bc

TEPUK TANPA SUARA

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
family
HE
friends to lovers
tragedy
like
intro-logo
Uraian

Hanna kaget ketika tahu kakak sulungnya bunvh diri.

Satu minggu setelah Ani bunvh diri Hanna dan Hafidz kakak nomor 2 tahu kalau ternyata alasan Ani bunvh diri adalah Ani mengetahui Andi suaminya berselingkuh.

Kalau hanya menyakiti dirinya Ani masih mau bertahan karena saat itu dia sedang ha mil 6 bulan.

Masalahnya selingkuhan Andi adalah suami Hanna, adik kandung yang sangat dia cintai melebihi cinta pada dirinya

Ani tidak mau Hanna terluka, itu yang Hanna temui bersama Hafidz berupa surat juga ada surat notaris yang telah Ani buat 1 bulan sebelum kema tiannya, bahwa semua harta Ani akan diserahkan untuk Hanna. Nanti pembagiannya terserah notaris bagaimana bagian untuk Andi.

Mobil Ani dan semua perhiasan mutlak milik Hanna.

2 minggu kemudian Hanna pergi menyepi menyembunyikan sebuah rahasia besar yaitu dia sedang ha mil anak Akbar ( selingkuhannya Andi ), karena ternyata terbukti Akbar menikahi Hanna hanya agar dekat dengan Andi semata.

Hanna pergi dua minggu setelah kematian Ani atau usia kehamilannya 1 bulan.

Dua tahun kemudian Hanna kembali ke Indonesia tentu dengan banyak perubahan terutama dia bawa seorang anak lelaki berusia 1 tahun lebih dan dengan misi membalas dendam akan kematian kakaknya

chap-preview
Pratinjau gratis
TELEPON BIK ASIH
“Jangan sentuh apa pun, jangan pindahkan apa pun, jangan ubah apa pun!” “Pokoknya sekarang bik Asih keluar saja dari kamar Kak Ani.” “Bik Asih kerjain yang lain saja, yang seperti biasa.” “Entah bikin sarapan, entah menyapu atau mengepel, entah apa pun.” “Pokoknya jangan usik Kak Ani dan barang-barang di dalamnya. Nanti bik Asih bisa ketempuan salah kalau ada sidik jari bik Asih di barang yang diperiksa polisi!” “Jangan telepon siapa pun lagi.” “Kalau nanti Mas Andi telepon, tanya kenapa telepon Kak Ani enggak diangkat dan segala macamnya, bilang saja Kak Ani lagi keluar atau lagi apa atau lagi apa, pokoknya jangan kasih tahu apa pun!” “Aku segera meluncur sekarang.” “Pokoknya jangan telepon siapa pun. Pintu pagar ditutup jangan boleh ada orang masuk,” Hanna memberi instruksi mendetail dengan gugup pada bik Asih, asisten rumah tangga kakak sulungnya, yang barusan menghubungi Hanna. “Iya Neng Hanna, iya,” jawab bik Asih terbata dan suaranya masih penuh isak tangis. Hanna sendiri tak percaya dengan khabar yang diberitahu bik Asih. Tadi memang dia sudah bertanya siapa saja yang sudah diberitahu oleh pembantu itu, bik Asih bilang baru menghubungi dirinya, sehingga Hanna langsung memerintah bik Asih jangan bicara pada siapa pun lagi. Hanna baru siap berangkat ke kantor. Baru selesai sarapan, masih jam 07.00 pagi. Dia sudah rapi tinggal berangkat. Akbar suaminya jam 06.00 tadi berangkat lebih dulu. Walau mereka satu kantor tapi mereka memang tidak bisa pergi pulang bareng karena Akbar lebih banyak di proyek, sedang Hanna adalah manajer keuangan yang lebih banyak ada di kantor. Kadang sesekali memang Hanna harus keluar bersama manajer marketing atau juga dengan orang proyek tapi jarang bersama Akbar. Sungguh Hanna gugup. Sekarang dia mengambil kunci mobilnya malah salah mengambil kunci lemari. Benar-benar Dia sangat gugup mendengar khabar dari bi Asih. Sambil menyalakan mesin mobilnya Hanna tak bisa menahan air mata. Hanna tak berani melajukan mobilnya lebih cepat, sebab air mata sudah membuat pandangannya kabur. ≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈ Bik Asih tergopoh menyambut adik majikannya, mereka berpelukan saling menguatkan. “Neng, mesin mobil belum dimatikan,” bik Asih melepas pelukan. Turun dari mobil Hanna langsung berlari, dia sangat gugup. Sampai lupa mematikan mesin, apalagi mengunci pintu mobilnya. Hanna kembali ke mobil, dia matikan mesin dan segera mengunci otomatis lalu bergegas masuk ke dalam rumah bersama bik Asih. Mata lentik Hanna menyapu seisi ruangan. Ruang tamu masih seperti biasa hanya sedikit seperti tak ada jiwa. Pemiliknya telah pergi. Dengan berpapah pinggang bi Asih, Hanna berjalan mendekati kamar Kak Ani, kakaknya. Langkah kakinya semakin berat, dia bukan takut terhadap may4t, bukan itu, tapi dia takut menerima kenyataan bahwa benar-benar apa yang dikatakan bik Asih tadi adalah memang benar. Sebab sepanjang perjalanan dari rumah menuju rumah Kak Ani, Hanna masih berupaya menyangkal semua perkataan bik Asih. Hanna melihat pintu kamar Kak Ani sedikit terbuka, dari luar pintu terlihat kakaknya terbaring miring, tentu tidak bisa tengkurap lagi, Kak Ani sedang hamil 6 bulan dan semua keluarga juga senang ketika Kak Ani mengabarkan calon bayinya adalah lelaki. Kamar masih dalam suasana remang-remang sebab bik Asih memang belum menyalakan lampu. Gorden sudah dibuka bik Asih. Tadi sebelum telepon bik Asih memang membuka gorden, sesudah telepon dan mendapat instruksi Hanna dia tidak berani mengubahnya lagi. “Ini masih seperti yang pertama bibik masuk bik?” tanya Hanna “Iya Neng kecuali gorden, tadi gorden sedikit saya buka karena saya enggak nyalain lampu. Saya pengen tahu saja kenapa nyonya kok belum bangun.” Tangis Hanna pecah, apa yang dia sangkal sejak dari rumah ternyata ada di depan matanya secara nyata. Dia pegang kaki kakaknya, sudah sangat dingin, di nadinya juga sudah tak ada detak. Kakaknya benar sudah tak bernyawa. Dua botol obat entah obat apa tergeletak dekat tubuh kakaknya. Hanna tak berani menyentuhnya dia hanya menutup mulut dan hidungnya saja agar tangisnya tidak semakin menyesakkan dadanya. “Sabar Neng, sabar,” ucap bik Asih sambil mencoba menghibur adik majikannya. Bik Asih sangat tahu bagaimana kedekatan Hanna dan non Ani. “Kita keluar dulu bik, walau aku pengen di sini. Tapi sebaiknya kita keluar,” ajak Hanna. “Memang tadi bibik sudah cerita, tapi aku pengen tahu ceritanya lagi dari awal biar lebih jelas,” punya Hanna. Mereka duduk di meja makan, bik Asih memberikan air hangat putih untuk Hanna. “Bibik tadi curiga, biasanya pagi-pagi itu non Ani sudah bikin sarapan, bikin makan dan segala macam walau Pak Andi enggak ada. Dia kan sekarang kerjanya lapar terus karena hamil, jadi habis shalat subuh pasti dia sudah makan.” “Biasanya dia sudah bawel nyuruh ini itu, beli ini itu dan sebagainya.” “Ini kok enggak bangun, sudah sampai jam 06.00.” “Kan Bibik bingung, Bibik jadi maju mundur. Bibik ketok enggak dijawab. Bibik pikir mungkin lagi tidur. Bibik pikir habis sholat subuh nyonya tidur lagi.” “Terus Bibik ke dapur lagi.” “Setengah tujuh Bibik ketok lagi kok enggak ada jawaban. Bibik takut terjadi sesuatu, terus Bibik buka pintunya, lampunya masih gelap, akhirnya Bibik buka gorden sedikit.” “Kok ada botol disebelahnya, langsunglah Bibik pegang badan Non Ani. Kok dingin banget,” jelas Bibik mengingat kejadian sebelum dia menghubungi Hanna. “Bibik langsung keluar ambil telepon di kamar dan menghubungi neng Hanna.” Hanna bisa membayangkan bagaimana paniknya bi Asih sejak pagi dan untungnya orang yang bik Asih hubungi adalah dirinya. Hanna kembali menangis, bukan tangis sedih, melainkan juga tangisan bingung. Mereka tak percaya, harus menghadapi kejadian ini. Bik Asih dan Hanna bingung dan putus asa. “Lalu Mas Andi?” “Di mana Mas Andi Bik? Kan tadi Bibik bilang dari jam 06.00 Kak Ani enggak keluar. Padahal kan biasanya dia nyiapin sarapan Mas Andi kan?” Hanna baru ingat suami kakaknya. “Pak Andi sudah dua hari di luar kota Neng, tugas luar,” jelas bik Asih. “Bibik yakin?” tanya Hanna. “Iya Neng beneran, sudah dua hari. Saya yang ngambilin kopernya. Dia berangkat subuh yang ngeberesin baju juga non Ani,” bik Asih ingat, dia yang mengambil koper dari kamar barang, ruang Ani menyimpan barang yang tak tiap hari dipakai. Kalau koper ditaruh di kamar Ani bilang bikin sumpek. “Ada yang aneh enggak Bik sebelum semua ini terjadi?”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Desahan Sang Biduan

read
54.6K
bc

Godaan Mesra Sang Duda

read
2.6K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
4.1K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.1K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.7K
bc

After We Met

read
187.4K
bc

(Bukan) Dosen Idaman

read
8.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook