bc

Stigma Renjana

book_age18+
612
IKUTI
3.3K
BACA
murder
revenge
possessive
badboy
drama
tragedy
comedy
twisted
campus
virgin
like
intro-logo
Uraian

Kenji Cettrasena mulai menjalani hidup sebagai manusia terkutuk yang membahayakan siapa pun gadis yang mendekatinya, semenjak kejadian mengenaskan yang menimpanya setahun yang lalu.

Kemudian Daedalion Ranjani memasuki hidupnya. Membawa keyakinan serta logika untuk mematahkan segala stigma yang menempeli Kenji.

Namun semuanya tak semulus itu.

chap-preview
Pratinjau gratis
SATU
18 Desember 2017     Breaking News : Terjadi Kecelakaan Pesawat di Bandar Udara London Heathrow Kalau tahu ujung-ujungnya akan disambut dengan berita mengerikan, Daedalion pasti tidak mau repot-repot menyalakan televisi ketika sebentar lagi dia harus check out dari hotel yang telah dia tinggali selama seminggu.   Padahal niatnya, Dae ingin meredam kegelisahan yang merajainya sedari tadi dengan menyaksikan tayangan-tayangan hiburan. Namun seakan-akan semesta tengah melancarkan konspirasi padanya agar kegamangan semakin menggila menempelinya, justru berita tentang kegagalan pendaratan pesawat yang muncul.   Dae terduduk membatu di atas ranjang single, memerhatikan kobaran api meliuk-liuk melahap apa pun yang berada di dekatnya. Semakin lama diperhatikan, Dae pun berandai-andai. Bagaimana jikalau dia adalah salah satu korban kejadian naas tersebut?   Sial!   Kenapa pula pertanyaan tersebut harus terlintas dalam pikirannya. Belum-belum Dae sudah merinding, apalagi ditambah perasaannya yang memang sudah tidak enak.   Haesh, sungguh pintar. Tahu begitu kenapa masih ditonton. Dewi batinnya mengoceh.   "Haduh, Dae putri Mama kenapa belum berkemas. Cepat, kita harus bergegas, taxisudah menunggu di bawah, loh." Dae memasang muka memelas pada Mamanya yang baru saja memasuki kamarnya.   "Mam, balik ke Bandungnya kapan-kapan aja, ya?"   Mama meraih remot televisi untuk mematikan benda berukuran 42 inci tersebut. Alisnya mengernyit mendengar permintaan Dae. "Kenapa tiba-tiba begitu? Ya, nggak bisa lah sayang. Ayah harus kerja besok, dan tiketnya juga udah kebeli."   Dae cemberut.   "Yaudah. Kamu pulang bareng Aa aja." Dae menggeleng tanda tidak mau.   "Loh terus gimana? Pulang ke Bandung hari ini nggak mau, ditawarin pulang sama Aa minggu depan juga nggak mau. Maumu ini gimana, Dae?"   Dae memandangi wanita yang hampir menginjak usia setengah abad di depannya dengan perasaan campur aduk. Benar yang Mama bilang. Dae bisa saja memilih kembali ke rumahnya di Bandung bersama kakak keduanya yang akan berangkat seminggu lagi. Namun, bukan itu pokok permasalahannya sekarang. "Maunya sama Ayah, Mama. Tapi berangkatnya jangan hari ini, ya, ya?" Dae mengayun-ayunkan lengan Mama, manja.   Mama berdecak, menggeleng. "Kamu ini jangan aneh-aneh, deh," Menarik lengannya dari gelayutan Dae, "udah sana siap-siap. Lima belas menit lagi Mama tunggu di lobi. Kalau telat, kamu Mama tinggal."   Dae mendesah panjang. Baru bergerak setengah hati mengemas barang-barangnya ke dalam koper saat punggung Mama telah menghilang di balik kosen pintu. Dae sendiri benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Sejak bangun pagi tadi, dan teringat bahwa hari ini dia dan kedua orang tuanya akan terbang ke Bandung setelah kurang lebih seminggu menghabiskan liburan di Bali. Mendadak keresahan menghinggapi separuh jiwanya. Dae membenci perasaan abstrak yang timbul tanpa alasan seperti ini.   Alhasil sepanjang perjalanan menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, apa yang dia lakukan hanya menyandarkan kepalanya pada kaca, memandang cakrawala yang tampak memerah bercampur jingga. Segerombolan burung membentuk formasi, melayang di atas sana. Dae memerhatikannya sampai netranya tak sanggup menjangkau. Kemudian Dae berpaling pada Mama yang duduk di sebelahnya. Bibirnya terbuka hendak memanggil, tetapi sebuah hantaman terlebih dahulu mengejutkannya. Menyusul bunyi decit nyaring yang memekakan gendang telinga. Spontan Dae memejamkan kelopak matanya rapat-rapat, meresapi setiap guncangan yang membenturkan tubuhnya ke sana-ke mari. Dae mengerang tertahan begitu tempurung kepalanya seakan-akan hampir terbelah lantaran terantuk sangat kencang pada benda padat nan keras.   Dae baru sanggup membuka perlahan kelopak matanya tatkala segalanya terhenti. Di tengah-tengah remuk-redam yang Dae rasakan pada tulang-tulangnya, perih yang mendera beberapa titik kulitnya akibat goresan serpihan kaca, serta-merta nyeri yang menusuk-nusuk kepalanya. Dae berusaha keras memerangkap sosok kedua orang tuanya, tetapi semuanya terlihat blur. Berbayang-bayang sampai penglihatannya tampak berputar.   Dae tahu ada air mata yang mengaliri pipinya, sebab perih semakin menyengat di sana. Dae ingin menyerukan suara, sayangnya hanya hampa yang keluar. Sesak menghimpit dadanya, sampai-sampai napas Dae terputus-putus. Sebelum akhirnya kegelapan purna memeluk gadis itu, benaknya melirihkan sebuah kalimat sarat akan jeri.   Ayah, Mama. Dae, takut....   Namanya, Daedalion Ranjani Pratyaksa... dan waktu itu Daedalion berusia enam belas tahun.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Perfect Revenge (Indonesia)

read
5.1K
bc

Sacred Lotus [Indonesia]

read
54.0K
bc

Super Psycho Love (Bahasa Indonesia)

read
88.6K
bc

Suddenly in Love (Bahasa Indonesia)

read
77.9K
bc

Touch The Cold Boss

read
242.0K
bc

Aira

read
93.1K
bc

Stuck With You

read
75.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook