Kama mengemudikkan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Tidak pedulia meski pun beberapa kali harus menerobos rambu-rambu lalu lintas. Kenji sedang terlalu kalut untuk mematuhi aturan, kala melihat si gadis di sebelahnya susah payah untuk bernapas.
Kenji membagi fokusnya antara jalanan serta gadis di sampingnya, berteriak dengan warna suara di sesaki ketakutan. "Dae!" Tidak ada hasil. Sekeras apa pun Kenji mengerahkan pita suaranya guna meneriaki gadis itu, memintanya tetap bertahan. Memintanya tetap terjaga. Si gadis tak akan mendengarkannya. Kenji mengerang frustrasi. Menahan tubuh Dae yang terhuyung-huyung lemah dengan sebelah tangannya.
Begitu bangunan besar di d******i warna putih terpampang di depan matanya, Kenji buru-buru melepas sabuk pengamannya. Melenggang cepat menuju pintu sebelah, meraih Dae ke dalam gendongannya. Jantungnya bertalu-talu kala melihat wajah pucat serta napas yang teramat berat dari gadis dalam rengkuh lengannya.
Kenji berlari secepat mungkin, memaksa kakinya yang gemetar memasuki bangunan bertingkat itu. Kenji berseru pada perawat yang ada di sana. "Sus! Tolong! Temen saya... alergi." Kenji berkata dengan suara yang gemetar pula.
Perawat tersebut lantas mengarahkannya agar membawa si gadis yang telah kehilangan kesadar itu ke dalam ruang Unit Gawat Darurat. Membaringkan Dae secara lembut di atas brankar. Begitu dokter yang berjaga datang, Kenji segera memberitahukan perihal alergi yang di derita Dae.
Kenji langsung menyambut dokter laki-laki yang tampaknya telah selesai memeriksa Dae dengan tanya, "Gimana, Dok?"
Pria berjas putih itu mengulas senyum menenangkan. "Pasien akan kami pindahkan ke ruang perawatan. Akan di putuskan apakah pasien memerlukan rawat inap atau tidak setelah pemantauan selama beberapa jam ke depan. Apa Masnya keluarga pasien?"
Kenji akhirnya mampu menghela napasnya lega. Lalu dia menggeleng menjawab pertanyaan dokter tersebut. "Saya temennya."
Dokter tersebut mengangguk sekali. Meminta bantuan Kenji agar menghubungi keluarga Dae agar bisa mengisi form-form yang di perlukan. Memenuhi perkataan dokter laki-laki tersebut, Kenji lantas menarik tungkai kaki menuju mobilnya kembali. Di sana dia meraih tas selempang Dae yang tadi sempat terjatuh. Kenji mengobrak-abrik isinya untuk menemukan ponsel Dae. Umpatan ke luar dari bibirnya, begitu menemukan ponsel si gadis di lengkapi fitur kata sandi. Fitur pengaman yang otomatis membuat Kenji tak bisa mengakses kontak keluarga si gadis dengan leluasa. Kenji lantas memutuskan memasukan benda elektronik itu kembali ke dalam tas selempang. Serta merta membawanya ke dalam ruangan perawatan Dae.
Gadis itu masih tak sadarkan diri saat Kenji tiba di sana. Kenji pun lantas duduk di sebelah Dae. Napasnya terembus perlahan, bersyukur saat-saat menegangkan tadi telah terlewat sekaligus rasa sesal menghinggapinya. Menyesal karena bisa-bisanya dia lupa mengatakan pada Mama-Maminya agar tak memasak hidangan yang mengandung kacang-kacangan untuk berjaga-jaga. Andai kata dia tak melupakan hal sepenting itu, Dae pasti tak mesti merasakan kesakitan seperti bermenit-menit yang lalu.
Pada saat-saat seperti ini lah, Kenji mulai merasa. Barangkali memang benar stigma-stigma yang beredar di kampus mengenai dirinya. Memang benar bahwasannya dia adalah laki-laki terkutuk. Hanya membawa petaka pada gadis-gadis yang berada di dekatnya.
Kenji menerawang raut wajah damai si gadis. Tangannya terangkat meraih telapak tangan Dae untuk dia genggam. Memberikan kulaian lemas itu genggaman erat, tetapi di saat bersamaan lembut agar tak menyakiti si gadis. "Maaf," lirih Kenji. "Maaf. Maaf karena gara-gara saya kamu harus berakhir di sini." Kenji menundukkan kepala ke pinggir brankar, menaruh kepalanya di sana dengan tangan yang masih betah menggengam erat tangan mungil si gadis.
Detik itu juga Kenji tengah dilanda dilema. Apakah dia harus mengabaikan rasa yang ada di hatinya lagi. Mengalah pada kutukan yang barangkali memang benar adanya.
"Saya memang pengecut Dae, karena cuma berani bilang ini waktu kamu nggak sadar. Tapi saya nggak peduli." Kenji membawa tangan Dae ke bawah hidungnya. "Saya peduli sama kamu. Melebihi rasa peduli seorang senior ke juniornya. Saya ingin kamu selalu baik-baik aja. Tapi saya juga ingin selalu bisa ada di samping kamu. Dan saya tahu itu nggak mungkin, karena kutukan itu."
Kenji melabuhkan pandangannya pada wajah Dae yang dilintangi nasal canula. "Daedalion... kasih tahu saya, saya harus apa?"
Tentu saja tak ada yang menjawab tanya Kenji, selain bunyi tarikan napas teratur nan berat si gadis.
*
Dae mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya, mengernyit sedikit saat silau cahaya menusuk retinanya. Setelah beberapa saat, barulah Dae bisa membuka netranya dan langsung tahu di man dia berada saat ini. Apa lagi, kalau bukan rumah sakit?
Aroma antiseptik khas rumah sakit segera memenuhi ronga hidung Dae. Si gadis menghela napas, masih ada nyeri yang tertinggal di area d**a. Dae membenci rumah sakit, lebih dari apa pun. Dulu di tempat serupa, dia pernah terbaring selama berbulan-bulan tanpa membuka mata sedetik pun. Dae memejamkan mata, mencoba menghalau segala fragmen perihal insiden setahun yang lalu, mengacak-acak isi kepala. Ketika si gadis hendak mengangkat tangan, gerakannya tersendat. Sesuatu menahan tangannya. Begitu Dae menurunkan pandangan, netranya menangkap keberadaan Kenji yang tertidur menimpa sebelah tangan Dae.
Sejurus kemudian Dae menyentuh puncak kepala si pemuda menggunakan sebelah tangannya yang terbebas. Hendak membangunkannya. Tidak tega sesungguhnya, sebab Kenji terlihat amat lelah. Namun tertidur dalam posisi demikian hanya akan membuat punggung serta leher seniornya itu menjadi pegal-pegal.
"Kak...," panggil Dae lirih dengan suara seraknya. Namun anehnya, Kenji langsung terbangun. Pemuda itu terbangun dengan reaksi kejut yang nyata, punggungnya langsung menegak serta matanya yang memerah mengedar ke mana-mana sebelum akhirnya tertambat pada Dae. Saat itu juga napasnya terembus lega.
"Gimana? Udah ngerasa lebih baik? Kamu bisa napas? Masih sesak? Ada yang sakit?" Kenji langsung memberondongnya dengan beragam pertanyaan, ada selip aksen khawatir dalam warna suaranya.
Dae mengulas senyum tipis, sembari menggeleng pelan. "Aku baik, Kak," Seolah tak setuju dengan kalimat yang baru saja mengalir ke luar dari mulutnya, Dae langsung terbatuk. Kontan saja hal tersebut membuat Kenji panik. Barangkali si pemuda sudah berlari ke luar memanggil dokter andai kata Dae tak meraih tangannya. Menahan si pemuda.
Dae mengatur napasnya perlahan-lahan. Setelah di rasa lebih baik, dia menoleh ke arah Kenji yang memberikan sorotan cemas. "Aku baik." Dae mengulang kata-katanya.
Kenji tampak menggeleng gusar. "Setelah batuk gitu, kamu masih bilang kamu baik?"
Dae masih mempertahankan senyum. Meminta Kenji duduk kembali melalui tatapannya. Meski terlihat enggan, tetapi pemuda itu tetapi menurut. "Aku udah biasa kok, Kak. Yang tadi cuma ampas-ampas yang perlu di buang doang," gurau Dae.
Kenji mengembuskan napas, mencoba memercayai ujaran si gadis. "Oke. Tapi kalau ada yang sakit. Kamu harus langsung bilang."
Dae berpose hormat. "Aye-aye, Kakak." Cengiran lebar Dae tercetak.
Tanpa dia ketahui bahwa ada lega yang menyejukkan mengaliri rongga d**a seseorang di dekatnya saat melihat cengirannya tersebut.
"Kak Kenji. Makasih, karena udah nolong aku." ungkap Dae lembut.
"Kamu pikir saya sejahat itu ngebiarin kamu megap-megap kayak ikan yang sekarat di daratan?"
Dae lagi-lagi nyengir. "Aku tahu kok. Sekarang Kak Kenji nggak perlu khawatir lagi. Aku udah selamat dari detik-detik antara hidup dan mati."
Mulanya Dae cuma berniat menggoda Kenji, tetapi melihat dari bagaimana cara si pemuda terdiam serta menatapnya dalam dengan pandangan yang sulit di artikan. Dae seketika jadi mengkeret. Dia menggulirkan pandangan ke sekeliling. Namun begitu, sesuatu menghantam kesadarannya, Dae langsung menoleh cepat ke arah Kenji.
"Kak! Sekarang jam berapa?"
Kenji mengerutkan kening, melirik jam tangan yang melingkari pergelangan kirinya. "Setengah satu dini hari."
Refleks bola mata Dae melebar berbarengan dengan bibirnya yang membuka serta berteriak, "Hah?!" Seketika Dae kelabakan, di serang panik. "Hape. Hape ku mana?"
Kenji memberikan benda itu padanya. Begitu membuka layar, bahu Dae langsung melemas kala melihat notifikasi yang memenuhi kunci layarnya. Tak lama dari itu, sebuah panggilan dari kakak keduanya mendadak muncul. Dae membasahi kerongkongan. Di serbu gugup. Menggeser simbol hijau, teriakan lantang menjadi pembuka panggilan tersebut. Bahkan ketika Dae belum menempelkannya di telinga.
"DIDI KAMU DI MANA JAM SEGINI BELUM PULANG?!"
Tamat sudah riwayatmu, Daedalion. Dewi batinnya berujar nelangsa.
Rupa-rupanya teriakan Duta terdengar oleh Kenji. Lantaran detik berikutnya si pemuda langsung berkata, "Maaf. Saya lupa ngabarin keluarga kamu." jeda sejemang. "Saya akan bantu jelasin ke mereka."
Dae spontan mendelik sembari menggeleng-geleng kan kepala.
Bukannya membaik, yang ada malah makin berabe kalau Kak Kenji ikut jelasin.