TIGA PULUH

662 Kata
"Sayang, selama di kampus tadi kamu nggak apa-apa, kan?" Dae baru saja turun dari angkutan umum yang mengantarnya pulang, ketika panggilan suara di grup chat antara dia dan saudara-saudaranya di mulai. Butuh berjalan beberapa meter lagi untuk Dae agar tiba di depan pagar rumahnya.  "Iya, A. Aku nggak apa-apa. Semuanya baik-baik aja. Nggak usah khawatir," ujar Dae kemudian merespon tanya Duta. "Bener?" Duta terdengar kurang puas atas jawaban Dae. "Berita mu itu bener-bener ke sebar ke seluruh isi kampus loh, sayang. Bahkan hampir semua anak-anak departemen Aa ngomongin hal itu tadi. Aa nih kalau nggak inget kata-kata kamu kemarin, pasti udah kalap. Gatel banget pengen ngelakban mulut mereka pake diapers yang isi eeknya." Dae praktis menyemburkan tawa, selagi Damunta menimpali. "Malah ketawa lagi. Duta bener, sayang—" Belum juga rampung kalimat Damunta, si nomor dua telah keburu menyelak. "Apaan maneh ikut-ikutan manggil Dae sayang-sayang. Nggak bisa, ya. Itu panggilan khusus aku seorang buat adikku." "Duh. Duta shampoo lain harap diam dulu. Nggak sengaja juga, kelepasan. Abisan panggilan sayang mu itu terlalu pasaran. Tadi abis telponan sama Rada jadi ke bawa sampe sini," tukas Damunta. Percayalah Duta pasti sudah mengkeret di bikinnya di seberang sana. "Oke, balik lagi ke laptop. Didi, Duta shampoo lain kita memang bener. Bahkan nggak sedikit dosen yang tadi ngerumpiin itu. Kamu beneran nggak mau klarifikasi kebenarannya ke mereka? Aa bener-bener nahan gerah jiwa denger itu loh." "Percuma, Aa," jawab Da, menahan hela napas. "Aku nggak punya bukti apa pun buat nyangkal semua itu. Sementara mereka punya foto yang bisa mereka pakai buat balik nyerang aku kalau sendainya aku coba jelasin. Kata-kata dari mulut ku aja nggak bakalan cukup bagi mereka. Yang ada kalau aku ngotot jelasin, mereka malah makin getol. Untuk sekarang biarin aja. Berita kayak gini nggak akan bertahan lama. Paling beberapa hari lagi juga udah redup." Hening sebentar, sebelum Duta memecahnya. "Kalau gitu ingat. Kamu harus jauh-jauh dari cewok itu, janji? Dae membasahi bibirnya yang mengering. Sementara jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya yang menggantung di sisi tubuh, terpilin satu sama lain. "Huum. Janji." "Ya udah. Kamu baik-baik di rumah. Selesai satu kelas lagi, Aa pulang. Kamu mau nitip sesuatu?" "Kayaknya nggak deh, A." "Kalau Aa mungkin pulangnya bakal agak malem. Soalnya abis selesai ngampus, mau survei tempat buat syuting episode mini seri yang selanjutnya. Kalau unta lokal mulai liar di rumah, kamu langsung telpon Aa aja. Nanti Aa langsung teleportasi ke rumah bareng pawangnya." Dae kontan lagi-lagi di buat tertawa. "Terima kasih atas perhatiannya Duta shampoo lain." "Sama-sama unta lokal." Tak lama sambungan pun terputus, dengan akhiran layangan kiss bye dari dua pemuda di seberang. Sejurus kemudian, Dae tiba di depan pekarang rumahnya. Namun presensi seseorang yang telah nangkring di depan pagar rumahnya yang terkunci, sontak membuat Dae di hinggapi keterkejutan bukan main. Di bawah cahaya remang-remang, side profile yang tengah Dae saksikan betul-betul menguarkan auranya sendiri. Sebuah aura yang membuat orang-orang di sekitarnya tak mampu untuk mengalihkan pandangan dari sosok itu barang sejenak. Hidung lancip dan bulu mata lentik si pemuda, seakan-akan tengah melancarkan aksi pamer keindahan. Anak-anak surai yang lolos dari cepolan tak mau kalah, mereka ikut memperkuat aura si pemuda dengan cara menari-nari di bawah kuasa desau angin sore hari Kota Bandung. Dae refleks di bikin merutuk karenanya. Tidak paham kenapa semesta seolah-olah begitu tak adilnya, dengan memberikan keindahan fisik yang nyaris sempurna pada sosok di depannya. Bersamaan dengan itu, seakan-akan mendengar rutukan yang Dae layangkan dalam benak. Kenji menoleh padanya. Dae memasang senyum. "Halo, Kak Kenji. Jadi apa yang bisa buat Kak Kenji bisa datengin rumah ku sore-sore begini tanpa kabar apa-apa sebelumnya." "Maaf, kalau terkesan mendadak." Kenji memindai Dae sejemang. "Kamu sibuk? Saya mau ngajak kamu ke luar." Bola mata Dae seketika membeliak. Sebentar, Dae tak salah dengar bukan? Bahwa Kenji baru saja mengajaknya ke luar. Dae makin-makin di bikin tak paham dengan jalan pikiran Kenji. Apa yang si pemuda lakukan senantiasa di luar ekspetasi Dae. Menyaksikan Dae yang terdiam cukup lama, Kenji pun kembali menyuarakan kesediaan Dae. "Gimana, bisa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN