"Mereka masih di jalan, pak. Seperti nya akan terlambat." ujar Adam. Adam baru saja kembali dari luar, Zayn memerintahkan ia untuk menelepon klien dan menanyakan keberadaan mereka saat Nara bertanya. Tentu saja hanya pura pura. "Masih lama. Ga apa apa kan kita ngobrol sementara nunggu klien di sini?" tanya Zayn. "Silakan, gak ada yang melarang." "Maksud saya, kita. Kamu dan saya." Nara mendongak, sejujur nya ia merasa sedikit gugup. Namun, ia tidak bisa menolak. Secara hukum dan agama, Zayn masih suami nya. "Boleh." ujar Nara akhir nya. Zayn tersenyum lega. "Saya kangen kamu." ujar Zayn. Nara terdiam. Ia berdebar, namun tidak tahu harus menjawab apa, sehingga ia hanya bisa tersenyum. "Selama ini saya khawatir dan merasa bersalah. Saya terus memikirkan keadaan kamu, apa kamu baik

