ENAM BELAS

985 Kata
 “Sayang? Mau ke mana?”   “Ke dapur,” sahut Dae singkat tanpa menghentikan langkah menuju dapur. Berhenti di depan wastafel, untuk mencuci tangannya yang tadi tidak sengaja terkena cat saat menyiapkan alat-alat lukisnya. Hari ini Minggu. Sesuai janjinya dengan Kenji, ia akan mengunjungi rumah cowok itu dengan misi melukis keluarga Kenji.    “Kamu ke dapur doang, harus dandan kayak gitu?”   Dae menyentakkan kepala. Melirik Duta yang asyik memakan semangkok bakso. “Ya jelas nggak lah kakakku sayang. Aku mau ke luar.”   “Ke mana? Ngapain? Sama siapa?” tanya beruntun.   “Kepo banget sih.” Dae mengeringkan tangannya menggunakan lap. “Ada urusan. Sama orang yang nggak Aa kenal.”   Sengaja Dae tak menyebutkan nama Kenji. Mengingat bagaimana reaksi kedua kakaknya saat membahas pemuda itu empat hari yang lalu. Dae lalu mendekat, mengangakan mulutnya di depan pemuda itu. Tanggap, Duta menyuapkan sebutir pentol padanya.   “Dae? Kamu mau keluar?”    Dae menoleh pada Damunta yang datang tanpa atasan. Membuka lemari pendingin, meraih apel merah dari sana. “Huum,” gumam Dae sembari mengunyah.   “Ke mana? Padahal Kak Rada nanti mau datang, loh.”   “Emang kenapa? Kan yang pacarnya Aa. Bukan aku. Kalau ternyata selama ini Kak Rada sukanya sama aku, dan cuma manfaatin Aa biar bisa deket sama aku. Aa, tolong sampaiin. Aku belum siap jadi lesbian.”   “Bukan gitu.” Damunta mengiggit apelnya sebelum melanjutkan. “Seenggaknya kalau kamu di rumah. Seseorang nggak bakalan ngenes-ngenes banget lihat Aa pacaran.” Damunta mengakhiri dengan senyum jahat yang diarahkan pada Duta.    Duta cuma melengos. Tentu saja sadar siapa seseorang yang Damunta maksud kalau bukan dia. “Iya. Berbahagialah sana dulu. Nanti bakalan tiba saatnya Rada sadar kalau Aa adalah pilihan terburuk yang pernah ada. Pas itu tiba, aku ketawain Aa sampai mampus.”   “Kalau Aa pilihan terburuk. Terus kamu apa? Yang terburuk dari yang terburuk?”   Dae mendengkus melihat keduanya berdebat topik yang itu-itu mulu. Dia bosan. “Duh. Kalian ini kalau debat nggak ada topik yang lain apa? Bosan tahu nggak, ituuu mulu. Lama-lama aku beneran nyuruh Teh Rada buat mutusin Aa Unta. Biar sekalian.”   “Dia duluan,” sergah Duta ketus.   “Loh. Aku? Kamu aja yang sensitif. Aa kan nggak nyebut nama.”   Dae melirik ponselnya yang berkerlip. Meraihnya dan menemukan pesan dari Kenji. Tak acuh dengan adu mulut di sekitarnya.   Kenji : Saya udah di depan rumah kamu   Kenji : Kalau bisa pakai celana. Saya bawa motor   Dae langsung bangkit. Tak mengindahkan pesan terakhir yang pemuda itu kirim.    “Udah ya, A. Aku berangkat.” Perdebatan itu berhenti saat Dae pamitan. “Kok berhenti? Mangga, terusin aja. Tapi pesanku sih, jangan sampai ninggalin mayat di rumah. Aku males berurusan sama polisi.”   Dae langsung ngacir sambil melambaikan tangan. Di halaman rumahnya dia menemukan Kenji duduk di atas motor vespa hitam menggunakan atasan polo putih dan celana pendek cokelat gelap. Dae buru-buru mendekatinya begitu melihat Kenji yang hendak melepas benda tersebut. Bagaimanapun kakak-kakaknya tidak boleh tahu kalau dia pergi bersama Kenji. Enggan menerima resiko kalau kedua kakaknya bisa saja mengintip dari jendela, Dae pun menahan gerakan pemuda itu. Refleks sekali kala Dae menekan helm yang sudah setengah terangkat agar turun lagi.   Dae menunjukkan cengiran. “Nggak usah di lepas, Kak. Langsung jalan aja.”   Beruntung, pemuda itu tak membantah. Dia tanggap memberikan Dae helm. Dari balik kaca helm, dapat Dae lihat pandangannya tertuju pada bawahan yang dia kenakan. “Hng. Nanti aku duduknya miring.”   Kenji tak berkomentar, membiarkan Dae memasang helm pemberiannya. Kemudian, kala Dae hendak duduk di jok belakangnya. Kenji menahan lengannya. Tanpa tedeng aling-aling meraih bawaan alat-alat lukisnya dan menyangkutkanya di cantelan di depan lututnya. Dae menggumamkan terima kasih.   Seumur-umur Dae baru pertama kali ini naik vespa. Sensasinya sungguh berbeda bergandengan motor antik seperti ini. Membuatnya sejenak lupa akan beberapa hal yang bercokol di otaknya.   “Kak Kenji tahu? Ini pertama kalinya aku naik vespa. Nggak nyangka seseru ini,” kata Dae sedikit berteriak. Berusaha mengalahkan keramaian jalan raya. Dia sempat memerhatikan Kenji melalui kaca spion. Raut wajahnya menggambarkan sesuatu yang elusif dan dia enggan memedulikan. “Nggak usah teriak-teriak. Kamu pikir kita lagi di hutan?” Dae kontan menampilkan cengiran andalannya. Baru mau membuka mulut menguntaikan balasan, tetapi Kenji terlebih dahulu memotong niatnya tersebut dengan berujar begini di sertai raut wajah yang lempeng. “Nggak usah nyengir-nyengir nanti gigi kamu kering.” Praktis Dae di bikin mengumandangkan tawa karenanya. Perutnya benar-benar tergelitik akan penuturan Kenji yang satu itu. Entah itu serius atau hanya sekadar candaan. Dae tak bisa membedakannya lantaran si pemuda berujar dengan mimik kelewat datar tanpa ekspresi sama sekali. Namun apa pun itu, bagi Dae kata-kata Kenji barusan sangat lah lucu sampai-sampai dia memukul-mukul pelan punggung tegap di hadapannya seraya berkata, “Kak Kenji gemesin banget, deh. Suer.” Kenji meliriknya sekilas dari kaca spion, memerhatikan bagaimana senyum Dae terulas teramat lebar sampai-sampai menyentuh mata dan membuatnya menyipit serupa bulan sabit. “Kamu tahu,” ucap Kenji kemudian. Ada sebuah tarikan yang sangat tipis yang muncul di belah bibirnya. Sangat tipis hingga saking tipisnya, baik si pemuda mau pun si gadis tiada yang menyadari hal tersebut. Dae lantas sedikit mencondongkan badan mendekati Kenji, menampilkan raut penasaran. “Kamu jauh lebih gemesin dari pada saya.” Demikian sambungnya. Dae terhenyak seketika. Dirinya sudah beberapa kali mendengar hal serupa terlontar dari belah bibir si pemuda. Akan tetapi entah mengapa yang kali ini terasa begitu berbeda menembus indra pendengarannya. Aksara-aksara sederhana yang mengudara tertuju padanya itu, entah bagaimana caranya mampu menyentuh sesuatu dalam ruang d**a Dae. Membuatnya menghangat. Begitu hangat sampai-sampai Dae khawatir sesuatu di dalam sana bisa-bisa meleleh.   Dae menanggapi dengan seulas senyum manis. Dae tahu. Teramat tahu kalau bahwasannya Kenji memang susah dimengerti. Semua tindakan pemuda itu kerap kali melampaui batas ekspetasinya. Kemudian detik berikutnya, tanpa keduanya duga ada dua pengendara motor yang mengalami kecelakaan. Dan hal tersebut terjadi tepat di depan mata kepala Dae. Seketika jantung Dae berdebar-debar tak karuan karenanya. Keringat dingin mulai muncul di pori-pori tubuhnya, seiring dengan denging yang datangi telinga. Kenji menghentikan motornya, hendak turut membantu pengendara yang terkapar penuh darah tersebut, tetapi lengan yang melingkari perutnya amat kencang, praktis membuat pergerakannya terhenti. Kening Kenji mengerut, kala merasakan tubuh yang memeluknya bergetar.  “Daedalion?” panggil Kenji pelan seraya menoleh sedikit. Mencoba mencari wajah gadis itu. Namun Dae tak menyahut, alih-alih semakin mengencangkan dekapannya. Kenji terdiam sesaat, lalu tangannya bergerak menyentuh tangan Dae yang mengepal di depan perutnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Kenji kembali melajukan motornya, dengan posisi yang tetap sama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN