Kenji menuntun Dae menuju balkon koridor gedung itu, yang letaknya memang tak jauh dari area kamar kecil.
Netra Dae mendadak berubah menjadi jauh lebih segar menyaksikan bentangan sawah yang di padati tumbuhan padi yang menghijau. Kesiur lembut angin sawah menyapa Dae di detik pertama si gadis menginjakan telapak kakinya di sana. Cuaca sedang bersahabat kali ini, tak begitu terik oleh sang surya. Langit biru di atas sana di lapisi lembaran-lembaran awan putih yang sukses menghalangi cahaya matahari agar tak bisa menerpa gedung-gedung Universitas Kudungga, secara leluasa dengan silaunya.
Dae masih betah memandangi penuh ketakziman hamparan hijau yang tersaji di depannya, selama bersekon-sekon berlalu. Dae memang tahu kalau Universitasnya ini berada di dekat petak persawahan penduduk setempat, tetapi si gadis tak tahu bila pemandangan ini bisa dia nikmati secara bebas dari balkon koridor belakang gedung fakultas kehutanan. Dae amat berterimakasih pada Kenji yang telah memboyongnya ke mari. Tempat ini akan menjadi tempat favorite Dae di Universitas Kudungga. Tempat yang sangat cocok baginya guna menghabiskan waktu menciptakan buah karya lukis lainnya. Apa lagi wilayah koridor ini jarang-jarang di lalui mahasiswa.
"Kamu mau bicara apa sama saya. Cepetan. Saya nggak ada waktu banyak."
Dae meringis. "Kebelet pipis ya, Kak. Kalau gitu mending Kak Kenji pipis dulu deh. Nggak baik di tahan-tahan nanti kencing batu loh. Terus kalau seandainya Kak Kenji ngompol kan nggak lucu."
Kenji menyentakkan kepala. "Saya nggak kebelet pipis. Jadi buruan ngomongnya."
"Terus kalau nggak pengen pipis, kenapa masuk toilet?"
Bola mata Kenji terputar. "Kebelet buang air besar."
Perkataan sembarang yang si pemuda lontarkan sepertinya di tangkap serius oleh Dae. Lantaran tepat setelah itu, dia langsung berseru heboh. "Lah itu sih, makin-makin. Sana ke toilet dulu. Aku bisa nunggu kok, Kak. Poop nya jangan di tahan-tahan."
Kali ini dengkusan napas Kenji sukses ke luar. "Kamu tuh bener-bener nggak bisa ngebadain mana sarkas mana nggak ya? Saya nggak kebelet pipis nggak kebelet buang air besar. Oke, paham? Sekarang buruang ngomong sebelum saya bener-bener hilang selera buat dengerin ocehan kamu."
"Eh. Jangan. Aku cuma bercanda, Kak Kenji. Jangan ngambek oke?"
"Saya nggak ngambek."
Dae tersenyum jahil. Mencolek lengan Kenji dengan jari telunjuknya yang langsung di hadiahi alis Kenji yang naik sebelah, memandang antara lokasi colekan dan wajah Dae. "Ah. Masa." Kerlingan mata Dae menggoda.
"Kamu bener-bener buang-buang waktu saya."
Setelah berkata begitu, Kenji tanpa mambalikan tubuh hendak melangkah pergi. Seketika bola mata Dae membeliak, buru-buru dia memacu langkah dan menghadang jalan Kenji dengan berdiri di depannya sambil merentangkan tangan. "Et. Bentar. Aku kan belum ngomong apa-apa. Kok malah pergi sih."
"Dari tadi kamu udah ngoceh nggak jelas. Kamu bilang kamu belum ngomong apa-apa? Terus yang tadi itu apa? Kamu lagi gongong?"
Gongong?! Dia kira aku anjing?! Dewi batin Dae menyuarakan protes yang tak akan dia sampaikan. "Itu nggak termasuk hitungan, karena bukan itu topik yang pengen aku bicarain," sangkal Dae masih betah merentangkan lengan.
"Kalau gitu, apa yang mau kamu bicarain sama saya, Daedalion. Kamu tahu? Lama-lama berada di dekat saya itu bukan tindakan yang baik. Selain nanti kamu bisa kena kutukan, orang-orang yang nggak sengaja liat kita bisa jadiin kamu bahan omongan."
Kening Dae membentuk lipatan-lipatan, menurunkan lengannya secara perlahan. Dae sungguh-sungguh tak habis pikir, entah bagaimana cara otak Kenji beroperasi. Rentetan kalimat yang dibuangnya barusan seolah-olah menyatakan kalau dia pun memercayai mengenai rumor kutukan yang di tembakan padanya. Bahkan bukan sekali ini Dae dengar Kenji mengatakan hal bermakna serupa. Tidak mungkin bukan, jikalau si pemuda benar-benar memercayainya? Gila saja bila memang demikian.
"Aku udah bilang hal yang sama sampai ribuan kali. Kalau nggak ada yang namanya kutukan." Nada suara Dae menegas kala melempar dereta frasa tersebut. Tatapannya pun berubah lebih tenang serta-merta di penuhi bulir-bulir keseriusan. "Jadi aku akan tetap dan selalu baik-baik aja walau ada di dekat, Kak Kenji."
Senyuman Kenji terbentuk culas. "Oh, ya?" Warna suarnya penuh akan ketidak percayaan yang teramat tak sedap di dengar. "Kamu lupa kemarin kamu kenapa? Bahkan kamu berada di dekat saya cuma dalam waktu yang singkat dan kamu udah di buat hampir kehilangan napas."
Dae menyipitkan matanya. Bahkan terlintas secuil pun tak pernah, kalau apa yang terjadi padanya kemarin ada kaitannya dengan kutukan itu. Dae yakin seyakin-yakinnya, bahwa kemarin adalah murni kecerobohannya. "Kenapa? Kemarin alergi ku cuma kambuh. Dan itu wajar terjadi karena kecerobohan ku." Dae jeda sejenak untuk mengambil udara. "Kemarin malam aku minta Kak Kenji buat buru-buru pergi sebelum Aa-aa ku datang karena aku nggak mau mereka sampai mikir, kalau apa yang nimpa aku itu, gara-gara, Kak Kenji. Aku paham betul gimana mereka masih sedikit percaya sama rumor kutukan Kakak. Dan nggak menutup kemungkinan mereka akan semakin percaya kalau sampai tahu tentang insiden kemarin. Dan aku nggak mau sampai itu terjadi. Tapi Kak Kenji sendiri justru berpikiran begitu."
Dae menghentikan perkataannya, napasnya sedikit terengah selepas menguntai aksara-aksara yang telak membuat emosi Dae meningkat seiring sepatah kata yang meluncur. Sementara di hadapannya Kenji malah terkekeh kecil, sukses menarik kekesalan agar menempeli Dae layaknya magnet. "Buat apa kamu ngelakuin itu. Saya nggak pernah minta sekali pun. Saya udah terbiasa, dan kalau Kakak-Kakak kamu ikut-ikutan percaya, itu bukan masalah. Nggak ada bedanya sama sekali buat saya."
Tangan Dae terkepal, seolah tengah bersiap menonjok wajah Kenji. Namun dia masih cukup waras untuk tak melakukan hal tersebut. "Akan jadi masalah buatku," tukas Dae. "Akan jadi masalah buatku, kalau sampai mereka semakin percaya. Karena itu berpotensi besar bikin aku nggak bisa buktiin kalau kutukan Kak Kenji cuma omong kosong belakang."
"Saya nggak ngerti kenapa kamu ngotot banget ngebuktiin hal yang sama sekali nggak ngasih pengaruh apa pun ke kehidupan kamu. Sadarlah, Daedalion. Apa yang kamu lakuin cuma akan buang-buang waktu kamu." Kali ini Kenji membalas afirmasi Dae, tanpa memberi celah waktu.
Dae menyilangkan tangan di depan d**a. Memandang Kenji dengan sorotan seolah-olah Kenji adalah anak kecil umur lima tahun yang perlu di bina. "Kak Kenji," pangil Dae, mirip suara Ibu-Ibu ketika tengah menasehati sang buah hati. "Apa yang aku lakuin adalah bentuk kepedulian aku ke Kakak. Memangnya, Kak Kenji mau terjebak kutukan itu selama-lamanya? Memangnya Kak Kenji nggak mau punya istri suatu saat nanti?"
Kenji membuang muka. "Itu urusan pribadi saya. Saya menikah atau nggak nanti, itu masalah saya. Toh, saya juga nggak akan nikahin kamu. Kenapa kamu repot-repot begini?"
Dae mendengkus sebal. "Karena aku peduli," tegas Dae lagi. "Karena aku peduli. Karena aku peduli. Karena aku peduli. Karena aku peduli. Karena aku peduli. Karena aku peduli. Karen aku pedu—"
"Stop."
Kenji lantas berujar demikian, maksud hati ingin menghentikan aksi Dae yang sudah serupa kaset rusak. Namun sayangnya Dae seolah tak acuh, dia enggan berhentu. Lebih-lebih kini Dae memasang ekspersi yang benar-benar membuat Kenji kesal setengah mati. Pun tubuh Dae mulai bergoyang-goyang mirip cara anak bebek berjalan.
"Karena aku peduli. Karen aku peduli. Karena aku peduli—"
Akhirnya Dae berhasil terbungkam. Seketika napas Dae tertahan dengan kelopak matanya yang mengedip-ngedip cepat, menatap Kenji yang detik itu berada dengan jarak yang tak lebih dari lima senti dari wajah Dae. Telapak tangannya yang besar itu, membekap mulut Dae. Kemudian belah bibirnya yang terpahat sempurna itu, membuka. Mengumandangkan untaian aksara bernada berat.
"Karena saya juga peduli sama kamu."
Dae tak paham, kenapa ada bom atom yang meledak di jantungnya.