Tiupan angin dan hujan yang begitu deras membuat siang itu yang awalnya penas menjadi sejuk menggigil. Pohon pohon yang bergoyang mengikuti kemana arah angin membawanya. Suasana semakin gelap gulita hampir tidak ada celah bagi sinar matahari untuk menerangi bumi karena awan yang begitu hitam pekat membaluti seisi langit.
Di balik itu semua sepasang suami-isteri sedang sedang bergulat mencoba kenikmatan dunia yang tiada duanya. Keduanya ber-desah hebat menggelegar ditelinga, sang suami yang melihat istrinya tak tahan akan suara desahan membuat ia semakin gairah dan menggoyangkan pinggulnya dengan sangat cepat.
Cairan putih berbau amis mengalir kini menempel keseluruhan benda tumpul yang masih melanjutkan tugasnya mencari nikmat dari permainan tuannya.
"Aaahhhh ...." Suara desahan semakin keras, Zahra memejamkan matanya begitu erat, sebutir air yang sebening kristal keluar dari ujung matanya.
Kedua gigi ia dapatkan dengan sempurna, tangannya yang lembut membeku kasar memperlihatkan sebagian urat nadinya. Saat ia rasa benda tumpul nam keras itu semakin mengguncang seluruh anggota tubuhnya.
"Ahhhhh..." Varrel terlah mencapai puncaknya untuk kesekian kalinya, lahat panas berwarna putih beras telah berhasil keluar dengan sempurna.
Bibirnya langsung tersenyum puas, Oh now kenikmatan ini yang belum pernah Varrel rasakan sebelumnya. Ini benar-benar nikmat, kalau saja ia tau sebelumnya kalau berhubungan S*ks akan senikmat ini mungkin Varrel sudah lama melakukannya semenjak ia kuliah di Amerika.
Rasanya ia belum puas akan kenikmatan yang baru saja terjadi, Varrel menginginkan kenikmatan itu lagi. Tapi manik-manik matanya yang kecoklatan menatap sedih kearah Zahra yang sudah menagis menahan isak tangisanya.
Varrel yang melihat itu merasa bersalah, seharusnya ia lebih memelankan permainannya tadi dan tidak terlalu memperdulikan nafsu yang menyela.
"Maafkan aku sayang, seharusnya aku sadar dan pelan-pelan melakukannya" ucap Varrel dengan nada pelan namun sangat jelas terdengar ditelinga Zahra.
Secara perlahan-lahan Varrel mengeluarkan benda tumpulnya dari surga duniawi. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat darah segar teryata sudah menempel keseluruhan area pinggangnya.
Di tambah lagi saat kedua matanya itu melihat area sensitif Zahra sudah bagaikan saos tomat. Varrel merasa semakin bersalah.
Varrel melirik mencari sesuatu yang bisa mengelap darah segar itu. Tak berlangsung lama matanya langsung tertuju pada kota tisu yang berada di atas nakas.
Varrel bergegas beranjak, mengabil kota tisu tersebut. Dengan penuh hati-hati dan kelembutan Varrel mengelap area sensitif istrinya terlebih dahulu, setelah selesai barulah ia mengelap benda tumpulnya sendiri. Benda itu berdiri dan keras, rasanya ia ingin masuk lagi, tapi melihat kondisi Zahra diurungkan.
Beberapa saat kemudian setelah ia rasa sudah cukup, Varrel dengan punuh kehati-hatian beranjak turun dari ranjang agar tidak membangunkan Zahra yang sepertinya sudah terlelap dalam tidurnya.
Varrel mengunakan bokser kembali lalu setelah itu barulah ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang melingkar tangannya merangkul sang istri. Membawanya kedalam dekapan agar bisa menghangatkan tubuh istrinya.
Tak lupa Varrel menanamkan kecupan ke seluruh wajah cantik istrinya itu. Hidung, mata, dahi, dagu, bibir semua itu tidak terlewatkan olehnya.
"Terimakasih." bisik-nya kecil.
***
Sore hari, saat cuaca yang tadinya gelap gulita kini sudah terang menerang. Cahaya sinar matahari membuat bumi cerah, burung-burung yang berterbangan kesana kesini mencari sarapan pagi.
Begitupun juga bagi mobil dan pengedaran motor yang sudah memenuhi padanya jalan ibu kota Canberra.
Zahra mengerjapkan matanya untuk kesekian kalinya, rasanya ia masing ingin tidur membaringkan tubuhnya tapi matanya sudah terbuka lebar-lebar.
Rasa ngantuk hilang seketika saat manik-manik matanya berpaling kearah kanan, melihat wajah Varrel yang masih tertidur dengan pulas.
Tidak di pukiri ketampanan Varrel membuat Zahra tersenyum senyum sendiri. Rasanya ia begitu beruntung memiliki suami setampan dan se-gagah Varrel.
Bayang-bayang keperkasaan Varrel tadi siang masing sangat jelas terbayang dalam memory ingatannya. Bagaimana tidak kemaren siang adalah dimana dirinya menyerahkan kehormatannya lagi kepada suaminya setelah kejadian malam itu.
Tangan Zahra bergerak menyentuh hidung mancung Varrel bak orang India itu. Suara nafasnya yang lembut terdengar mengalun mengikuti irama.
Ini pertama kalinya Zahra menyentuh seorang laki-laki. Matanya menunduk menatap kearah roti sobek yang kembang kempis, sudah dari tadi semalam ia sangat ingin menyentuh bagian itu.
Sekilas Zahra kembali melirik kearah mata Varrel berjaga-jaga kalau suaminya masih tertidur pulas. Lalu dengan hati-hati ia memegang rokok sobek yang sudah siap dimakan.
Tangannya terasa geli-geli sedap menyentuh roti sobek itu. Sesaat gerakan itu berhenti lalu menekan dan mengelus-elus dengan sangat lembut.
Hatinya terasa sangat senang menyentuh bagian itu sampai-sampai ia lupa diri menciumi belahan d**a suaminya berulang kali.
Tanpa disadari Zahra, Varrel tersenyum tipis dibibir seksinya itu. Bibir yang tadi siang Varrel em** berulang kali.
Secara perlahan-lahan Varrel mengerakkan tangannya mencoba menangkap pergelangan tangan Zahra yang masih mengelus lembut roti sobek miliknya.
Seketika Zahra tersentak saat pergelangan tangannya kini sudah sepenuhnya digenggam oleh tangan Varrel. Dengan gerak cepat Zahra mencoba menarik tangannya kembali tapi percuma karena Varrel memegangnya dengan sangat erat.
Mengerakkan tangan Zahra membawanya untuk menyentuh sesuatu yang sudah mengeras disana.
Oh Now, Zahra yang tau apa yang telah disentuh tangannya pun seketika membulatkan matanya lebar-lebar. Itu adalah benda tumpul yang membuat dirinya siang tadi menjerit-jerit meminta ampun.
"Mas Varrel" guma Zahra sembari mengusurkan tubuhnya yang hampir nyaris terjatuh kelantai.
Varrel membukakan kelopak matanya secara perlahan-lahan langsung menatap kearah Zahra.
"Kenapa kamu takut seperti itu, apa kamu tidak suka menyentuhnya. Padahal tadi siang kamu sangat b*******h untuk memuaskannya kenapa sekarang malah takut?." tanya Varrel dengan nada sangat seksi berhasil membuat wajah Zahra merah merona.
"S-siapa takut, a-aku enggak takut." tukas Zahra sembari menarik selimut yang membaluti tubuhnya. Agar sepenuhnya menutupi tubuhnya yang polos itu.
"Tidak takut, Hem. Kalau kamu tidak takut lalu kenapa kamu menangis tadi?"
"Itu, i-itu--" belum sempat Zahra menjawab Varrel kembali menarik tangan Zahra. Membuatnya Kembali menyentuh benda tumpul itu.
"Mas..."
"Suuttttt...."
"Katanya enggak takut ayo sentuh. Genggam dia." ujar Varrel lagi.
Wajah Zahra bagaikan kepiting rebus dibuatnya. Sangat jelas terasa di telapak tangannya bagaimana keras dan ganasnya benda tumpul itu.
"Mas aku malu." ucap Zahra pelan.
"Kenapa harus malu. Tadi siang kamu sudah melihat semuanya bukan, Ayo cepat genggam erat dia kamu harus menjinakkannya kalau tidak mungkin dia akan mengamuk nantinya." Kata Varrel
"Tapi---"
"Suuttttt... Kita tidak punya banyak waktu ayo cepat sebelum Sinta si manusia jomblo itu membangun kita, untuk pulang." tukas Varrel yang berhasil membuat Zahra tidak berdaya. Ia juga baru teringat kalau ia dan Varrel masih berada di kantor.
Zahra memejamkan erat matanya saat kini ia sudah sepenuhnya menggenggam benda tumpul itu.
Bersambung.