"Van! Gimana kondisi Sabrina?" Vinny menghentikan langkah nya dan langsung saja bertanya pada Gevan yang tampak berdiri di depan ruang UGD.
Kedatangan Vinny di susul oleh Zoya, Lisa dan Alya. Semua nya terlihat begitu panik, apalagi Vinny saat mendapat telfon dari Gevan, yang mengatakan Sabrina masuk rumah sakit. Pasal nya, gadis itu baik-baik saja saat di kampus tadi pagi.
"Gimana kondisi Sabrina?" Tanya Zoya menatap Gevan, "Kenapa bisa kayak gini sih?"
Gevan menggeleng, tubuh cowok itu sudah lemas sejak tadi, keringat dingin mengalir di wajah nya. Serta tangan nya tampak bergetar, benar-benar tercetak jelas wajah khawatir, panik dan takut di sana.
"Jangan di tanya dulu deh. Kasian Gevan nya gemeteran gitu." Lisa buka suara, dia lalu menolong Gevan untuk duduk di bangku tunggu.
"Minum dulu Van, biar lo tenang dikit." Alya menyodorkan botol air mineral yang selalu di bawa nya di dalam tas kepada Gevan.
Gevan menerima itu dan meneguk nya sedikit. Dia menarik nafas nya dan berusaha menormalkan detak jantung nya yang sejak tadi berdetak cepat tak karuan. Bayangan wajah Sabrina yang tidak berdaya tadi benar-benar membuat nya takut, pasal nya terakhir kali dia melihat Sabrina meregang nyawa seperti itu saat kecelakaan bersama Zeta setengah tahun yang lalu. Dia takut Sabrina akan kembali ke titik kritis itu.
Krekkk..
Pinru ugd tersebut, Gevan bangkit berdiri begitupun yang lain nya mendekat ke arah Azka yang menangani Sabrina tadi.
"Gimana kondisi Sabrina Dok?" Tanya Gevan cepat, menatap Azka dengan intens.
Azka menghela nafas nya sejenak, menatap semua mata di sana dengan bergantian. "Kalian tenang saja, Sabrina baik-baik aja. Tidak ada luka dalam yang serius, hanya luka goresan pisau di lengan nya saja yang parah. Tapi itu sudah kami atasi, dan luka lebam Sabrina juga sudah di obati. Tidak ada yang perlu di khwatirkan." Jelas nya dengan suara tenang andalan nya.
Gevan tidak bisa menyembunyikan perasaan lega nya, itu tanda nya Sabrina baik-baik saja.
"Ya sudah, jika terjadi apa-apa lagi. Kalian bisa panggil saya." Ujar Azka.
"Makasih dok." Ujar Zoya, dan di anggukan oleh Azka.
Mereka langsung saja memasuki ruangan ugd tersebut. Gevan terdiam saat menatap wajah pucat Sabrina di sana. Gadis itu masih belum sadarkan diri. Lengan nya sudah dibaluti perban, dan beberapa luka di wajah nya juga sudah di plester.
Tangan Gevan terangkat dan menyentuh tangan Sabrina yang terasa dingin di genggaman nya. Di tatap nya mata tertutup gadis itu, jika tadi dia tidak datang tepat waktu, entah apa yang akan terjadi pada gadis ini.
"Sebenarnya Sabrina kenapa Van?" Zoya bersuara datar, di tatap nya Gevan dengan sorotan dingin mata nya. Gadis itu berdiri di sisi kiri ranjang Sabrina.
Gevan diam sejenak, dia lalu mengangkat kepala nya dan menatap Zoya. "Dia---dia di serang orang di jalan." Lirih nya.
Zoya, Vinny, Lisa dan Alya mengerutkan dahi mereka.
"Di serang?" Beo Vinny dan di angguki Gevan. "Siapa yang nyerang?"
Gevan menggeleng, "Gue gak tau. Tapi mereka terhitung 7 orang, pakai baju hitam dan masker hitam. Gue gak bisa ngelihat wajah mereka." balas nya, seraya menatap Sabrina.
Zoya mengusap gusar wajah nya, mata nya lalu ikut menatap Sabrina. Siapa yang berani menyerang Sabrina? Selama ini setahu nya tidak ada orang yang benar-benar bermusuhan dengan gadis ini kecuali Riana. Tapi Riana sudah meninggal.
"Orang itu pakai senjata Van?" Tanya Lisa menatap serius pada Gevan.
Gevan mengangguk, "Gue rasa mereka berniat membunuh Sabrina."
Semua yang ada di sana seketika membulatkan mata, sementara Alya, gadis itu mencengkram tangan Lisa yang ada di samping nya. Tangan gadis itu bergetar dan mengeluarkan keringat dingin.
"Lagi? Kenapa? Waktu itu Zeta, sekarang Sabrina! Kenapa----" Nafas Alya terputus-putus karna rasa takut yang menguasai diri nya.
Lisa memegang pundak Alya, menenangkan temab nya itu. "Lo tenang Al."
Zoya termenung, pandangan nya tertuju ke arah lantai keramik ruangan itu. Pikiran nya melayang entah kemana-mena. Menebak-nebak siapa sebenarnya dalang di balik p*********n Sabrina malam ini. Dia yakin, ini tidak akan menjadi akhir dari p*********n tersebut. Pasti akan ada serangan-serangan berikut nya.
"Kalian balik aja! Biar Sabrina sama gue di sini." Gevan bersuara, memecah keheningan yang tercipta di ruangan tersebut.
Zoya langsung saja kembali ke dunia nyata, setelah pikran nya berkelana tak karuan.
"Lo yakin?" Tanya Zoya.
Gevan mengangguk, "Kalau Sabrina kenapa-kenapa gue pasti ngehubungin kalian."
Zoya mengangguk, dia lalu mengusap kepala Sabrina sebentar, menatap lekat teman nya itu yang tampak lemah berbaring di sana. Lalu menghela nafas nya dan keluar dari ruangan ugd itu.
Vinny menatap Gevan yang tampak menatap lekat ke arah Sabrina. Dia bisa melihat tatapan sendu di mata cowok itu untuk Sabrina.
"Gue titip Sabrina sama lo."
Gevan melirik Vinny saat gadis itu menepuk pundak nya. "Iya."
Vinny melangkahkan kaki nya keluar ruangan ugd, setelah menggenggam sekilas tangan Sabrina. Dia tau, Sabrina pasti akan baik-baik saja, gadis itu sangat kuat, dia tidak akan kalah oleh rasa sakit.
Tinggal lah Gevan seorang diri di ruangan itu, mata nya tak lepas menatap Sabrina. Dia lalu menarik kursi yang ada di sana, duduk dengan tangan yang terus menggenggam tangan Sabrina.
"Cepat pulih ya. Bikin gue melting lagi sama tatapan dingin lo itu. Tatapan yang selalu buat gue deg deg kan." Lirih Gevan, mengecup tangan Sabrina yang ada di genggaman nya.
Ternyata ini rasa nya, mengkhawatirkan seseorang yang berarti dalam hidup kita. Tidak mudah untuk mengatakan baik-baik saja. Pantas, Malvin selalu kacau jika Zeta sudah terluka dan masuk rumah sakit.
Zeta bergerak gelisah di dalam tidur nya, tubuh nya bergerak ke sana ke mari, lalu terduduk dengan nafas terengah. Keringat dingin langsung saja mengalir di wajah nya.
Zeta mengusap peluh di wajah nya, entah kenapa malam ini dia tidak bisa nyenyak dalam tidur. Perasaan nya benar-benar gelisah tak karuan.
"Ck, gue kenapa sih?" Gumam nya pelan, seraya menormalkan nafas nya yang terengah.
Zeta melirik ke samping nya, tidak ada Malvin si sini. Kemana suami nya itu? Dia lalu melirik jam dinding yang terpajang di kamar itu. Pukul 11.00 malam, tumben Malvin tidak ada di sini.
Zeta bangkit berdiri seraya tangan nya menumpu pada meja kecil yang ada di sana.
Prangg...
Zeta tersentak kaget, saat tangan nya tanpa sengaja menyenggol sebuah bingkai foto. Jantung nya langsung saja berdetak cepat, di raih nya bingkai yang kaca nya sudah pecah itu.
Ini foto nya bersama PopGirl.
"Zetaa!! Kamu kenapa?"
Pintu kamar langsung saja di buka terburu-buru, tampak Malvin yang berlari ke arah Zeta. Dia memang mendengar bunyi pecahan kaca dari lantai bawah tadi.
"Sayang! Kamu kenapa?" Malvin mengusap puncak kepala Zeta, saat istri nya itu tampak diam dengan pandangan lurus pada selembar foto yang ada di tangan nya.
"Zi!!"
Zeta tersentak, dia lalu menoleh pada Malvin yang sudah duduk di samping nya.
"Vin! Maaf Zeta gak sengaja nyenggol nya, biar---"
"Hey! Gak papa sayang, aku gak marah kok. Justru aku tanya sama kamu, kamu kenapa keringatan kayak gini hm? Mimpi buruk?" Malvin bersuara lembut dan menghapus peluh di wajah Zeta dengan tangan nya.
Zeta hanya diam, mata nya menatap lekat ke mata Malvin yang menatap nya lembut. "Aku---aku gak tau, tiba-tiba perasaan aku gak enak." Gumam nya.
Malvin terdiam, mata nya tidak lepas dari mata gelisah Zeta. Dia tau kenapa perasan Zeta tidak enak sepetti ini. Tadi, dia baru saja menerima telfon dari Gevan, bahwa Sabrina masuk rumah sakit karna di keroyok orang tak di kenal di jalanan. Ternyata, ikatan di antara mereka benar-benar kuat. Bukti nya, Zeta tampak khawatir sekarang.
"Zi---. Tenang dulu ya, kamu gak boleh gelisah kayak gini." Malvin bersuara lembut, berusaha menenangkan Zeta.
"Aku juga gak tau kenapa aku kayak gini Malvin!" Zeta bersuara gelisah, Malvin langsung saja memeluk tubuh gemetar istri nya itu.
"Iya aku tau. Maka nya kamu tenang dulu sayang." Bisik Malvin dan mengusap punggung Zeta. Apa dia harus mengatakan ini kepada Zeta?
"Sayang! Kamu janji sama aku, kamu gak akan panik dengar ini." Malvin mengurai pelukan nya, menangkup wajah Zeta dengan lemhut.
Zeta mengerutkan dahi nya. "Maksud kamu?"
Malvin menarik nafas nya sejenak, "Sabrina---Sabrina dia masuk rumah sakit." lirih nya.
"Hah?" Zeta tidak bisa menyembunyikan keterkejutan nya, tangan nya semakin mendingin mendengar hal tersebut.
"Sabrina di keroyok di jalan." Lanjut Malvin.
Nafas Zeta memburu, bayangan wajah Sabrina langsung memenuhi benak nya. Dia menyingkirkan tangan Malvin perlahan dengan gemetar.
"Zi---aku suruh kamu tenang, kamu---ZETAA!!"
Malvin panik saat Zeta tiba-tiba saja berlari keluar kamar. Dia langsung saja mengejar Zeta, yang sebentar lagi akan sampai di ambang pintu menuju ke luar rumah.
"Nina!! Tahan Zrta!!" Teriak nya pada Nina.
Nina tanpa buang waktu mengejar Zeta, dan menahan tangan majikan nya itu. "Non, Non Zeta gak boleh keluar."
"Minggir!! Gue mau pergi!" Zeta berushaha mendorong Nina yang menghalangi jalan nya.
"Tapu Non---"
"Nina tolong!!" Suara Zeta berubah bergetar, tangan nya juga tak kalah gemetar.
Nina terdiam melihat Zeta menangis di depan nya. Ada apa sebenarnya? Lamunan nya terhenti saat suara Malvin hadir di tengah-tengah mereka.
"Zeta!" Malvin menarik lembut tangan Zeta yang tampak mendingin. "Hey jangan nangis sayang, aku mohon jangan kayak gini." di hapus nya air mata itu dengan lembut.
"Malvin!! Aku mau ke rumah sakit, aku mau lihat Sabrina." Zeta menangis terisak, menatap Malvin dengan memohon.
"Iya, aku tau. Tapi ini udah malam sayang, besok aku janji, pagi-pagi kita ke runah sakit." Malvin berusaha memberikan pengertian pada Zeta.
"Enggak!! Aku gak mau!!" Isakan Zeta semakin keras, "Aku mau sekarang Malvin, aku---"
"Zi---dengerin Malvin." Malvin menggenggam kedua tangan Zeta, sedikit membungkuk menyamakan wajah nya dengan Zeta. "Aku tau kamu khawatir. Tapi Sabrina baik-baik saja, ada Gevan di sana. Besok pagi aku janji, kita ke rumah sakit, sekarang sudah malam Zi. Di luar juga mendung, aku gak mau kamu sampai sakit." dia bersuara lembut, selembut tatapan nya.
"Ya sayang? Besok pagi."
Tangis Zeta perlahan mereda, namun wanita itu masih sesegukan. Tangan nya tidak segemetar tadi. Tatapan Malvin sukses membuat nya cukup tenang.
"Aku---aku takut---kalau Sabrina nanti pergi kayak---"
"Husstt!! Jangan ngomong gitu." Malvin menarik Zeta ke dalam pelukan nya, saat tau apa yang akan istrinya itu katakan. "Sabrina itu kuat, dia gak akan kemana-mana. Dia pasti baik-baik aja, kamu gak usah takut. Aku percaya Sabrina gak akan kenapa-kenapa."
Malvin sangat mengerti akan ketakutan yang Zeta hadapi sekarang. Itu lah kenapa tadi dia enggan memberi tahu. Dia takut jika trauma dalam diri Zeta kembali kambuh, dia tidak ingin Zeta menderita lagi karna penyakit itu.
Jika Zeta stress sedikit saja, maka tidak menutup kemungkinan penyakit Post Traumatic Stress Disorder yang di derita nya akan kambuh. Terlebih jika kejadian yang menimpa Sabrina, akan mengingatkan nya akan kematian Dinda dulu.
"Sekarang kamu tidur, aku di sini gak kemana-mana." Malvin membaringkan Zeta kembali di atas ranjang, menghapus sisa air mata di wajah istri nya itu.
Zeta menenggelamkan wajah nya di dalam d**a bidang Malvin, saat cowok itu berbaring di samping nya. Tangan hangat Malvin langsung saja mendekap tubuh Zeta, memberikan ketenangan di sana.
Nina sejak tadi tidak berhenti memperhatikan istri majikan nya yang sejak tadi tidak menyentuh makanan yang sudah dia siapkan. Pandangan nona muda nya itu juga tampak kosong ke arah depan, seperti ada yang di pikirkan.
"Non Zeta. Dimakan non sarapan nya, s**u nya juga di minum." Nina bersuara pelan. Dia mulai khawatir saat Zeta sama sekali tidak bergeming.
"Non, nanti kalau tuan Malvin lihat non Zeta belum menyentuh makanan nya. Nanti tuan Malvin bisa marah non." Nina bersuara khawatir.
Zeta melirik Nina dengan wajah datar nya, lalu kembali menatap kosong pada makanan yang ada di piring nya.
"Non---"
"Makan sarapan nya Zi! Kalau kamu mau ke rumah sakit!" Suara tegas seseorang membuat ucapan Nina terhenti, dia lalu menatap pada Malvin yang berjalan menuruni tangga dengan wajah datar.
"Non makan ya non. Nanti Tuan Malvin nya marah." Bisik Nina, berusaha membujuk Zeta agar makan.
Malvin menghela nafas nya, lalu berjalan menuju Zeta yang tampak diam di meja makan tersebur, tanpa menyentuh makanan nya. Di letakkan nya kedua tangan nya di pundak Zeta, lalu mengecup pipi istri nya itu dari belakang.
"Di makan sayang, nanti keburu dingin. Atau mau aku yang suapin hm?" Bisik Malvin dan mengusap kedua lengan Zeta.
Baru lah Zeta bergerak, dia berdecak dan menoleh ke belakang, menatap Malvin. "Pembohong!" Desis nya.
Malvin mengerutkan dahi nya, "Loh kok kamu ngomong nya gitu?"
Zeta menepis kedua tangan Malvin di pundak nya. Lalu menatap tajam pada suami nya itu. "Kamu bilang kita ke rumah sakit pagi-pagi! Tapi kamu malah gak bangunin aku!! Dasar pembohong!!" Suara nya naik satu oktaf.
Wajah Malvin berubah datar, dia lalu memberi isyarat kepada Nina agar meninggalkan ruangan tengah, meninggalkan dia dan Zeta. Mata nya lalu menatap dingin pada Zeta.
"Udah bisa sekarang kamu ngomong kasar kayak gitu ke suami hm? Siapa yang ngajarin kamu kayak gitu?"
Zeta yang tadi nya menatap tajam pada Malvin, kini justru memberengut sembari menunduk.
"Daritadi siapa yang bikin lama? Kamu kan? Di suruh makan dari jam setengah 7 tadi, tapi gak di laksanain!!" Suara Malvin naik satu oktaf.
Zeta memejamkan mata nya mendengar suara Malvin meninggi.
"Sekarang kamu bilang aku pembohong! Kalau daritadi kamu ikutin cara main aku!! Mungkin kita sekarang sudah di rumah sakit!! Jangan jadi istri pembangkang kamu Zi!" Desis Malvin tajam.
Zeta menatap takut ke mata Malvin yang menatap nya tajam. Dia membangunkan singa tidur ternyata.
Malvin yang melihat Zeta menunduk takut, lalu menghela nafas nya, karna sempat terpancing emosi. Dia lalu mendekat dan menarik lembut tangan Zeta, menuntun istri nya itu duduk di atas sofa.
Zeta masih saja menunduk dan enggan menatap mata Malvin. Sampai akhir nya Malvin menyentuh dagu nya, mau tidak mau Zeta menoleh pada Malvin.
"Maaf, aku gak maksud marah-marah sama kamu sayang. Aku cuman gak mau kamu sakit karna gak makan, udah itu aja." Malvin bersuara lembut, selembut tatapan nya pada Zeta.
"Tapi aku khawatir sama Sabrina. Gimana kalau Sabrina sampai---"
Cup
Mvin mengecup bibir Zeta, guna menghentikan istri nya itu berbicara yang tidak-tidak. Lalu di tangkup nya wajah Zeta dengan kedua tangan nya. "Kamu dengar! Sabrina baik-baik aja, bahkan dia udah di pindahkan ke ruang perawatan. Gak ada luka serius Zi, jadi kamu gak usah khawatir." Di tatap nya lekar ke mata Zeta.
"Ck, gak bisa Malvin." Zeta menjauhkan wajah nya dari Malvin. "Coba kalau kamu di posisi aku, kalau Gevan kenapa-kenapa, kamu emenag gak khawatir? Kamu lupa? Vin, dulu kalau aku kenapa-kenapa pasti Sabrina duluan yang langsung nyamperin aku---"
"Iya aku tau." Potong Malvin. "Kamu pikir aku orang nya gak ingat budi orang? Aku tau Sabrina selalu sigap kalau kamu kenapa-kenapa. Tapi masalah nya di sini, kamu juga harus mikirin kesehatan kamu, daritadi kamu gak makan kayak gini. Kamu pikir Sabrina suka kamu ke situ dengan perut kosong?"
Zeta terdiam dengan wajah cemberut, dia kembali di omeli Malvin. "Kamu mah marah-marah mulu daritadi." Gumam nya.
Malvin menghela nafas nya perlahan, "Sayang. Aku gak marah-marah. Aku cuman takut kamu kenapa-kenapa udah itu aja." suara nya memelan, lalu mengangkat Zeta agar duduk di pangkuan nya. Dengan seperti ini dia bisa melihat wajah Zeta dengan jelas.
"Kamu itu terlalu banyak pikiran negatif nya sayang. Maka nya hati kamu gak tenang. Coba kamu berpikir kalau Sabrina akan baik-baik aja, pasti kamu tenang." Ujar Malvin, seraya mengelus pipi Zeta dengan lembut.
Zeta membalas tatapan Malvin tak kalah lekat nya. Dia lalu merapatkan diri nya pada Malvin dan menenggelamkan wajah nya di d**a bidang suami nya itu. Sejak semalam dia memang di hinggapi pikiran negatif akan kondisi Sabrina, sampai dia baru bisa tidur jam 2 pagi karna hal itu.
Malvin mengecup pundak kepala Zeta, dan memeluk tubuh mungil itu dengan erat, memberikan ketenangan. "Sekarang makan ya. Baru kita ke rumah sakit."
Zeta mengurai pelukan nya, dia lalu tersenyum ke arah Malvin dan memainkam kancing kemeja suami nya itu. "Di rumah sakit aja ya?" tawar nya.
Malvin balas tersenyum, dan mengecup bibir Zeta. "Aku lagi gak jualan sayang, jadi gak bisa nawar."
Jawaban Malvin lantas membuat Zeta cemberut. Sementara Malvin tersenyum geli melihat ekspresi menggemaskan istri nya itu. "Kamu mau ke rumah sakit sekarang?"
Zeta mengangguk.
"Ya udah, kita ke rumah sakit sekarang. Tapi ingat! Setelah lihat Sabrina, kamu harus makan!" Malvin menoel ujung hidung Zeta dengan gemas.
Zeta tersenyum sumringah, dan langsung mengecup pipi Malvin. "Oya. Nanti aku makan. Makasih sayang."
Malvin terkekg, lalu mengusap kepala Zeta. "Kalau ada mau nya aja baru panggil aku sayang."
"Kan yang penting hati aku sayang kamu." Balas Zeta yang terdengar begitu manis oleh Malvin.
Malvin mengecup kening istri nya itu, "Udah bisa ngegombal ya sekarang."
"Kan kamu yang ajarin."
Malvin tertawa mendengar balasan Zeta, lalu memeluk erat tubuh istri nya itu.
Sabrina membuka perlahan mata nya, berusaha menyesuaikan penglihatan nya dengan cahaya ruangan tersebut. Dia seketika meringis saat merasakan sakit di sekujur wajah nya, lalu ngilu di lengan kanan nya.
Tangan Sabrina spontan menyentuh perban di lengan kanan nya. Mata nya dia pejamkan, guna mengusir sakit yang dia rasakan. Nafas nya memburu karna rasa sakit tersebut, pandangan nya kali ini tertuju ke langit-langit ruangan yang kini dominan dengan bau obatan-obatan tersebut. Pikiran nya kembali melayang pada kejadian semalam yang dia alami, saat dia di serang oleh 7 orang berpakaian hitam, dan saat salah satu dari mereka memukul pundak nya dan mengayunkan pisau ke lengan kanan nya.
Sabrina mengangkat kepala nya sedikit, lalu menatap seseorang yang tampak tertidur di sofa ruangan rawat nya. Dia tertegun saat mengenal siapa orang tersebut.
"Gevan." Gumam Sabrina pelan.
Gevan mengerjapkan mata nya saat mendengar nama nya di panggil. Dia menoleh dan mendapati Sabrina tengah berusaha turun dari ranjang rumah sakit. Kesadaran nya langsung saja penuh, dan berlari menuju Sabrina yang tampak menahan sakit di lengan nya.
"Sa lo mau kemana? Kondisi lo masih belum stabil! Luka lo masih basah Sa! Lo---"
Sabrina membekap mulut Gevan, menghentikan ocehan cowok itu. "Bawel banget sih lo! Gak usah lebay." Ujar nya datar sedatar tatapan nya ke Gevan.
Gevan menghela nafas nya saat Sabrina melepaskan bekapan di mulut nya. Dia lalu menatap lekat pada Sabrina yang sudah berdiri sempurna di depan nya, dia dapat melihat gadis itu menahan ringisan sejak tadi, walaupun berusaha di tutup-tutupi.
"Gimana kondisi lo? Lengan lo masih sakit?" Tanya Gevan lembut.
Sabrina mendesah, "Menurut lo? Di tusuk pisau itu enak? Di bogemin enak?" menatap malas pada Gevan.
Gevan ikut mendesah, "Ya enggak lah."
"Nah itu tau. Pake nanya lagi."
"Mau kemana?" Gevan secara refleks menahan tangan Sabrina, saat gadis itu beranjak pergi. "Sa! Kondisi lo belum stabil, lo mau apa? Biar gue yang ambilin." Gevan bersuara khawatir.
Sabrina menatap Gevan yang masih memegangi lengan kiri nya. Dia dapat melihat kerutan kekhawatiran di sana.
"Tolong lo jangan keras kepala kali ini." Lirih Gevan, tanpa mengalihkan pandangan nya dari Sabrina.
Sabrina menarik nafas nya sejenak, "Lo yakin mau bantuin gue?"
Gevan mengangguk.
"Ya udah, lo bawain kamar mandi ke sini!" Pinta Sabrina dengan santai.
Gevan mengerutkan dahi nya. "Kamar---mandi?"
"Iya. Kenapa?" Sabrina menaikkan sebelah alis nya.
"Ya, mana bisa kamar mandi di bawa ke sini Sa."
"Maka nya, lo gak usah sok ngalangin gue!" Sabrina menepis tangan Gevan, "Gue mau ke kamar mandi, kebelet pipis b**o!"
Gevan terdiam dan menatap Sabrina yang mulai berjalan menuju kamar mandi yang tidak jauh dari posisi ranjang nya. Lagi-lagi dia terlihat bodoh di depan gadis ini, selalu terlihat jelas kegugupan nya.
"Ssttt---awww!!"
Gevan tersentak dari lamunan nya mendengar pekikan tersebut. Dia langsung saja berlari pada Sabrina yang menumpu tubuh nya di tembok.
"Sa lo baik-baik aja?" Tanya Gevan panik dan memegangi lengan kiri gadis itu.
Sabrina meringis dan memejamkan mata nya saat merasakan denyutan luar biasa di lengan nya. Terlebih wajah nya yang di penuhi lebam, memperparah kondisi nya.
"Ya udah gue anterin lo ke kamar mandi." Putus Gevan, dan membimbing Sabrina menuju kamar mandi, gadis itu bahkan tidak memprotes, menandakan dia benar-benar butuh bantuan.
"Gue tunggu di luar ya. Lo tinggal teriak kalau kenapa-kenapa." Ujar Gevan setelah mereka sampai di dalam kamar mandi.
Sabrina mengangkat kepala nya, mata nya langsung saja bertemu dengan mata khawatir Gevan. Mendadak perasaan nya menjadi nyaman karna hal itu. Ternyata ini rasa nya di khawatirkan seseorang.
"Lo baik-baik aja kan?"
Sabrina tersentak saat Gevan menyentuh pipi nya. Dia lalu mengangguk dan mengalihkan pandangan nya ke wastafel yang ada di sana. Membuat tangan Gevan yang berada di pipi nya terlepas.
Gevan menatap tangan nya yang ada di udara. Perasaan gugup kembali menyelimuti Gevan. Dia lalu menggaruk tengku nya yang tidak gatal.
"Ya udah., gue keluar dulu." Ujar Gevan, dan langsung melesat keluar kamar mandi, sebelum dia mati karna salah tingkah di depan Sabrina.
Sabrina tersenyum tipis saat dia menangkap kegugupan di diri Gevan.