..
Sabrina dengan sekuat tenaga berusaha menyeimbangi orang-orang tersebut. Dia berhasil menumbangkan tiga di antara mereka. Tanpa memberikan jeda, Sabrina langsung menghabisi yang lain nya. Namun, gerakan tidak terduga dari seseorang membuat Sabrina lengah.
Sreettt...
"Arghhh!!" Sabrina terpekik saat sebuah pisau sukses menggores lengan nya yang terlapis kemeja. Darah segar langsung saja keluar dari lengan nya. Membuat Sabrina terhuyung jatuh ke aspal.
Sabrina meringis memegangi lengan nya yang terus mengeluarkan darah. Tenaga nya hilang karna hal tersebut. Situasi itu langsung saja di manfaatkan oleh orang-orang itu untuk menyerang Sabrina dengan membabi buta.
BUGH...
"ARGHH!!"
BUGH
BUGH..
BRUKK...
Sabrina di pukul bertubi-tubi tanpa ampun, dalam kondisi gadis itu benar-benar sudah lemah.
"Erghh---" Sabrina terkapar tak berdaya di aspal tersebut, mata gadis itu perlahan meredup, kondisi nya benar-benar mengenaskan dengan wajah babak belur. Dan lengan yang terus mengeluarkan darah.
"Kita habisi dia!" Ujar salah seorang dari mereka, dan di angguki yang lain nya.
Sabrina hanya pasrah saat mata nya menangkap samar-samar seseorang yang siap menghunuskan pisau ke jantung nya.
BUGHH...
Namun, detik berikut nya seseorang menerjang orang tersebut sebelum pisau itu melayang ke jantung Sabrina. Baku hantam kembali terdengar di jalanan sepi tersebut.
BUGHH..
BUGH...
BUGH...
"BRENGSEEK!! PENGECUTT!!"
Teriakan menggelegar itu terdengar, Gevan langsung saja menghabisi semua orang yang tehitung 7 orang itu dengan mudah nya.
"Arghh!!"
Nafas Gevan memburu saat semua lawan nya telah berhasil dia lumpuhkan. d**a nya naik turun karna emosi yang menguasai diri nya. Ke tujuh orang tersebut langsung pergi dengan kondisi tertatih-tatih, lima di antara nya memasuki mobil dan dua di antara nya menggunakan motor.
Gevan menyeka darah yang mengalir di sudut bibir nya. Wajah Sabrina langsung terlintas di benak nya. Membuat jantung nya berdetak cepat.
"Sabrina." Gumam Gevan, lalu membalikkan tubuh nya. Mata nya langsung saja menangkap Sabrina yang terkapar tidak berdaya di dekat mobil, dengan kondisi yang mengenaskam. Gevan berlari kencang menuju gadis itu.
"Sa!! Bangun!! Sa lo baik-baik aja kan!! Sa!!" Gevan memangku kepala Sabrina, mata gadis itu masih terbuka lemah. Detik berikut nya, kepala Sabrina terkulai di dalam d**a bidang Gevan.
"Sabrinaa!!"
Panik dan khawatir langsung saja menyerang Gevan sata Sabrina tidak lagi sadarkan diri. Tanpa membuang waktu, dia langsung mengangkat tubuh lemah gadis itu menuju mobil.
Ternyata feeling nya benar, saat sampai di apartemen tadi entah kenapa Gevan merasakan perasaan gelisah, pikiran nya terus melayang pada Sabrina. Karna rasa gelisah itu lah yang membawa Gevan ke sini, sebab Sabrina tidak menjawab telfon nya.